Amalan apa yang akan terus mengalir pahala kebaikannya pada kita disaat kita telah tiada ? Salah satunya adalah do’a dari anak yang shaleh dan shaleha. Kita, para orang tua tentu memiliki harapan yang besar agar putra-putri kita menjadi anak yang shaleh serta shaleha, anak yang taat pada Allah SWT, meneladani kehidupan Rasulullah SAW serta berbakti pada orang tua. Dan untuk melahirkan serta mencetak anak dengan kepribadian qur’ani tentu bukanlah hal yang mudah butuh tekad yang kuat, butuh niat yang tulus ikhlas, butuh perjuangan, butuh pengorbanan dan butuh kesabaran untuk mewujudkannya.

Kesadaran akan perlunya mendidik anak dengan baik, benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya adalah hal penting yang mesti sadari sejak awal bahkan sebelum menikah. Karena mustahil rasanya bisa melahirkan anak-anak dengan pribadi berkualitas kalau usaha yang kita berikan untuk mencapainya hanya ala kadarnya saja. Mungkin hari ini kita memprioritaskan karir kita, teman atau sahabat sekantor, teman di komunitas atau organisasi atau kecintaan pada hobi kita dibanding pada anak kita. Sadarilah kalau suatu saat nanti kita sudah tua renta yang akan menemani kita siang malam adalah anak-anak kita, jika suatu saat kita meninggal yang akan mengurus jenasah kita mulai dari memandikan, menyalatkan hingga mengantarkan kita ke kuburan dengan penuh berat bahkan tangisan adalah anak-anak kita, yang akan mendo’akan kita siang malam nanti agar selalu dilapangkan kuburnya, diberikan rahmat dan ketenangan adalah anak-anak kita. Ya, anak-anak kita, selain itu? Hanya sementara bahkan saudara-saudara terdekat sekalipun.

Untuk itulah semenjak awal agar anak kita menjadi anak dengan pribadi berkualitas kita memberikan pendidikan yang berkualitas pula pada anak-anak kita. Satu hal yang mesti kita ketahui adalah hal-hal fatal apa saja yang tidak boleh dilakukan dalam mendidik anak semenjak usia dini, semenjak dimana karakter dan kepribadiannya akan dibentuk. Dalam uraian berikut akan kami bagikan 6 kesalahan fatal dalam mendidik anak usia dini.Perlu kita sepakati bersama, usia dini yang kami maksud disini adalah usia anak semenjak 0 – 5 tahun atau para ahli sering menyebutnya sebagai masa-masa keemasan anak.

1. Tidak selektif dalam memilih calon ayah ataupun ibu untuk anak-anak kita kelak

Kesalahan fatal yang pertama adalah tidak selektif dalam memilih calon ayah ataupun ibu untuk anak-anak kita kelak. Terkhusus ini untuk yang masih sendiri, perlu diketahui kalau pernikahan bukan hanya tentang suka dan cinta saja akan tetapi jauh dari itu pernikahan adalah sebuah mesin peradaban untuk melahirkan generasi-generasi hebat. Makanya Rasulullah SAW jauh-jauh hari mengingatkan kita agar memilih jodoh dengan parameter utama adalah agamanya baru menyusul hal-hal lain seperti harta, keturunan, serta penampilan.

Sulit rasanya jika kita berharap anak kita shaleh, taat namun pasangan hidup kita saja untuk shalat 5 waktu begitu susah, membaca Al-quran tak pernah, belajar ilmu ke majelis ilmu apalagi. Padahal orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya dan rumah tangga adalah sekolah pertamanya. Untuk itu jika berharap anak dengan pribadi berkualitas maka pastikan guru dan sekolah pertamanya juga berkualitas.

2. Menitipkan anak pada orang lain semenjak dini

Terkadang hal ini menjadi suatu yang sangat menyedihkan ketika kita menyaksikan entah berapa banyak anak-anak usia dini bahkan di bawah 1 tahun sudah dititipkan oleh orang tuanya pada orang lain. Banyak kenikmatan-kenikmatan yang harus dirasakan seorang anak di usia tersebut harus terengkuh hilang oleh sesuatu yang semua. Anak-anak diusia dini sangat membutuhkan dekapan ibunya untuk membangun kepribadian dan karakter yang kuat dalam dirinya,  juga air susu ibunya sebagai zat mulia dengan banyak khasiat yang sangat berguna bagi pertumbuhannya baik lahir maupun batin dan dia juga membutuhkan kasih sayang dalam tatapan ikhlas ibunya saat menyusui, ini adalah saat-saat berkualitas bersama anak, dan takkan tergantikan sekalipun dengan emas dan mutiara.

Maka, untuk anda calon ibu ataupun ibu manfaatkanlah momen ini dengan sebaik-baiknya dan untuk para suami berikanlah dukungan baik secara lahir dan batin pada para istri untuk mengambil kesempatan emas ini, membersamai anaknya dirumah semenjak dalam kandungan. Ini bukan lagi hanya tentang persoalan menjadi ibu karir atau ibu rumah tangga tapi ini tentang masa depan anak kita dan juga masa depan kita di dunia dan akhirat kelak.

3. Menghardik atau membentak anak semenjak dini

Tak dipungkiri memang saat ini dengan mudah kita menemukan para orang tua yang dengan mudah membentak, menghardik, mengancam anaknya dalam berkomunikasi bahkan tak jarang juga yang sampai memukul anaknya dengan tangan maupun benda-benda keras. Anak dengan usia dini khususnya dibawah 5 tahun tak semestinya mendapatkan perlakukan kasar, yang dibutuhkannya adalah kasih sayang penuh cinta dari orang tuanya, pujian dan apreasiasi dari orang tuanya. Bahkan jika salahpun nasihatilah dengan cara yang bijak, sangat berbahaya jika anak seusia ini diberikan perlakuan kasar terlebih bagi perkembangan sikap dan mentalnya. Anak adalah hadiah dari Allah SWT, ia adalah buah cinta kita dengan pasangan kita, maka besarkan jugalah ia dengan penuh cinta.

4. Memberikan panggilan yang buruk pada anak sejak dini

Nama adalah do’a, begitu juga dengan memberikan panggilan atau julukan yang buruk pada anak hati-hati karena itu bisa menjadi do’a kita pada anak kita. Contoh julukan buruk yang sering diberikan orang tua pada seperti “si bodoh” kalau anaknya sering salah dalam melakukan sesuatu, “si tuli” jika anaknya susah dinasihati atau dipanggil, dan beragam jenis julukan buruk lainnya.

5. Terlalu cepat memarahi jika anak bersalah dan tak pernah memuji jika anak melakukan kebaikan

Salah satu kelemahan yang mungkin suda mengakar dalam setiap masyarakat kita adalah mudah mengejek, mudah memarahi, mudah menghukum jika seseorang melakukan kesalahan. Bahkan dalam pendidikan di sekolahpun kita merasakan hal ini, di saat terlambat datang kesekolah kita dihukum dan ketika kita datang tepat waktu kita tidak mendapatkan apreasi atau pujian,sangat tidak adil bukan?  Begitu juga dengan kebanyakan orang tua, mudah sekali melihat kesalahan anak dan begitu sulit untuk menemukan kebaikan dalam dirinya.

Untuk saat itu, sebagai orang tua marilah kita bersikap jujur dan adil pada anak. Jika anak melakukan kesalahan kita tegur dan berikan nasihat padanya dan jika melakukan kebaikan berikan pujian serta apreasiasi berupa hadiah padanya. Hal sederhana ini sangat penting baginya dalam membangun percaya diri serta semangat untuk berbuat kebaikan.

6. Melakukan ke 5 kesalahan di atas

Sebenarnya jika terus kita gali tentu masih banyak kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan oleh orang tua pada anaknya semenjak usia dini, semoga di lain waktu bisa kita lanjutkan bagian ini. Anak di usia dini atau dibawah 5 tahun cenderung hanya melihat, meniru, mendengarkan dan melakukan hal-hal apa saja yang kita lakukan, oleh karena itu setiap sikap dan kepribadian kita adalah materi pembelajaran baginya yang tentu akan turut serta membentuk karakter, kepribadian dan mentalnya. Maka mari pastikan kita melakukan hal-hal terbaik untuk anak kita, ibarat sebuah ladang anak-anak adalah biji yang kita semai, kita rawat hingga tubuh sampai masanya panen, baik atau tidak hasil panennya tentu sangat bergantung pada perlakukan “petani”nya. Untuk itu mari sama-sama kita ikhiarkan bersama yang terbaik untuk anak kita, hindari kesalahan-kesalahan fatal di atas apalagi melakukan semua kesalahannya. [Uda Agus/Elmina]

Sumber foto : ummi-online.com

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments