Mengajarkan Syair Kepada Anak

Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda, sesungguhnya di antara syair itu terdapat hikmah. Apabila ada sesuatu dari makna Al-qur’an yang rumit bagi kalian maka carilah maknanya dalam syair, karena sesungguhnya syair itu memakai bahasa arab.”

Ibnu Abbas juga mengatakan, “Apabila seseorang di antara kalian belajar sesuatu dari Al-quran, kemudian tidak mengetahui tafsirnya maka hendaklah ia mencarinya dalam syair, karena sesungguhnya syair itu adalah diwan (catatan sejarah) orang-orang Arab.” Riwayat inilah yang shahih, tapi predikatnya mauquf.

Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai firman Allah yang menyebutkan: “Pada hari betis disingkapkan.” (Al-Qalam: 42)

Ibnu Abbas menjawab, “Apabila ada sesuatu dari makna Al-qur’an yang belum dapat dipahami oleh kalian maka carilah artinya dalam syair, karena sesungguhnya syair adalah diwan orang-orang Arab. Apakah kalian tidak pernah mendengar ucapan seorang penyair yang mengatakan dalam bait syairnya berikut ini?”

“Bersabarlah, hai kekasihku Anaq

Sesungguhnya hal ini akan berbuntut keburukan lama

Kaummu telah menetapkan hukuman penggal kepala

Dan perperangan pasti akan terjadi terhadap kita

Dengan sengitnya.”

Ibnu Abbas melanjutkan, “Ini artinya hari yang sangat sulit lagi amat keras.”

Muhammad bin Sirrin mengatakan, “Para penyair dari kalangan shahabat Muhammad adalah Abdullah bin Rawwahah, Hasan bin Tsabit, dan Ka’b bin Malik.”

Di zaman Rasulullah Saw syair juga digunakan sebagai penyemangat bagi mereka yang sedang melakukan peperangan. Mengajarkan syair pada anak adalah bagian dari sunnah Rasulullah Saw. Syair tidak hanya bermuatan motivasi dan inspirasi tetapi juga ada syair yang bermuatan hikmah kehidupa hingga syair yang hanya sebagai hiburan.

Melakukan Perjalanan Menuntut Ilmu

Sebaik-baiknya perjalanan bagi setiap anak muda tentu adalah perjalanan menuntut ilmu. Para ulama terdahulu menempuh perjalanan panjang yang membutuhkan waktu sampai berhari-hari untuk belajar. Mereka mengembari mendatangi sumber-sumber ilmu pengetahuan dan belajar lansung kepada para guru yang terbaik di zamannya.

Katsir bin Qais berkisah, “ Ketika aku sedang duduk di masjid Damaskus beersama dengan Abu Darda’, datanglah seorang lelaki kepadanya, lalu berkata, ‘Wahai Abu Darda’, aku datang kepadamu dari Madinatur Rasul untuk suatu hadist yang beritanya telah sampai kepadaku bahwa engkau telah menceritakannya kepada Rasulullah.’

Abu Darda’ bertanya, ‘Apakah engkau datang ke sini juga untuk suatu keperluan lain, semisal berniaga, atau hanya untuk menanyakan hadist ini?’

‘Ya (hanya untuk menanyakan hadist itu), jawab lelaki itu.

Maka Abu Darda’ berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan menjadikan jalan yang ditempuhnya itu sebagai salah satu dari jalan yang mengantarkannya ke surga dan para malaikat merendahkan sayap mereka karena suka kepada penuntut ilmu. Sungguh, seorang yang menuntut ilmu akan dimohonkan ampunan oleh semua penduduk langit dan bumi serta semua ikan yang hidup dalam air. Keutamaan rembulan pada malam purnama atas semua bintang. Sungguh, para ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sungguh para nabi tiada meninggalkan dinar atau dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu. Oleh karena itu, barang siapa yang mendapatkannya, berarti ia telah mendapatkan bagian yang berlimpah’.”

Sehubungan dengan makna hadist ini, Abu Hatim menjelaskan, “Dalam hadist tersebut terdapat keterangan yang jelas bahwa para ulama yang mempunyai keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam teks hadist ialah mereka yang mengetahui ilmu Nabi, bukan ilmu lainnya. Tidakkah Anda melihat beliau menyebutkan bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi, sedangkan warisan para Nabi hanyalah ilmu. Ilmu Nabi kita adalah hadistnya. Untuk itu, barang siapa yang tidak mempunyai pengetahuan tentang hadistnya, berarti bukan termasuk pewaris Nabi.”

Kita mengenal banyak ulama semisal Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Hambali dan ulama-ulama lainnya karena keteguhan mereka menuntut ilmu. Buah dari kerja keras dan kelelahan mereka masih terasa hingga saat ini, pendapat-pendapat mereka menjadi rujukan bagi banyak masyarakat muslim di berbagai belahan dunia.

Pesan Luqmanul Hakim Kepada Penuntut Ilmu

Dalam pesan ini terkandung beberapa etika yang tinggi, yang dibutuhkan seorang penuntut ilmu. Syahr bin Hausyab telah mengatakan, “Ada informasi yang sampai kepadaku bahwa Luqmanul Hakim berpesan kepada putranya sebagai berikut:

‘Wahai anakku, janganlah kamu mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, untuk mendebat orang-orang yang bodoh, atau untuk memamerkan dirimu di berbagai pertemuan. Janganlah kamu meninggalkan ilmu karena tidak suka kepadanya dan lebih suka kepada kebodohan. Wahai anakku, pilihlah tempat pertemuan menurut pandanganmu sendiri. Apabila kamu menjumpai suatu kaum yang sedang berzikir menyebut nama Allah maka bergabunglah dengan mereka. Karena, jika kamu seorang yang alim maka ilmumu akan bermanfaat, atau jika kamu seorang yang bodoh tentu mereka akan mengajarimu. Mudah-mudahan Allah menurunkan rahmat-Nya kepada mereka sehingga kamu pun akan mendapatkan bagian karena kamu menjadi teman duduk mereka. Sebaliknya, apabila kamu melihat suatu kaum yang tidak berzikir kepada Allah, janganlah kamu duduk bersama mereka. Karena, jika kamu seorang yang alim ilmu tidak akan berguna, dan jika kamu seorang yang bodoh maka mereka akan makin menjerumuskanmu dalam kebatilan. Barangkali Allah menurunkan azabnya kepada mereka sehingga kamu pun ikut mendapat bagian karena kamu menjadi teman duduk mereka.”

Pesan Al-Ghazali kepada Penuntut Ilmu

Pertama, orang yang menuntut ilmu harus menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan menjauhi perangai yang buruk, seperti mudah emosi, mempeturutkan nafsu birahi, dengki, iri hati, sombong, dan besar hati. Semua itu merupakan kegelapan yang akan menghalanginya dari cahaya ilmu. Parameter menguasai ilmu bukan dilihat dari banyaknya periwayatan dan muatan hafalan yang banyak, melainkan cahaya mata hati yang melaluinya dapat dibedakan antara perkara yang hak dan yang batil, antara hal yang berbahaya dan hal yang bermanfaat, antara kebaikan dan keburukan, serta antara petunjuk dan kesesatan.

Kedua, penuntut ilmu harus mengurangi kesibukannya dari hal-hal yang dapat memalingkannya dari meraih ilmu dan mengosentrasikan waktu untuknya, karena Allah tidak akan menjadikan dua hati dalam rongga seseorang.

Ketiga, seorang yang sedang belajar tidak boleh bersikap sombong dengan ilmunya dan tidak boleh menjerumuskan pengajarnya. Ia harus patuh kepada nasihatnya sebagaimana pasien yang mematuhi dokter yang merawatnya dengan penuh kasih sayang dan sangat mengharapkan kesembuhan dalam waktu yang singkat. Dianjurkan pula hendaknya ia bersikap rendah diri kepada pengajar atau guru dan senag melayaninya karena mengharapkan pahala dari Allah. Ilmu itu hanya dapat diraih dengan sikap rendah diri, penuh perhatian, dan mau mendengar dengan khusyuk. Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.” (Qaff: 37).

Keempat, perhatikan dengan baik maksud, tujuan, dan kesimpulan akhir dari suatu bidang ilmu yang terpuji. Janganlah seorang penuntut ilmu membiarkannya begitu saja.

Kelima, janganlah seorang yang sedang menuntut suatu bidang ilmu pengetahuan mempelajarinya dengan sekaligus, tapi harus tertib dan memulainya dari bagian yang paling penting.

Keenam, janganlah seorang penuntut ilmu beralih ke bidang lain sebelum menguasai bidang yang sebelumnya, karena ilmu pengetahuan itu ada tertib urutannya yang harus diperhatikan, sebagiannya merupakan penghatar bagi sebagian yang lain. Orang yang memperoleh kesuksesan pasti akan memperhatikan urutan dan tahapan ini. Allah berfirman dalam kitab-Nya:

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya.”
(Al-Baqarah: 121)

Ketujuh, ilmu yang paling sempurna ialah ilmu tentang Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, serta ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya dengan ilmu-ilmu tersebut.

Kedelapan, hendaknya niat sang pelajar saat sedang menuntut ilmu ialah untuk menghiasi batin dan memperindahnya dengan keutamaan. Sedangkan pada masa mendatang akan menjadi sarana baginya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai ia berniat menuntut ilmu untuk meraih jabatan, harta, kedudukan, mendebat orang-orang yang kurang akalnya, dan menyombongkan diri,  karena Allah telah menjamin akan meninggikan derajat orang-orang yang dianugerahi iman dan ilmu pengetahuan melalui firman-Nya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(Al-Mujadilah: 11)

Memilih Guru Yang Saleh

Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya itu akan mengikuti tuntunan teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang diantara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.”

Muhammad bin Sirrin mengatakan, “Ilmu adalah tuntunan. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa orang yang bakal kalaian ambil tuntunannya.”

Al-Mawardi berkata, “Orang tua seharusnya berupaya keras dalam memilih pendidik sebagaimana upaya kerasnya dalam memilih ibu persusuan bagi anakaya, bahkan harus lebih keras lagi usahanya. Hal ini disebabkan, sesungguhnya anak akan mengambil akhlak, perangai, etika, dan kebiasaan dari pendidiknya dalam skala yang lebih besar daripada yang ia ambil dari orang tuanya, karena pergaulan sang anak dengan pendidiknya lebih banyak dan waktu menimba pelajaran darinya jauh lebih banyak. Selain itu, sang anak telah diperintahkan saat diserahkan pada pengajarya agar mengikutinya secara menyeluruh dan mematuhi segala perintahnya.”

Kewajiban Guru Kepada Murid

Guru yang baik sebagaimana yang dituntunkan oleh Islam tentu memahami apa yang menjadi kewajiban terhadap murid-muridnya. Guru-guru ini adalah mereka yang benar-benar memiliki niat dan tekad yang bulat untuk menjadi seorang pendidik, mereka telah mewakafkan dirinya untuk mendidik dan melahirkan generasi yang shaleh dan bertakwa.

Berikut adalah beberapa kewajiban guru terhadap murid-muridnya.

  1. Sayang kepada murid-murid dan memperlakukan mereka layaknya anaknya sendiri. Nabi telah bersabda, “Sesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah seperti orang tua kepada anaknya. Aku mengajari kalian …”
  2. Tidak mengajar karena ingin mendapatkan imbalan dan ucapan terima kasih. Namun, dengan niat hanya karena Allah dan mendekatkan diri kepad-Nya.
  3. Tidak segan-segan untuk memberi nasihat kepada murid, bahkan setiap saat diambilnya sebagai kesempatan untuk memberikan nasihat dan bimbingan kepada muridnya.
  4. Memperingatkan murid akan akhlak yang buruk sebisa mungkin dengan ungkapan sindiran, tidak secara terang-terangan, dan dengan ungkapan yang lembut, penuh kasih sayang, serta bukan dengan ungkapan celaan.
  5. Dalam memberikan pelajaran harus disesuaikan dengan kemampuan daya tangkap para murid dan berbicara kepada mereka sesuai dengan tingkat kecerdasannya. Seorang guru tidak sepantasnya menjejali mereka dengan pengetahuan yang sulit dicerna oleh jangkauan pemikiran mereka dengan pengetahuan yang sulit dicerna oleh jangkauan pemikiran mereka agar tidak membosankan hingga membuat mereka terpaksa harus mempelajari hal-hal yang tidak dimengerti oleh mereka.
  6. Jangan menjelek-jelekkan pengetahuan orang lain dihadapan para murid. Kembangkan metode pembelajaran yang dapat menjangkau disiplin ilmu yang ada diluar mata pelajaran yang diberikan.
  7. Dianjurkan saat memberikan pelajaran kepada murid yang lemah daya tangkapnya memakai penjelasan yang sangat gamblang sesuai dengan kondisinya dan tidak menyebutkan kepadanya bahwa di balik itu ada keterangan detail yang tidak diterangkan kepadanya, agar tidak membuatnya khawatir dan terguncang akalnya.
  8. Guru hendaknya mengamalkan ilmunya, jangan sampai ucapannya mendustakan perbuatannya. Allah berfirman:

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri.”
(Al-Baqarah: 44)

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shaff: 3).

Itulah beberapa kewajiban guru terhadap murid-muridnya. Orangtua yang bijak tentu akan memilihkan guru terbaik untuk anaknya. Guru yang paham dan mengerti tanggung jawabnya sesuai tuntunan agama Islam.

Sumber referensi :

  1. Buku Islamic parenting

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments