Satu hal yang sebenarnya halal namun tidak Allah sukai adalah perceraian. Dalam Islam perceraian disebut juga talak bagi pihak laki-laki dan khuluk untuk pihak wanita. Secara ringkas perceraian adalah pemutus hubungan pernikahan antara suami dan istri sehingga setelah melewati proses ini mereka kembali layaknya orang lain.

Bisa dipastikan hampir semua yang akan menikah tentu tidak ada yang menginginkan perceraian. Mereka berharap pernikahannya langgeng hingga akhir hayat. Namun pada kenyataannya yang terjadi adalah pernikahan yang diimpikan langgeng dunia akhirat harus berhenti di tengah jalan. Setidaknya data seperti itulah data yang ada menunjukkan, angka perceraian selalu meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan peningkatannya cukup drastis 16 – 20% dari tahun 2009 sampai 2016 seperti yang disampaikan Anwar Saadi, selaku Kasubdit Kepenghuluan Direktorat Urais dan Binsyar Kementerian Agama.

Data lain, masih dari kementerian agama menunjukkan dari dua juta pasangan menikah, sebanyak 15 hingga 20 persen bercerai. Sementara, jumlah kasus perceraian yang diputus Pengadilan Tinggi Agama seluruh Indonesia pada 2014 mencapai 382.231, naik sekitar kasus 131.023 dibanding tahun 2010 sebanyak 251.208 kasus.

Angka yang cukup mengerikan bukan ? Bukan hanya tentang masalah perceraiannya saja, tapi dampak buruk dari perceraian inilah yang perlu kita khawatirkan. Perceraian tentu akan berdampak pada pertumbuhan dan pembentukan kepribadian seorang anak yang orang tuanya bercerai. Memutus hubungan silaturahim, berpotensi menimbulkan permusahan antara dua keluarga besar serta banyak dampak buruk lainnya. Mungkin inilah alasan kenapa Allah sangat membenci perceraian.

Sebagai upaya mengantisipasi terjadinya perceraian dalam kehidupan rumah tangga kita, tentu kita perlu mengetahui sebab terjadinya perceraian, berikut adalah 7 sebab terjadinya perceraian yang perlu diantisipasi sejak dini.

1. Jauh dari Allah dan Rasul

Jauh dari Allah dan Rasulnya. Bahasa lainnya adalah saat seseorang jauh dari aturan yang telah Allah standarkan dalam kita Al-quran dan tuntunan yang telah Rasul sunnahkan dalam hadisnya saat membangun rumah tangga. Islam sebagai agama paripurna sebenarnya telah memberikan tuntunan yang lengkap dalam berumah tangga, Rasulullah SAW sebagai teladan kita telah mencontohkan bagaimana beliau berumah tangga.

Saat kita membangun rumah tangga tanpa acuan yang jelas, tentu yang menjadi dasar dan standar bersikap adalah ego masing-masing. Suami tidak mengerti bagaimana semestinya bersikap sebagai suami dalam Islam, begitu juga dengan istri yang tidak mengerti bagaimana sebenarnya dalam berhubungan dengan suami. Yang terjadi adalah suami yang menelantarkan istrinya atau pun istri yang selalu membangkan dan merasa pintar dari suami.

2. Tidak adanya kesamaan visi

Ada seorang laki-laki sebut saja namanya boy, dia menikah gadis belia yang cantik lagi anggun. Boy sangat mengharapkan kehadiran buah hati dalam pernikahannya, karena bagi boy pernikahan adalah untuk meneruskan garis keturunan. Menimang bayi mungil, bermain bersama anak kecil, membesarkan dan merawatnya hingga dewasa adalah impian boy dalam pernikahannya.

Sementara sang istri, sebut saja ros menganggap pernikahan adalah jalan menemukan pasangan yang mau mendukung setiap cita-citanya. Ros memiliki ambisi besar dalam dunia modelling, ia ingin menjadi model kelas dunia. Memiliki anak berarti beban sekaligus hambatan bagi ros dalam mengejar impiannya. Sehingga ros selalu punya alasan untuk menunda hamil.

Apa yang terjadi dalam pernikahan boy dan ros ? Jika keduanya tidak ada yang mau mengalah, masing-masing merasa benar terlebih lagi merasa mampu hidup sendiri tanpa pasangannya. Mungkin perceraian adalah jalan akhir dari kisah cinta mereka. Disini kita bisa membuktikan, cinta saja terkadang tak cukup. Butuh kesamaan dan keselarasan visi antara suami dan istri.

“Sebaik-baiknya visi pernikahan, tentu yang merujuk pada Al-qur’an dan Sunnah”

3. Masalah ekonomi

Masalah ekonomi, mungkin ini penyebab perceraian paling populer di negeri ini. Saat suami kehilangan pekerjaan, istri pun pengangguran. Saat tagihan menumpuk, entah itu kontrakan, bayar listrik, bayar air, hutang sembako di warung, cicilan kredit dan berbagai jenis tagihan lainnya. Tagihan ada dimana-mana, sementara uangnya tidak ada, pertengkaran terjadi hampir setiap hari. Saling menyalahkan, saling merajuk dan akhirnya bercerai.

4. Masalah hubungan ranjang

Tidak adanya kepuasan secara seksual baik bagi suami maupun istri juga bisa menjadi penyebab perceraian. Beberapa hal bisa menjadi penyebabnya seperti istri yang terlalu pasif, suami yang impoten dan berbagai hal lainnya.

5. Turut campurnya mertua dalam urusan rumah tangga

Ternyata tak sedikit orang tua yang masih ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Orang tua selalu mengekang segala sesuatu yang akan dilakukan oleh anaknya, bahkan tak jarang memaksakan kehendaknya pada sang anak. Tentu hal ini akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi menantu. Jika terus berlanjut, hal ini pun bisa menjadi penyebab terjadinya perceraian.

6. Harapan yang terlalu tinggi terhadap pasangan

Kita tentu belum bisa mengenal seseorang seutuhnya tanpa hidup bersama dengannya. Disinilah pentingnya saling menerima diantara pasangan dalam pernikahan, saat telah terucap kata sah saat ijab kabul maka sejak itulah kita menerima pasangan kita sepaket kelebihan maupun kekurangannya, kebaikan juga keburukannya.

Saat belum menikah mungkin anda menaruh harapan pada pasangan, itu sah-sah saja. Tapi pastikan juga anda siap menerima dengan penuh keikhlasan jika pada kenyataannya tak seperti yang diharapkan.

7. Tidak adanya keinginan untuk belajar serta berbenah ke arah yang lebih baik

Mudah menyerah, saat ada konflik, saat timbul masalah, saat muncul pertikaian tidak ada keinginan untuk saling mengevaluasi diri, belajar untuk memperbaiki kembali dan berbenah ke arah yang lebih baik. Tapi malah memilih jalan pintas yaitu perceraian.

Perceraian memang sesuatu yang Allah benci, berhukum makruh. Namun pada akhirnya akan kondisi dimana sebuah pernikahan sunnah bahkan wajib untuk bercerai. Kapan itu ? Ketika pernikahan terus dipertahankan malah menimbulkan kemudharatan yang besar bagi suami maupun istri.

Rumah tangga bagaikan bangunan, butuh kegigihan dan kesabaran untuk membangunnya menjadi istana yang megah membawa ketenangan dan kebahagiaan dunia akhirat. 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments