Siapa di antara kita yang paham tentang adab berpakaian dalam Islam?
Kebanyakan kita insya Allah sudah cukup mengerti ya, tentang batasan aurat muslimah. Begitu juga dengan pakaian syar’i yang mensyaratkan beberapa hal. Namun, ternyata ada juga hal yang tak kalah penting dari penampilan fisik tersebut, yakni adab-adab berpakaian.
Sudah tahu apa saja adab berpakaian? Ini dia :

1. Meluruskan Niat Saat Berpakaian

Girls, sebagaimana kita ketahui, niat memegang peran mahapenting dalam setiap amal perbuatan. Mengenakan pakaian jika kita niatkan untuk menunaikan perintah Allah dalam menutup aurat, tentu beda nilainya dengan berpakaian untuk tampil cantik semata. Sudahkah niat kita lurus dalam berpakaian? Atau hanya ingin tampil menawan saat keluar rumah? Biar tidak dikatakan ‘kudet’ atau ketinggalan jaman? Atau sekedar ikut trend bergamis manis dan berjilbab panjang?

Naudzubillah, mudah-mudahan Allah menjaga niat kita dari ketergelinciran. Bagi yang masih single, niatkan untuk menutup aurat dengan rapi dan menjadikan busana muslimah kita sebagai syiar Islam agar semakin banyak yang terinspirasi untuk berpakaian sesuai syariat. Dan bagi yang sudah menikah, niatkan untuk berhias di hadapan suami, menyenangkan pandangan matanya, juga tentu berniat syiar saat melangkah ke luar. Insya Allah, dari berpakaian saja, kita bisa mendulang banyak pahala.

2. Mengenakan Pakaian Mulai Dari Anggota Tubuh Yang Kanan, Melepasnya Mulai Dari Yang Kiri

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam banyak mencontohkan penggunaan tangan kanan untuk hal-hal yang baik. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya.” [HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268 (67)]

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Riyadush Shalihin berkata: “Disunnahkan menggunakan tangan kanan dalam perkara-perkara yang mengandung segi kemuliaan. Dan sebaliknya, menggunakan tangan kiri dalam urusan yang mengandung kejelekan”.

Oleh karena berpakaian adalah hal yang baik (menutup aurat), maka sebaiknya kita dahulukan menggunakannya dimulai dari anggota tubuh bagian kanan.

3. Membaca Doa Berpakaian

Doa berpakaian sungguh pendek dan mudah dihafal. Sudah hafal belum ya… Kalau belum, yuk kita hafalkan.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan pakaian ini kepadaku, tanpa ada daya serta kekuatan dariku” (dari HR. Abu Dawud dengan riwayat shahih)

Dalam hadits yang sama, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan doa ini, “Barangsiapa ketika memakai pakaian ia berdoa (yang artinya): ‘Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan pakaian ini kepadaku, tanpa ada daya serta kekuatan dariku’ maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang”

Masya Allah, dengan membaca doa berpakaian saja, kita berpeluang diampuni dosanya yang sudah lalu dan yang akan datang. Tidakkah ini kesempatan yang sangat berharga?
Dengan berdoa, kita juga melibatkan Allah dalam aktivitas berpakaian kita. Kepada Allah sajalah kita menghaturkan pujian, sebab hanya karena rizki yang Allah berikan, kita dapat membeli dan mengenakan pakaian tersebut. Doa ini juga mengisyaratkan betapa kita tidak berdaya untuk menjadikan pakaian tersebut sebagai milik kita, juga saat mengenakannya, kecuali jika Allah bantu memudahkan jalan rizki dan kemampuan.

4. Membaca Doa Mengenakan Pakaian Baru

Sementara itu, kita juga dicontohkan Rasulullah untuk berdoa saat memakai pakaian baru (baju/jilbab dll) dengan doa berikut :
اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ ماَ صُنِعَ لَهُ.
“Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberikanku pakaian, aku memohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari tujuan dibuatnya pakaian ini.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

5. Memperhatikan Syarat Pakaian Syar’i

Pakaian muslimah sebagaimana kita ketahui menjadi identitasnya, salah satunya adalah mengenakan jilbab. Apa saja syarat pakaian syar’i, berikut ini beberapa di antaranya :
a. Batas auratnya adalah muka dan telapak tangan
Allah berfirman, “Dan tidak boleh bagi mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari perhiasan tersebut” (Q.S. an-Nur: 31)

‘Aisyah dan Abdullah ibn ‘Abbas –semoga Allah meridlai mereka- yang dimaksud ‘yang biasa nampak’ “adalah muka dan kedua telapak tangan”. Hal serupa juga dikemukakan oleh al Imam Ahmad.

Dari Asma binti Abu Bakar yang datang menemui Rasulullah saw dengan mengenakan pakaian yang tipis, kemudian Rasulullah saw berpaling darinya dan mengatakan kepadanya,”Wahai Asma sesungguhnya apabila seorang wanita telah mendapatkan haidh maka tidak sepantasnya ia memperlihatkannya kecuali ini.” beliau mengisyaratkan kepada wajah dan kedua telapak tangan.” (QS. Abu Daud dan al Baihaqi. Ini adalah hadits hasan sebagaimana dikatakan asy Syeikh Nashiruddin al Albani).

b. Menutupi dada
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” (Q.S. an-Nur: 31)

c. Longgar dan tidak transparan
Imam Nawawi menjelaskan dalam syarah hadits shahih Muslim, ketika menjelaskan wanita berpakaian tapi telanjang mengatakan, yaitu memakai pakaian tipis yang membentuk lekukan tubuhnya.

d. Menutupi mata kaki
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai bagian bawah pakaian, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Rasulullah, “Lalu bagaimana dengan pakaian seorang wanita wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia mengulurkannya satu jengkal,” Ummu Salamah berkata, ‘Jika demikian masih tersingkap ” Satu hasta saja dan jangan lebih dari itu,” jawab beliau. (HR. At Tirmidzi. Hadits hasan shahih)
Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama satu jengkal itu diukur dari mana. Akan tetapi, pendapat yang kuat -insya Allah- satu jengkal adalah diukur dari mata kaki.

e. Tidak menyerupai lelaki
Dari Ibnu Abbas berkata,”Rasulullah saw melaknat laki-laki yang menitu-niru kaum wanita dan kaum wanita yang meniru-niru laki-laki.” (HR. Bukhori)

Sebenarnya masih ada beberapa syarat pakaian muslimah syar’i lainnya yang belum tercantum. Insya Allah kita dapat menggali lagi dari bacaan lainnya. Ayo rajin membaca! 😉
Demikianlah Islam mengajarkan adab berpakaian untuk muslimah. Pakaian selain fungsinya untuk menutup aurat, juga memiliki adab tersendiri dalam mengenakannya. Dan adab ini adalah bagian dari sunnah Rasulullah saw yang apabila kita menjalankannya, maka kian sempurnalah kita mengikuti sang teladan utama. Semoga Allah menjaga kita dalam keistiqomahan berbusana muslimah dan dalam menegakkan adab-adabnya.

Referensi :
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/pakain-muslimah-yang-sesuai-syar-i.htm#.VyTYMzB97IU
https://muslimah.or.id/221-ujung-pakaianku-penyapu-jalanan.html
https://rumaysho.com/8452-aurat-wanita-menurut-madzhab-syafii.html

Artikel Menarik Lainnya







comments