Memiliki anak perempuan adalah ujian tersendiri bagi para ayah bunda, suatu saat bisa menjadi anugerah dan juga suatu ketika juga bisa menjadi musibah. Saat orang tua berhasil mendidik anak perempuannya dengan baik sehingga tumbuh menjadi muslimah yang taat, bertakwa dan menjaga diri maka saat itulah ia menjadi hadiah terindah bagi orang tuanya. Akan tetapi jika orang tua gagal dalam mendidik anak perempuannya maka bisa-bisa malah pada akhirnya membawa aib bagi keluarga.

Untuk itulah setiap orang tua perlu memberikan perhatian lebih pada anak perempuannya, menyiapkan metode pendidikan terbaik, sesuai anjuran nabi Muhammad Saw.

Kabar  Gembira dari Rasulullah Saw

Jauh-jauh hari Rasulullah Saw telah memberikan kabar gembira untuk para orang tua yang memiliki anak perempuan. Pertama Rasulullah Saw memberi kabar gembira bahwa setiap orang tua yang diuji dengan anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang mereka dari siksa neraka sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

“Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku tidak mempunyai apapun kecuali satu buah kurma. Lalu akau berikan sebuah kurma tersebut untuknya. Wanita itu menerima kurma tersebut dan membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua anaknya, sementara dia sendiri tidak ikut memakannya. Kemudian wanita itu bangkit dan keluar bersama anaknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka”
(H.R Muslim 2629)

Yang kedua adalah kabar gembira untuk orang tua yang memberikan pengorbanan terbaik untuk anak perempuannya berupa surga untuknya dan membebaskan dari neraka.

“Seorang wanita miskin datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya, lalu  aku memberinya tiga buah kurma. Kemudian dia memberi untuk anaknya masing-masing satu buah kurma, dan satu kurma hendak dia masukkan ke mulutnya untuk dimakan sendiri. Namun kedua anaknya meminta kurma tersebut. Maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dia makan untuk diberikan kepada kedua anaknya. Peristiwa itu membuatku takjub sehingga aku ceritakan perbuatan wanita tadi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, : Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka”
(H.R Muslim 2630)

Yang ketiga adalah kabar gembira tentang janji Rasulullah akan bersama dengannya di hari kiamat sebagaimana sabda Rasulullah Saw berikut.,

“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau).
(HR Muslim 2631)

Ia Adalah Tiangnya Peradaban

Tak dapat dipungkiri perempuan memiliki peran yang besar dalam membangun peradaban meskipun juga memiliki andil dalam runtuhnya suatu peradaban. Peradaban Islam pun dibangun oleh perempuan-perempuan pejuang ada ibunda kita Khadijah binti Khuwailid yang menemani perjuangan Rasulullah Saw sejak awal turunnya wahyu, Sumayyah sebagai syahidah pertama dalam Islam, Fatimah putrinya Rasulullah Saw, Ummu Sulaim, Asma’ dan banyak lagi yang lainnya.

Seorang ulama terkemuka Hasan Al Banna pernah mengatakan “Wanita adalah tiang suatu negara, apabila wanitanya baik maka negara akan baik dan apabila wanita rusak maka negarakapun akan rusak.”

Untuk itu menjadi tanggung jawab bagi kita bersama untuk mendidik putri-putri kita menjadi wanita-wanita yang taat dan bertakwa pada Allah Swt, mencintai Rasulnya, bagus akhlaknya, indah tutur katanya dan cerdas pemikirannya. Sehingga putri-putri kita menjadi tiang yang akan menyokong terbangunnya peradaban cerdas, bertakwa dan beradab.

Ia adalah calon pendidik bagi generasi muslim

Perempuan adalah calon ibu bagi anak-anaknya nanti, dia akan menjadi sekolah yang akan mendidik anak-anaknya menjadi generasi muslim terbaik. Untuk itulah seorang perempuan perlu dipersiapkan secara spiritual, mental dan fisik untuk menjadi seorang ibu yang berkualitas. Semakin baik persiapan yang dilakukan tentu akan semakin baik juga peran dalam keluarganya nanti.

Menjadi seorang ibu berarti menjadi estafet penerus keimanan dan keislaman kepada anak cucunyanya.Orang tua perlu memberikan pendidikan terbaik, menanamkan keimanan dalam dadanya, ketakwaan dalam dirinya sehingga ia mampu menjadi ibu yang bisa mewariskan kembali nilai-nilai kebaikan itu pada anak-anaknya kelak.

Kesuksesan ayah dan bunda dalam mendidik anak perempuannya akan memiliki dampak berantai hingga garis keturunan berikutnya. Begitu juga saat gagal mendidik anak perempuan, maka akan menghadirkan calon ibu yang gagal dan juga berdampak untuk generasi-generasi berikutnya.

Kita bisa saksikan bagaimana wanita-wanita yang melahirkan generasi hebat sebab mendapat pendidikan terbaik dari orang tua mereka. Seperti orang tua maryam yang sukses dalam mendidiknya hingga melahirkan nabi dari rahimnya. Begitu juga dengan Idris yang telah mendidik anaknya Fathimah binti Ubeidillah dengan baik hingga akhirnya Fathimah binti Ubeidillah menjadi ibunda ulama, Imam Syafi’i.

Disinilah kita akan menyadari untuk melahirkan generasi rabbani dimulai dari mendidik anak perempuan kita dengan baik.

Ia adalah calon istri

Suatu ketika anak perempuan kita juga akan menjadi istri, akan dinikahi oleh seorang laki-laki asing dan pada akhirnya segala tanggung jawab kita sebagai orang tua akan berpindah pada laki-laki asing tersebut. Setelah menikah anak perempuan memiliki kewajiban baru yaitu patuh dan taat pada suaminya. Tentu kita sebagai orang tua tidak menginginkan anak perempuan kita menikah dengan laki-laki yang salah, sehingga dia hidup bersama dengan seorang laki-laki jauh dari iman serta ketaatan pada Allah Swt.

Maka menjadi bagian dalam pendidikan anak perempuan untuk mendidiknya agar mendapatkan calon suami terbaik, bagaimana adab pada suami serta menjalani kehidupan rumah tangga sesuai dengan tuntunan Islam.

Misran Jusan, Lc., M.A dan Armansyah, Lc., M.H menulis dalam bukunya Prophetic Parenting for girls pernikahan adalah hasil pendidikan bertahun-tahun, bahkan belasan tahun yang didapatkan dari orang tuanya. Tumbuh kembang seorang gadis sebelumnya di dalam keluarganya, sangat menentukan apakah dia dapat menjadi benteng di dalam keluarga barunya atau justru sebaliknya, menjadi penyebab retaknya mahligai rumah tangga yang baru dibinanya.

Rasulullah Saw pun mengingatkan para pemuda yang hendak menikah agar berhati-hati memilih wanita sebagaimana sabdanya.,

“Waspadalah kalian terhadap khadra’ ad-diman (daun hijau di kubangan ) !” Para sahabat bertanya, “Apakah khadra’ ad-diman itu ?, wahai Rasulullah ?” Rasulullah Saw menjawab, “Yaitu wanita cantik yang tumbuh di tengah-tengah (keluarga) yang buruk.”
(H.r Al-Qudha’i)

Agar anak gadis kita siap menjadi seorang istri yang shaleha, taat dan patuh pada suaminya maka persiapkanlah pendidikannya sejak sedini mungkin.

Karakteristik anak perempuan

Tentu tidaklah sama antara anak laki-laki dan anak perempuan, banyak perbedaannya. Mulai dari cara berpikir, cara memandang masalah, cara menyelesaikan masalah hingga hak dan kewajibannya kelak setelah dewasa.

Perbedaan yang menjadi titik utama antara laki-laki dan perempuan ada pada tiga aspek yaitu aspek kognitif, psikologis, dan sosio-fisiologis. Aspek-aspek tersebut memiliki implikasi terhadap pola pendidikan dan pengasuhan terhadap anak perempuan yang harus diperhatikan oleh orang tua.

Berikut adalah penjabaran tiga aspek yang membentuk karakteristik anak perempuan.

  1. Aspek Kognitif
    Menurut penelitian, terdapat perbedaan ukuran antara otak yang dimiliki oleh laki-laki dan otak yang dimiliki oleh perempuan. Perbedaan ukuran otak ini mempengaruhi cara berpikir masing-masingnya. Perempuan cenderung melakukan analisis terhadap unsur-unsur bahasa yang menjadi pengantar informasi. Menurut Sally Sweets (dalam Hammud, 2013), cara yang berbeda dalam mengelola informasi ini berbeda dalam menyampaikan informasi yang diolah. Apabila laki-laki lebih fokus dalam berbicara dan lebih terarah, maka perempuan cenderung berbicara dengan lebih fasih dan lebih lancar. Perbedaan-perbedaan seperti ini patut diperhatikan oleh orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak perempuan. Pengetahuan terhadap perbedaan tersebut dapat menjadi bekal bagi orang tua dalam memilih teknik berkomunikasi dengan putri tercinta mereka, menghadapi tingkah laku, dan bagaimana cara menanggulanginya.
  1. Aspek Psikologis
    Secara psikologis menurut Hammud (2013), terdapat beberapa perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Salah satunya adalah berbeda dalam kebutuhan emosional. Seorang anak putri secara umum cenderung memiliki kebutuhan emosional yang lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan emosional pada anak laki-laki. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya meluangkan waktunya lebih banyak bersama putri mereka supaya kebutuhan emosionalnya terpenuhi, seperti kebutuhan untuk dipeluk, ditemani,didengarkan ceritanya, dan lain sebagainya. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan emosional anak dapat menjadi pemicu baginya mencari pemenuhan kebutuhan emosional di luar rumah. Inilah pintu masuk bagi pengaruh buruk dari luar rumah pada anak perempuan anda.
    Perbedaan lainnya dari sisi psikologis adalah dalam hal nilai dan cara pandang. Seorang anak putri cenderung memiliki nilai dan cara pandang yang subjektif dibandingkan dengan anak putra. Cara pandang yang subjektif ini perlu diperhatikan oleh orangtua ketika mendengar cerita dari putri mereka. Informasi yang kita terima dari mereka dalam bentuk cerita, tidak perlu ditelan mentah-mentah. Sebaliknya, kita harus memilah mana informasi faktual dan mana informasi yang sentimental. Selanjutnya dalam perilaku, anak putri cenderung didorong faktor internal sehingga anak perempuan lebih mudah diminta melakukan sesuatu yang mereka sukai, tanpa harus menunggu rangsangan dari luar.
  1. Aspek Sosio-Fisiologis
    Anak perempuan memiliki kekhasan sosio-fisiologis yang harus disadari oleh setiap orang tua. Pertama, dalam menyelesaikan masalah. Anak perempuan lebih cenderung berbagi masalah dengan orang lain. Kedua, anak perempuan cenderung memiliki kematangan fisik lebih cepat dibandingkan anak laki-laki yang seusia dengannya. Di usia yang sama, anak perempuan lebih cepat baligh dibanding anak laki-laki. Dengan mengetahui sosi-fisiologis anak perempuan akan mempengaruhinya pola dan materi pendidikan yang diberikan padanya.

Tahap-tahapan pendidikan anak perempuan

Tahapan pendidikan anak perempuan dari lahir hingga baligh tak banyak berbeda dengan anak laki-laki, hanya saja ada tahap pendidikan saat haid yang mesti orang tua berikan pada anak perempuannya. Selain itu dalam pendidikan fase pranikah anak perempuan juga memiliki beberapa kekhususan. InsyaAllah akan kita bahas secara lebih terperinci dibagian lain tulisan ini.

Sumber referensi : 

1. Buku prophetic parenting

2. Buku prophetic parenting for girls

3. Buku Ibunda Para ulama

4. Buku Islamic parenting

Sumber foto : Link  foto

Artikel Menarik Lainnya







comments