“Kenapa ya saya pengen banget pacaran”

“Ya, kalau nggak pacaran nanti kita dibilang nggak laku kak”

“Pacaran, hmm, asyik aja kayaknya ada yang perhatiin, ada yang bantuin dll”

“Pengen pacaran, biar ada yang ngasih motivasi belajar”

“Pacaran, biasa aja kali kan kita udah gede”

“Pacaran tahapan penting sebelum menikah”

“Pacaran, memang sih bikin sakit hati tapi juga bikin ketagihan juga hehe”

“Iri ah, sama mereka yang tiap hari ada yang jemput atau nganterin”

Ya, itulah sebagian kecil celetukan dari sahabat-sahabat kita yang berteguh dan bersikukuh untuk tetap pacaran. Rindu pacaran memang lucu kedengarannya, apalagi jika sudah membaca ini Indahnya Menikah Tanpa Pacaran ,mungkin akan muncul pertanyaan “koq rindu sama maksiat?”.

Meski sudah bertebaran dimana-mana nasihat tentang pernikahan islami, anjuran untuk tidak pacaran, bahaya akan pacaran dan sejenisnya. Tetap saja ada yang ingin dan mau pacaran, tetap saja ada yang pengen pacaran, tetap saja ada yang merindukan pacaran.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21].

Sudah menjadi fitrahnya manusia memiliki ketertarikan pada lawan jenis, laki-laki tertarik pada wanita dan wanita tertarik pada laki-laki. Laki-laki ingin memiliki pendamping yang peduli padanya, ingin membantunya, ingin memberikan apresiasi dan pengakuan padanya, sementara wanita menginginkan ada yang setia mendengarnya, ada bisa mengerti akan dirinya, ada yang peduli dan suka membantunya. Allah ciptakan juga kasih, sayang dan rindu pada diantara diri mereka.

Fitrah dari Allah SWT yang Allah anugrahkan kepada setiap manusia, namun hal ini bisa menjadi anugrah bagi kita ketika fitrah tersebut disalurkan melalui wadah yang Allah telah persiapkan yaitu pernikahan, akan tetapi ia juga bisa menjadi musibah jika disalurkan melalui wadah yang keliru seperti pacaran.

Ketika usia beranjak remaja, sudah ada ketertarikan kepada lawan jenis, ditambah dengan kondisi lingkungan yang serba bebas pacaran serta juga kurangnya pendidikan tentang dari keluarga maka pacaran menjadi suatu hal biasa bagi sebagian orang dan tak sedikit juga malah yang menjadikan pacaran sebagai life style atau sebuah budaya. Yang bahkan malah menjadi suatu “aib” jika tidak punya pacar.

Tidak hanya yang tidak tau sama sekali tentang bagaimana pacaran dalam islam, bahkan yang sudah mengerti sekalipun tak sedikit masih ingin pacaran, merindukan pacaran dan pacaran benaran. Meskipun terkadang berbagai jenis hubungan “nggak jelas” tetap mereka tak mau akui sebagai sebuah jalinan maksiat pacaran.

Pernikahan adalah satu-satunya bentuk komitmen yang mengikat laki-laki dengan perempuan, bukan hanya sekadar ikatan main-main sebagaimana pacaran, akan tetapi ini adalah sebuah ikatan serius yang butuh komitemen dan tanggung jawab.

Allah tau pacaran atau sebuah hubungan tanpa ikatan antara laki-laki dengan perempuan akan banyak sekali mudharatnya, akan banyak sekali keburukan dan dampak negative didalamnya tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk keluarganya, lingkungannya bahkan negaranya sekalipun.

Hingga jauh-jauh hari Allah telah mengingatkan kita “Jangan mendekati zina” . Sementara kita semua tau kalau pacaran adalah langkah awal menuju ke arah perzinaan yang jauh lebih besar. Kami sering menyampaikan sekecil-kecilnya maksiat pacaran adalah zina hati.

Dikala hati rindu untuk pacaran, maka menikahlah itulah sebaik-baiknya solusi, dan jika belum mampu maka berpuasalah itu pesan nabi kepada kita semua.

Sumberfoto : cintanye.blogspot.com

 

Artikel Menarik Lainnya







comments