Saat ini kita hidup di suatu masa dimana berita begitu mudah menyebar luas di dunia maya. Internet di satu sisi memberikan kecepatan tersampaikannya suatu informasi. Namun di sisi lain dunia menjadi semakin tak berbatas dan menyisakan semakin sedikit ruang privasi. Tinggal klik “share” atau “copy-paste”, maka dalam hitungan detik dan menit, sebuah berita dapat tersebar ke berbagai penjuru dunia.

Bagaimana sesungguhnya Islam mengatur kita dalam menyikapi suatu pemberitaan? Adakah Islam memberikan arahan adab-adab dalam menyebarkan informasi?

Allah SWT telah berfirman dalam Al Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Dari ayat ini setidaknya terdapat rambu-rambu dalam menerima informasi, yaitu :

  1. Cek dulu kebenaran isinya

Apakah berita yang kita terima ini benar adanya? Ataukah  ia dibumbui kebohongan dan dapat digolongkan ke dalam HOAX? Jika kabar yang beredar belum tentu benar, maka cukupkanlah diri kita untuk tidak mempercayai, apalagi ‘gatal’ menyebarkannya kemana-mana.

  1. Cek siapa penulis/sumbernya

Kita perlu mengecek si penyampai berita, adakah ia seorang pendusta atau ia dapat dipercaya? Jika penulisnya jelas kredibilitasnya, maka berita ini cukup memenuhi syarat dan dapat dipertanggungjawabkan. Berhentilah meneruskan informasi jika sumbernya tidak jelas, hanya bertulisan ‘dari grup sebelah’, ‘copas dari sebelah’ dan sebagainya. ‘Sebelah’ itu siapa orangnya? Jika artikel yang kita sebar isinya belum tentu benar dan terlanjur menyebar luas, kepada siapa kita akan minta pertanggungjawaban saat penulisnya tidak kita ketahui? Ingat, menyebarluaskan berita berarti kita turut bertanggung jawab atas isinya. Jika itu berita bohong dan terlanjur tersebar luas ke ratusan ribu orang di pelosok dunia, maka bayangkanlah tanggung jawab yang harus kita pikul. Bagaimana cara kita meralat informasi tersebut? Susah, bukan? Maka berhati-hatilah.

  1. Seberapa bermanfaatkah isinya?

Kadang kita terlalu tergesa meneruskan (men-share/mem-forward/mem-broadcast) informasi/artikel yang kita terima tanpa benar-benar membaca sejauh mana manfaat pesan tersebut. Pesan-pesan bernada SARA / menyulut kebencian terhadap pemeluk agama lain kadang kita anggap bermanfaat, namun jika kita dalami lagi, rupanya hal tersebut tak lebih dari pesan bernada provokasi. Nilai mudharat/keburukannya bisa jadi lebih besar jika kita sebarluaskan lagi. Pikir ulang sebelum mem-broadcastnya. Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’diy rahimahullah berkata,

“ini adalah pengajaran dari Allah kepada Hamba-Nya bahwa perbuatan mereka [menyebarkan berita tidak jelas] tidak selayaknya dilakukan. Selayaknya jika datang kepada mereka suatu perkara yang penting, perkara kemaslahatan umum yang berkaitan dengan keamanan dan ketenangan kaum mukminin, atau berkaitan dengan ketakutan akan musibah pada mereka, agar mencari kepastian dan tidak terburu-buru menyebarkan berita tersebut. Bahkan mengembalikan  perkara tersebut kepada Rasulullah [pemerintah] dan yang berwenang mengurusi perkara tersebut yaitu cendikiawan, ilmuan, peneliti, penasehat dan pembuat kebijaksanan. Merekalah yang mengetahui berbagai perkara dan mengetahui kemaslahatan dan kebalikannya. Jika mereka melihat bahwa dengan menyebarkannya ada kemaslahatan, kegembiraan dan kebahagiaan bagi kaum mukminin serta menjaga dari musuh, maka mereka akan menyebarkannya. Dan jika mereka melihat tidak ada kemaslahatan [menyebarkannya] atau ada kemaslahatan tetapi madharatnya lebih besar, maka mereka tidak menyebarkannya.

Jelaslah bagi kita bahwa 3 poin ini sangat perlu diperhatikan sebelum kita meneruskan informasi yang kita terima. Rasulullah bahkan bersabda, “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta  bila ia menceritakan segala hal yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Oleh karenanya kita perlu berhati-hati meneliti isi, penulis dan sejauh mana kemanfaatan pesan yang ingin  kita teruskan pada orang lain. Jangan sampai maksud hati sebenarnya baik, namun karena kurang hati-hati, kita terancam menyebarkan kebohongan pada khalayak ramai. Di era seperti sekarang, jadilah muslimah cerdas yang tak hanya pandai meneruskan informasi, namun juga piawai memilih dan memilah berita mana yang layak disebarluaskan dan tidak.

Artikel Menarik Lainnya







comments