Salah satu tabiat dari cinta adalah pengorbanan, seseorang yang sedang mencinta ingin selalu berkorban untuk yang dicintanya. Seorang ibu yang mencintai anaknya ia rela berkorban demi anaknya, berkorban waktu, berlelah payah untuk mendidik dan membesarkan anaknya. Seorang ayah yang mencinta anaknya juga rela berkorban untuk anaknya mengais rezekinya banting tulang pergi pagi pulang petang terkadang malam demi sesuap nasi dan sepiring berlian #Eh.

Jika kita tengok kebelakang, empat belas abad yang silam. Muhammad Rasulullah SAW juga melakukan pengorbanan demi cintanya pada Allah, cintanya pada risalah suci yang dibawa, cintanya pada kita umatnya hingga akhir zaman kelak semoga Allah berikan syafaat kepadanya dan keluarga-keluarganya.

Bicara soal cinta-mencinta, khususnya mencinta diranah dunia remaja pada masa kini. Dengan mengikuti trend anak remaja yang pacaran, berdalih cinta sebuah pengorbanan, cinta adalah perjuangan namun tak sedikit yang akhirnya terjerumus kelembah maksiat karena melakukan pengorbanan yang tidak semestinya dikorbankan. Apa itu ?, yuk simak lebih lanjut.

Berkorban Demi Cinta Boleh Saja, Tapi Jangan Karena 3 Hal ini ya :

1. Mengorbankan agama demi cinta

Cinta mati, entah siapa yang pertama kali mengenalkan istilah ini, walaupun kesannya bagus sebagai sebuah tanda kesetiaan. Namun dibaliknya banyak sekali “racun” mudharat-mudharat didalamnya. Cinta mati memiliki definisi ketika seseorang sudah sangat-sangat-sangat-sangat mencintai seseorang sehingga tidak ada lagi kata untuk mundur, tidak ada lagi kata untuk selain si dia, pokoknya apapun alasannya harus dengan si dia.

Nah, lebih parahnya pasangan ini adalah beda agama, maka hanya demi cinta mereka rela untuk pindah agama mengikuti agama pasangannya. Tak sedikit yang murtad (keluar dari islam) hanya gara-gara cinta, Naudzubillahi min dzalik!.

Itulah adalah contoh besar ketika seseorang mengorbankan agamanya demi cinta, sementara contoh lainnya yang lebih kecil namun tetap terhitung maksiat adalah berpacaran. Saling mencintai namun belum siap untuk menikahi, akhirnya jalan pacaran yang ditempuh.Pacaran memang tidak ada larangannya secara jelas dan terang-terangan dalam Al-quran. Namun Allah SWT menegaskan kita untuk jangan mendekati zina, sementara pacaran adalah sebuah maksiat meskipun maksiat terkecilnya hanyalah zina hati. Namun dari zina hati inilah akhirnya lambat laun menggerakkan keseseorang ke zina-zina yang lebih besar.

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

2. Mengorbankan kehormatan demi cinta

Bukan sesuatu yang asing lagi ditelinga kita ketika mendengar ada anak usia sekolah menengah atas bahkan menengah tingkat pertama telah melakukan hubungan bebas, tak sedikit juga yang sampai hamil diluar nikah dan berujung putus sekolah.

Ketika mereka sudah terlena dan terlalai oleh cinta, maka baginya mengorbankan sesuatu yang sangat berharga bukan lagi hal yang berat karena dalihnya adalah sebuah pembuktian cinta. Walaupun pada akhirnya kelak akan menyesal, namun penyesalan diakhir tentu tiada guna.

3. Mengorbankan keluarga demi cinta

Nikah lari, pernah mendengar cerita ini?, ya. bagi mereka yang cintanya tidak direstui oleh orang tua. Maka jalan akhir yang ditempuh adalah nikah lari. Sebuah hal yang sangat menyedihkan sekali, rela meninggalkan dan melupakan orang tua yang telah melahirkan kita, merawat kita serta membesarkan diri kita sejak kecil demi seseorang yang kita kenal, seseorang yang bukan siapa-siapa dan juga tidak ada jaminan bisa untuk membahagiakan kita.

Tidak ada larangan untuk mencinta, berkorban untuk cinta adalah sebuah keharusan namun perlu diingat jangan sampai mengorbankan agama, kehormatan dan keluargamu hanya untuk cinta semu.

Artikel Menarik Lainnya







comments