ring

Mencari pasangan hidup memang gampang-gampang susah. Rasanya kita cocok sekali dengan si A yang humoris, melengkapi diri kita yang seringkali terlalu serius. Tapi rupanya dia malah menikah dengan yang lain. Dengan si B pun rasanya saling mengisi; dia cukup penyabar, melengkapi kita yang emosional dan mudah terpancing amarah. Tapi, ah… rupanya jodoh berkata lain. Jadi bagaimana dong mencari pasangan yang memang klop untuk diri kita ini?

Mencari pendamping dengan sederet kriteria memang sah-sah saja. Kita yang merasa mengenal diri paling dalam, menginginkan calon dengan kualifikasi tertentu. Pribadi kita yang tidak supel ini sepertinya cocok sekali, jika nanti berpasangan dengan jodoh yang mudah bergaul. Atau, kelihatannya kita yang berantakan ini, mungkin asyik jika bertemu si dia yang rapi, supaya tertular rapinya. Hehe…

Well, seorang bijak pernah mengatakan, “Jika kamu masih menginginkan menikah, misalnya dengan orang yang penyabar karena kamu merasa pemarah, maka sesungguhnya kamu belum siap menikah.” Nah lho.. bagaimana ini?

Sekali lagi, mengharapkan kriteria tertentu pada calon pasangan sebenarnya boleh-boleh saja. Namun kita perlu mengukur diri, sejauh mana kepantasan kita memiliki pendamping dengan kriteria tersebut.

Mengharapkan mendapat pendamping yang penyabar, dikarenakan kita merasa paham bahwa diri kita tidak sabaran, sesungguhnya menegaskan kacamata apa yang kita gunakan. Di sini terlihat bahwa kita masih menggunakan kacamata ego yang inginnya dimengerti orang lain. Kita yang tak sabaran ini ingin punya pasangan yang penyabar, agar kelak ia bisa mengimbangi ketidaksabaran kita. Lihat, kita ingin sekali dimengerti saat tidak sabar. Ingin sekali dihadapi dengan sikap yang lebih tenang dan tidak emosional juga saat amarah dalam diri kita meledak-ledak.

Lalu apa kabar dengan ‘menerima pasangan apa adanya’ ketika kita sangat ingin dipahami secara sepihak? Apa kabar dengan ‘kesediaan berubah dan berkorban untuk yang dicinta’ ketika kita justru menuntut pasangan kita berubah dan bersikukuh dengan sifat buruk yang kita bawa?

Sekali lagi, memilih pasangan dengan deretan kriteria yang kita inginkan, adalah sah dan boleh saja. Namun kita perlu menengok cermin di hadapan, adakah kita juga bersedia menerima tuntutan dari calon pasangan dan berperilaku sebagaimana ia harapkan?

Satu hal lagi, meski memiliki banyak keinginan tentang kriteria pasangan adalah hal yang wajar, kita tidak pernah tahu apakah keinginan tersebut bersesuaian dengan yang terbaik menurut Allah. Sebutlah kita ingin punya pasangan yang penyabar, agar klop menenangkan di saat kita mudah tersulut amarah. Tetapi sesungguhnya kita tidak pernah tahu, apakah calon yang penyabar adalah benar yang terbaik di mata Allah untuk kita. Ya, kita tidak pernah tahu, bisa jadi kita yang pemarah mendapatkan jodoh yang sama emosionalnya, agar kita terlatih untuk lebih sabar saat menghadapi orang yang sama-sama temperamental. Bisa jadi, kita yang pendiam ini mendapatkan pasangan yang sama pendiamnya, supaya justru melatih diri kita menjadi lebih supel sehingga lebih luwes bergaul dengan lingkungan. Tidak pernah ada yang tahu apa dan bagaimana kriteria terbaik yang paling pas dengan diri kita, kecuali Allah tentu saja.

Maka, memiliki segudang keinginan tentang calon pasangan hendaknya kita barengi juga dengan sikap tawakkal. Karena, Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah 216, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu msenyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.

Ya, kita tidak pernah tahu apa yang terbaik dari Allah untuk kita. Jika demikian, maka sudah selayaknya kita memfokuskan diri untuk memperbaiki diri terus-menerus setiap saatnya, daripada menyibukkan diri mencari pasangan yang tampak ideal di mata kita namun belum tentu terbaik di mata-Nya. Sibuk memperbaiki diri akan membuat kita lupa menuntut orang lain, dan tentu saja akan membuat diri kita lebih legowo saat bertemu dengan orang yang tak sempurna. Karena memang tidak ada makhluk sempurna di dunia ini, yang ada hanyalah saling menutupi kekurangan dan menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang sudah ada.

Jadi, masihkah kita sibuk dengan sederet kriteria dan lupa menengok ke dalam? Mari, masih ada waktu untuk berubah dan memperbaiki diri agar kelak Allah pilihkan pasangan terbaik dari-Nya, insyaa Allah 🙂

Artikel Menarik Lainnya







comments