Kehidupan pernikahan mempertemukan dua pribadi yang berbeda yang memiliki pemikiran berbeda, cara pandang berbeda, gaya hidup berbeda serta juga kebutuhan hidup yang berbeda. Tentu hal ini tak bisa lepas dari persoalan keuangan. Kalau sebelumnya seorang laki-laki cukup memikirkan biaya hidup dirinya sendiri maka setelah menikah dia memiliki tanggung jawab baru yaitu istrinya. Sementara bagi wanita jika sebelumnya biaya hidupnya dibiayai oleh orang tuanya atau dirinya sendiri maka setelah menikah semua biaya hidupnya menjadi tanggungan laki-laki yang telah menjadi suaminya.

Di masa – masa awal pernikahan memang dibutuhkan proses untuk beradaptasi tentang masalah keuangan ini, tentu dengan tujuan agar roda kehidupan rumah tangga berjalan dengan tenang dan lancar. Berikut adalah 8 Tips mengatur keuangan di awal – awal masa pernikahanmu.

1. Saling terbuka membicarakan kondisi keuangan masing – masing

Meskipun sebenarnya hal ini juga dibicarakan di masa-masa ta’aruf maka untuk setelah menikahpun perlu kembali membicarakan ulang hal ini, tentu secara lebih detail. Masing – masing pasangan saling terbuka untuk berbagi kondisi keuangannya saat itu, sebagai panduan kami menyiapkan beberapa pertanyaan yang bisa di ajukan untuk saling mengenal kondisi keuangan masing – masing pihak.

  1. Berapakah penghasilan suami selama ini ? Dan berapa juga penghasilan istri ?
  2. Apakah penghasilan itu stabil (biasanya untuk karyawan ) ataukah selalu berubah (biasanya pengusaha atau freelance) ?
  3. Selain diri sendiri siapa lagi yang menjadi tanggungan wajib selama ini ? Ini contohnya adalah membiayai orang tua, adik atau saudara lainnya.
  4. Apakah masing-masing pihak memiliki hutang ? Kalau iya berapa cicilannya perbulan ? Dan bagaimana mekanisme pembayarannya ?

Hal ini perlu dibicarakan secara terbuka dengan pasangan agar setelah pernikahan berjalan tidak terjadi konflik antara suami dan istri khususnya karena masalah keuangan. Dengan saling terbuka maka akan memudahkan masing-masing pasangan untuk saling memahami dan mengerti.

2. Menyusun data kebutuhan pengeluaran mulai dari harian, bulanan hingga tahunan

Setelah menikah, kebutuhanpun tentu bertambah. Kalau sebelumnya hanya memikirkan biaya hidup sendiri dan untuk tempat tinggalpun bisa di rumah orang tua, namun setelah menikah kebutuhan meningkat terutamanya kebutuhan pokok berupa makan, pakaian dan tempat tinggal.

Maka, adalah hal penting bagi pasangan yang baru menikah untuk menyusun data kebutuhan hidupnya berdua mulai dari kebutuhan pokok seperti tempat tinggal, makan sehari-hari, cicilan hutang, pengeluaran, sedekah, untuk membiayai keluarga lain yang masih menjadi tanggungan serta uang untuk tabungan masa depan.

3. Membagi peran antara suami dan istri terkait sumber pemasukan

Setelah data pengeluaran bulanan didapatkan tentu langkah kedua adalah mencocokkan dengan sumber penghasilan suami. Ini penting karena penanggung jawab utama untuk semua kebutuhan rumah tangga tentu dari suami. Jika memang semua penghasilan dari suami cukup untuk menutupi pengeluaran maka alangkah lebih baiknya tanggung jawab keuangan dipegang penuh oleh suami sementara istri fokus menjadi ibu rumah tangga.

Namun, apabila sumber penghasilan dari suami tidak cukup untuk memenuhi biaya pengeluaran setiap bulan tentu perlu dibicarakan lagi bagaimana solusi terbaiknya. Apakah istri akan turut bekerja untuk membantu suami atau suami mencari alternatif sumber pemasukan lain. Solusi terbaik tentu adalah hasil dari musyawarah suami istri dengan syarat ada saling ridha antara suami dan istri atas keputusan yang disepakati.

4. Selalu memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan

Salah satu tantangan pasangan adalah  muncul keinginan-keinginan yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan seperti pergi bulan madu, membeli perabotan-perabotan rumah tangga baru, dan hal-hal yang masuk kategori keinginan lainnya. Ingin menikmati kebahagiaan di masa-masa awal pernikahan selama tidak berlebihan tentu bukanlah hal yang keliru namun perlu diperhatikan juga adalah kondisi keuangan. Jangan sampai setelah pergi bersenang-senang kesana-kemari membeli ini dan itu setelah itu uangnya habis, bahkan lebih menyedihkan lagi jika sampai berhutang untuk memuaskan kenikmatan sesaat tersebut.

Perlu disadari oleh masing-masing pasangan baru kalau kehidupan pernikahan bukanlah kehidupan satu atau dua hari, akan tetapi adalah sebuah perjalanan panjang yang tentu membutuhkan banyak amunisi salah satunya adalah uang. Dimasa mendatang akan anda akan melewati masa-masa kehidupan rumah tangga yang membutuhkan banyak biaya seperti masa kehamilan, lahiran, ketika punya anak, biaya anak semenjak ia lahir hingga nanti dia mandiri. Alangkah bijaknya jika semua hal tersebut sudah diperhatikan dan direncakanan semenjak saat awal-awal masa pernikahan.

5. Memilih bagian keuangan keluarga

Lazimnya bagian keuangan keluarga adalah  istri namun tidak menutup kemungkinan jika seandainya suami menjadi bagian keuangan keluarga, tak masalah jika memang suami memiliki kelebihan dalam hal ini. Tugas utamanya adalah membuat rencana pengeluaran, menyimpan uang, mengontrol agar setiap pengeluaran tak melebihi dari yang sudah direncanakan serta mencatat setiap pengeluaran dengan detail.

6. Selalu membuat rencana pengeluaran dan membaginya dalam pos-pos pengeluaran

Satu hal karakteristik orang atau keluarga yang memiliki keuangan sehat adalah selalu membuat perencanaan untuk setiap pengeluarannya, dia membagi pos-pos pengeluaran. Ini penting agar tidak terjadi pengeluaran yang tak terduga contohnya saat jalan ke mall melihat ada promo gadget terbaru tergiur lansung beli, atau saat tertarik ada promo-promo besar lalu beli lagi. Sementara kita semua sadar jika pengeluaran tak terduga inilah yang sering membuat keuangan menjadi terkuras.

7. Selalu menabung meskipun sedikit demi sedikit di celengan

Pepatah lama mengatakan “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” , hal ini ada benarnya apalagi jika diterapkan dalam menabung. Sangat dianjurkan setiap keluarga memiliki tabungan pribadi dirumah baik itu berupa celengan, isi sedikit demi sedikit asal konsisten misalnya berkomitmen untuk selalu menabung semua uang kembalian yang berupa recehan, atau bisa juga berkomitmen untuk menabung semua uang 2000 dan sejenisnya.

Hal ini akan terasa besar manfaatnya saat-saat keluarga membutuhkan pengeluaran mendesak seperti butuh waktu sakit, mau lahiran, akikah anak dan lain sebagainya.

8. Selalu berpegang teguh dan menjadikan anti riba sebagai prinsip utama keluarga

Pasangan baru biasanya menjadi sasaran empuk para pelaku transaksi riba sebutla marketing perumahan yang menawarkan kredit rumah, marketing kendaraan, marketing kartu kredit dan renteiner-renteiner yang menawarkan dana modal usaha. Karena memang sebagai pasangan baru mudah sekali tergiur dengan hal – hal ini, maka perlu kesepakatan sejak awal antara suami dan istri untuk menjauhi yang namanya transaksi riba. Karena selain merugikan di dunia transaksi-transaksi riba juga menjadi salah satu dosa besar yang harus dipertanggung jawabkan hingga akhirat kelak.

Itulah 8 tips mengatur keuangan di masa-masa awal pernikahan, penting sekali hal ini dipahami oleh setiap pasangan baru karena masalah ekonomi atau keungan menjadi salah satu penyebab utama perceraian. Harapan kita semua tentu jangan sampai ada rumah tangga yang akhirnya berujung perceraian hanya karena masalah keuangan, dan dengan pengaturan keuangan yang baik InsyaAllah akan menjadi jalan menuju rumah tangga yang penuh ketenangan, penuh cinta serta kasih sayang.

Sumber foto :www.dream.co.id

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments