Tanpa kita sadari kehidupan kita hari ini dibentuk oleh kebiasan-kebiasaan kita di masa lalu, dan ini akan terus berlanjut selama kita masih bernafas. Jika baik kita hari ini maka itu adalah buah dari kebiasaan-kebiasaan kita, dan jika buruk kita hari ini, maka itupun adalah buah dari kebiasaan-kebiasaan yang kita tanam. Jika kita urai, maka kebiasaan adalah sesuatu yang terus kita lakukan berulang entah itu kita meyakininya sebagai suatu kebenaran atau tidak. Contoh sederhana adalah suka menunda dalam setiap pekerjaan, jika hal ini menjadi suatu kebiasaan, coba cek masa lalu kita mungkin saat di sekolah dulu, adakah kita juga suka menunda dalam mengerjakan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah? begitu juga dengan hal lain seperti kebiasaan selalu rapi dalam setiap kesempatan, jika ini sudah menjadi kebiasaan hidup kita maka akan sulit rasanya jika harus tampil dalam kondisi berantakan.

Setuju atau tidak kita harus menerima kalau masa depan kita baik atau buruknya sangat ditentukan oleh kebiasan-kebiasaan yang sering kita lakukan.

“Kita hari ini adalah buah dari kebiasaan-kebiasaan yang kita biasakan sejak masa lampau dan kita hari esok adalah buah dari kebiasaan-kebiasaan yang kita biasakan sejak hari ini. Entah itu baik atau buruk, ia akan menentukan siapa diri kita”

Sekarang mari kita evaluasi kondisi kita hari ini? bagaimana kita mengelola waktu ? bagaimana kita mengelola uang ? bagaimana kita membangun hubungan dengan orang tua ? bagaimana kita membangun hubungan dengan sahabat ? bagaimana kita membangun hubungan dengan Allah swt dalam ibadah kita ? menyenangkan atau tidaknya sangat ditentukan oleh sikap-sikap yang kita biasakan semenjak masa lalu. Baik itu sikap buruk seperti malas untuk hal kebaikan, suka menunda pekerjaan, boros menggunakan uang untuk hal-hal yang tidak perlu, malas beribadah, cuek atau abai kepada orang tua, kasar dalam bersikap dan berkata-kata.

Sekarang juga bandingkan, mana yang lebih banyak kebiasaan baik dibanding yang buruk ada dalam diri kita ? jika ternyata kebiasaan-kebiasaan buruk lebih banyak tentu ini kabar buruk bagi kita. Namun ada juga baiknya yaitu kebiasaan ternyata bisa diubah dari yang buruk menjadi baik maupun sebaliknya. Kita bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dalam diri kita dan menggantinya dengan membentuk kebiasaan-kebiasaan baik. Meskipun ini tidak mudah, tetapi bisa dilakukan. Berikut ada 5 tips membentuk kebiasaan baik dalam diri kita :

1. Temukan idola atau teladan yang tepat 

Setiap kita butuh idola, butuh teladan dan saat kita sangat mencintai idola kita maka disaat itu jugalah kita secara tak sengaja membenarkan apa yang dia lakukan, mengikutinya bahkan terkadang tanpa berpikir panjang. Tak masalah memang jika yang diikuti adalah idola dalam kebaikan, namun akan sangat berbahaya jika kita malah mengikuti idola-idola yang sangat jauh dari nilai-nilai islam.

Mungkin ini jugalah sebagai alasan kenapa untuk mengubah keadaan suatu kaum Allah SWT mengirim satu sosok yang akan dijadikan teladan yang kita mengenalnya sebagai Nabi dan Rasul. Ya, karena hati dan pikiran seseorang akan sangat mudah mengikuti orang yang dia kagumi, yang di anggap hebat, dan sebagai teladan bahkan itu mampu mengubah keyakinannya.

So, jika kita ingin membentuk kebiasaan-kebiasaan baru yang baik, maka ubahlah idola kita. Sebagai umat islam kita memiliki satu sosok teladan agung yaitu nabi Muhammad SAW, baca kisahnya, pelajari alur kehidupannya, maknai setiap keteladanan yang dicontohkannya dalam berbagai lini kehidupan hingga tumbuh cinta yang begitu melekat padanya sehingga itu menggerakkan kita untuk mencontoh dan meneladani kehidupannya yang tak diragukan lagi kebaikannya.

2. Semakin sering semakin baik

Ketika kita akan membentuk suatu kebiasaan baru maka lakukanlah sesering mungkin, memang di awal akan terasa berat dan sulit melakukannya. Namun jika kita lakukan secara sabar, berulang dan penuh konsistensi InsyaAllah lambat laun akan menjadi kebiasaan kita, bahkan sulit untuk ditinggalkan dan terkadang merasa aneh jika kita meninggalkannya. Contoh ketika ada seseorang yang sudah membiasakan shalat tahajud dan ini sudah menjadi kebiasaannya, maka jika suatu saat dia tidak melakukan shalat tahajud ada yang kurang dalam dirinya.

3. Berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang shaleh

“Nggak enak” mantra ajaib dalam sebuah persahabatan untuk membenarkan prilakukanya dalam mengikuti temannya. Contohnya, ada sekolompok anak yang suka nongkrong dan memiliki hobi merokok dan minum-minuman keras, lalu masuk seseorang yang pada awalnya sama sekali tidak merokok bahkan alergi dengan rokok apalagi minuman keras, namun sebab alasan “nggak enak” sama teman iapun mencobanya menghisap rokok atau mencicipi beberapa tetes minuman keras. Pada awalnya memang alasannya hanya karena “nggak enak” namun lambat laun ia akan larut dan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan hidupnya meskipun ia tidak menyukai.

Nah, jika kita sering ngumpul dengan orang-orang yang shaleh, shalat tepat waktu, rajin ke pengajian, rajin baca Al-quran. Boleh jadi di awal-awal kita hanya ikut-ikutan karena “nggak enak” namun lama-lama akan menjadikan ini sebagai kebiasaan kita yang tanpa kita sadari. Begitulah arti penting dari sebuah pergaulan ia sebagai sebuah mesin “penular” nilai-nilai baik itu keburukan maupun kebaikan. Mau jadi orang baik maka bergaullah dengan orang-orang yang baik lagi shaleh, karena kata nabi Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya ( HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

4. Sesuatu yang mengesankan

Mungkin anda pernah mengikuti sesi muhasabah, dalam sebuah momen kita diminta mengingat masa lalu kita, kesalahan kita, kekeliruan kita, mengingat orang tua kita. Kita diminta membayangkan saat-saat akan meninggal dunia, saat-saat menjawab pertanyaan dalam kubur atau yang lebih ekstrim ada yang sampai benar-benar melakukan simulasi menjadi jenazah mulai dari meninggal, dikafani, dimandikan dan diletakkan diatas keranda. Karena aktivitas ini begitu mengesankan dan menyentuh emosi (khusus bagi yang pertama kali mengikuti) tentu bisa jadi menjadi titik awal dia menjadi pribadi yang baik dan berkomitmen untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

Titik balik atau mungkin juga kita bisa istilahkan sebagai saat dimana dibukanya pintu hidayah. Biasanya adalah saat dimana seseorang mengalami peristiwa yang sangat menyita perhatian dan menyentuh emosinya.

5. Melakukannya disaat-saat yang nyaman (rileks)

Membentuk kebiasaan baru adalah saat dimana kita menyadari kebiasaan kita yang lama buruk dan harus ditinggalkan. Hal ini diakui oleh pikiran, dibenarkan oleh hati dan pada akhirnya akan memicu kita untuk melakukan tindakan. Saat-saat yang tepat untuk melakukan perenungan ini tentu adalah disaat hati dan pikiran kita nyaman, tenang dan rileks. Kita bisa mencipatkan kondisi-kondisi ini dengan beragam cara misalnya seperti mengambil wudhu lalu shalat dua rakaat, melakukan refleksi diri saat akan tidur, bangun disepertiga malam dan mendirikan shalat malam.

Itulah 5 tips untuk membentuk kebiasaan baik dalam diri kita. Kita tak akan mampu mengubah kebiasan buruk menjadi baik selama kita belum bisa menerima sebuah kenyataan kalau berubah itu sulit, tidak mudah bahkan terkadang sangat kenyaman kita sendiri. Namun satu hal baik yang harus kita yakini adalah kebiasaan baik itu bisa dibentuk dengan syarat kita mau memaksakannya, melakukannya meskipun berat diawal hingga akhirnya ia menjadi sebuah kebiasaan. [Uda Agus/Elmina]

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments