Sebagai konsep pendidikan anak yang telah teruji oleh zaman dan terbukti melahirkan generasi-generasi hebat parenting Nabawiyah memiliki beberapa metode dalam mendidik anak. Prinsip pendidikan anak ala parenting nabawiyah memudahkan, sebagaimana dijelaskan melalui sabda Nabi Saw,.

Dari Ibnu Abbas ia berkata “Ajarilah, permudahlah, jangan engkau persulit, berilah kabar gembira, jangan engkau beri ancaman. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah diam.”

Berikut adalah 7 metode mendidik anak ala parenting nabawiyah.

Menampilkan Suri Teladan yang Baik

Sebagaimana pernah kita sampaikan dalam tulisan sebelumnya, bahwa salah satu karakter parenting nabawiyah adalah keteladanan. Memberikan keteladanan adalah cara terbaik dan termudah dalam menyampaikan suatu pesan pada anak. Setiap anak memiliki kesamaan yaitu lebih mudah mengikuti apa yang dicontohkan dibanding mengikuti nasihat-nasihat yang diberikan.

Baca juga : Parenting Nabawiyah

Saat orang tua menyuruh anaknya untuk rajin shalat ke masjid sementara ayah sendiri shalat di rumah maka anak akan mudah meniru aktivitas ayah yang shalat di rumah dibanding mengiktuti petuah yang didengarkannya untuk shalat di masjid.

Sedari lahir hingga remaja anak akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan orang tuanya, dan dalam kurun waktu tersebutlah anak akan banyak belajar dari melihat apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Untuk itulah setiap orang tua perlu menampilkan suri teladan yang baik dihadapan anak-anaknya agar ditiru oleh sang anak.

Rasulullah Saw memerintahkan kedua orangtua untuk menjadi suri teladan yang baik dalam bersikap dan berprilaku jujur dalam berhubungan dengan anak.

Suatu ketika Ibnu Abbas melihat Rasulullah Saw biasa bangun untuk shalat malam. Suatu malam, Nabi Saw bangun, kemudian berwudhu dengan wudhu yang ringan dari kendi yang digantung. Setelah itu beliau shalat. Aku pun berwudhu sama seperti wudhu beliau. Kemudian aku berdiri di samping kiri beliau. Namun, beliau menarikku dan meletakkanku di samping kanan beliau. Kemudian beliau shalat beberapa rakaat…”

Begitulah seorang anak yang melihat Rasulullah Saw lalu menirunya. Ketika seseorang menyatakan dirinya siap menjadi orang tua maka saat itu juga dia secara tak lansung harus memiliki kesiapan diri untuk menampilkan suri teladan yang baik di keluarganya.

Masih tentang kisah keteladanan orang tua, kali ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abdullah bin Abi bakrah, ia berkata :

Aku bertanya kepada bapakku, “Wahai bapakku, sesungguhnya aku selalu mendengarmu berdoa setiap hari ‘Ya Allah, berilah kesehatan pada pendengaranku, ya Allah, berilah kesehatan pada penglihatanku’, engkau selalu mengulanginya sebanyak tiga kali setiap pagi, dan tiga kali setiap sore.” Dia menjawab, “Wahai anakku, aku pernah mendengar Rasulullah Saw berdoa dengan doa itu, dan aku suka mengikuti sunnah beliau.”

Muhammad Quthb dalam karyanya Manhaj at-Tarbiyah al-Islamiyah menyebutkan,.

“Kemampuan seorang anak untuk mengingat dan mengerti akan segala hal sangat besar sekali. Bahkan, bisa jadi lebih besar dari yang kita kira. Sementara, sering kali kita melihat anak sebagai makhluk kecil yang tidak bisa ‘mengerti dan mengingat.”

Untuk itulah kita sebagai orang tua perlu memastikan apa-apa yang kita lakukan di hadapan anak kita adalah kebaikan. Sebab anak tidak bisa menyaring mana yang baik dan buruk, mana yang perlu ditiru dan mana yang tidak. Anak hanya akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

Mencari waktu yang tepat untuk memberi pengarahan

Memberi nasihat pada anak tentu boleh, mengingatkan anak tentu sebuah kebaikan akan tetapi perlu diperhatikan kapan waktu memberi pengarahan tersebut. Sebab, terkadang bukan anak yang tidak mau diarahkan atau sulit diarahkan akan tetapi orang tua sendiri yang memberi pengarahan di waktu yang kurang tepat.

Rasulullah Saw selalu memperhatikan secara teliti tentang waktu dan tempat yang tepat untuk mengarahkan anak, membangun pola pikir anak, dan menumbuhkan akhlak yang baik dalam diri anak.

Rasulullah Saw memberikan contoh pada kita 3 waktu yang tepat untuk memberikan nasihat pada anak.

  1. Saat dalam perjalanan
  2. Saat makan
  3. Saat anak sakit

Lebih detailnya baca  : 3 Waktu yang Tepat Untuk Memberikan Nasihat Pada Anak

Bersikap Adil, dan Menyamakan Pemberian untuk Anak

Penyakit iri dan dengki pada saudara biasanya muncul saat orang tua lebih menyayangi saudaranya yang lain daripada dirinya sendiri. Anak yang merasakan ketidakadilan dalam keluarganya akan menjadi liar. Keliaran serta rasa dengki sang anak akan menjadi berbahaya dan membabi buta sebagaimana dicatat oleh sejarah kisah saudara-saudara Yusuf As yang karena rasa dengkinya pada Yusuf dia membuangnya ke sumur.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, an-nasa’i dan Ibnu Hibban dari hadis an-Nu’man bin Basyir :

Rasulullah Saw bersabda,

“Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian dalam pemberian seperti kalian suka apabila mereka berlaku adil terhadap kalian dalam hal berbakti dan  kelembutan.”

Thawus mengatakan,

“Sikap (membeda-bedakan pemberian) ini tidak diperbolehkan, walaupun hanya dalam masalah sepotong roti.”

Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin Abdillah ia berkata :

“Ada dua orang anak sedang berkelahi ; satu anak dari kalangan Muhajirin, dan satu lagi dari kalangan Anshar. Anak dari kalangan kaum Muhajirin itu berseru, “Wahai kaum Muhajirin (bantulah aku)!!” Anak dari kalangan Anshar tidak mau kalah, “Wahai kaum Anshar (bantulah Aku)!!”

Rasulullah Saw keluar rumah dan berseru,.

“Apa ini? Seruan jahiliyah (yang aku dengar) ?” Orang-orang menjawab, “Bukan wahai Rasulullah, hanya dua orang anak kecil berkelahi. Salah satu dari mereka menendang bokong yang lain.” Beliau bersabda, “Kalau begitu tidak apa-apa. Hendaknya seseorang membantu saudaranya baik dia sedang berbuat zalim maupun sedang dizalimi. Apabila dia sedang zalim, hendaklah melarangnya, karena itulah bantuan untuknya; dan apabila sedang dizalimi, hendaklah membantunya.”

Diantara bentuk keadilan adalah apabila kita melihat dua orang anak kecil sedang berkelahi, segera leraikan mereka. Karena pasti salah satunya zalim dan yang lain dizalimi. Oleh karena itu, at-Tirmidzi mengatakan, “Aku melihat Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) berjalan melewati anak-anak yang sedang berkelahi. Beliau melerai mereka.”

Dalam riwayat lain dari Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ia berkata :

“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah berada di mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya di samping kanan ar-Rahman; kedua Tangan-Nya adalah kanan, yaitu orang-orang yang berlaku adil pada keputusan, keluarga dan apa yang mereka kuasai.”

Menunaikan Hak Anak

Anak akan merasa nyaman jika haknya  dijaga dan ditunaikan oleh orang tuanya. Menunaikan hak anak juga akan melatih dirinya untuk bisa menjaga haknya.

Rasulullah Saw meminta izin kepada anak kecil yang duduk di samping kanan beliau agar mau memberikan haknya kepada orang tua yang duduk di samping kiri beliau. Ternyata si anak tersebut tidak mau memberikan haknya bekas minum Rasulullah Saw kepada orang dewasa tersebut. Maka, memberikan cawan itu kepada si anak kecil untuk dia minum; dia pun menikmati haknya.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu:

Bahwasanya Rasulullah Saw diberi minuman. Beliau minum. Sementara di samping kanan beliau duduklah seorang anak, dan di samping kiri beliau duduk orang-orang dewasa. Beliau bersabda kepada anak itu, “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka (terlebih dahulu)?” Dia menjawab, “Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.” Maka, Rasulullah Saw meletakkan cawan itu di tangannya.

Para salafus-saleh pun melakukan hal yang sama menerima persaksian dan kebenaran dari anak-anak apapun bentuknya.

Abu Hanifah rahimahullah melaksanakan nasihat seorang anak kecil. Beliau melihat seorang anak kecil sedang bermain dengan lumpur. Beliau katakan, “Hati-hati, jangan sampai terjatuh ke dalam lumpur.” Anak kecil itu balik berkata kepada imam agung ini, “Berhati-hatilah anda dari terjatuh (salah dalam memberi fatwa), karena jatuhnya seorang ulama adalah jatuhnya seluruh dunia.” Mendengar perkataan ini, tubuh Abu Hanifah gemetar. Setelah mendengar nasihat dari anak kecil tersebut, beliau tidak lagi mengeluarkan fatwa kecuali setelah melakukan penelitian mendalam bersama murid-muridnya selama satu bulan penuh.

Mis’ar bercerita : Pernah aku berjalan bersama Abu Hanifah. Secara tidak sengaja, beliau menginjak kaki seorang anak. Anak itu berkata kepada Abu Hanifah, “Wahai syaikh, tidakkah engkau takut hukuman qishash di hari kiamat kelak?” Mendengar perkataan ini,mendadak Abu Hanifah pingsan. Aku mengipasi beliau sampai beliau sadar. Aku katakan kepada beliau, “Wahai Abu Hanifah, betapa dahsyatnya perkataan anak kecil ini menghujam di hatimu.” Abu Hanifah menjawab, “Aku khwatir dia sedang mentalqinku”

Hak anak selanjutnya dari orang tua adalah do’a kebaikan. Setiap orang tua harus konsisten dalam mendoakan anaknya. Do’a orang tua selalu dikabulkan di sisi Allah Swt. Dengan do’a, rasa sayang akan semakin membara, rasa cinta kasih akan semakin tertanam kuat di hati sanubari kedua orang tua, sehingga keduanya akan semakin tunduk kepada Allah Swt dan berusaha sekuat tenaga untuk dapat memberikan yang terbaik bagi anak mereka untuk masa depannya.

Tapi perlu diperhatikan juga oleh setiap orang tua agar berhati-hati jangan sampai mendoakan keburukan untuk anaknya. Seberapa pun kemarahan dan kebencian pada anak tetaplah mendoakan kebaikan untuk dirinya. Banyak orang tua yang kesal sebab kenakalan anaknya, marah karena anaknya susah nurut lalu dengan mudah mengeluarkan sumpah serapah yang berisi doa keburukan pada anaknya, tentu hal ini mesti dihindari oleh setiap orang tua.

Mari kita contoh akhlak Rasulullah Saw, beliau tidak sampai hati mendoakan keburukan atas kaum musyrikin kota Tha’if. Beliau mengatakan “Aku berharap Allah Swt mengeluarkan dari tulang sumsum mereka keturunan yang beribadah hanya kepada Allah.” Dan Allah mengabulkan harapan beliau.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa Rasulullah Saw bersabda :

“Janganlah mendoakan keburukan atas diri kalian, janganlah mendoakan keburukan atas anak-anak kalian, janganlah mendoakan keburukan atas pembantu-pembantu kalian, janganlah mendoakan keburukan atas harta kalian, ketika bertepatan dengan waktu Allah menurunkan pemberian kepada kalian, sehingga doa kalian dikabulkan.”

Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa ada seseorang datang kepada Abdullah bin Mubarak untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Abdullah bin Mubarak bertanya, “Apakah engkau sudah mendoakan keburukan atasnya?” Dia menjawab, “Benar” Abdullah berkata, “Kalau begitu engkau telah merusaknya.”
(Ihya Ulumuddin)

Daripada menjadi penyebab rusaknya anak dengan mendoakan keburukan padanya, lebih baik kita mendoakan kebaikan  sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw yang mendoakan kebaikan bagi anak-anak, sehingga Allah memberkati masa depan mereka dengan amal saleh, harta benda dan anak yang banyak.

Membelikan Anak Mainan

Sudah menjadi naluri bagi setiap anak mencintai mainan dan benda-benda kecil yang memiliki rupa. Rasulullah Saw menyaksikan burung pipit mainan Abu Umair menjadi bukti tentang pentingnya mainan yang dapat dipegang dan dimainkan dengan kedua tangannya.

Membelikan mainan juga bentuk kasih sayang dari orang tua terhadap anaknya, tetapi perlu diperhatikan  agar membelikan anak mainan yang patut dan sesuai dengan usianya. Selain itu dilihat juga manfaat dan kebaikan dari mainan tersebut, jangan sampai mainan yang diberikan pada anak malah membahayakan dirinya sendiri.

Dr. Shalihah Sanqar menuliskan agar mainan yang dibelikan dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi anak, kedua orang tua sepatutnya memiliki kriteria di bawah ini ketika membelinya :

  • Apakah mainan yang akan dibeli dapat memicu si anak agar dapat selalu bergeraj yang dengannya jasmaninya menjadi sehat ?
  • Apakah termasuk mainan yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan inisiatif?
  • Apakah termasuk mainan bongkar pasang ?
  • Apakah mainan tersebut mendorong si anak untuk meniru tingkah laku dan cara berpikir (postive) orang dewasa ?

Apabila jawabannya ‘YA’, maka mainan tersebut sesuai dengan si anak dan bermanfaat ditinjau dari segi pendidikan.

Membantu Anak untuk berbakti dan mengerjakan ketaatan

Setiap orang tua tentu menginginkan sang anak berbakti padanya, agar hal ini terwujud dibutuhkan keikut sertaan orang tua dalam mendidik anaknya agar berbakti pada orang tua. Untuk menciptakan suasana yang mendukung anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, Rasulullah Saw berdoa untuk segenap orangtua agar Allah Swt menurunkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka dalam aktivitas membantu anak-anaknya. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban bahwasanya Rasullah Saw bersabda :

“Semoga Allah memberi rahmat kepada orangtua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Abu Hurairah :

Rasulullah Saw bersabda, “Bantulah anak-anak kalian untuk berbakti. Di samping itu, mereka juga memiliki kemampuan untuk melenyapkan sifat durhaka dari anak mereka, yaitu dengan hikmah, nasihat yang baik dan waktu yang tepat.

Menghindarkan diri dari marah dan mencela anak

Indahnya akhlak Rasulullah Saw saat bersama dengan anak adalah tidak marah serta tidak pernah mencelanya. Anas pernah menjadi pembantu Rasulullah Saw selama 10 tahun beruntun. Dia menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana metode pendidikan Rasulullah, “Tidak pernah beliau mempertanyakan tentang apa yang aku lakukan, ‘Kenapa kau lakukan ini?’ atau apa yang tidak aku aku lakukan, ‘Kenapa tidak engkau lakukan?’”

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas ra ia berkata :

“Aku menjadi pembantu Nabi Saw selama sepuluh tahun. Tidaklah beliau memberiku perintah, lalu aku lama mengerjakanna, atau tidak aku kerjakan sama sekali, melainkan beliau tidak mencelaku. Apabila ada salah satu anggota keluarga beliau yang mencelaku, beliau bersabda, “Biarkanlah dia. Kalau dia mampu pasti dilakukannya.”

Metode yang dipakai oleh Rasulullah Saw ini menumbuhkan perhatian mendalam dan rasa malu pada diri anak kecil bernama Anas. Dia menemukan hal ini dalam diri Rasulullah Saw.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazaq dari Urwah, dari bapaknya berkata : Rasulullah Saw, atau Abu Bakar, atau Umar ra berkata kepada seseorang yang sedang mencela anaknya atas sesuatu yang dilakukannya, “Anakmu adalah anak panah dari dari tempat anak panahmu”.

Maksudnya adalah saat seorang ayah mencela anaknya, maka secara tak lansung dia sedang mencela dirinya sendiri. Sebab, bagaimanapun juga dialah yang telah mendidik anaknya itu.

Syamsuddin al-Inbabi dalam risalahnya yang berjudul Riyadhatu ash Shibyan wa Ta’limuhum menjelaskan hal ini dengan mengatakan “Tidak boleh banyak mencela anak, sebab hal itu menyebabkan si anak memandang remeh segala celaan dan perbuatan tercela”

Sumber referensi :

  1. Buku Prophetic Parenting
  2. Buku Islamic Parenting

Sumber foto : Denver Islamic Society

Artikel Menarik Lainnya







comments