Sudah menjadi kenyataan di masyarakat kita belajar menjadi suatu hal yang ditakuti khususnya bagi anak-anak. Kalau sudah mendengar mau belajar sepertinya anak-anak sudah mau kabur hehe.

Banyak hal yang mungkin menyebabkan hal ini terjadi salah satunya adalah sistem belajar yang tidak bersahabat. Belajar dekat dengan tugas-tugas yang jika tidak dilakukan akan mendapat hukuman, belajar juga tak bisa lepas dari ujian yang kadang bisa menjadi penentu bahwa anak pintar atau bodoh. Belum lagi guru-guru yang biasa mereka temui di sekolah tidak mengajar dengan sepenuh hatinya tetapi hanya sekadar menunaikan kewajiban semata, mengisi absen lalu mendapat gaji di akhir bulan.

Begitu juga dengan orangtua yang cenderung menuntut anak agar belajar maksimal, mempersembahkan nilai terbaik sebagai balas jasa atas pengorbanan si orang tua. Tentu kita sering mendengar kalimat “Nak papa sama mama capek kerja buat kamu, nilai kamu harus bagus ya jangan buat mama papa kecewa”.

Pada akhirnya anak “terpaksa” belajar untuk memenuhi tuntutan – tuntutan itu, ingin membahagiakan orangtuanya dan tidak ingin membuat orangtua kecewa sementara dirinya sendiri sama sekali tidak menikmati proses belajar.

Agar belajar menjadi lebih nikmat, dan anak bisa menjalaninya dengan bahagia tentu dibutuhkan kesadaran dari guru, anak dan khususnya orangtua. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan agar belajar menjadi hal yang menyenangkan bagi anak.

1. Menanamkan pemahaman kalau belajar itu adalah ibadah pada anak sejak dini

“Dek belajar, nanti nggak naik kelas lho…”

“Kakak ayo belajar nanti nggak dikasih papa hadiah…”

“Budi ayo yang rajin belajar, nanti kalau hafal surah Al-ikhlas dibeliin bakpau…”

Menakut-nakutin anak atau mengimingi dengan hadiah terkadang jadi jurus ampuh yang sering ayah bunda lakukan sebagai cara untuk memotivasi anaknya agar mau belajar. Mungkin cara ini tak sepenuhnya salah, tapi dengan terbiasa melakukan ini akan membuat satu pola dalam diri anak yang mana pola itu membuat niat untuknya belajar menjadi salah.

Sehingga tak sedikit anak-anak belajar hanya untuk mendapatkan hadiah, atau belajar karena takut pada satu hal. Tentu motivasi ini sangat lemah, dan suatu saat nanti dia akan malas belajar atau malah berhenti belajar karena hanya tidak ada yang diinginkan atau ditakutinya lagi.

Maka dari itu kita perlu luruskan dulu niat anak-anak kita untuk belajar, kita tanamkan dalam dirinya kalau belajar itu ibadah dan jalan untuk meraih ridho Allah. Kita juga perlu beri tahu kalau Allah akan mengangkat derajat orang-orang berilmu. Nah salah satu dampak baik dari diangkatnya derajat kita oleh Allah Swt adalah menjadi pribadi yang sukses bermanfaat di dunia maupun akhirat.

Alangkah lebih baiknya jika kalau sebelumnya ayah-bunda juga sering mengadakan dialog tauhid dengan anak. Sehingga menanamkan pemahaman apa itu ibadah menjadi lebih mudah.

Ketika anak sudah memiliki pemahaman bahwa belajar adalah ibadah maka ia akan giat belajar bukan lagi karena ingin mengejar nilai, karena tuntutan orangtua dan sejenisnya tetapi murni dari hatinya ingin mendapat pahala kebaikan dari Allah Swt. Dan, yang pasti anak akan menjalani proses pembelajaran dengan benar. Tidak mencontek, menghormati guru dan menghargai teman-temannya ketika belajar.

2. Orangtua sebagai guru utama dari anak-anaknya

Jika ada guru terbaik maka itu adalah orangtua dari anak, begitu juga jika ada sekolah terbaik maka itu adalah keluarga. Disinilah anak dilahirkan, dididik dan dibesarkan. Diakui atau tidak setiap proses yang terjadi dalam keluarga dan setiap interaksi antara orang tua dan anak adalah sebuah pembelajaran berharga bagi anak. Untuk itulah para orang tua perlu menyadari hal ini karena guru sesungguhnya bagi anak adalah mereka sendiri. Bukan guru di sekolah.

Syair arab mengatakan ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya, tentu juga bersama ayah. Yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya tentu ayah-ibunya lansung. Ayah-ibunyalah yang semestinya menjadi guru besar bagi anak-anak. Serta untuk pemelajaran penting seperti akidah, tauhid, kehidupan, budi pekerti, akhlak, ekonomi dan nilai-nilai kehidupan harusnya ayah – bundanya lansung yang mengajarkan.

3. Belajar sambil bermain

Agar belajar menjadi menyenangkan bagi anak orang tua  juga bisa melakukan proses pembelajaran pada anak dengan bermai. Banyak alat belajar sambil bermain yang bisa ayah-bunda dapatkan dari toko buku seperti  kartu huruf hijaiyah, kartu berhitung, kartu bahasa inggris dan sebagainya. Atau sekarang lagi  nge-trend boneka yang ‘hafal qur’an’ ini bisa menjadi alternatif baik bagi orang tua dalam mengenalkan Al-qur’an pada anak-anaknya. Bisa dengan melakukan permainan atau perjalanan lalu menyisipkan pembelajaran akhlak dan nilai-nilai kebaikan dalam permainan atau perjalanan tersebut.

4. Belajar dengan memberi keteladanan

Metode pembelajaran terbaik itu adalah keteladanan, orang tua harus terlebih dahulu sudah melakukan hal yang diajarkan pada anak-anaknya. Jangan sampai orang tua mengajarkan anaknya minum duduk tetapi orang tuanya sendiri minum berdiri, orang tua mengajarkan anak tentang kelembutan tetapi orang tuanya sendiri berlaku kasar . Sikap dan contoh yang dilakukan adalah materi pembelajaran terbaik bagi anak. Anak tidak butuh teori dari orang tuanya tapi ia perlu contoh yang dilakukan lansung oleh orang tuanya.

5. Menemukan minat dan bakat anak

Allah Swt menciptakan setiap manusia dengan kelebihannya atau istilah modernya adalah bakat. Biasanya bakat adalah sesuatu yang ia suka dalam mengerjakannya dan juga bisa.

Bakat  setiap anak berbeda-beda, ada yang memiliki keunggulan dalam bidang akademisi, namun banyak juga yang memiliki unggul dalam hal seni,sosial olahraga dan sebagainya. Selama ini tertanam keyakinan kalau anak pintar itu yang hanya jago mengerjakan hitung-hitungan, berhasil menyelasaikan soal fisika yang rumit dan meraih peringkat juara di kelas. Sementara jika nilai akademiknya rendah dia akan dicap bodoh meskipun dalam banyak kesempatan berhasil meraih juara turnamen badminton. Tak hanya orang tua, sekolah pun juga memiliki keyakinan seperti ini.

Untuk itu kita sebagai orang tua perlu menemukan sekaligus memahamkan pada anak kita kalau setiap manusia dianugrahi kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Saat kita menemukan bakat atau minat anak lebih dini, maka kita punya kesempatan untuk memberikan waktu lebih mengasah bakatnya sehingga dia menjadi benar-benar ahli di bidang itu.

6. Jangan terlalu memaksa anak untuk belajar

Pernah mendengar berita anak yang mengalami gangguan kejiwaan gara-gara belajar ? Ya, beberapa waktu lalu hal ini menimpa salah satu anak yang akhirnya stress karena kebanyakan belajar. Anak sudah belajar di sekolah dari pagi – siang, setelah itu dilanjutkan dengan berbagai macam les dari siang hingga malam. Dan, malam pun anak masih harus mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Anda bisa bayangkan sendiri betapa melelahkannya aktivitas seperti ini bagi anak di bawah usia 12 tahun.  Padahal sebenarnya segala hal yang dipaksakan untuk dipelajari tersebut tidak terlalu dibutuhkan olehnya. Terkadang hanya ego orangtua saja yang menginginkan agar anaknya serba bisa dan serba pandai.

Sebagai orang tua kita perlu menyadari setiap anak memiliki kemampuan dan kapasitas yang berbeda-beda termasuk juga dalam hal belajar. Ada anak yang mungkin mampu dengan pola seperti itu meskipun sedikit, tapi lebih banyak lagi tidak mampu. Bahkan beberapa waktu yang lalu ada anak yang akhirnya stress dan masuk rumah sakit jiwa karena menanggung terlalu beratnya beban belajar dari orang tua.

7. Jika anak bersalah responlah dengan bijak

Anak kita adalah manusia bukan malaikat, karena mereka manusia maka melakukan kesalahan adalah hal yang biasa. Tak sedikit orang tua yang tidak bisa menerima kesalahan yang dilakukan oleh anaknya, terlalu menuntut anak sempurna adalah hal yang mustahil. Maka saat anak kita melakukan kesalahan responlah dengan bijak, tak perlu menyalahkan, memarahi dan selalu menuntut kesempurnaan. Tanamkan dalam diri anak bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Ajak anak menemukan hikmah dari kesalahan yang telah dilakukan serta menjadikan itu pelajaran agar tak diulangi lagi di masa yang akan datang.

8. Memberikan apresiasi saat melakukan yang baik dan memberi hukuman saat mereka melakukan keburukan

Saat anak melakukan kebaikan, sekecil apapun itu berikanlah apresiasi, memberikan apresiasi bisa dengan pujian, memeluknya, mengatakan kalau dia sangat membanggakan, memberikan kejutan berupa hadiah yang disukainya serta banyak cara lainnya. Begitu pula saat dia melakukan keburukan, berikanlah hukuman. Tapi perlu diperhatikan dalam memberikan hukuman jangan membentak, memukul dan menganiaya anak. Berikanlah hukuman yang bijak serta menyakiti fisik maupun psikisnya.

9. Jika orang tua melakukan kesalahan, mintalah maaf dengan penuh ketulusan pada anak

Saat orang tua melakukan kesalahan di hadapan anak, katakanlah dengan tulus ikhlas pada mereka kalau yang anda telah melakukan kesalahan, lalu minta maaf. Sikap seperti ini secara tak lansung akan mendidik anak untuk menanamkan sikap mengakui kesalahan dan mudah meminta maaf pada orang lain.

Sebagian orang tua mungkin akan merasa canggung atau gengsi melakukan ini, tapi ini perlu dilakukan dan sadarilah orang tua juga manusia yang tak luput dari kesalahan.

10. Berikanlah waktu yang lebih untuk mengasah bakatnya tersebut

Apabila anda telah menemukan bakat serta minat anak anda, maka berikanlah waktu lebih untuk mengasah bakatnya tersebut. Bantu dia mengasah bakatnya itu agar berhasil dan meraih prestasi cemerlang di bidang itu sejak dini. Semakin dini anda menemukan bakatnya, semakin dini anda mengasahnya itu sangat baik, karena akan semakin cepat juga dia menjadi ahli di bidang itu.

Malcom gladwel seorang penulis buku pengembangan diri terkenal dari amerika melakukan penelitian terhadap orang-orang sukses di dunia, mereka yang sangat ahli di bidangnya masing-masing. Sebagai hasilnya malcom menemukan satu kesimpulan yaitu salah satu hal yang dilakukan seseorang untuk mencapai tingkat sangat ahli dalam satu bidang adalah melewati 10.000 jam.

Maka dalam bukunya Outliers Malcom menyimpulkan jika seseorang ingin benar-benar ahli dalam satu bidang maka lewatilah 10.000 jam dalam menjalankan satu bidang, asah skill di bidang itu, pelajari semua hal yang akan mendukung proses pertumbuhan diri.

So, tentu kita sebagai orang tua juga bisa melakukan hal ini pada anak kita agar meraih satu prestasi dan benar-benar ahli di suatu bidang. Lebih mengasyikkan lagi kalau bidang itu yang selaras dengan minat serta bakatnya.

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua agar anak kita lebih mencintai ilmu, lebih bersemangat dalam belajar dan bagi mereka belajar menjadi satu hal yang menyenangkan. Ini tentu mudah akan butuh proses dalam menjalaninya. Untuk itu semangat serta kesungguhan dari orang tua akan sangat menentukan hasilnya. Dan, tentu juga jangan lupa berdo’a kepada Allah Swt meminta agar diberi kemudahan dalam menjalani setiap prosesnya.

Bersabar dalam proses membersamai anak menjadi pribadi yang lebih baik, karena terkadang bukan tentang hasilnya saja, tapi yang jauh lebih utama adalah menjalani prosesnya. Pastikan itu menjadi hal yang menyenangkan patut untuk dikenang bagi anak-anak anda. InsyaAllah setiap proses yang dilalui, kesungguhan dan kesabaran yang dicurahkan akan menjadi amal kebaikan bagi setiap orang tua. 

Artikel Menarik Lainnya







comments