spider

Siapa tak mau punya rumah yang kokoh dan menjadi tempat pulang yang nyaman? Pondasi dan dindingnya terbuat dari bahan yang kuat. Atapnya mampu menahan hujan, angin, serta panas kemarau. Di dalamnya terasa hangat karena penuh dengan cinta dan perhatian. Orangtua mendidik anak-anak mereka dengan baik, dan anak-anak pun tumbuh dengan rasa hormat penuh bakti. Inilah gambaran rumah ideal yang diidam-idamkan keluarga muslim : Baiti Jannati (Rumahku Surgaku). Rumah menjadi tempat berteduh yang nyaman menentramkan, diliputi kasih sayang serta tumbuh dalam naungan iman. Maasyaa Allah.

Namun sebaliknya, ada pula rumah yang rapuh serta tidak menimbulkan ketenangan batin bagi para penghuninya. Rumah seperti ini terasa ‘panas’, tidak harmonis, apalagi memberikan rasa tentram. Di dalam Al Qur’an, Allah subhaanahu wa ta’ala menjelaskan perihal rumah seperti ini dengan mengambil perumpamaan rumah laba-laba. Bagaimanakah ciri-cirinya?

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS. Al Ankabut, 39 : 41)

Rumah laba-laba sesungguhnya adalah rumah yang kokoh. Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa air liur laba-laba yang menjadi benang berukuran sepersekian milimeter, adalah 5 kali lebih kuat daripada baja dengan ukuran yang sama. Bayangkan jika laba-laba membuat rumah sebesar rumah kita, bisa dipastikan ia lebih kuat dari rumah yang dibangun manusia. Jaring laba-laba ternyata juga tahan air dan 2 kali lebih lentur daripada serat nilon (penelitian Jelinski Dkk dari Cornell University, Ithhaca, New York dalam Jurnal Ilmiah Science edisi 5 Jnuari 1996).

Tetapi Allah menyebutkan bahwa justru rumah laba-laba lah yang paling rapuh, karena yang menjadi parameter kuat-tidaknya suatu rumah dalam Islam ternyata bukanlah dilihat dari fisiknya. Sebuah rumah dikatakan kokoh apabila keadaan di dalamnya sakinah dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Penghuni rumahnya juga memiliki karakter tertentu, dan bukan seperti keluarga laba-laba berikut ini :

  1. Laba-laba betina yang membangun rumah, bukan pejantannya

Membangun rumah identik dengan pekerjaan berat dan merupakan salah satu kebutuhan dasar dalam kehidupan makhluk hidup. Menyediakan rumah merupakan bagian dari kewajiban suami dalam menafkahi keluarganya. Maka seyogyanyalah kaum laki-laki yang melakukannya. Namun dalam kehidupan laba-laba, yang membangun rumah justru si betina. Hal ini menyimbolkan bahwa betina lebih perkasa dibandingkan para pejantan, dan menunjukkan kepemimpinan pejantan yang lemah.

Sementara itu dalam Islam, porsi kepemimpinan merupakan bagiannya laki-laki sebagaimana firman Allah dalam QS. An Nisa ayat 34 :

laki-laki itu adalah pemimpin atas perempuan dengan sebab apa yang telah Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dan dengan sebab apa-apa yang mereka infaqkan dari harta-harta mereka.”

  1. Laba-laba betina memakan si pejantan, ia tidak membutuhkan si pejantan setelah dibuahi

Setelah melakukan pembuahan, laba-laba betina akan memakan laba-laba pejantan, dan ini menyimbolkan istri yang menguasai/mendurhakai para suami. Padahal dalam suatu keluarga, Allah telah memilih para laki-laki menjadi imam dengan kelebihan yang telah Dia tetapkan.

Perilaku memakan pejantan ini tentu saja bukan ciri pasangan yang harmonis apalagi sakinah. Oleh karenanya ini menjadi salah satu ciri rumah yang rapuh dan perlu dihindari oleh setiap keluarga muslim.

  1. Laba-laba jantan lari setelah membuahi, dan ia meninggalkan rumah

Karena terancam akan dimakan oleh betinanya, para pejantan biasanya melarikan diri dari sarang. Hal ini menyiratkan ciri ‘laki-laki takut istri’ dan sifat kepengecutan. Bagaimanakah gambaran rumah yang kepala keluarganya tidak memiliki figur pemimpin dan dihormati oleh pengikutnya? Apalagi jika ia lari dari rumah dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, tentu bukan seorang kepala keluarga yang amanah. Terlebih, suami dan istri juga punya kewajiban untuk bersama-sama mendidik anak-anak dengan baik.

Sementara itu, perilaku betina memakan pejantan ini juga memberikan hikmah pada kita untuk meresapi peran istri terhadap suaminya. Dalam Islam, istri shalihah adalah ia yang taat pada Allah dan rasul-Nya, juga pada suaminya. Istri yang shalihah juga menghadirkan rasa tenang pada suami, bukan yang melawan apalagi mengancam eksistensi sang suami baik secara harfiah maupun istilah.

  1. Anak-anak laba-laba memakan induknya

Setelah terlahir, anak laba-laba rupanya akan berebut memakan induknya, lalu memakan sesamanya sebelum kemudian meninggalkan jaring laba-laba milik induknya. Perilaku ini menyimbolkan kedurhakaan pada orang tua, terlebih pada ibu. Selain itu sikap memakan sesama menggambarkan ke-tidak-rukun-an dan saling menyakiti sesama saudara.

Dalam Islam, Rasulullah telah menyebutkan bahwa orang yang harus kita hormati adalah ibu, ibu, ibu, baru kemudian ayah kita. Beginilah kewajiban anak terhadap orangtuanya. Rumah yang islami adalah rumah dengan keluarga yang menghasilkan anak-anak penyejuk mata, sebagai perhiasan di dunia dan juga tabungan di akhirat. Bukan anak-anak yang berakhlak buruk apalagi mendurhakai kedua orangtuanya.

sumber gambar : http://www.bbc.co.uk/news/magazine-34247009
referensi : https://www.facebook.com/notes/pesona-tauhid/menimba-hikmah-dari-sarang-laba-laba/527351513988376/
http://alankkabuut.blogspot.co.id/p/perumpamaan.html

Artikel Menarik Lainnya







comments