“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya,  karena mereka hidup bukan di jamanmu” (Ali Bin Abi Thalib )

Quote diatas adalah salah satu quote dari Ali bin abi thalib, sebuah pesan untuk kita semua sebagai orang tua. Sebuah pembelajaran bagi kita kalau segala sesuatu yang ada didunia ini serba berubah, sesuatu yang hari ini adalah hal istimewa bagi kita di waktu 10 atau 20 tahun mendatang bisa jadi hanya hal yang biasa-biasa saja, sesuatu yang hari ini mustahil bisa jadi suatu saat nanti 10 atau 20 tahun mendatang adalah hal yang sangat mudah sekali.

Tentu kita ingat  pelajaran dimasa sekolah dahulu bagaimana zaman berubah, mulai dari masa-masa berburu, masa dimana manusia bertahan hidup dengan cara seadanya berburu binatang yang dia temui, memakan tumbuhan atau biji-bijian yang mereka temukan. Setelah itu berubah menjadi zaman agraris, masa-masa dimana orang sudah mulai bercocok tanam, mengelola dan memanfaatkan tanah.

Dari masa agraris masa kepada masa-masa industri, ditemukannya berbagai macam teknologi seperti mesin, mobil yang mendukung setiap kegiatan dimasa-masa ini. Masa industri berlalu masuk masa informasi dimana mereka yang paling sukses adalah mereka yang paling cepat menguasai informasi hal ini ditandai dengan serba mudahnya kita mendapatkan akses untuk sebuah informasi melalui teknologi digital.

Dari masa industri masuk masa konseptual, dimana di masa ini ide-ide segar, konteks (bagaimana cara menyampaikan) konten (isi) menjadi hal yang utama. Sesuatu yang awalnya sederhana ketika dipoles dengan ide-ide kreatif bisa menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai jual tinggi.

***

Beberapa waktu yang lalu (lebih tepatnya beberapa jam) saya berdiskusi dengan ibu beserta adik. Diskusi tentang kakek kami yang menjadi seorang petani. Ibu menceritakan bagaimana dulu kakek bekerja keras membuka lahan untuk bertani, kakek membuka banyak lahan menanamnya dengan berbagai tanaman tua seperti kulit manis, kopi, kayu surian dan durian. Serta juga tanaman muda seperti cabai, tomat, kacang-kacangan serta sayur-sayur.

Yang membuat diskusi kami menarik adalah ternyata sampai saat ini dari 7 anak serta 19 cucu beliau hanya 2 orang yang masih bertani. Alhamdulillah sebagian besar anak-anak kakek menempuh pendidikan hingga sekolah tingkat menengah atas, hari ini terpisah di berbagai provinsi di indonesia dan juga luar negeri. “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya” prinsip inilah yang membuat kakek (alm) dan nenek(alm) berusaha bersusah payah menyekolahkan anak-anak beliau. Dan kepada saya ketika beliau masih hidup selalu berpesan agar rajin sekolah agar berhasil dan tidak menjadi seorang petani lagi.

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya” karena ini jugalah kakek dan nenek tidak mengajarkan anak-anak dan cucu beliau untuk bertani secara baik dan benar. Karena mereka tau, 10 hingga 30 tahun dari usia beliau masih muda (masa-masa sekarang), zaman sudah berubah dan cara bertahan hiduppun juga berubah bahkan untuk menjadi petanipun agar hasilnya benar-benar maksimal mesti melewati pendidikan.

***

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya” ketika zaman berubah tentu tantangannyapun berubah, baik itu tantangan untuk bertahan hidup, tantangan dalam pergaulan, tantangan dalam menuntut ilmu serta tantangan-tantangan lainnya. Perubahan zaman inipun berdampak pada perubahan cara kita mendidik dan berkomunikasi dengan anak,

Inilah yang menjadi “pr” besar bagi kita sebagai orang tua, mempersiapkan anak kita untuk siap menghadapi zamannya bukan zaman kita. Visi besarnya tentu agar anak-anak kita menjadi anak yang bermanfaat serta berdaya guna  dan juga anak-anak yang jadi amal kebaikan bagi kita kelak akhirat sana. Maka dari sinilah pentingnya bagi kita para orang tua untuk belajar dan belajar terus  bagaimana zaman terus berkembang dan bagaimana menyesusaikannya dengan pendidikan anak-anak kita.[Uda agus/elmina]

Artikel Menarik Lainnya







comments