Usia 10 – 14 tahun adalah usia di mana anak memasuki akil baligh. Pada masa ini anak perempuan akan mengalami haid pertamanya dan anak laki-laki akan berubah suaranya dan juga berbagai ciri-ciri lainnya. Anak dengan usia ini biasanya sangat rentan, terutama terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulannya. Selain itu, pada usia ini juga waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik dalam dirinya terutama ibadah-ibadah wajib dan juga sunnah. Anak harus diberi tahu kalau saat telah memasuki usia ini segala yang dilakukannya di dunia akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Dalam parenting nabawiyah atau pendidikan cara nabi disajikan hal-hal apa saja yang perlu diajarkan dan dituntunkan pada anak di usia ini.

Mengajarkan anak tentang aurat beserta batasannya

Usia 10-14 tahun adalah masa remaja atau dikenal juga sebagai masa pubertas. Sudah mulai muncul bibit-bibit ketertarikan pada lawan jenis. Untuk itulah orangtua perlu mengajarkan anak untuk menutup aurat, mengenalkan batasannya serta juga memberi tahu batasan dalam pergaulan dengan lawan jenisnya.

Misalnya orangtua menerangkan pada anak perempuannya kalau aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Semua yang termasuk aurat tersebut wajib untuk ditutupi dan dijaga agar tidak tampak oleh yang bukan mahramnya. Begitu juga dengan anak laki-laki auratnya dibatasi oleh pusar hingga lutut. Orangtua juga perlu mengingatkan anak-anaknya agar menjaga mata dan menundukkan pandangan dari lawan jenisnya.

Menjadi kewajiban orangtualah untuk menyediakan pakaian yang menutup aurat bagi anak-anaknya di usia ini. Rasulullah Saw pun bersabda :

“Berilah mereka makan dari apa yang kalian makan dan berilah pakaian dari apa yang kalian pakai..”

Menumbuhkan rasa malu dalam diri anak

Al-Fadhl bin Abbas berkisah, “Ketika aku sedang membonceng di belakang Rasulullah Saw dari Muzdalifah menuju ke Mina, tiba-tiba muncul seorang arab badui yang membonceng anak perempuannya yang cantik. Kendaraannya berjalan bersebelahan dengan unta yang dikendarai oleh Rasulullah Saw.”

“Waktu itu aku memandang anak perempuannya,” lanjut Al-Fadhl bin Abbas, “Nabi pun memandang ke arahku dan memalingkan wajahku dari anak perempuan itu. Akan tetapi, aku memandangnya lagi dan Nabi memalingkan wajahku lagi. Beliau melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali karena aku memandanginya terus, sedangkan beliau terus mengucapkan talbiyahnya hingga selesai melempar jumrah ‘Aqabah. (Shahih Abu Dawud)

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda kepadanya, “Keponakanku, pada hari ini, siapa yang menundukkan pandangan matanya dan memelihara kemaluan dan lisannya, dosa-dosanya akan diampuni.”

Aurat pada wanita adalah perhiasan berharga, saking berharganya ia tak boleh dilihat secara sembarangan kecuali oleh laki-laki yang sudah suaminya nanti. Begitu juga bagi seorang laki-laki, cara terbaik menghargai seorang wanita adalah dengan menundukkan pandangan dan tidak melihat perhiasannya.

Tak mudah memang menundukkan pandangan, apalagi di zaman yang serba terbuka seperti saat ini. Akan tetapi ikhtiar sederhana kita mendidik anak laki-laki agar menjaga pandangannya dan juga anak perempuan agar menutup auratnya dengan syar’i adalah sebuah cara terbaik menyelamatkan anak-anak kita dari maksiat mata, hati dan pikiran. Yang pada akhirnya dari pandangan ini berpotensi melahirkan mudharat yang lebih besar seperti aktivitas pacaran dan sejenisnya.

Rasa malu adalah kunci dari menundukkan pandangan. Saat anak perempuan memiliki rasa malu dalam dirinya maka ia akan menjaga dan menutup auratnya dengan sebaik mungkin. Begitu juga anak-anak laki-laki yang memiliki rasa malu tak akan mudah mengumbar pandangan matanya.

Mendidik anak untuk tidur lebih awal

Tidur lebih awal, selain menyehatkan juga akan memudahkan anak untuk bangun lebih awal di pagi hari. Tidur terlalu larut malam atau bergadang tentu sangat tidak baik untuk kesehatan. Rasulullah Saw dan para sahabat pun meneladankan untuk tidur lebih awal, dan juga tentunya agar bisa bangun lebih awal. Mendirikan shalat malam, shalat shubuh tepat waktu dan tubuh menjadi lebih segar di pagi hari.

Melarang anak tidur telungkup

Ayah Ya’isy Thakhfah Al-Ghifari berkata, “Ketika saya sedang berbaring tertelungkup di dalam masjid, tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan tubuhku dengan kakiknya seraya berkata, ‘Ini adalah cara tidurnya orang yang dimurkai Allah.’ Ketika aku menoleh ternyata itu Rasulullah saw.” (H.R.Abu Dawud)

Menurut riwayat lain disebutkan “Ini adalah tidurnya ahli neraka.”

Tidur telungkup berpotensi memunculkan pergesekan tercela, membangkitkan birahi, dan membangkitkan naluri seksual.

Hindari memukul anak kecuali sesuai dengan cara yang diajarkan nabi

Marah kepada anak tentu dibolehkan, mengingatkan anak agar melakukan kebaikan tentu keharusan bagi setiap orangtua. Tapi perlu diperhatikan jangan sampai niat baik kita mengingatkan anak malah mencelakainya. Hari ini tak sedikit orangtua yang tanpa belas kasihan memukul anaknya apakah itu dengan menggunakan kayu, ikat pinggang atau benda-benda lain yang menyakitkan lainnya. Mendidik anak dengan cara memukul bukanlah hal diajarkan Nabi. Bahkan Nabi melarang hal ini.

Abu Umamah menjelaskan bahwa Nabi Saw pernah menerima dua anak. Beliau memberikan salah seorang dari keduanya kepada Ali. Beliau berpesan, “Jangan pukul dia karena aku melarag memuku orang yang shalat dan aku melihatnya mengerjakan shalat sejak kami terima”

Rasulullah membolehkan memukul anak, yaitu saat ia tidak melakukan shalat ketika sudah berusia 10 tahun. Selain itu, Rasulullah Saw melarang kita untuk memukul anak.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya menyebutkan hal yang memberikan pengertian bahwa dia tidak suka menggunakan kekerasan dan paksaan dalam mendidik anak. Dia mengatakan,

“Barang siapa mendidik orang-orang yang menutut ilmu, para budak, atau para nelayan dengan cara kasar dan paksaan, maka orang yang dididik akan dikuasai oleh serba keterpaksaan. Keterpaksaan akan membuat jiwanya merasa sulit dan sempit untuk mendapatkan kelapangan. Semangat membuat kreativitas lenyap, cenderung pada sikap malas, dan mendorongnya untuk suka berdusta dan melakukan hal yang keji karena takut terhadap perlakuan suka memukul yang ditimpakan atas dirinya secara paksa. Pendidikan cara keras yang diterapkan terhadap dirinya mengajarinya untuk melakukan tipu muslihat dan penipuan hingga lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan bagi yang bersangkutan. Akhirnya, rusaklah nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi olehnya.”

Mendidik anak dengan cara nabi adalah mendidik dengan hati. Cara terhormat, bermuatan kasih sayang bukan diserta kebencian. Karena mendidik anak dengan penuh kebencian tidak akan mengubahnya menjadi lebih baik, akan tetapi malah akan melahirkan benih-benih kebencian juga dalam dirinya. Anak yang dididik dengan kemarahan apalagi disertai dengan pukulan akan membuat jiwanya rapuh, menumbuhkan rasa frustasi bahkan dendam dalam dirinya.

Untuk itu perlu dipahami oleh setiap orangtua, mendidik anak dengan cara memukulnya bukanlah cara yang bijak. Lebih lanjut menghukum anak secara berlebihan hingga memukulnya akan menambahkan kebodohan dan kebekuan pikiran pada anak.

Aisyah berkata, “Rasulullah Saw tidak pernah memukul dengan tangannya, baik terhadap istri maupun pelayannya, kecuali bila berjihad di jalan Allah Swt.” (HR.Muslim)

Begitulah Rasulullah memberi keteladanan untuk kita, mendidik anak dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Menahan diri saat muncul emosi marah pada anak. Bahkan Rasulullah Saw dalam salah satu hadistnya yang diriwayatkan Imam Bukhari menyebut bahwa manusia terkuat bukanlah yang mampu membanting atau memukul orang lain. Tetapi orang kuat adalah yang mengendalikan dirinya saat sedang marah.

Berikut adalah beberapa ukuran dan batasan dalam memberi hukuman berupa pukulan pada anak :

  1. Pukulan tidak boleh dilakukan sebelum anak menginjak usia 10 tahun, hal ini senada dengan perintah Rasulullah Saw agar memukul anak ketika meninggalkan shalat. Jadi, ketika anak anda berusia sebelum 10 tahun tidak perlu dipukul. Apalagi jika masalahnya hanya karena perilaku dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan kehendak orangtua. Menasihatkan secara baik-baik dan penuh kasih sayang jauh lebih baik baginya.
  2. Berupaya meminimalkan hukuman pukulan pada anak. Hukum berupa pukulan pada anak hanya akan menimbulkan banyak mudharat, lebih banyak keburukan dari kebaikannya. Rasulullah Saw bersabda, “Hukuman cambuk lebih dari sepuluh kali dera tidak boleh dilakukan, kecuali dalam salah satu hukum had dari hukum-hukum had Allah.” (H.r.Bukhari)
  3. Ulama tafsir mengatakan bahwa pukulan memakai cambuk dianjurkan hanya mengenai bagian kulit saja dan tidak boleh melampuinya sampai menembus daging. Setiap pukulan yang melukai bagian daging atau merobek kulit hingga menembus dan melukai daging bertentangan dengan hukum Al-Qur’an dan firman Allah Swt, “Fajlidu” yaitu kulit punggung dari tubuh manusia. Maksudnya ialah pukullah sebanyak 100 kali sebagai hukuman atas perbuatannya. Jumlah ini khusus untuk orang-orang balig ketika diterapkan hukum had.
  4. Sarana yang dipakai untuk memukul tidak boleh berupa cambuk yang keras atau cambuk yang ada pintalannya, karena Rasulullah Saw melarang hal tersebut.

Zaid bin Aslam telah meriwayatkan bahwa seseorang yang pernah mengaku kepada Rasulullah Saw bahwa ia telah berbuat zina. Rasulullah Saw pun meminta cambuk, lalu diberikanlah kepada beliau cambuk yang telah terurai ujungnya. Maka beliau bersabda, “Di atas ini.” Lalu didatangkanlah sebuah cambuk baru yang masih ada pintalannya pada bagian ujungnya, kemudian Rasulullah Saw memerintahkan agar lelaki itu didera dengan cambuk tersebut. Sesudah itu Rasulullah Saw bersabda :

“Hai sekalian manusia, sekarang sudah saatnya bagi kalian menghentikan (perbuatan yang menyebabkan) hukuman had Allah. Barang siapa melakukan sesuatu dari perbuatan yang keji ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan tirai Allah, karena barang siapa mengakui perbuatannya terhadap kami, niscaya kami akan menegakkan hukum Allah terhadapnya.”
(Hadits Shahih. Muwaththa’ Imam Malik)

  1. Pemukul tidak boleh mengangangkat tinggi tangannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Umar terhadap juru pukulnya, “Janganlah kamu angkat ketiakmu !” Maksud larangan ini ialah agar pukulan yang ditimpakan tidak melukai, yakni tidak terlalu keras dan kuat, karena Nabi juga melarang hal ini.
  2. Dilarang memukul bagian sensitif dan jangan memukul dalam keadaan emosi. Tujuan memukul anak (jika dibutuhkan) adalah untuk memberi pelajaran dan mendidiknya, bukan untuk melampiaskan kemarahan. Memukul anak pada bagian sensitif sama saja dengan menganiayanya, menimbulkan kebencian dalam diri anak serta juga bisa mencelakakan anak.

Hindari membentak anak

Membentak atau menghardik anak juga hal yang perlu dihindari oleh setiap orangtua. Menghardik dan membentak anak bisa menyebabkan matinya sel-sel di otak anak. Selain itu membentak juga bisa merusak jiwa dan mentalnya.

Bangun hubungan baik antara orangtua dan anak

Usia 10 – 14 tahun adalah masa-masa di mana anak membutuhkan perhatian dan pendampingan khusus dari orangtuanya. Pada usia ini anak emosi anak biasanya sangat labil. Ini adalah masa-masa pubertas dan pencarian jati dirinya. Dia membutuhkan wadah untuk untuk mengekspresikan diri, rasa ketertarikan pada lawan jenis pun sudah mulai bersemi pada usia ini.

Anak di rentang usia 10 -14 tahun membutuhkan tempat yang nyaman, orang yang mau menjadi sahabat sekaligus pendengar yang baik baginya. Jika itu tidak ditemukannya di keluarga tentu dia akan mencari di luar. Makanya saat ini kita bisa lihat banyak remaja-remaja dengan rentang usia tersebut yang punya teman nongkrong, pacaran hingga pergaulan bebas.

Disinilah peran orangtua dan keluarga sangat dibutuhkan, agar anak betah di rumah dan menjadikan orangtua sebagai sahabat terbaik yang mengerti dirinya dan mampu menjadi pendengar yang baik baginya.

Tidak memanjakan anak

Khaulah binti Hakim berkata, Rasulullah Saw bersabda :

“Sesungguhnya anak itu bisa menjadi penyebab kikir, pengecut, bodoh, dan sedih.”

Al-Manawi dalam Shahihul Jami’  berkata, “Kikir menginfakkan harta untuk orang yang benar-benar membutuhkan, penyebab pengecut dari hijrah dan jihada, penyebab bodoh karena anak bisa membuat orang tua tidak mau melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya karena perhatiannya terkuras untuk mencari nafkah demi anaknya. Juga penyebab sedih karena bisa membuat orangtuanya banyak bersedih  bila anaknya sakit atau meminta sesuatu lalu orangtuanya tidak bisa menuruti. Jadi, kebanyakan yang menyebabkan kejayaan dan kebaikan orangtua menjadi hilang adalah karena kesedihan tersebut. Bila anak telah tumbuh menjadi seorang pemuda, namun ia durhaka kepada kedua orang tua, kesedihan tersebut akan semakin memanjang.”

Semua hal diatas, sebagaimana disebutkan oleh Al-Manawi berawal dari orangtua yang terlalu sayang, selalu menuruti keinginan sang anak dan pada akhirnya anaknya tumbuh menjadi manja. Rasulullah Saw memang mengajarkan kita bersikap lemah lembut penuh kasih sayang pada anak, tetapi tidak berarti terlalu berlebihan dalam menyayanginya. Bahkan Rasulullah Saw pernah mengingatkan para orangtua agar mengantungkan cambuk atau cemeti di rumahnya, agar anak merasa ngeri melihat itu.

Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw bersabda, “Gantungkanlah pecut di tempat yang bisa dilihat oleh keluarga kalian “ (Shahih Al-Jami’)

Ketika anak diasuh dengan cara dimanja dan diikuti semua keinginannya akan mengakibatkan anak merasa tidak pernah ada yang melarang bila berbuat kesalahan, sulit untuk diingatkan termasuk ketika mengingatkan anak agar taat pada Allah Swt.

Tidak membandingkan anak dengan anak lain

Membandingkan anak dengan yang lain adalah salah satu cara yang tidak tepat dalam mendidik anak. Sering hal ini terjadi ketika seorang ayah atau ibu membandingkan anaknya dengan kakak atau adik, atau bahkan dengan anak-anak yang lain. Anak yang sering dibanding-bandingkan orangtuanya dengan anak lain akan tumbuh rasa iri, dengki dalam dirinya. Bahkan, memungkinkan juga muncul rasa minder sehingga dia merasa dirinya serba tidak pandai, serba salah dan bukanlah anak yang bisa membanggakan orangtua. Kita perlu menyadari setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan, saat anak kita kurang di satu bidang boleh jadi dia memiliki kekuatan di bidang lain. Menjadi tugas orangtualah untuk bisa menumbuhkan motivasi dalam diri anak agar dia menjadi pribadi yang percaya diri, dia tau setiap anak memiliki potensi dan kekuatan yang berbeda-beda dengan anak lainnya.

Tidak memberi labeling yang buruk pada anak

Labeling pada anak adalah suatu kata atau kalimat untuk menyebut anak berdasarkan prilakuknya, baik yang baik maupun yang buruk. Labeling yang buruk adalah saat orangtua menyebut anaknya ‘si nakal’ lantaran anak sulit diatur, ‘si bodoh’ lantaran anak sulit untuk meraih nilai bagus di sekolah, ‘si pemalas’ lantaran anaknya adalah pemalas. Labeling buruk yang diberikan secara berulang-ulang pada anak akan mengusik kepercayaan dirinya, menanamkan sebuah keyakinan dalam dirinya kalau dia benar seperti yang disebut oleh orangtuanya, membuat anak menyesali dirinya dan berbagai dampak buruk lainnya.

Untuk itu perlu dipahami oleh setiap orangtua agar berhati-hati dalam memberi labeling pada anaknya, jika memang menemukan perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan kita coba nasihati dengan cara yang baik-baik. Katakan padanya kalau dia sebenarnya adalah anak yang baik, anak yang shaleh, anak yang rajin agar muncul kebaikan dalam dirinya dan tumbuh sikap percaya diri.

Menerima kelebihan maupun kekurangan dalam diri anak

Setiap anak tentu Allah karuniakan dengan satu kelebihan dan satu kekurangan. Saat anak memiliki kelebihan ketika itu sebenarnya dia memiliki kekurangan. Yang menjadi ujian tersendiri bagi orangtua adalah bagaimana menemukan kelebihan anak serta meminimalisir kekurangan dalam diri anak.

Ada kekurangan yang bisa diperbaiki ini terkait dengan perilaku anak, begitu juga ada kekurangan yang tidak bisa diperbaiki hal ini terkait dengan fisik anak serta tampilannya. Orangtua sudah semestinya mau menerima kekurangan anak, legowo, tidak merasa rugi atau minder hanya disebabkan oleh satu kekurangan yang dimiliki oleh anak.

Orangtua yang bijak tentu akan pandai menemukan kelebihan yang ada dalam diri anaknya, mengasah dan menumbuhkannya. Demikian juga halnya dengan kekurangan yang dimiliki oleh anak, memikirkan bagaimana caranya untuk bisa memperbaikinya, tentu dengan catatan ini adalah kekurangan yang bersifat bisa diubah. Sementara untuk kekurangan fisik tentu solusinya hanya menerima, meyakini kalau itu adalah sebuah takdir terbaik dari Allah Swt.

Menasehati anak dengan bijak

Rafi’ bin ‘Amru Al-Ghifari mengatakan, “Dahulu aku dan anak muda sebayaku sering melempari pohon kurma miliki orang-orang Anshar. Maka hal ini dilaporkan kepada Nabi. Ada anak yang suka melempari pohon kurma kami.’ Akhirnya, aku dibawa menghadap Nabi dan beliau bertanya, ‘Nak mengapa engkau melempari pohon kurma?’ Aku menjawab, ‘Untuk saya makan buahnya.’ Nabi Saw bersabda, ‘Kamu jangan lagi melempari pohon kurma, tapi makanlah buahnya yang jatuh di bawahnya.’ Selanjutnya beliau mengusap kepalaku seraya berdoa, ‘Ya Allah, kenyangkanlah perutnya’.” (H.r At – Tirmidzi)

Az-Zar’i dalam Hasyiyah Ibnul Qayyim berkata, “Hadits tersebut menunjukkan kebolehan memakan buah yang jatuh dan kebolehan ini lebih diutamakan saat lapar.” Ada juga yang mengatakan bahwa kebolehan tersebut hanya saat lapar dan darurat saja dan itu hanya boleh dimakan di tempat, berisi hadist sebagai berikut :

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda :

“Barang siapa masuk pagar miliki seseorang maka ia boleh memakan, namun tidak boleh membawanya pulang.”

Disini kita bisa lihat bagaimana bijaknya Rasulullah Saw dalam meluruskan kekeliruan dengan memberikan contoh operasional dan menunjukkan hal yang seharusnya dilakukan dengan mengacu pada kaidah umum syariat.

Berikut adalah kisah Ibnu Umar yang meneladani sikap Nabi dalam meluruskan kekeliruan yang dilakukan oleh anak-anak. Ia pernah berjumpa dengan sejumlah anak-anak kaum Quraisy yang mengikat seekor burung, lalu mereka memanahinya. Mereka memberikan kepada pemilik burung setiap anak panah yang luput dari sasarannya. Ketika mereka melihat kedatangan Ibnu Umar, mereka bubar. Ibnu Umar berkata, “Siapakah yang melakukan perbuatan ini? Semoga Allah melaknat orang yang melakukannya. Sungguh Rasulullah mengutuk orang yang menjadikan hewan yang bernyawa sebagai sasaran !” (Hr.Ibnu Majah)

Menjaga makanan yang dimakan oleh anak

Sesungguhnya makanan yang dimakan oleh anak akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan fisiknya serta juga perkembangan kepribadianya. Maka sudah menjadi keharusan bagi orangtua memastikan makanan yang masuk ke dalam perut anaknya adalah makanan yang sehat, baik dan bernilai gizi. Serta juga agar ia tumbuh menjadi pribadi yang taat dan bertakwa pada Allah Swt, orangtua mesti memastikan kalau setiap makanan yang masuk ke dalam perut anaknya berasal dari sumber rezeki yang halal.

Menumbuhkan kecintaan pada majelis ilmu dalam diri anak

Satu hal yang sangat Allah cintai adalah majelis ilmu dan orang-orang yang berada di dalamnya untuk meraih ridha Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam hadist Qudsi :

“Kasih sayangku pasti kuberikan kepada dua orang yang saling berkasih sayang karena-Ku, dua orang yang bermajelis karena-Ku, dan dua orang yang saling mengunjungi karena-Ku.”

Dan Rasulullah Saw pun bersabda :

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alla Ta’ala dengan membaca kitab-Nya dan memperdalam kandungannya, melainkan akan turun kepada mereka suatu ketenangan. Mereka selalu diliputi rahmat dan para malaikat selalu memohonkan ampun untuk mereka. Kemudian Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makluk yang berada di sisi-Nya.”
(H.r.Muslim)

Nabi Saw mengingatkan agar tidak mendebat para ulama dalam persoalan ilmu dengan perdebatan yang tidak baik serta membanggakan ilmu diri sendiri di hadapan mereka. Jabir meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda :

“Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk berbangga di hadapan para ulama, mendebat orang-orang awam, atau untuk mendapat populariras di hadapan manusia, karena siapa yang melakukan itu maka tempatnya kelak di neraka.”
(Shahih Al-Jami’)

Mengajarkan anak untuk mencintai majelis ilmu serta mencintai ulama yang mengajar di majelis ilmu tentu dimulai dari orangtuanya terlebih dahulu mencintai majelis ilmu. Biasakan mengajak anak menghadiri majelis ilmu adalah salah satu cara terbaik dalam menanamkan kecintaan anak pada majelis ilmu.

Menumbuhkan kecintaan membaca dalam diri anak

Allah Swt berfirman :

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang maha pemurah. Yang mengajarkan (manusia ) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Q.s. Al-‘Alaq : 1-5)

Dalam ayat yang pertama kali diturunkan ini Allah Swt berpesan “Bacalah !” secara bahasa bacalah bermakna membaca tulisan untuk mendapatkan ilmu dan makna dari bacaan tersebut. Tapi sangat disayangkan, membaca adalah hal yang sangat berat bagi generasi muda kita. Bahkan Indonesia termasuk salah satu negara dengan minat baca terendah.

Sementara bangsa yang maju adalah bangsa yang masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi. Menumbuhkan kecintaan membaca dalam diri anak dimulai dari membudayakan membaca di dalam keluarganya. Berikut adalah beberapa tip menumbuhkan minat baca dalam diri anak.

  1. Kecintaan membaca dimulai dari orangtua, salah satu karakter dari parenting nabawiyah adalah keteladanan. Akan menjadi kesulitan tersendiri jika orangtua ribut menyuruh anaknya membaca tapi orangtuanya sendiri tidak pernah membaca.
  2. Membuat perpustakaan keluarga, keberadaan buku-buku di rumah secara tidak lansung akan menumbuhkan kecintaan membaca dalam diri anak. Maka perlu bagi setiap orangtua memiliki koleksi buku dan membuat perpustakaan keluarga. Ini bermanfaat untuk menumbuhkan suasana cinta baca di keluarga tersebut.
  3. Mengajak anak wisata buku. Untuk menumbuhkan kecintaan membaca dalam diri anak orangtua juga bisa mengajak anak untuk berjalan-jalan ke toko buku, menghadiri acara bedah buku atau mengunjungi pameran buku.
  4. Membelikan anak buku sesuai dengan usianya dan secara berkala. Untuk menumbuhkan kecintaan membaca dalam diri anak bisa dengan cara membelikan buku sesuai dengan usianya, saat ini banyak disediakan buku-buku sesuai usia anak bahkan dari usia 0 tahun hingga remaja. Jadikan membeli buku menjadi salah satu kebutuhan utama dalam keluarga, ajarkan anak menabung untuk membeli buku bacaan.
  5. Mendampingi anak membaca buku, selain ini sebagai waktu berkualitas bersama anak bisa juga sebagai cara untuk menumbuhkan kecintaan anak pada membaca.

Memastikan lingkungan pergaulan anak adalah lingkungan terbaik

Agamamu adalah agama temanmu pesan Rasulullah Saw. Setuju atau tidak lingkungan memberikan pengaruh besar dalam membentuk kepribadian anak, terlebih lagi jika anak sudah beranjak remaja, boleh jadi waktunya sehari-hari akan jauh lebih banyak dihabiskan di luar rumah. Disinilah perlunya orangtua memastikan lingkungan pergaulan terbaik untuk anaknya. Mulai dari memilihkan tempat tinggal terbaik yang diisi oleh orang-orang yang baik agama dan akhlaknya, dan juga memilihkan sekolah terbaik yang mengutamakan pendidikan akhlak dan ketaatan kepada Allah Swt. Tidak hanya semata mengutamakan prestasi akademik.

Mengajarkan anak untuk berhemat sejak dini

“Hemat pangkal kaya”

Tentu pepatah ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua, sebuah pepatah yang mengajarkan kita untuk hidup secara sederhana, tidak mewah serta berlebih-lebihan.Ulama mengatakan, “Seorang ayah seharusnya tidak membiasakan anaknya hidup mewah dan tidak membiasakan sang anak suka berdandan dan berpenampilan mewah serta bersenang-senang, karena akan sia-sialah usianya untuk mendapatkannya hingga binasalah ia selamanya.”

Abu Utsman berkata, “Kami pernah bersama Utbah bin Farqad. Maka Umar menulis surat kepadanya yang berisi berbagai hal yang ia ceritakan dari Nabi Saw. Salah satu yang ia tulis adalah bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada yang memakai sutera di dunia kecuali orang yang nanti di akhirat tidak mendapatkannya kecuali hanya sekian.” (H.r.Ahmad)

Umar bin khattab berkata, “Pakailah sarung, jubah, dan sandal. Buanglah pakaian tipis dan celana pendek. Pakailah pakaian Ma’ad (nenek moyang bangsa arab), tinggalkanlah tunggangan dan melompat dari kuda. Hindarilah bernikmat-nikmat dan hindarilah pakaia orang-orang asing. Jauhilah sutera karena Rasulullah Saw telah melarangnya. Beliau bersabda, ‘Janganlah kalian memakai sutera kecuali hanya sekian.’ Beliau memberi isyarat dengan dua jarinya.”

Hidup sederhana adalah hidup sesuai dengan kebutuhan bukan hidup memperturutkan keinginan. Anak perlu mengerti kalau harga diri anak tidak diukur dari seberapa mewah dan mahal barang yang dipakainya, tetapi dari akhlak dan budi pekertinya.

Sumber referensi :

  1. Buku Islamic parenting

Artikel Menarik Lainnya







comments