Suatu hari dengan wajah sendu, Putri, seorang teman saya mengeluhkan perilaku anaknya yang berusia 8 tahun. Dia mengatakan bahwa anaknya, sebut saja Putra, sekarang ini semakin suka membangkang dan tak menurut perintah orangtua. Saya menyimaknya dengan empati dan prihatin. Tentu tak mudah bagi dirinya dengan 3 anak laki-laki tanpa asisten rumah tangga menghadapi situasi ini.  Apalagi kondisi memaksanya pula untuk tetap bekerja demi membantu perekonomian keluarga.

“Mungkin kamu hanya sedang lelah sepulang bekerja?” tanya saya hati-hati. Ia menggeleng kuat, “Dari dulu kan aku bekerja, dan Putra juga tidak separah ini,” sergahnya. Saya dan beberapa teman yang mendengarkan ceritanya mencoba mengurai masalah yang ia hadapi. Dan saya coba membedah bagaimana pola komunikasinya di rumah; antara dirinya dengan Putra, dia dengan suaminya, dan Putra dengan suaminya.

Menurutnya, ia dan suaminya tak pernah menuntut capaian-capaian akademis Putra. Begitu juga dengan target nilai harus sekian dan sebagainya. Semua mengalir saja mengikuti apa yang diajarkan di sekolah. Tapi belakangan Putra sangat sulit diatur, tidak mau dinasehati, sering membantah dan tidak kooperatif. Yang Putri dan suaminya inginkan hanyalah adab yang baik, tutur Putra yang santun, mau mendengarkan dan rajin belajar seperti dulu.

Saya terus menggali, bagaimana sikap dia dan ayahnya mendidik Putra selama ini?

Putri mengaku jadi banyak mengomeli Putra. Setiap diperintahkan sesuatu, Putra akan membantahnya dan Putri pun menjadi berang. Jauh di lubuk hatinya ia merasa sedih karena merasa tak dihargai sebagai ibu, orang yang sepatutnya dimuliakan.

Saya mendengarkannya baik-baik dan bertanya lagi. Bagaimana dengan memberi apresiasi? Seberapa sering pujian, pelukan, dan tatapan hangat diberikan untuk sulungnya ini? Putri menjawab tergugu, “Pernah, tapi tak sering. Aku sudah pernah memujinya tapi yang terjadi dia tidak berubah dan malah jadi melunjak jika dilembuti,”.

Saya mencatat poin ini. Lalu bertanya lagi bagaimana hubungan ayah dengan Putra.

Bisa dikatakan suaminya ini tak terlalu dekat dengan anak-anak. Ia tipe yang fokus mencari nafkah dan berpandangan bahwa ibu-lah yang seharusnya banyak mendidik anak terkait dengan perannya. Meski masih memperhatikan perkembangan buah hati mereka, tetapi suaminya ini sering marah melihat kelakuan Putra yang sulit dinasehati dan bahkan pernah memukulnya dengan ikat pinggang.

Saya beristighfar dan menarik nafas berat. Lalu bertanya lagi dengan seksama, bagaimana ekspresi Putra saat dia marah atau membantah? Putri pun menjawab, nadanya kasar dan suka menyalahkan. Saya bertanya lagi, apakah ada yang ia tiru di rumah, mungkin orang atau tontonan? Kali ini Putri menghela nafasnya dan berkata, “Ya, ia mirip suamiku kalau sedang marah.”

Ok, sejumlah benang terurai sekarang. Benang kusut lainnya akan segera terbuka insyaa Allah.

Saya kemudian menyarankan Putri dan suaminya untuk pergi ke psikolog dan berkonsultasi. Namun Putri pesimis suaminya mau diajak. Akhirnya saya temani ia menemui seorang ustadz yang ahli dalam parenting Islam. Sempat juga saya ingatkan Putri untuk mengurangi label negatifnya pada Putra, karena pikiran dan ucapan kita hakikatnya menjadi doa.

Meski pada dasarnya hasil diskusi kami sudah bisa menelurkan beberapa kesimpulan, saya mengajak Putri bertemu dengan ahli agar ia semakin mendapatkan penguatan. Barangkali juga ia akan mendapat banyak masukan mengenai pola asuh yang sesuai Islam agar semakin baik lagi mendidik anak-anak di rumah.

***

Begitu selesai menceritakan masalahnya pada sang ustadz, beliau menanyakan beberapa hal.

Apakah di 5 tahun pertamanya anak ibu puas bermain?

Putri panjang-lebar memaparkan, “Iya, ustadz. Saya tak pernah mengekangnya, dan tak pernah kami tuntut ia harus pandai membaca menulis dan sebagainya. Namun semakin kesini anak saya yang tadinya rajin ibadah, rajin shalat dan sebagainya, sekarang malas-malasan. Ia seperti lelah menjadi anak shalih. Hafalannya pun merosot tajam, padahal saat masuk sekolah pertama kali ia menempati urutan 10 besar. Terlebih lagi adabnya juga  buruk sekali, terutama pada orangtua,”. Dan seterusnya…dan sebagainya…

Ustadz memaparkan kemudian, usia 8 tahun adalah masa dimana anak banyak merenung karena otak berpikirnya sudah mulai berkembang. Sementara usia 0-7 tahun adalah masa-masa penanaman, dimana semua hal akan mudah terserap. Ustadz menyarankan agar Putri banyak melakukan dialog dengan Putra, karena dialog akan menciptakan ikatan emosional antara orangtua dengan anak. Dialog apa saja, jika ia tengah jenuh dengan hal-hal yang berkaitan dengan agama, coba dulu topik lainnya, nanti pelan-pelan diarahkan kembali.

Lalu ustadz juga menanyakan seperti apakah Ibu memberi instruksi pada Putra selama ini.

Ustadz mengatakan bahwa kita sering memberi instruksi berkali-kali, namun sesungguhnya hanya ada 1 instruksi saja. Maksudnya adalah kita selalu menggunakan cara yang sama, misalnya dengan kalimat perintah. Esok kita ulangi lagi cara tersebut. Begitu juga keesokan harinya dan seterusnya. Anak bisa jadi bosan mendengar kalimat yang sama berulang-ulang, dan orangtua kecewa serta putus asa karena tidak didengarkan setiap kali memerintahkan sesuatu. Akhirnya yang terjadi adalah orangtua marah dan anak tak kunjung patuh, begitu saja seterusnya seperti lingkaran setan. Jadi ustadz menyarankan agar kita menggunakan beberapa metode dalam memberi instruksi pada anak. Caranya, silakan kita lakukan sekreatif mungkin sesuai yang kita bisa.

Poin selanjutnya adalah ustadz menyoroti apresiasi. Jika anak stuck menghafal juz 30 dan tak maju-maju, maka salahnya ada di orangtua. Anak tidak kunjung hafal juz 30 karena saat mereka menghafal surat Adh Dhuha, orangtuanya tidak memberikan apresiasi. Padahal seorang salafush shalih bernama Ibrahim bin Adham saja memberikan 1 dirham untuk setiap hadits yang dihafal oleh anaknya. Ini menunjukkan adanya kebolehan memberi hadiah untuk memotivasi anak.

Sesungguhnya, lanjut ustadz, Allah memperhatikan amal shalih yang kecil-kecil dan sepele, seperti tersenyum pada saudara, memungut duri yang menghalangi jalan, dan lain-lain. Salah satu hikmahnya adalah agar kita memperhatikan hal-hal yang kecil dan mengapresiasinya.

Terakhir, untuk membangun kesadaran mendidik anak pada Ayah dan melibatkannya dalam pengasuhan sehari-hari, Ustadz mengatakan agar kita terus mengajaknya berdialog. Sampaikan juga pada suami bahwa pendidikan anak adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai imam keluarga. Mudah-mudahan lambat laun para Ayah akan memahami dan tergerak untuk turut andil dalam pendidikan anak ini.

***

Menyimak paparan ustadz yang ditujukan bagi sahabat saya, tak pelak menerbitkan banyak catatan yang juga sangat bermanfaat bagi diri saya sendiri. Masalah Putri bisa jadi tak hanya ia alami sendiri, tapi juga terjadi pada banyak orangtua lainnya.

Dari sini saya kembali menarik kesimpulan  bahwa sesungguhnya tiada yang bisa mematahkan prinsip keteladanan orangtua dalam pengasuhan anak. Anak-anak kita adalah cerminan kita orangtuanya, bukan yang lain. Dari kitalah anak-anak belajar tentang baik-buruk, termasuk keburukan yang mungkin tidak pernah kita ajarkan tetapi tanpa sadar kita lakukan.

Poin penting lainnya dalam pendidikan anak adalah kesesuaian visi kita dan pasangan dalam mendidik anak, interaksi yang intens dan  berkualitas antara orangtua dan anak, komunikasi yang efektif, kreativitas dalam menasehati dan mengarahkan, serta tentu saja kedekatan dengan Yang Maha Menggenggam hati anak-anak kita.

Mendidik anak adalah kerja besar yang jika kita pahami ilmunya, akan terasa lebih mudah. Tetapi lagi-lagi hanya Allah saja yang memberikan hidayah bagi setiap anggota keluarga. Kepada Allah kita berlindung dari segala keburukan kualitas pengasuhan kita pada anak-anak, dan hanya kepada-Nya lah kita mohonkan petunjuk dan pertolongan…

-end-

***

picture : http://en.islamway.net/spotlights-archive

Artikel Menarik Lainnya







comments