“Di awal-awal masa berumah tangga cinta itu berasa manis layaknya madu nan menyehatkan, Namun pelan perlahan waktu berlalu ia semakin berubah rasa menjadi pahit, jika salah saja sedikit memaknainya maka ia akan menjadi pahit sepahitnya racun yang mematikan, namun jika kita bijak memaknainya maka ia akan menjadi pahitnya jamu pahit namun tetap menyehatkan” 

Di masa-masa sebelum menikah dulu, kami sering kali diingatkan oleh beberapa karib kerabat tentang pernikahan. Salah satunya adalah nasihat tentang bulan madu dan bulan empedu , ketika masih sendiri tentu kita akan selalu membayangkan kalau pernikahan adalah hal yang indah, nikmat, memasuki pernikahan bagaikan memasuki taman yang dipenuhi bunga-bunga yang mewangi semerbak, dihiasi oleh indahnya kupu-kupu yang saling berpacu dari satu bunga kebunga lainnya. Benarkah seperti itu?, di awal-awal mungkin kita sama-sama sepakat akan keindahan seperti itu hingga menyejarah momen di awal-awal pernikahan yaitu bulan madu.

Lalu bagaimana dengan bulan-bulan berikutnya?, saudara kami mengingatkan dahulu kalau setelah bulan madu akan masuk pada fase bulan empedu pahit, nggak enak dan bikin muntah. Setengah tak percaya hal ini membuat kami merenung, benarkah ada bulan empedunya?, benarkah ada tidak enaknya dalam sebuah pernikahan?.

Jleb ternyata benar, ternyata ada masa-masa dimana Allah menguji kita dengan berbagai persoalan, mulai persoalan pribadi, cara komunikasi dengan pasangan yang sering keliru dan salah dalam memahami, belum lagi dengan komunikasi-komunikasi dengan orang tua dan mertua, komunikasi dengan kakak serta adik ipar serta banyak lagi lainnya.

Apakah ini yang dinamakan bulan empedu? sejenak kami merenung, merenung setiap detik yang dilalui dalam pernikahan ini, belajar memahami makna dan hikmah apa yang Allah selipkan dalam setiap “goncangan-goncangan” tersebut . Maka dengan konsep “barakah” kita tentu tidak dengan mudah akan menamai hal ini dengan bulan empedu, tapi “jamu” adalah perumpaan yang mendekati lebih tepat untuk menggambarkan hal ini. Pahit namun menyehatkan.

Entah berapa banyak pasangan yang gagal bertahan ketika melalui fase terberat dalam pernikahannya, ia memaknai hal ini sebagai racun bagi pernikahannya hingga hal ini pada akhirnya mematikan pernikahannya dan pada akhirnya berujung pada perceraian.

Tak hanya kekuatan cinta yang dibutuhkan, kesadaran dalam mencintai juga menjadi hal yang utama. Inilah ujian cinta tersebut, inilah sejatinya cinta, disinilah cinta meminta pengorbanan, disinilah cinta meminta untuk memahami, mengerti bahkan mengalah untuk sementara. Semoga cintamu selalu tumbuh dan membawa bahagia.

Artikel Menarik Lainnya







comments