Bak perputaran waktu hidup ini selalu berputar. Beranjak dari satu waktu ke waktu lain, bergerak dari satu masa ke masa lain, berpindah dari pagi ke sore, siang ke malam dan kembali lagi pada pagi. Begitu juga dengan suasana hati selalu berubah dan berganti rasa, dari bahagia ke sedih, sedih ke gelisah, ke galau dan kembali pada bahagia. Bukan tak ada makna, arti serta maksud dan tujuan-Nya, tapi justru dengan inilah cara-Nya menunjukkan pada kita kebesaran-Nya. Dengan inilah kita mengerti kapan saat harus bersyukur dan kapan waktu untuk bersabar.

Tak sedikit manusia yang hidupnya menggerutu, meratapi nasibnya, menangisi keadaan dan menyesali setiap jejak kesalahan masa lampau.

“Kok hidup saya begini banget ya ?”

“Seperti saya orang paling menderita di dunia ini”

” Ah begitu besar ujiannya “

“Allah itu nggak adil…”

“Masa’ itu orang hidupnya tenang, aman dan damai saya hidupnya selalu penuh musibah dan masalah…”

Serta banyak lagi cercaan dan omelan lainnya. Tak jelas kepada siapa omelan itu ditujukan, apakah terhadap keadaan atau pada zat yang maha menciptakan keadaan. Jika memang omelan tersebut ditujukan pada yang kedua tentu rasa-rasa pantas kita digelari hambanya yang kufur.

Sebesar apapun masalah kita, sepelik apapun kesulitan kita, sesusah apapun itu kepayahan hidup kita, segelap apapun itu hari-hari kita tetaplah mencoba menyusuri hikmah dibalik semua itu. Sadarilah nikmat dari karunia dari Allah pada kita jauh berlipat lebih besar dari itu semua. Ketahuilah kalau Allah beri kita hal-hal yang kita tak menyukainya boleh jadi itu yang terbaik bagi kita, boleh jadi Allah ingin kita mendekat pada-Nya dengan cara itu, boleh jadi itu sebagai titik awal dari berlimpah kebaikan-kebaikan lainnya.

Hidup ini tempatnya ujian, Allah menguji hambanya dengan beragam rupa cara. Ada yang Allah uji dengan hal-hal yang disukai hambanya namun tentu juga ada yang Allah uji dengan hal-hal yang tak disukai oleh hamba-Nya. Tak perlu seperti apa bentuk ujiannya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana sikap kita menghadapinya. Apakah setiap kondisi yang Allah berikan pada kita menjadi jalan untuk mendekatkan kita pada Allah SWT atau malah membuat kita semakin jauh dari-Nya. Tentu hal ini soal pilihan hidup kita.

Adam AS dan Hawa Allah keluarkan dari syurga mungkin kelihatannya ini tak begitu baik namun ternyata inilah titik awal dari keberadaan umat manusia di dunia ini. Nabi Allah uji dengan anak dan istri yang membangkang padanya, Nabi Musa AS Allah uji dengan gagapnya lisan, terusir dan dikejar-kejar oleh balatentara fir’aun hingga keputusasaan menghinggapi dadanya namun ternyata disinilah keajaiban-Nya hadir, tongkat Nabi Musa AS membelah lautan. Begitu juga dengan nabi besar Muhammad SAW, Allah uji dengan dilahirkan sebagai anak yatim, ditinggalkan ibundanya saat usia masih kecil, harus mulai bekerja dan mandiri semenjak dini hingga kita semua tau ternyata begitulah cara Allah mempersiapkan dirinya menjadi sosok agung yang akan dikenang hingga akhir masa.

Ya, setiap apapun masalah serta kepahitan dalam hidup kita pasti ada hikmah serta makna berharga dibalik semua itu. Sebagaimana dibalik pekatnya malam ada sesosok cahaya matahari yang dengan pelan perlahan bergerak untuk  menerangi, dibalik sakit peliknya menjadi kepopompong Allah siapkan kupu-kupu indah yang akan menjadi hiasan taman, dibalik tangis dan sakit seorang ibu yang melahirkan akan ada tangis bayi membawa sejuta senyum kegembiraan.

Apapun itu kondisi hidup kita, syukuri, jalani, nikmati yakinlah habis galau akan terbit kemilau. Kemilau cahaya yang menerangi hati serta kehidupan ini. Berbaik sangkalah pada Allah SWT.

Artikel Menarik Lainnya







comments