Bicara cinta (lagi) dan lagi, ah itu mungkin yang ada dalam pikiran anda, hehe. Benar memang membicarakan cinta ini bak mengarungi lautan luas tak bertepi, entah kapan akan usainya, entah kapan akan selesainya. Entah sudah berapa puluh ribu pujangga yang menggoreskan penanya untuk membahas tentang cinta namun hingga saat ini atau entah mungkin hingga tinta mengering belumlah selesai kita menggenapkan bahasan perkara cinta.

Kita hidup karena cinta, oleh cinta dan juga untuk yang kita cintai. Ya, kita tak bisa lepas dari cinta dalam kehidupan sehari-hari. Kita senantiasa dan mesti bersama dengan cinta. Yang menjadi persoalan adalah sudahkah benar kita menempatkan dan memposisikan diri kita dalam mencintai sesuatu apakah itu cinta pada Allah, Rasul, pasangan, keluarga ,harta atau bahkan pacar (yang satu ini semoga tidak terjadi ya hehe).

Salah dalam menempatkan dan memposisikan diri kita dalam mencintai tak hanya membuat kita hanya galau didunia, banyak kecewa, namun juga berakibat bisa mengancam kekokohan akidah kita.

Agar kita sama-sama bisa selamat dan bijak dalam memahami cinta, dalam menempatkan dan memposisikannya di hati kita, Seorang ulama abad ke-7 Ibnul Qayyim Al Jauzy membagi 6 tingkatan cinta.

6 Tingkatan cinta ini adalah urut-urutan mana yang harus kita cintai pertama kali, mana yang menjadi prioritas dalam mencintai dari yang paling utama hingga yang paling akhir. Adapun 6 tingkatan cinta tersebut adalah :

1. Tingkatan yang pertama adalah tatayyum

Tatayyum adalah tingkatan tertinggi dalam mencintai, ini hanya hak Allah semata. Ini adalah cinta prioritas bahkan mencintai yang selain dari Allah adalah sebagai bukti kita mencintai Allah SWT.

“Cintaku, hanya untukmu seorang”

“Tiada yang lain bisa mengisi hatiku selain dirimu”

“Aku tak bisa hidup tanpamu”

“Diriku tanpamu bagai malam tak berbintang”

Bagi mereka yang melakoni aktivitas pacaran, tentu sudah tak asing dengan puji dan puja terhadap pasangannya seperti “gombalan” diatas. Bahkan tak jurang juga pasangan yang sudah menikahpun yang melakukan ini dengan pasangannya. Nah, setelah mengetahui hal ini semoga kita semua paham dan mengerti kalau cinta yang utama, pertama dan paling prioritas hanya untuk Allah SWT. Cinta-cinta yang lain kepada makhluknya hanya sebagai bentuk mencintai Allah SWT.

2. Tingkatan yang kedua adalah ‘Isyk

‘Isyk adalah cinta yang menjadi hak Rasulullah SAW, cinta kepada teladan kita, kepada junjungan kita hingga menjadikan kita untuk selalu berusaha mengikuti apa yang beliau lakukan, mengerjakan sunnah-sunnahnya, selalu bershalawat padanya.

“Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Nabi) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian (Q.S : Ali imran 3)”

Kecintaan kita kepada Rasulullah SAW adalah kecintaan yang Allah perintahkan. Semoga dengan mengetahui hal ini kita menjadi lebih bangga lagi menjadi umat Rasulullah SAW serta dengan bangga pula menjalankan serta menyerukan sunnah-sunnahnya.

3. Tingkatan ketiga adalah Syauq

Syauq adalah cinta antara satu mukmin dengan mukmin lainnya namun lebih dekat secara kekeluargaan. Seperti cinta ayah dan ibu kepada anaknya, cinta kakak kepada adik, cinta antara suami kepada istrinya. Karena cinta ini jugalah manusia saling berkembang meneruskan keturunannya.

4. Tingkatan keempat adalah shababah

Shababah adalah cinta sesama muslim dalam lingkup yang lebih luas. Tidak saling mengenal, tidak ada kedekatan secara darah, daerah, bahkan bangsa sekalipun namun dipersatukan oleh satu kalimat tauhid “Laa ilaha illallah” .

Hubungan yang didasari oleh ikatan cinta shababah inilah yang menguatkan kita sesama muslim untuk bisa saling merasakan satu sama lain. Untuk saling menolong dan membantu satu sama lain jika saudara kita terkena ancaman atau musibah.

5. Tingkatan kelima adalah ‘Ithf (Simpati)

‘Ithf bicara tentang sisi kemanusiaan, jadi pada tingkatan ini adalah bagaimana kita bersimpati kepada sesama manusia tanpa melihat apapun suku, bangsa bahkan agamanya sekalipun. Maka jika dia dalam kesulitan, maka alasan sesama manusia cukup bagi kita untuk memberikan bantuan serta pertolongan padanya.

6. Tingkatan keenam adalah intifa

Intifa adalah tingkatan terendah dalam tingkatan-tingkatan cinta, apa itu intifa?, cinta pada keinginan pemanfaatan kepada harta benda. Cinta kepada harta benda atau dunia inilah yang sering sekali menggelincirkan kita, sering menyesatkan kita, membuat kita terlena dan terlupa akan cinta-cinta yang lebih utama dan jauh lebih penting dari ini, bahkan dalam kondisi tertentu ada yang menempatkan cinta ini pada tingkatan tertinggi melebih cintanya pada Allah SWT.

Sahabat semua, itulah tingkatan-tingkatan cinta yang dijelaskan oleh Ulama kita Ibnul Qayyim Al jauzy kepada kita semua. Semoga dengan mengetahui ini bisa menjadikan kita lebih bijak dalam menempatkan serta memposisikan diri kita dalam mencintai.  [Uda Agus/Elmina]

Artikel Menarik Lainnya







comments