Pertanyaan :

Assalmualaikum..wr…wb..

Saya berusia 28 tahun, sebelumnya sewaktu saya gadis  saya pernah menikah dengan duda anak 1,namun sebelumnya duda tersebut adalah cinta pertama saya, kami dekat sudah cukup lama sekitar 5 tahun sewaktu waktu saya kaget bahwa dia ada hubungan dengan teman dekat saya setelah itu saya ikhlas kan dia kepada teman saya dan dia menikah. Setelah 4 tahun kemudian saya bertemu lagi dengan dia dan dia sudah berpisah dengan teman saya dan mempunyai anak laki-laki.saya ikhlaskan dan kami menikah, 2 tahun kemudian saya bercerai.

Sekarang saya bertemu lagi dengan seorang laki-laki di situs tasawuf underground tapi kami beda negara, Awalnya kami saling nyambung dan kami pun saling bertemu sebulan sekali setelah 5 bulan kami semakin dekat. Saya merasa yakin bahwa dia lah yang terakhir dalam hidup saya karena saya memang mau serius dan tidak mau jatuh yang kedua kali nya. Setiap shalat dan doa saya selalu berdoa untuknya.. Beriringnya waktu feeling saya dia ingin menjauh dari saya jarang komunikasi tapi tetap komunikasi jika saya yang menelpon tapi responnya sangat kurang, itu membuat saya penasaran dan bertanya-tanya.

Apakah Allah SWT menguji kesabaran saya? Bagaimana kah yang harus saya lakukan? Sedangkan pikiran dan hati saya selalu mengingat dan mengharapkannya,?

Jawaban :

Waalaikumsalam..wr..wb..

Kami selalu doakan semoga Allah limpahkan kesabaran untuk mba ya. Sebelumnya perlu kami sampaikan dulu sebaiknya hubungan laki-laki dengan perempuan dibatasi, satu kekeliruan yang mungkin telah mba lakukan adalah terjerumus aktivitas pacaran baik pada laki-laki pertama maupun juga dengan laki-laki kedua yang dikenal di situs tasawuf tersebut. Sehingga ada aktivitas saling menelpon, bertemu berdua dan sebagainya, yang mana aktivitas-aktivitas semacam itu tentu harus dihindari. Sebab berpotensi menyebabkan zina baik zina hati, zina mata, zina tangan dan seterusnya. Dampak buruknya lagi muncul ketertarikan dan rasa cinta pada orang tersebut lalu muncul rasa berharap pada dirinya.

Islam sendiri memberikan tuntunan bagi yang akan memulai pernikahan dengan cara yang Allah ridhoi dan tanpa pacaran. Melalui proses yang disebut ta’aruf. Ta’aruf ini tidak dilakukan berdua, tetapi ada perantara, komunikasi melalui perantara tidak lansung antara mba dengan laki-laki. Selanjutnya ta’aruf juga memiliki batasan waktu, paling lama 3 bulan sudah ada keputusan apakah akan lanjut menikah atau tidak. Jika lanjut menikah segerakan pernikahannya, namun jika tidak akan menikah ya selesaikan proses komunikasinya. Lebih jelasnya tentang ta’aruf mba bisa baca disini –> Panduan Ta’aruf

Untuk permasalahan mba, sebenarnya sederhana saja. Mba bisa lansung tanyakan sama laki-laki itu apakah mau menikahi mba atau tidak, jika mau menikahi minta dia segera datang menemui orangtua mba. Namun jika dia tidak mau, selesaikan hubungannya, hentikan segala komunikasi dan interaksi. Perkara jodoh adalah urusan Allah Swt, Allah yang Maha Tahu. Jadi kalau mau berharap berharaplah pada Allah. Minta pada Allah pertemukan jodoh terbaik menurut Allah, ikhlas menerima ketetapan Allah. Jangan berharap pada manusia, sebab kalau berharap pada manusia ujung-ujungnya akan kecewa.

Agus Aribowo

Agus Aribowo

Penulis buku-buku laris  seperti Indahnya Menikah Tanpa Pacaran, Makin Syar’i Makin Cantik dan Jodohmu Dekat, Dia Ada Dalam Dirimu

Kontributor www.elmina-id.com dan www.diarypernikahan.com

Contacttanyaaghautsman@gmail.com

Kirim Pertanyaan

Kamu memiliki masalah, unek-unek atau sekedar pertanyaan seputar kemuslimahan? Kirim pertanyaan kamu ke rubrik konsultasi Elmina dan Insyaallah kami akan berusaha menjawab pertanyaan kamu. Pertanyaan yang dikirim sebaiknya ditulis dengan bahasa yang jelas, ringkas, dan sopan. Tim redaksi akan menyortir terlebih dahulu pertanyaan yang masuk sebelum ditampilkan di rubrik konsultasi.

Form Konsultasi

3 + 10 =

Artikel Menarik Lainnya







comments