Taubat sambalado (Baca : Sambel) , mungkin istilah ini sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, dimana seseorang melakukan kesalahan, melakukan maksiat lalu bertaubat dan menyesalinya. Sayangnya beberapa waktu kemudian diulangi lagi kesalahan yang sama lalu bertaubat lagi, hingga terjadi lagi siklus seperti sebelumnya berulang kali.

Imam Ibnu Al-jauzi Rahimullah menyindir pribadi yang seperti ini dengan ungkapan “Orang yang paling lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, namun tetap mengharapkan ampunan kebaikan dari Allah”. Terkadang memang kemaksiatan memang terasa begitu nikmat, ia bagai candu yang melenakan, membuat lupa diri dan jika maksiat telah menguasai kita maka mau tau mau, suka atau tidak diri kitalah yang akan dikendalikannya oleh maksiat.

Pada tahapan awal, ketaatan terasa begitu berat, menyesakkan dada dan membuat diri kita terkekang olehnya sehingga hidup dalam ketaatan seolah menjadikan diri penuh belenggu dan disesaki beban. Itulah sebabnya betapa banyak kita lihat orang yang menikmati kehidupan penuh maksiatnya dan semakin menjauh dari ketaatan pada Allah SWT. Namun sejatinya nikmatnya maksiat adalah sebuah rasa yang semu, sebab dibalik semua kenikmatan itu ada jurang keburukan yang luas terhampar, tak hanya keburukan di akhirat kelak tapi juga keburukan di dunia. Sementara beratnya ketaatan hanyalah rasa yang semu pula, karena sejatinya ketaatan pada Allah itu nikmat, sungguh nikmat sekali bahkan jika hati telah merasai kenikmatannya taat pada Allah niscaya akan mengalahkan rasa-rasa nikmat lainnya di dunia yang fana ini, itulah saat dimana kita telah sampai pada puncaknya keimanan. Tak mudah memang, berliku perjalanan menuju kesana dan gerbang awal dari perjalanan itu adalah taubat.

Jika kita sepakati gerbang menuju puncak keimanan itu adalah taubat, bagaimana kita akan sampai pada puncaknya jika kita hanya taubat “sambalado” tentu tak akan pernah sampai kecuali hanya bolak-balik keluar-masuk gerbangnya. Tentu tak akan pernah merasakan nikmatnya taat karena baru menjejaki langkah awal perjalanan menujunya kita sudah kembali lagi pada maksiat.

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya beruntung” (Q.S : An-nur : 31)

Sebuah ajakan yang begitu indah dari Allah SWT kepada kita para hambanya agar bertaubat kepada Allah SWT dan kita menjadi orang yang beruntung. Inilah dampak dari taubat yaitu keberuntungan, tentunya adalah keburuntungan di dunia dan juga di akhirat. Dan Allah juga memberi tau kepada para hambanya yang mau bermanja-manja dengan kemaksiatan (tidak mau bertaubat ) adalah orang-orang yang zalim sebagaimana termaktub dalam firmannya :

“Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”(Q.S : Al-Hujurat : 11)

Karena hidup adalah pilihan, Allah memberi kita hanya dua pilihan. Memilih jalan taubat dan menjadi orang yang beruntung atau memilih enggan bertaubat dan menjadi orang yang zalim, tidak ada pilihan kedua, ketiga dan seterusnya. Dan orang yang tidak mau bertaubat adalah sebodoh dan sezalim-zalimnya manusia karena tidak mau meninggalkan keburukan yang telah dilakukannya serta enggan kembali pada Allah SWT begitu syaikh Ahmad farid dalam buah karyanya Tazkiyatun nafs menguatkan.

Siapa saja bisa bertaubat

Mungkin ada yang bertanya-tanya, dosaku terasa menggunung tinggi, sangat banyak salah dan khilaf di masa lalu masihkah terbuka pintu taubat untukku? atau mungkin juga ada yang beralasan merasa terlambat untuk bertaubat ibarat pepatah “nasi sudah menjadi bubur” serta berbagai macam dalih lainnya. Untuk menemukan jawabannya mari kita telusuri kisah yang berasal dari hadits qudsi seorang anak muda yang telah membunuh 100 orang manusia namun pada akhirnya Allah menerima pertaubatannya, dan juga kisah seorang yang sudah berumur 40 tahun di saat pertaubatannya, dia bertaubat, taat pada Allah dan Rasulnya hingga akhirnya ia menjadi pejuang islam yang mengharumkan nama Islam, dan pada hari ini kita mengenalnya sebagai Khalid bin walid.

Allah itu maha pengampun, ia maha mengampuni dosa-dosa hambanya, Allah maha baik dan ia begitu baik pada hamba-hambanya. Maka sebagai seorang hamba janganlah sekali-kali kita berputus asa dari Rahmat Allah, selama masih ada waktu kesempatan maka selama itu jugalah tersedia kesempatan untuk bertaubat pada Allah SWT.

Bertaubat pada Allah berarti menyadari akan perbuatan yang dilakukan selama ini adalah kesalahan yang membawa pada keburukan, bertaubat pada Allah juga sebuah komitmen dan janji untuk menghentikan dan meninggalkan semua keburukan-keburukan yang pernah kita lakukan dan bertaubat pada Allah juga sebuah janji dan tekad untuk tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat.

Hidayah memang milik Allah, Allah memang berhak memberi kepada siapapun yang diinginkannya dan mengambil dari siapapun yang diinginkannya. Tapi kabar baiknya, kita bisa berdoa, meminta pada Allah agar dikaruniakan hidayah dan kita juga bisa berikhtiar menjemput hidayah dari Allah SWT, karena Allah maha penyayang dan pengasih yakinlah Allah akan menghadiahkannya pada hamba-hambanya yang memiliki niat yang kuat serta tekad yang bulat untuk kembali padanya sebagaimana janji indah Allah SWT :

Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari)

 

Artikel Menarik Lainnya







comments