Semakin kesini diri kita terasa semakin sesak. Saat keluar rumah berangkat bekerja ke kantor kita disesaki oleh kemacetan, saat di perjalanan kita membuka gadget akan disesaki oleh beragam informasi dan saat kembali ke rumah kitapun akan kembali disesaki oleh banyak hal seperti rumah yang terasa semakin mengecil karena semakin banyak barang, suasana yang terasa semakin tak nyaman sebab banyaknya berita tak baik yang kita lihat dan dengar di televisi belum lagi permasalahan keluarga dengan anak, suami atau istri serta tetangga lainnya.

24 jam dalam sehari terasa kurang bagi kita, pekerjaan menumpuk yang harus segera diselesaikan, janji-janji yang harus segera ditepati, berbagai macam berita di sosial media yang rasa-rasanya juga perlu kita bagikan, keriuhan chat di instant messenger semisal di bbm, whatsapp, telegram dan sejenisnya yang harus segera ditanggapi. Kita sibuk, kita terasa sesak dan anehnya banyak yang menikmati.

Kurang lebih seperti itulah gaya hidup yang berlansung pada saat ini. Kita seolah dituntut untuk menyesaki diri kita mulai dari hal-hal fisik seperti harus membeli berbagai macam pakaian model terbaru, membeli gadget terbaru, membeli perabotan rumah tangga, membeli perhiasan,menyantap makanan-makanan mewah, membeli berbagai macam alat kecantikan dan hal – hal lainnya. Entah memang karena butuh atau hanya sekedar pemuas ego gengsi tentu hanya pribadi-pribadi masing-masing yang mengetahuinya tapi faktanya tak sedikit yang sampai berhutang untuk memenuhi syahwat duniawi ini. Terlihat keren di luar tapi sebenarnya kere  karena status barang-barang yang dipakai adalah hasil dari berhutang.

Gaya hidup yang ‘serakah’ berlomba-lomba memiliki sebanyak mungkin barang, perhiasan dan sejenisnya adalah sebuah gaya hidup yang telah berlansung cukup lama. Pada awalnya pelaku gaya hidup seperti ini mengira kalau kebahagiaan akan ditemukan saat mereka memiliki barang-barang mewah namun kenyataannya sangatlah terbalik, banyak masalah dibalik semua ini seperti tidak tenang karena khawatir barangnya dicuri atau rusak, waktu yang banyak terbuang untuk merawat dan menjaga barang-barang yang dimiliki serta juga ketakutan jika tak mampu membayar cicilan jika statusnya masih kredit.

Dampak nyata dari gaya hidup seperti ini adalah terlihat wah dan mewah namun tak menikmati hidupnya, kurangnya waktu untuk berkumpul dan bersama dengan keluarga serta kesulitan untuk konsentrasi dalam ibadah.

Gaya hidup minimalis adalah sebuah gaya hidup yang melawan arus dari gaya hidup konsumtif seperti yang kita sebutkan diatas. Saat orang berlomba-lomba mengumpulkan barang sebanyak-banyaknya untuk dimiliki sementara gaya hidup minimalis akan berusaha memaksimalkan barang yang ada, mengurangi barang yang dirasa tak begitu berguna serta berusaha untuk hidup sederhana dan apa adanya. theminimalists.com melansir gaya hidup minimalis adalah sebuah cara  untuk bisa membantu kita menemukan kebebasan. Bebas dari rasa takut, rasa khawatir, rasa kecewa dan depresi.

Penganut gaya hidup minimalis juga bisa kita artikan mereka yang benar-benar memiliki atau membeli sesuatu yang dibutuhkannya bukan terpengaruh oleh tren kekinian, gengsi ataupun gaya hidup. Orang dengan gaya hidup mini ternyata lebih menikmati hidupnya, tidak terlalu disesaki oleh berbagai barang-barang fisik maupun informasi tak penting lainnya. Ia lebih tenang dalam menjalani hari-harinya, punya banyak waktu untuk evaluasi diri, punya banyak kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri serta yang paling penting adalah memiliki keluangan untuk bersama dengan keluarga tercinta.

Gaya hidup minimalis sudah menjadi populer di negara-negara maju seperti Amerika dan jepang. Bahkan tak sedikit yang bertindak ekstrim dengan menjual atau mendonasikan barang-barang yang dimilikinya dan dia benar-benar memastikan barang yang dimilikinya adalah barang yang benar-benar dibutuhkannya. Bagaimana, kamu tertarik dengan gaya hidup ini ? Simak terus pembahasan lanjutan seputar gaya hidup minimalis.

Artikel Menarik Lainnya







comments