Bagi orangtua dengan anak lebih dari satu orang, biasanya akan mulai pusing dengan polah anak-anak saat mereka bertengkar. Mulai dari tak sengaja merusak barang, berebut mainan, iri-irian, lebih suka barang si kakak atau adik, dan sebagainya. Dan biasanya bagi kita yang pusing mendengar tangis dan keributan mereka, akan membela salah satu, menyalahkan yang lain, atau memisahkan mereka agar bermain sendiri-sendiri.

Alih-alih mengajarkan anak mengelola konflik, kita terbiasa turun tangan menyelesaikan masalah dengan cara yang justru memunculkan masalah baru di kemudian hari.

Sejumlah rekan mengeluh karena bahkan di usia dewasanya sekarang, dia masih merasa tak terima atau merasakan semacam bad feeling  dengan orangtua, kakak atau adiknya karena semasa kecil dulu selalu mendapat pembelaan dari ayah dan ibu mereka. Sejumlah lainnya merasa tidak disayang karena selalu disalahkan ketika mereka bertengkar.

Rupanya menghadapi konflik antar anak juga menuntut kita para orangtua untuk menunjukkan sikap terbaik karena akan berimplikasi pada perkembangan jiwa mereka. Seperti apa dan bagaimana? Simak poin berikut ini.

  1. Tidak Ada Yang Suka Disalahkan, Maka Berhentilah Menyalahkan

Ayah, Bunda, sekalipun kita salah, apakah nyaman jika kita disalahkan? Ego manusia membuat benteng untuk melindungi dirinya dari berbagai ketidaknyamanan. Maka jika disalahkan itu tidak nyaman bagi diri kita, begitu pula yang dirasakan anak-anak kita.

Temui anak-anak yang tengah bertengkar, dan bertanyalah dengan pertanyaan terbuka “Apa yang terjadi?”.  Ingatkan semua pihak tentang keutamaan bersikap jujur, dan biarkan mereka bercerita apa adanya terlebih dahulu, lalu diskusikan bersama bagaimana solusinya.

  1. Yang Dizhalimi Boleh Membalas, Tapi Memaafkan Lebih Utama

Jika telah jelas siapa yang salah, tanyakan pada pihak yang dirugikan tentang apa yang akan ia lakukan.  Al Qur’an mengajarkan kita untuk menjadi orang yang dapat membela diri jika dizhalimi, dan mengijinkan untuk membalas perbuatan buruk yang menimpa. Namun, jika bisa memaafkan, itu jauh lebih utama.

“40. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. 41. Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka. 42. Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih. 43. Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (QS. Asy Syuro 40-43)

Nabi juga mencontohkan agar memaafkan di saat ia mampu membalas. Maka doronglah anak-anak yang menjadi korban untuk memaafkan, dan ingatkan keutamaan memaafkan.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35)
Kupas lagi kisah-kisah Rasulullah saw yang mendapat perlakuan buruk dari musuh-musuh da’wahnya namun beliau bukanlah seorang yang pendendam. Padahal jika ia mau membalas, di salah satu kisah Allah mengijinkannya melalui malaikat Jibril yang ingin menimpakan gunung Uhud pada peristiwa Thaif. Tetapi yang terjadi adalah Rasul memaafkan dan hanya memaklumi. Sirah Nabawiyah dan kisah dari para sahabat serta orang-orang shalih terdahulu adalah contoh terbaik dan konkrit tentang hubungan dengan sesama teman atau saudara. Dan berkisah adalah strategi yang sangat baik untuk menanamkan nilai-nilai memaafkan, membantu, menyayangi saudara dan serta adab bermuamalah lainnya.

 

  1. Jangan Minta Kakak Mengalah Hanya Karena Dia Lebih Tua

Penyakit kita sebagai orangtua seringkali adalah meminta si kakak sebagai anak yang lebih tua untuk mengalah. Kita menganggap anak yang lebih besar sudah lebih paham, sudah lebih dewasa dan seharusnya menjadi teladan serta mampu bersabar terhadap adiknya. Harapan ini tidaklah salah, namun jangan sampai kita berlaku tak adil meski dalam perkara sepele atau kecil. Anak pertama atau yang lebih tua seringkali merasa diperlakukan tidak adil atau merasa orangtua mereka pilih kasih, karena sering dijadikan kambing hitam saat berkonflik dengan adik.

Jika hal ini sering menimpa mereka, konsep diri mereka dapat rusak dan tumbuh negatif. Anak yang tumbuh dengan blaming dan sering disalahkan akan menjadi pribadi yang kurang percaya diri, menganggap diri mereka tak berguna serta tidak berharga. Pada perjalanan hidupnya mereka akan memiliki motivasi berprestasi yang rendah, sulit bergaul dan merasa tidak punya kelebihan sedikitpun. Hal ini tentu dapat berakibat buruk dalam setiap aspek kehidupan hingga mereka dewasa.

 

Maka bencilah perilaku yang salah tanpa memandang besar-kecil usianya. Dengan begitu anak akan tahu bahwa orangtua tidak menyukai keburukan, siapapun yang melakukannya. Anak juga akan mengerti bahwa bukan diri mereka yang dibenci, namun perilaku buruknyalah yang tidak ayah-bunda mereka sukai.

 

  1. Jangan Bela Adik Hanya Karena Dia Lebih Muda

Penyakit berikutnya dari orangtua adalah sering membela si kecil hanya karena usianya lebih muda. Kita sering berpikir kalau adik belum mengerti, masih terlampau muda, harus disayang dan sebagainya. Pemahaman ini ada benarnya, namun sama seperti menyalahkan kakak sebagai anak yang lebih tua, jika tak berhati-hati dapat membuat situasi, kondisi dan kepribadian tumbuh tak sehat.

Anak yang dibela meski ia berada di pihak yang salah, akan mengembangkan pemikiran bahwa dirinya superior, yang pada gilirannya menjadikan ia egois, semena-mena, hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli perasaan orang lain. Ia juga akan tumbuh di atas nilai yang salah, karena tahu bahwa orangtuanya bukan membela hal yang benar.

Pribadi seperti ini sejatinya lemah karena ‘kebesaran’-nya hanyalah semu. Dalam pertumbuhannya sampai usia dewasa, bisa jadi ia akan memiliki konsep diri positif, namun tidak bisa menempatkannya di atas nilai yang benar. Mungkin saja ia akan menjadi orang ‘besar’, namun tidak ada respek dari orang lain atas kualitas pribadinya yang berfokus pada diri sendiri. Maka kita perlu berhati-hati memperlakukan anak-anak yang lebih muda dalam membela mereka ketika konflik dengan saudara atau teman-temannya terjadi.

  1. Biarkan Anak-anak Menyelesaikan Masalah Mereka Sendiri

Turun tangan dan turut campur untuk menyelesaikan konflik anak-anak mungkin membuat masalah cepat selesai. Dengan begitu dunia menjadi damai tanpa keributan dan teriak tangis yang mengganggu. Namun tugas kita sebagai orangtua bukan melulu menyelesaikan konflik di antara anak-anak. Lebih dari itu kita perlu mendidik mereka menghadapi konflik secara mandiri, karena tak selamanya kita ada di sisi mereka.

Jadi berikanlah anak panduan cara menyelesaikan konflik di antara mereka. Kita bisa mulai dari meminta klarifikasi semua pihak tentang kejelasan kronologi kejadiannya. Lalu meminta pihak yang salah untuk mengakui dengan jujur. Setelah itu doronglah mereka berpikir tentang apa yang selanjutnya perlu dilakukan. Jika anak-anak sudah mengerti prinsip-prinsip/adab dalam bermuamalah dengan orang lain, apalagi berkasih-sayang terhadap saudara kandung, insya Allah akan lebih mudah bagi kita mengarahkan mereka. Maka value besar inilah yang sangat perlu kita perhatikan sejauh mana tertanamnya.

Jika di antara mereka tidak ada yang mau menyelesaikan masalah, buat kesepakatan yang berdampak pada semua pihak. Misalnya, membekukan aktivitas bersama yang mereka suka, menahan rencana rekreasi, mengurangi uang jajan dan sebagainya. Dengan begitu semua orang mendapat konsekuensi karena sikap mereka yang tak kooperatif.

Untuk anak yang sudah berusia sekolah, kita bisa juga mengambil langkah meninggalkan mereka di berdua saja selama beberapa saat. Membiarkan mereka dalam privasi akan mengembangkan kemampuan mereka memikirkan sikap apa yang sebaiknya dilakukan, karena yang mereka hadapi hanyalah ‘lawan’ mereka sendiri, tanpa penengah. Namun hal ini tetap harus dalam pengawasan dan bukan berarti kita melepas sama sekali. Yang kita lakukan hanya mendidik mereka untuk mandiri agar belajar menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain.

Penyelesaian konflik di antara anak-anak sebenarnya tidak akan memakan waktu yang lama, mengingat anak-anak masih bersih fitrahnya dari keburukan. Jikapun mereka bertengkar, tidak lama kemudian mereka akan bermain bersama lagi. Pertengkarannya pun kebanyakan tidak kompleks seperti orang dewasa yang melibatkan lebih banyak dinamika kepribadian dan aspek lain. Tapi tugas kita sebagai orangtua adalah mendidik mereka pula bagaimana menghadapi masalah dengan tenang dan tepat. Pastinya, kita perlu menjadi teladan pertama dalam mencontohkannya. Bagaimanapun anak-anak akan melihat dari sosok terdekat, yakni ayah-ibunya. Jika ayah-ibu mampu menyelesaikan konflik di antara mereka dengan baik, insya Allah anak-anak akan menirunya. Jadi tentu saja, selain mendidik anak-anak, kita perlu mendidik diri sendiri bagaimana menyelesaikan masalah dengan orang lain secara sempurna.

 

Artikel Menarik Lainnya







comments