Sebuah kalimat bijak mengatakan “Pernikahan itu bukan soal siapa cepat karena ia bukan perlombaan tapi adalah tentang siapa yang siap, pantas untuk memulai sebuah sebuah perjalanan panjang membangun mahligai rumah tangga yang akan dipertanggung jawabkan di dunia maupun akhirat nanti”.

Kapan aku siap menikah ?

Apakah aku sudah siap menikah ?

Seperti apakah seorang wanita bisa dikatakan siap menikah ?

Mungkin itu adalah beberapa pertanyaan yang sering menyeruak keluar dari benak para muslimah sehingga terkadang bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri yang pada akhirnya membawa pada keragu-raguan untuk mengambil keputusan memulai sebuah pernikahan dan akhirnya adalah menunda-nunda pernikahan. Terkadang ketakutan yang muncul untuk memulai pernikahan hanyalah buah pikiran yang diada-adakan sendiri entah sebab karena melihat banyaknya pernikahan yang gagal, pengalaman pahit masa lalu tentang pernikahan keluarga dan berbagai sebab lainnya.

Tentu hal ini sangat tidak baik, apalagi sampai menunda sebuah kebaikan karena hal-hal yang alasannya di ada-adakan, meskipun tak menutup kemungkinan sebagian yang lain benar-benar belum siap untuk menikah. Untuk menjawab pertanyaan sudah siapkan aku menikah ? kapan aku siap menikah ? Mari kita coba urai satu persatu dalam 5 kriteria seorang muslimah siap untuk menikah.

1. Siap untuk menjadi seorang istri 

Kriteria seorang wanita siap menikah yang pertama adalah siap untuk menjadi seorang istri. Tidak hanya siap secara lisan namun siap secara persiapan mental, kepribadian dan juga dukungan dari keluarga. Arti siap disini adalah memahami peran yang wajib dilakukannya sebagai seorang istri, tau apa hak-hak yang harus dia terima dari suami, mengerti bagaimana melayani suami. Tidak harus sempurna dan tau semuanya namun setidaknya paham dan mengerti tentang tugas dan peran utamanya sebagai seorang istri.

Jangan sampai nanti setelah menikah malah dia yang jadi pemimpin dan mengatur suaminya atau sebaliknya dia yang bertanggung jawab atas nafkah keluarga dan suami malah bersantai.  Dan sering juga terjadi banyak muslimah yang belum paham kalau suami lebih utama dari orang tua dan keluarganya sendiri sehingga dia malah lebih patuh terhadap orang tua dan keluarganya dibanding kepada suami.

2. Siap untuk menjadi seorang ibu

Kriteria yang kedua adalah siap menjadi ibu. Salah satu tujuan utama pernikahan adalah melahirkan generasi penerus umat ini. Tak hanya meneruskan tapi juga mendidik dan membesarkan generasi yang memberi kontribusi terbaiknya untuk bangsa dan agama. Dan ibu memiliki peranan penting dalam hal ini, yaitu sebagai sekolah dan guru pertama serta terbaik bagi anak-anaknya.

3. Di restui oleh ayah dan ibunya untuk menikah

Sejak kecil seorang wanita dirawat, dibesarkan, disekolahkan serta diberikan fasilitas terbaik oleh ayah dan ibunya. Entah berapa banyak pengorbanan ayah dan ibu padanya, tentu hal ini akan selaras dengan besarnya kasih sayang ayah dan ibu pada anak gadisnya ini. Maka perlu dipahami bahwa melepaskan kehidupan anak gadisnya pada seorang laki-laki asing yang baru dia kenal tentu bukanlah hal yang mudah baginya, oleh karena itu orang tua akan benar-benar berhati-hati dalam memilih calon menantunya, orang yang akan dia serahi tanggung jawab atas anaknya. Dia akan memastikan laki-laki yang kelak membersmai anaknya adalah laki-laki yang amanah, bertanggung jawab dan bisa membahagiakan anaknya.

Sebab dari itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslimah untuk selalu mengutamakan restu dan ridho dari orang tua dalam memilih calon suaminya. Hindari untuk memaksakan kehendak pada orang tua dengan alasan sudah cinta, terlebih lagi hindari sampai membangkang, memaksakan kehendak atau bahkan mengancam orang tua. Jika ada perbedaan pandangan tentang jodoh diskusikan dengan cara yang baik-baik serta santun.

4. Siap menerima apapun ketentuan dari Allah dan meyakininya itulah yang terbaik

Salah satu kriteria kesiapan seseorang siap menikah termasuk juga para muslimah adalah siap menerima apapun ketentuan dari Allah SWT atas dirinya, ia meyakini ketentuan dari Allah SWT adalah yang terbaik untuk dirinya. Apakah ketentuan itu hal-hal yang dia sukai ataupun tidak disukainya.

Sejatinya hidup ini adalah ujian, pun begitu dengan pernikahan. Ada yang Allah uji dengan menikah muda, menikah di usia yang sudah beranjak tua atau bahkan tidak Allah pertemukan sama sekali dengan jodohnya di dunia ini. Begitu juga ada yang Allah uji dengan menikah dengan orang yang dicintainya semenjak awal atau dengan orang yang membutuhkan usaha baginya untuk mencintai. Dan sebaik-baik hamba adalah yang menerima setiap ujian serta ketentuan dari Allah SWT dengan lapang dada dan penuh keikhlasan.

5. Siap belajar dan berproses untuk menjadi istri maupun ibu yang baik dari hari ke hari

Mustahil rasanya kita menemukan rumah tangga tanpa masalah bahkan rumah tangga Rasulullahpun sering terlibat konflik dengan istri-istri beliau. Ini adalah dinamika dalam berumah tangga yang mesti dilewati dengan penuh kesabaran serta terus meningkatkan kualitas diri dengan pembelajaran agar bijak dalam menghadapi berbagai situasi dalam rumah tangga.

Maka kesabaran akan menjadi senjata utama untuk mempertahankan agar mahligai rumah tangga yang dibangun tetap berdiri kokoh. Terus belajar menjadi istri yang baik, terus belajar menjadi ibu yang baik dan nikmati prosesnya. Tak ada sesuatu yang instan begitu juga dalam membangun rumah tangga.

Sumber foto : google.com

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments