Mungkin istilah jatuh cinta untuk saat ini sudah tak kekinian lagi setelah muncul ide tentang istilah bangun cinta jauh lebih menenangkan. Namun tetap saja kami kebingungan untuk mencari istilah yang tepat menggambarkan perasaan seseorang yang suka pada seseorang yang tentu adalah lawan jenisnya, entah itu sebelum menikah atau sesudah menikah. Hingga saat ini istilah jatuh cinta tetaplah kata yang tepat untuk mengkiaskannya.

Cinta, adalah hadiah terindah dari Allah SWT terlebih cinta pada lawan jenis  tentu sangatlah patut kita syukuri disaat tak sedikitnya saudara-saudara kita yang Allah uji dengan kelainan rasa cinta pada sesama jenisnya. Untuk yang ini tentu kita sama-sama do’akan semoga segera Allah angkat penyakitnya dan diberi ketabahan dalam menjalani ujian hidup ini. Cinta, pada lawan jenis adalah naluri yang sengaja Allah berikan pada setiap hamba-hambaNya sebagai anugerah sekaligus bisa menjadi musibah, sebagai nikmat sekaligus juga ujian.

***

Mencintai tak semudah jatuh cinta

Mungkin istilah bangun cinta lebih tepat kita sematkan pada fase ini, saat dimana sudah mencintai maka untuk terus memupuk cinta tersebut agar terus bertumbuh, memberi ketenangan, menebarkan kebermanfaatan dan membuahkan kebahagiaan tentu butuh perjuangan.

Komitmen, adalah ujian pertama bagi mereka yang jatuh cinta. Mereka yang merasakan jatuh cinta selain dihinggapi berbagai kebahagiaan tentu akan dihadapkan pada tiga pilihan. Pilihan pertama adalah mengungkapkan rasa cinta tersebut kepada orang yang dicintainya sebagai bentuk ekspresi dari cinta dan juga menunjukkan keberanian (katanya) meskipun itu dalam komitmen hubungan bernama pacaran. Pilihan kedua adalah bagi mereka yang menyadari kalau pilihan terbaik bagi jiwa yang mencinta adalah menjaganya dalam ketaatan dan sebaik-baik bentuk menjaga cinta dalam ketaatan tentu mengikatnya dalam akad pernikahan, dan pilihan ketiga mungkin ini adalah pilihan terberat yaitu saat dimana seseorang mencintai tetapi belum mampu menikahi dan dia memilih untuk menyimpan cintanya dalam diam dan sunyinya malam dan membangun kekuatan hati untuk mengikhlaskan jika suatu saat orang yang dicintainya lebih dahulu membangun cinta bersama yang lain, pilihan yang berat memang namun yakinlah ini tetap menjadi yang terbaik karena berlandaskan ketaatan pada Allah SWT.

Mencintai tentang penerimaan

Ketika mencintai mungkin kita memiliki alasan atau terkadang tanpa alasan sebagai sebab lahirnya rasa itu. Ada yang mungkin karena kecantikan atau ketampanan seseorang, karena kebaikan budinya, karena keindahan akhlak atau mungkin yang terlalu mainstream seseorang tersebut pernah mengorbankan sesuatu yang berarti untuk kita. Ya, terkadang memang banyak cara dan alasan untuk jatuh cinta atau sekedar memiliki rasa pada seseorang, tapi yang pasti adalah cinta selalu muncul sebab dari kebaikan seseorang.

Pada tingkatan selanjutnya setelah mengekspresikan cinta dalam bentuk pernikahan (tentu ini adalah pilihan terbaik) kita akan memasuki fase selanjutnya yaitu penerimaan. Mungkin disaat sekedar jatuh cinta seseorang hanya melihat hal-hal baik dan indah dari seseorang yang dia cintai akan tetapi setelah menikah, melewati fase perjalanan rumah tangga cepat atau lambat kamu akan menemukan hal-hal yang tidak kamu sukai dari pasanganmu. Disinilah terkadang banyak mereka pasangan-pasangan baru menikah yang mengeluh :

“Kok ternyata begini ya orangnya…”

“Kecewa !, beda banget sama yang dikenal dulu..”

“Kalau tau begini dari dahulu mending gak usah menikah dengannya…”

“Menyesal….”

“Yaudah kita cerai aja…”

Nah, karena ketidaksiapan akan hal ini banyak terjadi konflik dalam rumah tangga yang tak sedikit berujung pada perceraian. Maka perlu diketahui bersama dalam proses mencintai ada satu hal yang mesti disadari yaitu PENERIMAAN . Cinta akan terasa indah karena penerimaan yaitu cinta yang diterima kalau ditolak biasanya menyakitkan, pernikahanpun menjadi sah sebab ada kata penerimaan “saya terima nikahnya…”. Begitu juga dengan mencintai, ia akan terasa indah menyenangkan saat ada penerimaan, penerimaan akan hal baik dan juga hal buruk dari pasangan, menerima kalau masing-masing pihak memiliki kekurangan dan kelebihan. Menerima untuk saling mengingatkan, saling memaafkan dan akan belajar bersama untuk menjadi yang lebih baik lagi.

Mencintai butuh energi lebih 

Mencintai butuh energi lebih, terlebih dalam fase menerima. Baik itu energi kesabaran, energi melayani pasangan dengan pelayanan terbaik, energi untuk saling mengingatkan, energi untuk menerima saat diingatkan dan energi-energi lainnya yang mana sejatinya energi-energi inilah yang akan membuat bangunan cinta itu semakin tumbuh kokoh. Dan, energi terbaik dalam mencintai adalah energi ilahi, saat dimana memahami mencintai dan membahagiakan pasangan adalah ibadah dan sebagai bentuk dari ketaatan serta ketakwaan pada Allah SWT.

Mencintai tak sekadar pada ucapan

Ya, mencintai tak sekadar hanya pada ucapan “aku sayang kamu” , “aku cinta kamu” , “aku ingin selalu bersamamu” dan lain sebagainya. Meskipun konon katanya wanita menyukai kata-kata romantis tentu perlu diperhatikan kalau ia lebih menyenangi setiap perkataan tersebut diwujudkan dalam tindakan. Banyak cara untuk mencintai seperti menjadi pendengar yang baik bagi pasangan, memberikan hadiah, memberikan berbabagi kejutan, dan banyak lagi cara-cara lainnya yang tentu bisa kamu temukan sendiri, ingat pencinta itu mesti kreatif hehe.

Dengan begitu kita semua akan tau kalau mencintai memang tak semudah jatuh cinta tetapi mencintai jauh lebih indah dari hanya sekadar jatuh cinta, bagaimana ? Setuju? [Uda Agus/Elmina]

 

Artikel Menarik Lainnya







comments