Bullying yang secara bahasa berarti penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain (sumber : wikipedia) . Adalah aktivitas yang kerap terjadi disekolah atau dilingkungan permainan anak. Akhir-akhir ini kita sering membaca melalui berita kasus-kasus bullying terhadap anak yang terjadi di sekolah seperti pemukulan, penghinaan, pelecehan serta berbagai perlakuan tidak baik lainnya. Yang tidak terekam oleh berita tentu jauh lebih banyak lagi.

Bullying tentu memiliki dampak yang sangat buruk terhadap anak yang menjadi korban maupun pelakunya, Bagi anak korban bullying hal ini akan merusak mentalnya, membuat anak menjadi penakut, tertutup, susah bersosialisasi dan membuat kepercayaan diri anak hilang. Tak sedikit anak yang awalnya ceria berubah menjadi murung setelah mendapat perlakukan bullying dari teman-temannya di sekolah, tak jarang juga anak yang awalnya rajin serta bersemangat menjadi malas untuk datang ke sekolah di sebabkan takut kena bullying lagi oleh teman-temannya, selain itu  bullying juga berdampak pada kerusakan fisik jika pelaku melakukan aktivitas fisik seperti memukul, membanting dan sejenisnya akibatnya tentu bisa membuat korbannya babak belur, cacat hingga meninggal dunia. Sementara bagi pelaku bullying sendiri tentu akan membuat dirinya menjadi semakin “beringas” dalam menindas, semakin merasa jagoan dan sombong atau malah berbalik menjadi penakut dan melemahkan mentalnnya di saat orang tua korban pelaku bullying melakukan pembalasan seperti membentak, memukul atau melaporkannya pada pihak yang berwajib.

Secara umum kita bisa melihat prilaku bullying melahirkan dampak yang buruk baik bagi pelaku ataupun korban, menjadi tugas kita sebagai orang tualah untuk mengantisipasi hal ini terjadi pada anak kita. Kita mengantisapasi dari awal agar anak kita tidak menjadi korban ataupun pelaku dari aktivitas bullying ini. Berikut adalah 7 kiat mengantisipasi anak dari bahaya bullying.

1.Mengajarkan pada anak tentang makna harga diri yang sebenarnya.

“Lo kalau nggak mau berantem cemen, banci !” teriak salah seorang anak pada temannya agar mau diajak berantam. Karena si anak tak terima dikatain cemen dan banci diapun menerima ajakan tersebut.

Banyak kasus perkelahian antar anak berawal dari saling ledek, saling ejek dan saling hina. Si anakpun melawan karena dia merasa harga dirinya diinjak oleh teman-temannya, dia tidak terima kalau dia remehkan oleh temannya. Ya, lagi-lagi karena harga diri akhirnya bullying dimulai. Seandainya memenangkan perkelahian maka anak akan diakui sebagai jagoan, ditakuti teman-temannya dan diapun menjadi lebih bersemangat lagi untuk melakukan perkelahian selanjutnya. Sementara jika kalah apalagi sampai menangis maka bersiaplah untuk bullying-bullying selanjutnya, karena sepenjang pengamatan kami anak yang sering menerima bullying adalah anak yang terlihat lemah, penakut, penangis serta cengeng. Semakin anak tersebut menampakkan sikap penakutnya maka semakin sering jugalah ia akan dibully, hal ini menjadi sebuah hukum alam yang berlaku di dunia perilaku bullying ini.

Kewajiban kita sebagai orang tua tentu mengajarkan makna yang benar tentang harga diri pada anak, anak harus memahami kalau harga diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa kuat fisiknya, seberapa berani dia dalam berantam dan seberapa sering dia memenangkan perkelahian. Dan, mengalah serta menjauhi perkelahianpun bukan berarti cemen atau penakut. Anak harus tau, dirinya akan lebih berharga jika memberi banyak manfaat untuk lingkungan sekitarnya salah satu bentuk memberi manfaat tentu dengan tidak membuat keributan dan menghindari perkelahian.

2. Menjaga lisan anak serta mengajarkan adab-adab dalam berbicara yang baik kepada orang lain.

Salah satu aktivitas bullying yang kerap terjadi adalah menghina atau mengejek, misalnya anak diejek pendek, jelek, hitam, miskin, mengejek orang tua anak, serta berbagai ejekan negative lainnya. Sebagai solusinya untuk mengantisipasi hal ini tentu orang tua harus menanamkan pada anak tentang menjaga lisan dan bahayanya saat lisan kita menyakiti orang lain, menjaga adab-adab berbicara yang baik serta tidak menyinggung perasaan orang lain. Orang tua juga harus menyampaikan pada anak kalau segala hal yang berhubungan dengan fisik kita adalah anugerah dari Allah SWT, jadi jika mengejek fisik seseorang sama artinya dengan menghina ciptaan Allah SWT.

Sebagai antisipasi agar anak tidak menjadi korban orang tua juga perlu menekankan pada anak kalau parameter keberhasilan seseorang bukan tentang seberapa bagus fisiknya namun ada pada nilai-nilai kebaikan yang ada dalam dirinya.

3.Mengajarkan anak beladiri

Mengajarkan anak beladiri adalah salah satu kiat terbaik untuk mengantisipasi anak dari bahaya bullying, kita sebagai orang tua tak pernah tau anak seperti apa dan latar keluarga seperti apa yang akan ditemuinya disekolah atau lingkungan bermain. Belajar beladiri tentu harus dibarengi dengan pemahaman serta pemaknaan tentang beladiri itu sendiri, anak harus mengerti kalau ilmu beladirinya hanya boleh dikeluarkan di saat-saat genting dimana temannya sudah berniat jahat dan ingin mencelakakan dirinya. Anak juga harus diingatkan dengan menguasai ilmu beladiri bukan berarti ia boleh sombong serta semena-mena memperlakukan teman-temannya.

4.Membangun komunikasi yang baik dengan teman serta orang tua dari teman anak-anak kita.

Saat ada ikatan emosional antara kita sebagai orang tua dengan teman anak-anak kita serta juga dengan orang tua dari teman anak-anak kita tentu akan sangat bermanfaat untuk mengantisipasi aktivitas bullying ini. Anak yang sudah akrab dengan orang tua dari temannya serta orang tua dari merekapun bersahabat tentu akan cenderung menghindari bullying karena ada ikatan emosi diantara mereka.

Oleh karena itu tidak ada salahnya oleh orang tua mengundang teman-teman anaknya untuk datang bermain kerumah lalu kalau ada waktu orang tuapun sesekali berkunjung ke rumah teman dari anaknya untuk menjalin persahabatan dengan orang tua dari teman anak-anaknya.

5.Mengajarkan anak terbuka pada orang tua maupun gurunya

Kita sebagai orang tua mesti menjadi pendengar yang baik sekaligus sahabat bagi anak sehingga anak tidak sungkan untuk menceritakan masalahnya kepada orang tua termasuk permasalahan jika dia menjadi korban bullying. Begitupun saat bullying terjadi disekolah anak juga terbuka untuk bicara kepada gurunya kalau dia menjadi korban bullying dari teman-temannya. Sehingga dengan sikap anak yang terbuka permasalahan bullying bisa segera diselesaikan jika menimpa anak kita sebagai korbannya.

6.Membangun kepercayaan diri pada anak

Banyak dari kasus pembullyian berawal dari anak yang terlihat minder, pemalu, penakut dan mudah menangis. Maka sebagai solusinya bagi orang tua tentu membangun kepercayaan diri pada anak. Saat anak terlihat memiliki kepercayaan diri yang bagus, cara komunikasi yang baik dalam pergaulannya apalagi memiliki kepemimpinan yang menonjol dalam pergaulannya tentu akan mengantisipasi dirinya dari perilaku bullying.

7.Semua berawal dari orang tua

Ya, semua berawal dari orang tuanya. Lagi-lagi kita berbicara tentang keteladanan, saat orang tua mengajarkan percaya diri, sikap yang baik dalam pergaulan, bagaimana berkata-kata yang baik, bagaimana menghadapi sikap buruk orang lain maka orang tua harus memberikan contoh tersebut pada anaknya. Karena anak adalah cerminan dari diri orang tuanya, anak melakukan apa yang dilakukan oleh orang tuanya bukan apa yang sering dikatakan oleh orang tuanya, maka sebagai orang tua tugasnya tentu memberi keteladanan yang baik kepada anaknya.

Bullying ada dan akan selalu ada (setidaknya untuk kondisi saat ini), maka berharap membuat anak terbebas dari bullying tentu hal yang mustahil, yang bisa kita lakukan sebagai orang tua tentu mengantisipasinya dan membuat anak lebih berdaya dalam menghadapinya.

 

Artikel Menarik Lainnya







comments