Pujian atau apresiasi memang satu hal penting yang dibutuhkan oleh setiap putra-putri kita, lewat pujian ia merasakan kasih sayang orang tuanya, lewat pujian ia akan merasa dihargai dan lewat pujian juga akan menumbuhkan semangat dalam dirinya untuk menjadi lebih baik lagi.

Namun perlu diketahui juga tidak semua pujian bersifat baik karena ternyata ada pujian yang akhirnya melenakan anak, membuat dirinya jumawa, membuat dirinya merasa lebih hebat dari yang lain dan berbagai sikap buruk lainnya. Adhitya mulya dalam bukunya “parent’s stories” menyebutkan kalau pujian terbagi ke dalam dua jenis diantaranya adalah pujian terhadap suratan/takdir anak dan pujian terhadap hasil usaha/ kerja keras anak.

Pujian atas suratan/takdir anak contohnya adalah memuji fisik anak seperti kegantengan, kecantikan dan juga postur tubuh. “Aduh kamu cantik sekali, kamu ganteng sekali, kamu tinggi”. Atau juga saat memuji anak dengan ucapan “Ini anak ibu pintar sekali”. Pujian-pujian semacam ini bukan berarti tidak boleh, boleh saja tentu dengan porsi yang sesekali saja.

Sementara pujian terhadap hasil usaha/kerja keras contohnya adalah memuji anak keberhasilannya yang disebabkan oleh sebuah usaha. Contohnya saat anak berhasil meraih nilai 89 orang tua memuji dengan pujian “Alhamdulillah nak nilai 89 ini berkat kamu semalam rajin belajar, kalau kamu belajar lebih rajin lagi InsyaAllah nilai kamu bisa 100”.

Saat kita sebagai orang tua terlalu sering memberikan pujian pada anak atas maka ini akan membuat anak merasa kalau dia sudah merasa dirinya hebat dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya. Dan, secara tidak lansung juga ini akan mendidiknya untuk melihat orang lain berdasarkan pada takdir/suratan dari Allah SWT. Sehingga tak jarang kita melihat dalam pergaulan anak-anak sering terjadi saling ejek “Hei hitam, hei begok, hei cebol, dan kata-kata menjelekkan lainnya”. Dampak buruk lainnya lagi  anak akan merasa minder saat memiliki kekurangan yang berkaitan dengan suratan atau takdirnya.

Namun, saat anak dibiasakan mendapat pujian atas kerja keras atau hasil usahanya maka ini akan membentuk karakter untuk selalu ingin berusaha dan menjadi lebih baik dalam dirinya. Anak semacam ini menyadari kalau harga dirinya tidak ditentukan oleh fisik atau kecerdasan otaknya. Dalam dirinya akan tertanam pemahaman tidak masalah memiliki kulit hitam asal akhlak baik, tidak masalah tak terlalu cerdas namun selalu rajin belajar tak masalah memiliki tumbuh pendek namun rajin membantu orang tua dan santun pada guru.

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments