Jariyah bin Qudamah R.A namanya, seorang sahabat yang datang menemui nabi, ia meminta sebuah nasihat yang singkat, padat , mudah dihafal dan mengandung kebaikan. Nabipun memberinya nasihat yang terangkum dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah R.A yang berbunyi  :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” (HR al-Bukhari)

marah1/ma·rah/ a sangat tidak senang (karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dan sebagainya); berang; gusar (http://kbbi.web.id/marah) 

Kurang lebih itulah arti marah dalam kamus besar bahasa indonesia, dalam makna yang lebih luas Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas menuliskan marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang dikhawatirkan terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang menimpakan gangguan yang terjadi padanya. Sementara kami memaknai marah adalah saat tidak sesuainya realita yang terjadi dengan harapan atau realita yang terjadi adalah sesuatu yang tidak diharapkan sehingga hal ini memancing emosi dan diekspresikan dalam berbagai cara.

Ada yang mengekspresikan marahnya dengan diam, berteriak dan membentak, membanting atau menghancurkan sesuatu , berkata-kata kotor dan sumpah serapah serta beragam ekspresi emosi lainnya. Di kehidupan yang bergerak serba cepat, kondisi ekonomi yang tidak stabil, suasana iklim yang tidak menentu sangat mempengaruhi emosi seseorang mudah meledak-ledak yang sering diistilahkan sebagai “sumbu pendek” . Kita dengan mudah menyaksikan orang tua yang marah pada anaknya dengan bentakan serta pukulan, marah antara suami pada istri atau sebaliknya, lebih lagi dijalanan maka marah menjadi hal yang sangat lumrah sekali ditemukan , ketika mobil tersenggol secara tidak sengaja oleh motor atau sebaliknya dengan mudah ungkapan sumpah serapah muncul dari mulut pengendara tersebut bahkan tak jarang dengan membawa-bawa nama-nama binatang.

Atau mungkin juga dengan diri kita sendiri yang tanpa kita sadari mudah sekali tersulut api amarah yang membakar serta meledak-ledak. Memang seorang ulama Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqâlani rahimahullah mengatakan kalau marah tidaklah dilarang karena pada hakikatnya itu adalah salah satu tabiat manusia. Akan tetapi yang diingatkan oleh Rasulullah SAW adalah agar kita tidak marah yang memperturutkan nafsu syahwat yang pada akhirnya kemarahan ini merusak, apakah itu merusak fisik karena terjadi benturan, merusak persahabatan karena muncul permusuhan dan yang lebih berbahaya adalah merusak diri sendiri, paling sering terjadi marah bisa menyebabkan serangan jantung dan tekanan darah tinggi. Selain itu marah juga menyebabkan naiknya asam lambung, mudah sakit kepala, terganggunya pernapasan, hingga penyakit berbahaya seperti stroke.

Sebab, sangat banyak keburukan-keburukan dalam sifat marah inilah Rasulullah berulang-ulang mengingatkan serta mewasiatkan agar tidak marah, yang dalam hadits lain Rasulullah juga mengingatkan jangan marah, maka syurgalah untukmu. Dan, ternyata untuk menahan amarah bukanlah sesuatu yang mudah juga terlebih bagi mereka yang telah dibesarkan dalam dilingkungan yang akrab dengan kemarahan-kemarahan, disaat marah menjadi suatu sifat yang dalam mengkristal dalam diri sehingga sulit untuk dihilangkan. Semakin berat untuk melawannya, tentu semakin besar jugalah kebaikan yang didapat seperti kata nabi pahala seseorang sesuai dengan kadar kepayahannya.

Rasulullah SAW juga memberikan nasihat kepada kita sebagai sarana untuk meredam kemarahan

“Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring” (H.R Ahmad)

Menghilangkan marah dalam diri memang bukanlah hal yang mudah namun bukan berarti itu tidak mungkin, melepaskan amarah dengan lampiasan emosi yang meledak-ledak terkadang memang membuat sebagian orang merasa kelegaan, akan tetapi ingatlah banyak sekali keburukan-keburukan dalam sifat marah ini, menahan amarah adalah menahan nafsu, menahan diri, yang tentu juga akan Allah balas dengan banyak kebaikan-kebaikan di dunia dan tentu juga di akhirat.

Ketenangan hidup, kebahagiaan, selalu terjalin persahabat baik dengan banyak orang serta diri terjaga dari beragam penyakit berbahaya adalah buah kebaikan dari menahan marah di dunia, sementara buah kebaikan di akhirat InsyaAllah akan Allah balas dengan sebaik-baiknya balasan.

Artikel Menarik Lainnya







comments