Menyerah terkadang menjadi kata terindah saat berbagai macam ujian, cobaan serta masalah secara silih berganti datang menghadang. Kaki melangkah mulai terasa goyah, pikiran mulai terasa tak terarah dan hati pun mulai bertanya-tanya “benarkah tuhan itu adil ?”.

Bagai katak dalam tempurung

Peribahasa lama mengatakan bagai katak dalam tempurung, sebuah kalimat penuh makna yang tepat sekali untuk melukiskan bagaimana seseorang yang hanya fokus pada dirinya sendiri. Dia merasa dunia ini sempit, hanya dirinya saja. Saat dirundung masalah dia merasa itu adalah masalah terbesar yang pernah ada. Saat Allah kasih ujian, dia merasa itu ujian terberat yang diberikan. Sehingga pada tataran ini yang muncul hanyalah keluhan serta sikap menyalahkan orang lain bahkan tuhan sekalipun.

Tuhan tak adil kata mereka, kenapa saya sedih mereka bahagia. Kenapa saya susah yang lain hidupnya mudah, kenapa saya miskin yang lain kaya, kenapa saya bodoh yang lain pintar serta cercaan serupa lainnya. Menyalahkan memang mantra terhebat seorang pengeluh, namun pertanyaannya apakah dengan menyalahkan akan memberikan solusi ? Tentu tidak, yang sering terjadi malah bertambah runyamnya masalah.

Terkadang memang kita perlu naik ke atas atap, atau kalau masih kurang mungkin juga harus naik ke pohon kelapa. Berdiri sejenak disana lemparkan pandangan ke sekitar. Lihatlah ternyata tak hanya kita yang menderita, pandanglah ternyata yang lain juga Allah beri ujian yang mungkin saja jauh lebih besar, lebih berat dan lebih menyakitkan dibanding dengan yang kita rasakan.

Karena Allah sayang pada kita 

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya, ia mendapat pahala kebajikan yang diusahakannya dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang dilakukannya...( Al-Baqarah: 286)

Kenapa Allah menguji saya ? Kenapa harus saya ?

Mungkin ini adalah dua pertanyaan yang sering bergelayutan di kepala kita saat ditimpa ujian. Sebuah pertanyaan yang butuh segera dijawab namun mencari jawabannyapun menjadi perjuangan tersendiri bagi kita. Allah SWT berfirman dalam Al-qur’an, Allah tidak akan membebani seseorang melaikan yang terpedaya olehnya. Allah hanya akan memberikan ujian pada kita sesuai dengan kemampuan kita. Saat kita merasakan ujian itu berat sebenarnya kita mampu melewatinya, Allah maha tau akan hal itu. Meskipun terkadang dengan mudah kita mengeluh ini adalah ujian yang sangat berat.

Ujian itu tanda sayang-Nya Allah pada kita. Nabi Yunus AS Allah beri ujian dengan ditelannya beliau oleh seekor ikan hiu agar tersadar akan tugas serta kewajibannya sebagai seorang nabi. Nabi Ayub AS Allah beri ujian dengan berbagai macam penyakit agar kehidupannya menjadi pelajaran berharga bagi setiap umat manusia dalam menghadapi setiap ujian. Nabi Ibrahim AS Allah uji dengan memisahkan dirinya dengan istri dan anak yang sangat dicintai agar mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya dan kepada siapa cinta tersebut seharusnya berlabuh.

Begitupula saat Allah memberi kita ujian, tentu agar kita lebih dekat dengan Allah, agar kita menjadi lebih kuat, agar kita lebih tangguh dan agar kita lebih bersyukur. Atau mungkin alasan lainnya, tentu setiap hamba-Nya akan mengais makna yang berbeda dengan yang lainnya.

Jangan mudah lelah dan menyerah, perjalananmu masih panjang

Kalau diibaratkan sebuah film ujian kita di dunia ini belumlah akhir dari cerita, karena bisa jadi ini baru konflik-konflik kecil yang akan menampilkan twist yang indah sarat makna. Selama kita masih menatap sang mentari pagi, selama kita masih menghirup udara segar dan mendengar kicauan burung maka itulah tanda kalau cerita belum berakhir, nikmati saja alurnya dan syukuri setiap scene yang dilalui. Karena  ending dari ceritanya adalah saat nyawa mulai tercekat di kerongkongan, berpisahnya jiwa dan raga. Disanalah perjalanan sesungguhnya akan dimulai, apakah berujung di syurga atau nerakanya. Disanalah sejatinya kenikmatan dan kesulitan.

So, selama kita masih di dunia. Jangan mudah lelah, menyerah. Terus optimis, bergerak, berbenah dan berjuang !

Sumber foto : pexels.com

Artikel Menarik Lainnya







comments