Seindah-indahnya pernikahan adalah yang mulai dengan cara yang Allah ridhoi, cara yang dituntunkan oleh Rasulullah Saw. Sebahagia-bahagianya kehidupan pernikahan adalah yang dijalani sesuai dengan panduan Al-qur’an dan sunnah. Dan, sebarakah-barakahnya pernikahan yang selalu mengutamakan cinta pada Allah dan kepatuhan pada Rasulullah Saw.

Jika ada yang bertanya seperti apa pernikahan impian itu ? Maka pernikahan impian tersebut adalah pernikahan yang sesuai dengan syariat Islam. Di dunia berbahagia, tumbuhnya mekar menyegarkan jiwa dan diakhirat pun bertemu kembali di surga-Nya melanjutkan kehidupan bahagia. Begitulah, indahnya pernikahan sesuai syariat Islam.

Berbuah pahala dari Allah Swt

Pernikahan adalah perintah dari Allah Swt, dituntunkan oleh Rasulullah Saw. Menjalankannya adalah bagian dari ketaatan dan juga menegakkan sunnah Rasulullah Saw. Sudah tentu pernikahan yang dilandaskan karena perintah Allah dan Rasul-Nya akan berbuah pahala. Ia tidak hanya sekadar pemuas dahaga syahwat sementara tetapi juga menjadi sumber kebaikan yang selalu bertambah – tambah.

Setiap aktivitas yang dijalankan oleh suami maupun istri akan berbuah pahala, sekecil atau sesederhana apa pun itu. Untuk para suami, tanggung jawab utamanya menafkahi istri baik lahir maupun batin. Memberikan ketenangan dan kenyamanan kepadanya. Rasulullah Saw jauh-jauh hari telah memberi kabar gembira untuk para suami atau calon suami. Begini kata Rasuulullah Saw ;

“Tiada engkau memberikan belanja demi mencari keridhaan Allah, melainkan pasti akan diberi pahala, sekalipun yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu’
(H.R Bukhari dan Muslim)

Tidak ada yang sia-sia, lelah dan capeknya suami di dunia untuk membahagiakan istrinya akan Allah beri balasan yang indah oleh Allah Swt. Aduh Indahnya. Bagi wanita ? Ia hanya diminta untuk taat dan patuh pada suaminya. Bagi mereka pun telah dijanjikan surga.

Dari Ummu Salamah r.a ia berkata : “Rasulullah Saw. bersabda :

‘Siapa pun istri yang mati, sedangkan suaminya penuh keridhaan terhadap dirinya, niscaya ia akan masuk surga’
(H.r Tirmidzi)

Dan bagi keduanya, suami dan istri yang melahirkan anak-anak yang shaleh Allah janjikan juga padanya amal yang tidak terputus pahalanya.

“Apabila anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat bagi manusia, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya”
(H.R Muslim)

Nikmat di dunia, nikmat ketika kita telah meninggal, dan nikmatnya hingga ke surga-Nya kelak. Nikmat yang berlimpah, bahagia yang berlipat dan berkah yang berlapis. Begitulah, Indahnya pernikahan sesuai syariat Islam.

Menghadirkan cinta sejati

Cinta, adalah anugerah terindah yang Allah hadirkan ke setiap diri manusia. Jika tidak ada cinta ini tentu kita tak akan merasakan hidup seindah yang kita rasakan hari ini. Karena cinta antara dan ibulah kita hadir ke dunia, karena cinta ayah dan ibu juga kita dirawat dan besarkan, dan pada akhirnya rasa cinta ini pun tumbuh dalam diri kita. Kita memiliki rasa cinta pada orang tua kita, pada kakak dan adik, pada sahabat. Hingga suatu saat kelak, kita pun akan merasakan rasa cinta pada lawan jenis.

Cinta yang unik, kami senang menyebut cinta seorang laki-laki pada wanita dan dari seorang wanita pada seorang laki-laki adalah cinta yang unik. Kenapa unik ? Mungkin di bagian tulisan yang lain kita bahas dan kupas hehe.

Setidaknya ada dua jenis cinta yang hadir ketika dua insan manusia yang berlainan jenis saling jatuh cinta. Yang pertama adalah cinta yang semu, dan yang kedua adalah cinta yang sejati. Cinta yang semu adalah cinta yang cenderung memperturutkan syahwat dalam mencinta, cinta ini biasanya tumbuh, dan saling mengikat sebelum pernikahan. Cinta yang semacam inilah yang akhirnya membawa seseorang pada aktivitas pacaran. Tidak menutup kemungkinan juga menjerumuskan mereka ke dalam aktivitas perzinaan.

Sementara cinta sejati adalah cinta yang penuh komitmen dan tanggung jawab. Cinta ini hanya akan didapat melalui pernikahan. Cinta ini tak hanya semata karena syahwat dan kenikmatan sementara tetapi juga disertai dengan kesiapan diri untuk berjuang dan berkorban atas rasa cinta yang ada.

Tentang cinta dalam pernikahan Rasulullah Saw bersabda ;

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw., lalu berkata: ‘Kami mempunyai seorang anak perempuan yatim. Dia telah dipinang oleh (dua orang lelaki), yang seorang miskin dan lainnya kaya. Akan tetapi, dia senang kepada yang miskin, sedangkan kami senang kepada yang kaya. Nabi Saw bersabda : ‘Tidak pernah diketahui dua orang yang bercinta setulus cinta dalam pernikahan’”
(Hr. Ibnu Majah, hakim dan baihaqi)

Pesan Rasulullah Saw dalam hadits di atas adalah tidak ada cinta yang setulus dan seikhlas cinta dalam pernikahan. So, untuk anda yang saat ini sedang menjalin cinta sementara anda belum menikah maka cinta tersebut belum bisa dikatakan cinta sejati sebelum anda melalui proses kehidupan pernikahan.

Banyak kita temui orang yang saling mencinta sebelum pernikahan tetapi ternyata setelah menikah malah hilang rasa cintanya. Saat sebelum menikah yang tampak hanya kebaikan pasangannya, tetapi setelah menikah terlihatlah keburukan pasangan dan mereka pun tidak bisa menerima. Inilah cinta yang semu.

Memelihara kesehatan

Menikah itu menyehatkan, setuju ?

Setiap insan, baik laki-laki maupun perempuan Allah anugerahkan hormon seksual. Jika hormon seksual ini tidak disalurkan atau disalurkan dengan cara yang salah akan menimbulkan penyakit. Hormon seksual ini selalu menentut penyalurannya, dan cara terbaik untuk menyalurkannya tentu melalui pernikahan. Bagi mereka yang tidak atau belum menikah memilih menyalurkan hormon seksual dengan cara-cara alternatif seperti melakukan onani bagi laki-laki dan masturbasi bagi perempuan. Atau malah memilih melakukan perzinaan.

Jika seseorang menahan hormon seksual ini karena tidak memiliki pasangan maka bisa menyebabkan berbagai gangguan yang bisa mempengaruhi kesehatan fisiknya. Dari sinilah jelas kalau pernikahan itu menyehatkan baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Melindungi nasab dan keturunan

Rasulullah Saw bersabda

“Nasab anak mengikuti laki-laki yang menjadi suami ibunya, sedangkan bagi orang yang berzina, hukumannya adalah rajam”
(Hr. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah)

Dalam buku karakteristik pernikahan islami, Ustadz Muhammad Thalib menjelaskan bahwa kepastian nasab bagi seorang anak merupakan hal yang pokok dalam hubungan anak dengan orangtuanya. Kepastian nasab akan memperjelas hak dan kewajiban anak terhadap orangtuanya; juga sebaliknya. Kewajiban anak terhadap orangtua adalah berbakti. Sebaliknya, kewajiban orangtua terhadap anaknya antara lain memberi nafkah. Adapun hak orangtua terhadap anak, selain dipatuhi, adalah mendapatkan warisan dari anaknya jika kelak anaknya meninggal, sedangkan mereka masih hidup. Jadi, kepastian nasab bukan hanya menyangkut hak anak untuk mendapatkan nafkah dari bapaknya, melainkan juga menjadi kepentingan bapaknya kelak agar setelah ia jompo dan lemah anaknya yang dewasa bertanggung jawab memelihara dan menyantuninya.

Kepastian nasab juga sangat penting sebab Islam tidak mengakui berbagai macam bentuk nasab orangtua dan anak di luar pernikahan. Anak angkat, anak pungut, anak hasil berzina, dan anak tiri merupakan contoh nasab yang tidak diakui Islam.

Selain melindungi nasab pernikahan juga jalan satu-satunya untuk meneruskan keturunan. Allah Swt berfirman :

“Allah telah menjadikan untuk kamu pasangan dari diri kamu. Allah telah menjadikan untuk kamu dan anak-anak dan cucu-cucu dari istri-istri kamu dan memberikan rezeki kepada kamu dari yang baik-baik. Apakah mereka beriman kepada yang batil dan kufur kepada nikmat Allah ?”
(Q.s. an-Nahl : 72)

Pernikahan adalah jalan untuk memperoleh keturunan, generasi muslim yang kelak akan berbakti dan berbuat baik pada orangtuanya. Lebih jauh dari itu ia juga akan menjadi permata kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Mendapat jaminan pertolongan dari Allah Swt

Rasulullah Saw bersabda :

“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah, yaitu pejuang di jalan Allah, budak mukatab (budak yang membeli diri dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan (akhlak)nya”
(Hr. Tirmidzi)

Banyak pemuda atau pun pemudi yang memilih untuk menunda pernikahannya, sementara secara lahiriah pernikahan sudah menjadi wajib baginya. Alasan-alasan keduniaan seringkali menjadi alasan. Tidak cukup biaya, belum punya rumah, tidak ada uang untuk mengadakan pesta serta alasan-alasan lainnya. Untuk merekalah sabda Rasulullah Saw, kalau Allah Swt akan menolong orang yang memilih untuk menikah demi menjaga kehormatan dirinya. Allah akan bukakan pintu kebaikan untuknya, dan Allah akan anugerahkan rezeki untuknya. Tidak perlu ada rasa cemas serta kekhawatiran di hati mereka. Karena Allah Swt akan membersamai hamba-hamba-Nya yang memilih jalan ketaatan.

Melindungi harga diri wanita

Bagi wanita, pernikahan yang dilakukan secara islami akan menjaga dan melindungi harga dirinya. Banyak wanita yang sengaja memakaikan cincin di jari manisnya agar dianggap sudah menikah. Padahal mereka belum menikah. Inilah kekhawatiran yang sering muncul pada setiap wanita yang masih sendiri. Khawatir dan takut digoda atau diganggu oleh laki-laki lain. Sehingga berpura-pura sudah menikah menjadi salah satu ikhtiar.

Pernikahan akan menjaga dan melindungi harga diri wanita. Pernikahan juga menyelamatkan para wanita dari berbagai peluang kemaksiatan. Ketika wanita telah menikah ia memiliki pelindung yang akan melindungi hak-haknya. Itulah suaminya. Pernikahan juga memberikan jaminan yang kuat bagi perempuan, sekaligus mengangkat martabat dan memelihara haknya sehingga ia dapat menuntut hak-haknya jika dilanggar suami.

Membantu janda

Adalah satu kabar gembira dari Rasulullah Saw untuk setiap laki-laki yang mau membantu janda sekaligus dengan anak-anak yatim yang menjadi tanggungannya. Rasulullah Saw bersabda :

“Saya dan pemelihara anak yatim, untuk kepentingan dia atau orang lain, akan masuk surga dan orang yang mengusahakan nafkah bagi janda yang ditinggal mati suaminya dan orang miskin seperti halnya orang yang berjihad di jalan Allah”
(Hr. Thabrani, dari Aisyah)

Selain untuk menanggung janda dan anak-anaknya. Menikahi janda juga memberi dampak kebaikan dalam masyarakat. Menjaga janda tersebut agar terhindar dari berbagai fitnah.

Melindungi generasi muda dari berbagai kerusakan sosial

Pernikahan islami tidak hanya menyatukan dua keluarga, tidak pula hanya untuk meneruskan keturunan. Akan tetapi pernikahan yang dilakukan secara islami akan menjaga generasi muda dari berbagai kerusakan sosial. Sebutlah itu pergaulan bebas, dan sebagainya.

Pernikahan juga adalah syiar, ketika sepasang manusia melansungkan pernikahan dengan cara yang islami maka itu akan menularkan energi buat anak-anak muda lainnya agar bersemangat juga untuk memulai pernikahan yang islami.

Allah Swt berfirman :

“Orang –orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, sesungguhnya mereka tiada tercela dalam hal ini. Barang siapa yang melakukan hubungan seksual di luar itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”
(Q.s. al-Mu’minun (5-7)

Menjaga fitrah keayahan dan keibuan

Setiap laki-laki fitrahnya memiliki ketertarikan pada wanita, menjadi suami dan akhirnya menjadi ayah. Begitu juga setiap wanita fitrahnya memiliki ketertarikan pada laki-laki, akhirnya menikah, menjadi istri dan menjadi ibu.

Pada akhirnya fitrah laki-laki menjadi ayah dan wanita menjadi ibu.

“…Maka setelah dicampurinya, istrinya mengandung kandungan yang ringan dan dia terus merasa ringan (beberapa waktu), kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) memohon kepada Allah, Tuhannya, seraya berkata : ‘Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur’”
(Q.s.al-A’raf : 178)

Ustadz Muhammad Thalib memberi penjelasan tentang ayat ini sebagai bukti yang jelas bahwa setiap manusia mempunyai fitrah ingin memiliki anak dan mencurahkan kasih sayang kepada anaknya. Ia juga berharap agar kelak anaknya menjadi orang yang dapat memberikan kebanggaan dan kebahagiaan kepada dirinya. Ia akan merasa sangat bangga apabila anaknya menjadi orang shaleh, apalagi dapat meneruskan kebaikan-kebaikannya kelak. Keinginan dan harapan manusia itu disebutkan Allah dalam firman-Nya :“….Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) memohon kepada Allah, Tuhannya, seraya berkata: ‘ Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang shaleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.

Begitulah, pernikahan sesuai syariat Islam begitu indah. Membawa ketenangan dan ketentraman di dunia dan juga kebahagiaan hingga ke syurga-Nya. Tak ada cela, tak ada hina dalam setiap tuntunannya. Sebab ia sebaik-baik tuntunan bagi manusia.

Artikel Menarik Lainnya







comments