Pertanyaan :

Assalamualaikum,
Saya mahasiswa 21 tahun yang baru menduduki semester 2. Saya mendapat beasiswa dengan dengan syarat menghafal Qur’an selama kuliah dan dari keluarga tidak mampu. Kebetulan, satu universitas yang diterima beasiswa ini hanya 2 orang, dia adalah Ikhwan 20 tahun yang juga kuliah di jurusan dan kelas yang sama. Semester satu kami bersama teman2 lain membentuk komunitas mengajar TPA anak2. Semester 1 usai, saat pembayaran ukt uang beasiswa ternyata belum turun. Karena kasihan teman Ikhwan saya harus menjual laptop, akhirnya saya minta izin orang tua untuk meminjaminya uang membayar ukt. Karena rumah jauh, akhirnya saya bayarkan melalui bank di rumah saya.

Semester 2 berjalan biasa dan disibukkan dengan kegiatan2 juga menghafal Qur’an. Kami dan teman2 lain yang dekat saling berlomba untuk berprestasi. Hingga suatu ketika pengelolaan  beasiswa yang mengandalkan kami menjadi sedikit kacau karena dia sebagai ketua wilayah sibuk. Sayapun menjadi simpati untuk mengetahui seberapa sibuknya ia, kalian saja bisa membantu dengan menghandle program beasiswa daerah karena tak lama akan ada pertemuan seluruh penerima beasiswa se-nasional. Karena kami dianggap yang punya ide kegiatan untuk wilayah kami, akhirnya kami menyusun proposal bersama perihal kegiatan. Saya sebagai penyusun dan dia yang punya ide.

Dari situ kami menjadi lebih sering bertemu dan bertukar pikiran. Demikian berlangsung hingga jambore usai dan saya merasa tingkat ketergantungan saya dan dia semakin banyak, ya tugas, beasiswa, organisasi, karena  d hampir kebanyakan kami mengikuti banyak kegiatan yang sama. Beberapa minggu setelahnya saya mulai resah, salah kah cara saya bergaul dengannya. Karena dibeberapa malam saya merasa sangat takut bahwa ada rasa pada diri saya terhadapnya. Bahkan saya tidak konsentrasi menghafal Alquran, mengerjakan tugas, dan berorganisasi. Dan sebalnya disemua kegiatan selalu berhubungan dengan dia.

Hingga suatu ketika dia berubah dan menghindar dari saya. Saya heran, sebagai teman saya merasa sikapnya aneh. Setiap saya tanya  via w.a dia menjawab tidak apa2. Tapi hati kecil saya  berkata, mungkin ini jawaban doa saya untuk dijauhkan bila itu jalannya.

Tiba2 karena teman akhway beasiswa lain sangat peka, dia terus mengejar kenapa teman saya berubah, padahal biasanya dia selalu ceria. Akhirnya karena terdesak, dia meminta nasehat teman akhwat saat itu yg masih 19 tahun. Lalu malam hari via w.a saya ditanyai dengan teman akhwat saya, bagaimana saya akan bersikap jika saya disukai teman dekat saya. Saya langsung bisa menebak arah pembicaraan. Saya pun langsung tanya via w.a ke teman Ikhwan saya yg intinya bagaimana bisa? Sudah kah kamu yakin itu bukan godaan setan? Akhirnya dia mengungkapkan semuanya, berharap setelahnya akan tenang, karena selama ini dengan memendam dan menghindar membuatnya semakin kacau memanajemen amanahnya Yanga banyak. Saya pun menangis, tanpa pikir panjang dan bingung harus bagaimana saya mengungkapkan hal yg smaa. Walaupun kita sama2 tahu bahwa kita tidak akan menjalin hubungan dan menyerahkan masalah jodoh ke Allah. Karena resah, saya memberikan chat saya ke orang tua. Disana saya menangkap ortu belum menyetujui jika kami menikah (kami satu kelompok pernah bermain ke rumah saya sehingga ibu saya tahu teman Ikhwan saya ini). Alasannya ialah karena finansial dan seperti terburu dan meminta saya menyelesaikan  studi dulu. Beliau khawatir itu hanya dinamika rasa sesaat saja. Dengan alasan takut dosa karena setiap hari kami berinteraksi, saya berpikir untuk menikah tapi saya sadar, dia belum punya penghasilan kecuali uang beasiswa kami 500rb @orang/bulan. Dan beasiswa kami tidak melarang jika ada peserta yang menikah, asal konsisten. Tapi karena orang tua belum setujui saya pun urung. Walau hati kecil saya ingin menangis, takut kuliah saya justru menambah dosa karena selalu berinteraksi dengannya, belum acara2 lain.

Seminggu setelah pernyataan dan permintaan maaf itu via w.a, kami tidak bertemu karena ada kegiatan diluar kampus. Setelahnya, kami menjadi canggung setiap bertemu dan menghindar sebisa mungkin tapi mencoba agar teman2 lain tidak peka dengan “keanehan kami” yang biasanya akrab.

Seminggu setelahnya karena tugas kelomopok dan kami satu kelompok. Kamipun mencoba berinteraksi seperti biasa. Bercanda dan berbagi makanan. Karena akupun merasa tidak ingin canggung2 dan berteman sebagaimana biasa. Walaupun komunikasi kami tidak sesering dulu via w.a dan lebih suka komunikasi dan membahas semuanya di grup beasiswa dan kelompok, namun rasa itu terkadang sering tiba2 hadir lagi. Apalagi pernah saya diberitahu teman saya yang menjadi penghubung kami berkomunikasi tentang “hati” (karena kami tidak pernah membahas itu saat bertemu langsung), dia bilang bahwa dia akan datang ke rumah jika sudah lulus. Tapi saya tidak terlalu memikirkan, hanya berdoa yang terbaik. Masih takut ini hanya dinamika.

Kira2 apa yang harus saya lakukan, karena saya tidak bisa menghindar dan mengurus beberapa hal dengan dia. Apakah sebaiknya saya memaksa menghindar dengan komunikasi dulu dengan sebelumnya dan memintanya secara langsung untuk kita saling menghindari kecuali saat2 yg urgent saja (tidak bercanda dan makan bersama wlaau dengan kelompok). Atau saya keluar dari beasiswa dan yakin Allah akan memberi rejeki dari arah manapun dan mengkomunikasikan dengan ortu. Walau saya tahu, teman2 lain akan “kerepotan” dengan perginya saya dari hal mengurus beasiswa wilayah dan ortu menjadi akan menanggung lagi ukt dan bulanan saya (sebelum saya mendapat penghasilan). Atau apakah mungkin kami menikah saja dengan modal (-)? Karena kakak saya (paham agama standar) akan menikah tahun depan dan mengajak bersama (belum dikomunikasikan ke ortu)? Atau adalah solusi lain? Terimakasih, jazakallah.
Wassalamu’alaikum
Judul Pertanyaan: Bagaimana seharusnya tindakan saya sebagai muslimah?

Jawaban :

alaikumussalaam wrwb

Dear Is shalihah, saya ikut bersyukur ada pemudi dan pemuda yang berusaha menjaga dirinya di kala sesamanya banyak terlena dengan kemaksiatan. Semoga Allah meneguhkan ya..
Rasa di dalam dada memang tak bisa dihindari. Semakin ditekan, semakin kita menghindar, maka semakin sulit pula kita mengendalikannya.
Saran saya perkuat keimananmu, terus mendekat pada Allah agar ia menjadi benteng dari godaan syetan.
Ingat-ingatlah hal ini : “Dia belum tentu jodoh saya sampai tiba akad pernikahan”
sampaikan juga ini pada sang ikhwan, dengan begitu perasaan kalian akan berangsur netral dan hal ini membantumu bertawakkal kepada Allah.
beri  nasihat juga pada ikhwan itu agar tidak usah mengungkapkan rencana apapun (misal mau melamar jika sudah lulus nanti dsb), karena itu bisa jadi mengotori hati dan membuka pintu bagi syaitan untuk kita berpanjang angan-angan.
Tetaplah bersikap biasa saja, membaurlah seperlunya bersama teman-teman yang lain juga. Jika ada urusan organisasi yang melibatkan kalian berdua, libatkan selalu teman yang lain agar mencegah interaksi berdua.
Untuk menikah, tentu saja harus seijin wali dalam hal ini ayah kita. Apakah beliau setuju? Ketidaksetujuan Ibu saya yakin didasari oleh kekhawatiran akan masa depan kalian karena pertimbangan nafkah. Jadi saran saya berikutnya, berdiskusilah dengan kakak dan orangtua. Ungkapkan keinginan untuk menikah dengan berbagai kondisi yang ada, dan mintalah saran bagaimana jika kalian menjalaninya. Jika tak disetujui, maka mungkin disini kalian perlu  bersabar sampai tiba masanya nanti.
untuk beasiswa dan urusan ini khususnya, mintalah petunjuk pada Allah dengan beristikhoroh. Adukan semua gundah kepada Allah Yang Maha Membolak-balik hati, dan biarkan Allah selesaikan dengan cara-Nya yang indah.
wallahu a’lam bishshowab.
semoga dimudahkan 🙂
***
picture : http://wallpapercave.com/w/wsjJvcl
Indra Fathiana

Indra Fathiana

Lulusan Fak. Psikologi UI ini sangat mencintai dunia keluarga, disamping minat lainnya pada dunia pendidikan dan bisnis. Selain fokus mendidik kedua putrinya di rumah, ia aktif menjadi pengurus komunitas ibu muslimah “Mommee”, terlibat dalam program remaja “Sahabatku” bersama sejawat, menyelenggarakan social entrepreneurship project untuk pemuda, serta menulis artikel di sela-sela kesibukannya. Baginya, sukses terbesar seorang wanita adalah saat Allah dan pasangan ridho kepadanya, melahirkan generasi yang gemilang, serta menjadi manfaat bagi semesta.

Kirim Pertanyaan

Kamu memiliki masalah, unek-unek atau sekedar pertanyaan seputar kemuslimahan? Kirim pertanyaan kamu ke rubrik konsultasi Elmina dan Insyaallah kami akan berusaha menjawab pertanyaan kamu. Pertanyaan yang dikirim sebaiknya ditulis dengan bahasa yang jelas, ringkas, dan sopan. Tim redaksi akan menyortir terlebih dahulu pertanyaan yang masuk sebelum ditampilkan di rubrik konsultasi.

Form Konsultasi

2 + 6 =

Artikel Menarik Lainnya







comments