stock-photo-muslim-woman-reading-holy-quran-and-praying-outdoors-285770672

Adakah di antara kita yang sudah masuk usia siap nikah dan belum menemukan jodohnya? Hmm… Galau benar rasanya. Galau-galau ini kemudian kita bagikan di sosmed, dirangkai dengan kata mutiara, sambil berharap-harap si dia membaca dan menangkap sinyal-sinyal yang kita tulis. Maksud hati menjaga diri, apa daya keterusan juga bergalau ria. Dan gawatnya si dia malah menganggap kita tak cocok untuknya: males ah punya istri yang keseringan galau! Hihihi… Nah lho… 😀

Girls, menunggu sang pangeran datang memang merisaukan. Apalagi, jika usia kita sudah masuk di kategori yang secara pandangan awam sudah sangat layak berpendamping dan berketurunan. Maasyaa Allah, semoga Allah merahmati dan meneguhkan hati kita untuk istiqomah menjaga kehormatan dan terus bersangka baik kepada-Nya, ya.
Tapi sebenarnya, ada banyak hal lho, yang bisa kita lakukan di masa penantian ini. Sudah tahu apa saja pointnya? Yuk kita simak.

  1. Memperdalam Pemahaman akan Al Qur’an

Al Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam. Ini sih nenek-nenek juga tahu ya. Tapi apa iya kita benar-benar meyakini dan menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup?
Membaca dan mempelajari Al Qur’an merupakan tuntunan Allah serta Rasul-Nya. Bagaimana kita bisa menjalani hidup tanpa memahami manual book dari Pencipta kita?

Sekarang ini banyak sekali majelis-majelis baik online maupun offline untuk mempelajari tafsir Al Qur’an. Tidak ada salahnya pula sesekali kita datang ke majelis offline dan menyimak secara langsung, sensasinya beda! Jika belum merasa nyaman karena belum terbiasa sama sekali, cobalah duduk dan simak saja. Kosongkan dulu ‘gelas’ pikiran dan hati kita. Hati yang ikhlas insya Allah akan dituntun oleh Allah untuk menerima siraman ilmu yang tak hanya bermanfaat bagi dunia, namun juga akhirat kita.

  1. Memperbaiki Bacaan Al Qur’an

Sudah bisa baca Qur’an? Alhamdulillaah.. Sudah bisa baca dengan tajwid yang benar? Ehm, tunggu dulu…
Banyak dari kita merasa cukup setelah bisa membaca Al Qur’an. Tapi membacanya dengan benar sesuai kaidah tajwid, mungkin tidak semua.

Dear, setelah menikah, kita akan menjadi istri serta ibu. Jika ingin punya anak-anak yang shalih-shalihah apalagi penghafal Qur’an, tentu harus dimulai dari orangtuanya terlebih dahulu. Sebisa mungkin ajarkan sendiri anak-anak kita membaca Qur’an, bukan menaruh mereka di TPA-TPA untuk diajarkan oleh orang lain. Karena setiap ilmu tentang membaca Qur’an yang kita ajarkan, jika terus mereka gunakan sampai akhir hayatnya, akan menjadi tetesan amal jariyah yang terus mengalir meski kita sudah wafat. Rela, melepaskan ladang amal yang luar biasa ini? Yakin, gak ngiri dengan ustadz-ustadzahnya anak-anak yang kebanjiran pahala?

Nah, untuk mengajarkan membaca Qur’an pada anak tentu membutuhkan ilmu yang mumpuni. Apalagi, bacaan itu juga kita pakai dalam sholat keseharian. Kalau salah dalam bacaan, panjang-pendeknya, artinya bisa salah juga. Kalau sudah begini, bagaimana dong kualitas sholat kita? So, mulai sekarang coba deh cari-cari les Tahsin (membaca al Qur’an) untuk meningkatkan kualitas bacaan Qur’an kita.

  1. Membekali Diri dengan Ilmu Rumah Tangga

Yang ini meliputi ilmu tentang manajemen rumah, termasuk di dalamnya kemampuan mengatur finansial keluarga. Biasakan hidup dengan perencanaan keuangan agar alokasinya benar-benar tepat guna. Kalau biasa hidup boros sejak sebelum menikah, maka akan jadi tantangan besar ketika harus mengatur pendapatan atau nafkah dari suami kelak. Bekali juga dengan kemampuan mengatur rumah, memperhatikan kebersihan juga kerapihannya.

  1. Membekali Diri dengan Ilmu Pasutri (Pasangan Suami-Istri) dalam Islam

Mulai dari hal yang sangat mendasar seperti hak dan kewajiban suami-istri, hal yang sangat personal seperti urusan kamar, juga hukum-hukum syariat serta fiqih yang berkaitan dengan kesuami-istrian. Contohnya, masih banyak pasutri yang belum sepenuhnya paham tentang aturan Islam untuk harta gono-gini yang perlu dipertegas akadnya dari suami kepada istri. Juga, manajemen konflik, bagaimana mengelola hubungan dengan mertua, ipar, menyamakan visi-misi tentang keluarga dan buah hati, dan masih banyak lagi yang lainnya.

  1. Belajar Masak, Mengapa Tidak?

‘Bisa masak’ terkadang masih menjadi standar bagi para pria dalam memilih calon pasangannya. Meski bukan termasuk kewajiban yang diatur syariat, alangkah bagusnya jika kita menguasai ketrampilan ini. Coba ingat-ingat, siapa di antara kita yang sering kangen rumah dan masakan ibu? Masakan ibu tidak pernah ada duanya karena dimasak dengan cinta dan kasih sayang. Selain itu, kita juga bisa lebih berhati-hati memperhatikan kandungan gizi dan bahan-bahan yang sehat apabila memasak sendiri. Sstt.. meski ada suami yang tidak keberatan kalau kita tak pintar masak, tapi mereka tetap merasa bahagia lho kalau disuguhkan masakan buatan istri sendiri 😉 Ayo belajar masak!

  1. Memiliki Visi yang Jelas dalam Pengasuhan Anak-anak, serta Mencintai Mereka

Di Jepang, angka kelahiran sangat rendah dan pemerintahnya sangat mengapresiasi pasangan yang melahirkan anak. Itu karena mereka khawatir generasi mereka tidak berkelanjutan. Sementara, pasangan orangtua disana kebanyakan tidak mau memiliki anak karena terlanjur pusing membayangkan kerepotan dan kesusahan dalam membesarkannya.

Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam haditsnya, “Nikahilah oleh kalian wanita yang pencinta dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya kalian kepada umat-umat yang lain.” (HR Abu Dawud: 2052, dishahihkan Al Albany dalam Jami As-Shahih: 5251)

Dan Allah telah mengingatkan kita dalam Al Qur’an, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am [6]: 151)

Jelaslah disini bahwa Islam menganjurkan untuk memiliki keturunan, dan menikah memang bukan semata soal menghalalkan yang sebelumnya haram. Tetapi dalam Islam pernikahan adalah awal membangun sebuah peradaban. Ya, karena dari pernikahan itulah akan lahir generasi yang kita harapkan dapat bermanfaat bagi ummat ini.

Jadi dari sekarang banyaklah berilmu soal pengasuhan anak, mulai dari segi kesehatan, pola asuh, sampai visi apa yang akan kita bawa bersama mereka. Mulailah menumbuhkan perasaan mencintai anak-anak, dan resapi betapa agung dan mulianya tugas kita sebagai ibu yang akan membesarkan mereka. Sebab para ikhwan sejati juga akan memilih akhawat muslimah yang akan menjadi ibu dari anak-anak mereka, bukan sekedar istri yang menyejukkan mata.

Well… Sampai sini dulu listnya. Terasa banyak PR, bukan? Insyaa’ Allah waktu yang kita punya dalam masa penantian ini, akan jauh lebih berkualitas jika kita isi dengan perbaikan diri dalam beberapa point di atas. Kalau dipikir-pikir, mana sempat kita menggalau, apalagi curcol-curcol di sosmed. Gak pentiiiing….

Bismillah, wanita muslimah yang baik, akan mendapat ikhwan yang baik pula, insyaa’ Allah. Saatnya meluruskan niat, menjaga hati dan menyibukkan diri dengan perbaikan tak henti. Semangat!

 

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu,
dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya,
lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.”
(Muttafaqun ‘Alaihi)

Artikel Menarik Lainnya







comments