Perceraian, mungkin menjadi suatu hal yang sangat ditakutkan oleh banyak orang baik yang belum menikah apalagi yang sudah menikah. Namun, tak dapat dipungkiri perceraian bisa terjadi dengan mudah sekali bagi mereka yang sudah menikah. Ada yang bercerai disaat usia pernikahan sudah mencapai belasan atau puluhan tahun, namun tak sedikit juga perceraian yang terjadi ketika usia pernikahan baru seumur jagung. Baru menikah beberapa bulan, menemukan ketidaksempurnaan atau ketidakpuasaan dari pasangan lalu memilih bercerai.

Banyak sebab terjadinya perceraian seperti perselingkuhan, masalah keuangan, tidak adanya kesamaan, perbedaan pandangan antara keluarga besar, hingga masalah sepele sekalipun seperti tidak ada titik temu mau tinggal dimana? dirumah orang tua wanita atau ikut suami. Makanya kamipun tertarik untuk membahas tentang perceraian pada tulisan kali ini. Setidaknya ada 5 Hal sebagai penyebab utamanya kegagalan dalam rumah tangga yang pada akhirnya berujung pada perceraian.

1. Tidak memiliki standar nilai yang jelas

Apa itu standar nilai? standar utama atau pegangan yang dijadikan acuan untuk mengambil setiap keputusan bagi masing-masing pasangan, serta acuan untuk menemukan solusi ketika ada masalah. Ketika standar nilainya tidak jelas bahkan sering menjadikan ego masing-masing sebagai standar nilai, maka sudah dipastikan keretakan rumah tangga sudah mulai terjadi disaat itu.

Contoh sederhana, ketika memiliki perbedaan pendapat antara suami dan istri tentang tempat tinggal. Misalnya istri menginginkan tinggal tetap bersama dengan orang tuanya sementara suami menginginkan tinggal secara mandiri tidak bersama dengan orang tua istri (mertuanya). Jika ego yang dijadikan sebagai standar nilai, tentu permasalahan ini tidak akan menemukan titik temunya kecuali hanya perdebatan yang tak berujung.

Akan tetapi jika pasangan ini menjadikan Al-quran dan sunnah sebagai standar nilai utama dalam rumah tangganya, tentu permasalah ini akan selesai dengan sangat sederhana. Dalam islam ketika wanita sudah menikah maka dia wajib taat dan patuh pada suami (selama itu tidak bertentangan dengan syariat), dengan menyadari hal ini tentu tidak akan terjadi lagi perdebatan karena solusinya dikembalikan pada standar nilai yang dimiliki. Begitu juga dengan permasalahan-permasalahan lainnya.

2. Tidak mau menikmati proses

Salah satu kesalahan fatal hampir semua pasangan yang akan menikah adalah membayangkan kalau menikah itu adalah sesuatu yang indah. Bagi wanita mungkin akan membayangkan bagaimana menyenangkannya memiliki suami yang shaleh, taat, kaya, tampan, pengertian, lemah lembut dan baik hati. Yang laki-lakipun tentu membayangkan ingin mendapatkan pasangan wanita yang shaleha, cantik, baik hati, pintar masak, perhatian dan patuh. Ketika sebelum menikah memiliki ekspetasi yang terlalu tinggi tentang harapan-harapan indah setelah menikah, namun ketika setelah menikah malah menemukan hal yang sangat jauh dari harapan tentu akan muncul kekecewaan.

Satu hal yang perlu disadari adalah pasangan kita itu adalah manusia bukan malaikat dan bukan juga bidadari syurga. Wajar jika memiliki kekurangan, lumrah jika banyak kekhilafannya dan tidak sempurna. Nah, tugas masing-masing pasangan adalah saling belajar, saling mengenal satu sama lain dan saling bersabar untuk melewati proses pendewasaan tersebut. Ketika tidak memiliki mental yang mau berproses, inginnya yang sempurna tentu akan menimbulkan konflik dan pada akhirnya berujung pada perceraian.

3. Tidak memahami peran masing-masing pasangan

Memahami peran masing-masing dalam membangun rumah tangga adalah satu hal penting yang mesti diketahui oleh setiap pasangan. Laki-laki peran utamanya mencari nafkah dan bertanggung jawab atas semua kebutuhan keluarganya, sementara wanita peran utamanya adalah sebagai ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya dampak negativenya adalah istri merasa lebih hebat dan unggul dibandingkan suaminya. Terkadang yang terjadi malah sebaliknya, suami yang dirumah jaga anak dan istri yang mencari nafkah atau kedua-duanya sama-sama mengambil peran sebagai pencari nafkah sehingga kedua pasangan sibuk diluar rumah dan bertemu kembali dalam keadaan sama-sama lelah dan dampak buruknya adalah masing-masing pasangan merasa paling berjasa dalam rumah tangganya.

Ketika pembagian peran tidak jelas, ditambah dengan tidak adanya komunikasi yang baik antar kedua pasangan. Tentu mau atau tidak akan menimbulkan konflik yang mengancam keutuhan rumah tangga dan jadi salah satu jalan perceraian.

4. Tidak pernah merasa cukup secara ekonomi

Nah, ini yang paling sering terjadi adalah masalah keuangan. Tak sedikit pasangan yang sepakat mengakhiri pernikahannya atau salah satu diantara pasangan yang minta diakhir pernikahannya disebabkan oleh masalah ekonomi. Istri merasa uang yang diberikan oleh suami sangat sedikit sekali atau suami yang enggan, bermalas-malasan dalam mencari nafkah untuk keluarganya.

Tidak adanya sikap saling menerima antara pasangan terutama menerima kondisi ekonomi sulit yang sedang dihadapi, tidak bisa bersabar dalam melewati masa-masa sulit hingga pada akhirnya berakhir pada perceraian.

5. Membanding-bandingkan pasangan

Melakukan perbandingan, apalagi yang dibandingkan adalah pasangan hidup kita, ini adalah sebab utama terjadinya perselingkuhan. Di saat suami dirumah tidak mendapat pelayanan yang baik dari istrinya, sementara sesampainya dikantor rekan kerja wanitanya memberikan perhatian yang lebih baik atau sering juga terjadi bagi seorang wanita yang suaminya memiliki kekurangan secara ekonomi misalnya tidak memiliki motor apalagi mobil sementara dikantor rekan kerja laki-lakinya dengan baik hati bersedia mengantarkan dirinya kemanapun pergi dengan mobil.

Rumput tetangga terlihat lebih hijau, itulah yang terjadi disaat kita membandingkan. Akan selalu melihat yang lain jauh lebih baik dibanding yang Allah anugerahkan pada kita.

Pernikahan, adalah sebuah perjalanan panjang. Butuh energi yang besar, butuh kesabaran dalam menjalaninya. Jangan berharap pasangan yang sempurna karena itu tidak akan pernah ada, akan tetapi terimalah pasangan anda dengan cara yang sempurna lalu belajar bersama, saling mengingatkan, saling menguatkan satu sama lain hingga Allah menyatukan hati-hati diantara kita dan pada akhirnya kita menjadi pribadi yang saling menyempurnakan.

 

Artikel Menarik Lainnya







comments