Inilah bunga yang harumnya masih mewangi hingga saat ini, dia adalah mutiara umat islam yang kilau cahayanya masih menerangi hingga saat ini, ia adalah Fatimah Ra, putri Rasulullah Saw. Pada bagian ini kita akan mengepakkan sayap terbang ke masa lampau untuk menjejaki kehidupan mutiara umat ini, putri Rasulullah Saw.

Kelahiran dan pertumbuhan fatimah

Fatimah lahir di mekah, kala kaum quraisy merenovasi bangunan ka’bah, atau lima tahun sebelum Nabi diutus. Nabi begitu bahagia dengan kelahirannya, dan sejak pertama sudah merasa bahwa putrinya suatu hari nanti akan menjadi seorang wanita yang diberkahi.

Sang ibunda, Khadijah, mencurahkan cinta dan kasih sayang padanya. Untuk, itu Khadijah tidak menyusukan Fatimah pada wanita lain seperti kebiasaan bangsa Arab kala itu. Ia susui sendiri putrinya itu, sehingga Fatimah menyerap kesabaran, sifat malu, kesopanan, kesucian, menjaga diri, hikmah, adab, akhlak baik, dan segala sifat-sifat terpuji lainnya dari Khadijah.

Ibu Bagi Ayahnya

Di taman kedua orang tuanya, Fatimah Az-Zahra menempati kedudukan tingggi, mempelajari dari keduanya sesuatu yang tidak dipelajari pada gadis remaja Mekah ataupun di tempat-tempat lain. Ia mempelajari ayat-ayat Al-quran, di mana wahyu turun kepada Rasul terpecaya; Muhmmad dalam kondisi masih basah.

Dalam buaian iman, Az-Zahra tumbuh dewasa dengan mulia, tenang, dan dengan rasa malu. Sehingga ia tumbuh menjadi sosok berjiwa tenang, berhati kuat, memiliki batin nan jernih, hanya mengenal iman dan hanya dikenali iman.

Di dalam rumah penuh berkah itu, seiring perjalanan waktu, Az-Zahra tahu bahwa ia adalah keturunan mulia, memiliki kedudukan, dan kesucian yang tak tertandingi yang menyatukan keturunan terhormat, kemulian nasab, sifat-sifat mulia, budi pekerti baik. Sehingga, ia menjadi sosok wanita tiada duanya di antara kaumnya, bahkan di antara para putri dunia secara keseluruhan.

Selepas kepergian sang ibunda, Az-Zahra melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah nabi, mengurus sang ayah, mencurahkan segenap kasih sayang dan cinta padanya, hingga para sahabat Rasulullah memanggilnya ibu nabi, atau ibu ayahnya.

Bersama Budi Pekerti Mulia

Sebelum memasuki taman Az-Zahra nan keharumannya menebarkan aroma iman dan rasa malu kesegala penjuru, terlebih dahulu kita akan merenungkan sesaat berbagai budi pekerti mulia yang mengelilinginya.

Ayahnya adalah pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian yang diciptakan Allah sebagai bagi seluruh alam; Muhammad.

Ibunya adalah pemimpin kaum wanita seluruh alam, khadijah, wanita pertama yang masuk Islam, Jibril datang untuk menyampaikan salam Allah padanya, dan dialah yang diberi kabar gembira berupa sebuah rumah di surga dari mutiara cekung yang tiada kegaduhan ataupun keletihan di dalamnya.

Fatimah sendiri adalah pemimpin kaum wanita seluruh alam di masanya. Kedua anaknya, Hasan dan Husain adalah dua pemimpin para penghuni surga dan raihanah Rasulullah.

Suaminya Ali bin Abi Thalib yang mencintai Allah dan Rasulnya. Nabi pernah berkata kepadanya, “Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu” dan, “Tidakkah kau ridha bahwa kedudukanmu bagiku laksana Harun bagi Musa. Hanya saja tidak ada nabi setelahku”

Pamannya, pemimpin para syuhada, singa Allah dan Rasul-Nya; Hamzah bin Abdul Muthalib. Paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah Saw.

Paman ayahnya, Abbas bin Abdul Muthalib, sosok yang selalu melindungi tetangga, berbagi harta, membantu orang-orang kesusahan, dan memberi makan orang yang lapar.

Termasuk Golongan Wanita Yang Lebih Dulu Masuk Islam

Ketika Allah mengijinkan mentari hidayah terbit diatas bumi Jazirah dan mengutus Jibril kepada Rasulullah dengan membawa Al-quran berisi kebahagiaan seluruh umat manusia, sang ibunda (Khadijah) dalah rang pertama yang masuk islam.

Berikutnya disusul Fatimah dan saudari-saudarinya. Mereka leih dulu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Imam Az-Zarqani menuturkan;

Intinya, tidak diperlukan dalil menunjukkan merek (Khadijah, Fatimah dan saudari-saudarinya) lebih dulu masuk Islam. Karena mereka tumbuh kembang dalam buaian terbaik, kebapakan paling mulia, kasih sayang keibuan yang terbaik. Sehingga, mereka meniru sifat-sifat mulia sang ayah, dan buah akal sang iu yang tak tertandingi oleh kekuatan akal seorang wanita pun di antara kalangan terdahulu maupun kemudian. Inilah keunggulan yang dimiliki Fatimah dan tidak dimiliki wanita lain sebaya dengannya.

Pembelaan Fatimah Terhadap Nabi

Fatimah Ra ingin mengorbankan diri bahkan mengorbankan seluruh dunia demi sang ayah, Rasulullah Saw. Mari kita merenungkan peristiwa mencengangkan berikut.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ketika Nabi tengah shalat di dekat Ka’bah. Saat itu Abu Jahal dan teman-temannya tengah duduk. Ada yang berkata kepada temannya, “ siapa diantara kalian yang mau memngambil kotoran hewan sembelihan bani fulan untuk diletakkan dipunggung Muhammad saat sujud? Akhirnya orang paling celaka diantara bangkit, yaitu Uqbah bin Abu Muith taklama kemudian ia pun datang membawa kotoran dan menunggu. Ketiak beliau sedang sujud, ia letakkan kotran itu di pundak beliau. Aku hanya bisa melihat saja dan tidak bisa berbuat apa-apa. Andai saja aku bisa mencegahnya.

Mereka tertawa terbahak-bahak hingga tubuh mereka jatuh mengenai teman yang ada disampingnya. Saat, itu Rasulullah tengah sujud, beliau tidak mengangkat kepalanya hingga datang Fatimah. Fatimah lalu membersihkan kotoran itu dari punggung beliau, setelah itu baru Rasulullah Saw  mengangkat kepalanya seraya berdo’a: “Ya Allah, aku serahkan (urusan) Quraisy kepada-Mu.” sebanyak tiga kali.

Maka do’a tersebut membuat mereka ketakutan. (‘Abdullah bin Mas’ud meneruskan: Sebab mereka yakin bahwa do’a yang dipanjatkan di tempat itu akan diterima.) Kemudian Nabi Saw menyebut satu persatu nama-nama mereka: “Ya Allah, aku serahkan (urusan) Abu Jahal kepada-Mu, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Al Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Khalaf dan ‘Uqbah bin Abu Mu’aith.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut yang ke tujuh tapi aku lupa.

‘Abdullah bin Mas’ud berkata: Sungguh aku melihat orang-orang yang disebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, terbantai di pinggiran lembah Badar (dalam perang Badar).

Kematian Sang Ibu

Fatimah dirundung kesedihan yang medalam ketika sang ibunda Khadijah, sosok yang begitu penyayang iu meninggal dunia. Namun, ia mengharap pahala disisi Allah untuk meraih pahala orang-orang yang sabar.

Meski Khadijah sudah tiada, namun Rasulullah Saw yang juga mencintai Fatimah sepenuh hati masih hidup. Beliau menjaga dan menyayanginya, membagikan ilmu, perilaku dan akhlak padanya. Ia pun begitu mencintai sang ayah, karena beliau memiliki hati penyayang seandainya di bagi untuk seluruh umat manusia, tentu sudah cukup.

Hijrah Penuh Berkah

Ketika eskalasi ganguan orang-orang musyrik kepada para sahabat Rasulullah Saw meningkat, mereka diizinkan untuk berhijrah kemudian disusul Rasulullah Saw ke madinah bersama Abu Bakar. Sementara itu, beliau memerintahkan Ali untuk tidur ditempat tidur beliau untuk menyelamatkan beliau dari orang-orang musyrik.

Fatimah menyadari peran agung yang dijalankan Ali (tidur ditempat tidur Nabi untuk menggantikan beliau), berkorban demi Rasulullah. Untuk itulah Fatimah tidak pernah melupakan peristiwa besar yang dilalui Ali ini.

Balasan Sesuai Amal Perbuatan

Kala Ali tidur ditempat Nabi pada malam hijrah, berkorban demi beliau, sebagai balasannya, Allah dikemudian hari memberikan Fatimah kepadanya untuk membuatnya senang.

Dalam Al-Bidayah wan Nihayah, ibnu katsir menyebutkan, para pembesar quraisy berkumpul di darun Nadwah disiang hari. Menuturkan dialog antara mereka dengan iblis yang muncul dalam wujud orang tua Najd. Akhirnya, mereka menyepakati usulan Abu Jahal bin Hisyam;

“Menurutku, dari setiap kabilah kita panggil satu orang yang kuat, keturunan bangsawan dan biasa menjadi penengah dari setiap kabilah. Mereka semua, kita beri pedang tajam. Mereka lalu mengepung Muhammad, setelah itu menebas Muhammad sekali tebasan hingga mati. Dengan begitu kita bisa tenang dan terhindar dari ganguannya. Jika mereka berbuat demikian, maka tanggungannya akan terbagi untuk seluruh kabilah Quraisy, sehingga Bani Abdi Manaf tidak akan mampu menggerakkan kaumnya untuk melancarkan perang. Mau tidak mau mereka harus menerima diyat dari kita semua, lalu kita bayarkan diyat itu.”

Kaum Quraisy membubarkan diri setelah mencapai kesepakatan. Jibril kemudian datang kepada Rasulullah dan menyampaikan, “Malam ini, kau jangan tidur diatas kasur yang biasa kau tiduri.”

Di tengah kegelapan malam, mereka berkumpul di depan pintu Nabi. Mereka mengintai beliau lalu berencana menyerang beliau dengan tiba-tiba setelah tidur nanti. Pada saat kritis inilah Rasulullah bersabda kepada Ali, “Tidurlah ditempat tidurku, kenakan selimut berwarna hijau buatan Hadhramaut ini. Sungguh, kau dijamin aman dari gangguan mereka yang kau khawatirkan.” Biasanya, Rasulullah tidur mengenakan selimut ini.

Kemudian Rasulullah keluar rumah melewati pengepungan mereka sambil membaca, “Ya sin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah,” sampai firman-Nya, “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Yasin 1-9). Semua orang Quraisy yang mengepung, di kepala mereka terkena taburan tanah. Sementara beliau pergi meninggalkan mereka.

Mereka terus saja mengepung rumah beliau, tiba-tiba ada seseorang mendatangi mereka dan menyampaikan, “Apa yang kalian tunggu?” “Muhammad,” jawab mereka. Orang itu memberitahukan, “Kalian terpedaya. Demi Allah, Muhammad sudah melewati kalian sambil menaburkan pasir di kepala kalian, kemudian ia pergi. Apa kalian tidak menyadari apa yang kalian alami?” Mereka kemudian meraba kepala. Rupanya di kepala mereka ada tanah.

Mereka akhirnya mengintip dari celah pintu rumah dan melihat seseorang yang tengah tidur mengenakan selimut Rasulullah (Ali). Mereka berkata, “Demi Allah, itu Muhammad yang tengah tidur mengenakan selimut seperti biasanya.”

Namun saat subuh tiba, Ali bangun dari tempat tidur lalu mereka berkata, “Demi Allah, benar kata orang yang memberi tahu kita tadi.”

Sang pemberani Haidar, melindungi dakwah di balik sosok nabi. Ia bersedia menempati tempat tidur pada malam paling genting yang pernah dilalui dakwah. Sosok yang rela menempati tempat tidur, sementara ia tahu di depan pintu rumah sudah ada sejumlah orang yang menginginkan kepala orang yang tidur di atas tempat tidur itu. Kala tempat tidur itu menggelisahkan Ali selama satu malam demi sang Nabi, sebagai gantinya Allah membahagiakan tempat tidur Ali dengan Fatimah, putri nabinya yang mengenakan jilbab kesempurnaan.

Rasulullah memberinya istri dan kelapangan, sementara Ali menyerahkan baju besi Huthamiyah miliknya sebagai mahar.selain itu ia diberi selimut, bantal dari kulit berisi serabut, geriba air, ayakan, gelas, batu gilingan, dan dua kantong kulit. Fatimah diserahkan kepada Ali tanpa memiliki tikar apapun selain kulit kambing yang diisi serabut, yang digunakan alas tidur pada malam hari, dan tempat untuk mengolah amakanan pada siang hari. Fatimah mengurus segala keperluannya sendiri.

Demi Allah, pekerjaan itu sama sekali tidak membuatnya rugi.

Diriwayatkan dari Anas, ia berkata,”Rasulullah bersabda, ‘sungguh, surga merindukan tiga orang; Ali, Ammar, dan Salman’.” Sugguh balasan yang terbaik.

Allah Memerintahkanku Untuk Menikahkan Fatimah Dengan Ali

Pada tahun 2 Hijriyah, Ali menikahi dan menggauli Fatimah. Ini terjadi selepas perang Badar Al-Kubra. Rasulullah bersabda, “Sungguh, Allah memerintahkanku untuk menikahkan Fatimah dengan Ali.”

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia menuturkan, “Aku menyampaikan pinangan kepada Nabi untuk menikahi putri beliau, Fatimah.” Ali kemudian menjual baju besi dan sejumlah barang-barang miliknya. Hasil penjualan mencapai 480 dirham. Nabi memerintahkan agar dua pertiga hasil penjualan tersebut dibelikan wewangian dan seperti sisanya untuk pakaian. Beliau memuntahkan air ke dalam sebuah kendi air, lalu beliau perintahkan keduanya untuk mandi dengan air tersebut.

Ia adalah Fatimah binti Rasulullah pemimpin orang-orang terdahulu dan kedepannya. Namun demikian, maharnya hanya berupa baju besi Huthamiyah, juga diberi selimut, bantal dari kulit berisi serabut, geriba air, ayakan, gelas, batu gilingan, dan dua kantong kulit. Fatimah diserhakan kepada Ali tanpa memiliki tikar apa pun selain kulit kambing yang diisi serabut, yang digunakan alas tidur pada malam hari, dan tempat untuk mengolah makanan pada siang hari. Fatimah mengurus segala keperluannya sendiri.

Ibnu Jauzi menyatakan, “Demi Allah, pekerjaan itu sama sekali tidak membuatnya rugi.”

Sifat Malu Fatimah

Mari kita renungkan sifat malu Fatimah, sifat malu yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Disebutkan dalam salah satu riwayat hadist diatas, seperti disebutkan dalam riwayat Bukhari; Fatimah datang menemui Rasulullah untuk meminta seorang pelayan kepada beliau. ‘Ada perlu apa kau datang, putriku?’ tanya beliau. ‘Aku datang untuk mengucapkan salam padamu,” jawab Fatimah. Ia malu untuk meminta kepada beliau dan langsung pulang.

Pada tahun berikutnya, ia datang dan mengucapkan kata-kata yang sama. Riwayat lain kisah ini menyebutkan , Rasulullah mendatangi Fatimah dan Ali saat keduanya tertidur, dan seterusnya hingga akhir hadits. Dalam hadits ini disebutkan ; Nabi kemudian duduk di dekat kepala Fatimah, lalu Fatimah memasukkan kepala di dalam selimut karena malu pada ayahnya.

Diriwayatkan dari Anas ; Rasulullah datang menemui Fatimah dengan membawa seorang budak yang beliau berikan padanya. Saat itu Fatimah mengenakan baju yang jika digunakan untuk menutup kepala, kakinya terbuka, dan jika digunakan untuk menutupi kaki, kepalamya terbuka. Saat Nabi melihat sikap Fatimah, beliau bersabda, “Tidak kenapa bagimu, yang ada hanya ayah dan budak milikmu.”

Bangunlah, wahai Abu Turab!

Nabi sangat mencintai Ali dan Fatimah, hingga suatu hari beliau memanggil Ali, Fatimah, dan Husain lalu beliau mengucapkan “ Ya Allah! Mereka inilah keluargaku.”

Riwayat lainnya menyebutkan ; “Ya Allah! Mereka ini adalah ahlul baitku. Ya Allah! Maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.”

Pernah suatu ketika terjadi sesuatu antara Fatimah dan Ali seperti yang umumnya dialami  para suami-istri. Ali marah lalu meninggalkan rumah. Ia pergi ke masjid. Nabi langsung menangani situasi ini dengan hikmah dan kasih sayang.

Rasulullah datang ke rumah Fatimah, beliau tidak melihat Ali ada di rumah. “Mana saudara sepupumu?” Terjadi sesuatu antara aku dan dia. Ia marah padaku lalu keluar dan tidak istirahat siang di rumahku. ‘Rasulullah kemudian berkata kepada seseorang. “Carilah di mana dia.”  Tidak lama ia kembali lalu menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, dia tidur di masjid.’ Rasulullah mendatanginya saat sedang tidur, sementara selendangnya terjatuh dari punggungnya sehingga debu mengenai punggungnya lalu berkata, ‘Bangunlah wahai Abu Turab! Bangunlah wahai Abu Turab!’

 Dengan sentuhan kasih sayang dan kata-kata lembut yang terucap dari mulut Rasulullah ini, Ali melupakan semua yang terjadi.

Nilai dan Kedudukan Fatimah di Mata Nabi

Diriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, “Rasulullah bersabda,’Tidaklah seorang pun membuat kami, ahlul bait, maarah melainkan pasti Allah memasukannya ke dalam neraka.”

Diriwayatkan dari Hudzaifah ; Nabi bersabda, “Seorang malaikat turun lalu menyampaikan kabar gembira kepadaku bahwa Fatimah adalah pemimpin kaum wanita penghuni surga”

Nabi mengkhawatirkan dunia dan segala kesenangan fana terhadap Fatimah.

Diriwayatkan dari Tsauban, ia berkata “Rasulullah masuk menemui Fatimah, saat itu aku mengikuti beliau. Fatimah mengenakan kalung emas di lehernya.. Ia berkata,’Abu Hasan menghadiahkan (kalung ini) kepadaku.’ Beliau kemudian bersabda.’Wahai Fatimah ! Sukakah engkau jika orang-orang berkata,’ Si Fatimah binti Muhammad memegang kalung dari neraka!’ setelah itu beliau keluar.

Kalung itu kemudian Fatimah gunakan untuk membeli seorang budak, lalu ia memerdekakan budak itu. Nabi kemudian mengucapkan “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari neraka.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda “Wanita penghuni surga terbaik adalah Khadijah binti Khuwalaid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim”

Nabi bersabda, ”Cukuplah bagimu di antara wanita seluruh alam ; Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwalaid, Asiyah binti Muzahim dan Fatimah binti Muhammad ”

Diriwayatkan dari Usamah, Nabi ditanya .”Siapa orang yang paling engkau cintai? ’Fatimah’” jawab beliau.

Diriwayatkan dari Buraidah, ia berkata, “Wanita yang paling dicintai Rasulullah adalah Fatimah, dan lelaki yang paling beliau cintai adalah Ali.”

Rasulullah Saw mendidik putrinya agar tidak terlena oleh indahnya dunia serta mencukupkan diri hanya dengan surga yang telah Allah karuniakan untuknya.

Fatimah, Teladan Para Wanita Sepanjang Masa

Fatimah Ra adalah teladan muslimah sepanjang masa, ketaatannya, akhlaknya dan ibadahnya patut jadi teladah hingga saat ini. Dia adalah mutiara paling berharga yang dimiliki oleh umat hingga akhir zaman nanti.

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah, ia berkata. “Tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih mirip fisik, perilaku, dan tingkah lakunya dengan Rasulullah Saw melebihi Fatimah, semoga Allah memuliakan wajahnya.”

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Tidak pernah aku melihat seorang pun yang tutur katanya  lebih jujur melebihi Fatimah, kecuali ayahnya.”

Diriwayatkan dari Amr bin Dinar, Aisyah berkata,”Tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih baik dari Fatimah, kecuali ayahnya.”

Setiap kali ditanya tentang Ali dan Ahlul Baitnya., Imam Ahmad selalu berkata, “Ahlul bait tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun.”

Dua Pemimpin Pemuda Penghuni Surga

Belum juga berlalu satu tahun selepas pernikahan penuh berkah itu. Allah sudah memberikan kebahagiaan kepada Ali dan Fatimah. Fatimah melahirkan cucu pertama Rasulullah Saw ; Hasan bin Ali pada tahun 3 Hijriyah. Nabi begitu bahagia karenanya. Beliau yang men-tahnik  sendiri, memberi nama Hasan, mencukur rambutnya dan menyedekahkan perak seberat rambutnya kepada orang-orang fakir. Saat Hasan berusia satu tahun, Husain lahir pada bulan Sya’ban tahun 4 Hijriyah.

Buah penuh berkah silih berganti muncul. Pada tahun 5 Hijriyah, Fatimah melahirkan bayi perempuan lalu diberi nama Zainab oleh kakeknya. Dua tahun kemudian, Fatimah melahirkan anak perempuan lagi yang diberi nama Ummu Kultsum.

Nabi sangat mencintai Hasan dan Husain. Beliau menuturkan tentang keduanya, “Keduanya adalah raihanah-ku dari dunia.”

Nabi bersabda, “Hasan dan Husain adalah dua pemimpin penghuni surga.”

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid , Nabi menggendong Hasan dan Husain, beliau mengucapkan, “Ya Allah! Sungguh, aku mencintai keduanya, ,maka cintailah keduanya.” Atau seperti yang beliau katakan.

Diriwayatkan dari Abu Bakrah, ia berkata “Aku mendengar Nabi bersabda di atas mimbar, sementara Hasan di samping beliau, sesekali beliau menatap ke arah orang-orang dan sesekali ke arah Hasan, ‘Anakku ini seorang pemimpin. Mudah-mudahan dengannya Allah mendamaikan dua kubu di antara kaum muslimin.”

Diriwayatkan dari Uqbah bin Harits, ia berkata, “Aku melihat Abu Bakar menggendong Hasan sambil berkata, ‘Dia mirip nabi, tidak mirip Ali.” Ali tertawa mendengarnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia bekata, “Suatu ketika, Nabi pergi pada siang hari. Beliau tidak berbicara denganku, aku juga tidak berbicara dengan beliau, hingga kami tiba di pasar Bani Qainuqa. Beliau kemudian menghampiri halaman rumah Fatimah lalu duduk. Beliau lalu memanggil Hasan. ‘Mana si kecil, Mana si kecil?” Fatimah menahan Hasan sesaat, aku kira ia memandikannya dahulu dan ia kenakan kalung padanya. Tidak lama, Hasan datang dengan berlari, hingga beliau mendekat dan menciumnya. Beliau kemudian mengucapkan, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah siapa yang mencintainya’.

Lembaran-Lembaran Emas Jihad Fatimah

Fatimah memiliki serangkaian kisah yang terukir di sejarah dengan kata-kata cahaya. Saat perang Uhud, sebagian besar para pasukan pemanah melanggar intruksi Rasulullah dan turun meninggalkan gunung. Sehingga pasukan musyrik menyerbu kaum muslimin dan membunuh sebagian besar diantaranya.

Diriwayatkan dari Abu Hazim, ia mendengar Sahal bin Sa’ad ditanya tentang luka Rasulullah saat perang Uhud, ia menjawab “Wajah beliau terluka, gigi seri beliau pecah dan besi pelindung kepala beliau remuk. Fatimah yang membasuh luka beliau, Ali bin Abi Thalib yang menuangkan air dengan menggunakan tameng perang. Namun, saat Fatimah melihat darah semakin mengucur kala dibasuh dengan air, ia lantas mengambil sobekan tikar kemudian dibakar dan ditempelkan di bagian luka, hingga darah berhenti mengalir.”

Dalam peperangan ini, paman beliau Hamzah mati syahid. Beliau pun dirundung kesedihan yang mendalam.

Fatimah tetap menjalani kehidupan jihad setiap saat seperti yang dilalui Nabi dan para sahabat. Mereka menghabiskan seluruh hidup hanya untuk beribadah, menuntut ilmu, berdakwah menuju Allah dan berjihad di jalan-Nya.

Fatimah ikut serta dalam perang Khandaq dan Khaibar. Pada peperangan ini, Nabi memberikan bagian untuknya sebanyak 85 wasaq gandum Khaibar. Setelah itu, ia ikut hadir dalam peperangan penaklukan Mekah.

Ia mempunyai kisah cemerlang kala menolak untuk memberikan jaminan aman terhadap Abu Sufyan bin Harb saat diminta untuk memberikan bantuan padanya  guna melobi Rasulullah. Abu Sufyan menemui Ali bin Abi Thalib. Saat itu, Fatimah ada di dekatnya, sementara Hasan masih merangkak dengan kedua tanganya. Abu Sufyan berkata, “Ali Engkau adalah orang yang paling dekat denganku dari sisi kerabat. Aku datang untuk suatu keperluan, aku tidak akan kembali tanpa membawa hasil apa pun seperti dulu. Untuk itu, tolonglah aku untuk melobi Muhammad.’

Ali berkata, ‘Apa-apaan kamu ini Abu Sufyan! Rasulullah sudah mengambil keputusan bulat, dan kami tidak akan bisa mempengaruhi beliau’

Abu Sufyan lantas memandang ke arah Fatimah lalu berkata kepadanya. ‘Sudihkah kau menyuruh anakmu ini untuk memberikan perlindungan untuk orang-orang, sehingga kelak ia akan menjadi pemimpin Arab hingga akhir masa?’ Fatimah berkata, ‘Demi Allah, anakku masih terlalu kecil untuk bisa memberi perlindungan aman. Siapa pun tidak akan berani untuk memberi perlindungan dengan melangkahi Rasulullah.

Duka dan Bahagia

Sebelum Nabi wafat, Fatimah datang menemui beliau lalu mendengarkan kata-kata yang menyenangkan sekaligus menyedihkan dari beliau. Ia mengalami duka dan bahagia dalam saat yang bersamaan, hingga ia menangis lalu setelah itu tertawa.

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata , “Kami istri-istri Nabi berkumpul di dekat beliau, tak seorangpun di antara kami yang tidak hadir. Kemudian Fatimah datang. Ia berjalan, cara berjalannya sangat mirip seperti jalannya Rasulullah begitu melihatnya, beliau menyambut sambil  mengucapkan, ‘Selamat datang, putriku!”

Nabi mendudukan Fatimah di sebelah kanan atau kiri beliau, setelah itu beliau membisikkan sesuatu kepadanya, ia pun menangis. Setelah itu beliau berbisik lagi kepadanya, ia pun tertawa.

Aku kemudian bertanya kepadanya, ‘Rasulullah membisikkan suatu rahasia kepadamu lalu kau menangis.Katakan padaku demi hakku yang wajib bagimu, kenapa kau tertawa dan kenapa kau menangis?’

Fatimah berkata, ‘Aku tidak akan memberitahukan rahasia Rasulullah (pada siapa pun).’

Setelah Nabi wafat, aku bertanya kepada Fatimah. ‘Aku meminta kepadamu demi hakku yang wajib bagimu, beritahukan apa yang Rasulullah bisikan kepadamu?’

Fatimah berkata , ‘Untuk sekarang, baiklah! Rasulullah berbisik kepadaku bahwa Jibril membacakan Al-Qur’an kepadaku satu kali setiap, dan pada tahun ini ia membacakan Al-Qur’an padaku sebanyak dua kali. Menurutku, ini menandakan ajalku sudah dekat, maka bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena sebaik-baik pendahulu adalah aku bagimu.’

Aku pun menangis, Setelah itu beliau berbisik kepadaku. Beliau berkata, “Tidakkah kau senang menjadi pemimpin kaum wanita mukmin – atau beliau mengatakan. ‘Pemimpin kaum wanita seluruh alam – atau beliau mengatakan. ‘Pemimpin kaum wanita umat ini?’ meninngal setelah beliau. Aku pun terawa.”

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata kepada Fatimah, ‘Aku melihatmu saat kau menunduk kepada Rasulullah lalu kau menangis. Setelah itu, menunduk kepada Rasulullah lagi lalu kau tertawa?’ Fatimah berkata, ‘Beliau memberitahukan kepadaku bahwa beliau akan meninggal dunia karena penyakit beliau, aku pun menangis. Setelah itu, beliau memberitahukan kepadaku bahwa aku keluarga beliau yang lebih dulu menyusul beliau. Beliau juga bersabda, ‘Engkau pemimpin kaum wanita penghuni surga, kecuali Maryam binti Imran,’ Aku pun tertawa’.”

Detik-detik Terakhir Kehidupan Nabi Saw

Pada pagi hari di mana Nabi pulang ke haribaan ilahi, beliau keluar untuk menyaksikan buah jerih payah dan kesabaran beliau. Beliau kemudian memberikan tatapan perpisahan kepada para sahabat yang mencintai beliau dan juga sebaliknya.Mereka yang saat itu tengah shalat nyaris saja tergoda karena rasa senang melihat Nabi, mereka kira beliau sudah sembuh. Mereka tidak tahu kalau Nabi memberikan tatapan perpisahan kepada mereka hingga bertemu nanti di telaga beliau dan di surga Allah. Andai mereka tahu tentu hati mereka remuk redam.

Kata-kata terakhir yang diucapkan Rasulullah adalah, “Ya Allah! (bersama) golongan tertinggi.”

Diriwatkan dari Anas, ia berkata,” Saat sakit Nabi kian parah, beliau pingsan. Lalu Fatimah berkata,’ Oh, beratnya musibah yang menimpa ayahanda!’ Nabi berkata, ‘Ayahmu tidak akan lagi tertipa musibah setelah hari ini, wahai putriku!’  Setelah nelaiu wafat. Fatimah berkata ‘Oh, Ayahanda! Engkau penuhi panggilan Rabb yang memanggilmu.Oh, Ayahanda! Surga Firdaus tempat kembalimu. Oh, Ayahanda! Kepada Jibril kami menyampaikan kabar kematianmu’ Setelah Nabi wafat, Faitimah berkata kepada Anas bin Malik, ‘Wahai Anas! Senangkah kalian menaburi Rasulullah dengan tanah’.”

Rasulullah Saw akhirnya pergi hingga Fatimah dirundung kesedihan mendalam hingga nyaris mengoyak hatinya. Ia duduk mengulang kembali memori-memori kenangan sejak masih kecil, hidup dalam kasih sayang dan cinta kasih sang ayah, Muhammad dan ibunda Khadijah. Sehingga semua kesedihan menumpuk di hati. Namun, Rasulullah telah mengajarkan arti kesabaran dan kerelaan hati, sehingga ia hadapi semua musibah yang menimpa dengan sabar dan mengharap pahala. Dan, tidak ada musibah yang lebih besar dari kematian Rasulullah.

Nabi bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian tertimpa musibah, maka ingatlah musibah kematianku yang menimpanya, karena ia (kematianku) adalah musibah terbesar.”

Seperti Itulah Seharusnya Rumah Tangga Seluruh Kaum Muslimin

Kala sang ayah meningal dunia, Fatimah mengharap warisan peninggalannya. Ia pun datang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar kemudian menyampaikan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Nabi bersabda, ”Kami tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.” Fatimah marah, namun setelah itu ia melupakan itu.

Isma’il bi Abu Khalid meriwayatkan dari Asy-Sya’bi, ia berkata,”Saat Fatimah terbaring sakit, Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian datang meminta izin menemuinya. Ali berkata, ‘Fatimah, Abu Bakar meminta izin untuk menemuimu. Apakah kau mengizinkannya?” Fatimah bertanya kembali kepada Ali, ’Apa kau ingin aku memberinya izin?’ “Ya,” sahut Ali.

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Fatimah mengamalkan sunnah. Ia tidak mengizinkan seoramg pun masuk ke dalam rumah tanpa izin suami.”

Abu Bakar kemudian masuk dan meminta Fatimah ridha. Abu Bakar berkata, “Demi Allah, tidaklah aku meninggalkan kampung halaman, harta benda, keluarga, dan kabilah selain demi mencari ridha Allah, Rasul-Nya dan ridha kalian (ahlul bait).” Abu Bakar terus meminta ridha, hingga akhirnya ia ridha (tidak marah lagi).

Maka seperti itulah rumah tangga-rumah tangga suci. Seperti itulah wanita shaleha salaf terbaik, ia tidak mengizinkan seorang pun memasuki rumah tanpa izin suami dan saat suami ada.

Tibalah Saat Berpisah

Fatimah sakit keras dan tidur di atas ranjang kematian setelah melalui perjalanan panjang penuh duka dan bahagia. Anak-anaknya duduk menatapnya dalam balutan kasih sayang dan iba.

Fatimah Az-Zahra membuka kedua matanya nan sayu, melihat sang suami dirundumg kesedihan, melihat Hasan dan Husain menitikkan air mata, sementara kedua putrinya : Zainab dan Ummu Kultsum nyaris meleeh karena sedih.Fatimah ingin membahagiakan mereka semua, hanya saja bibirnya keluh tak mampu berkata.

Kematian mendatanginya dan ia meninggalkan dunia tanpa sedih, karena ia tidak pernah bersaing memperebutkan kejayaan ataupun kebanggan dunia. Ia tidak pernah silau oleh kenikmatan ataupun hiasan dunia. Ia akan menjadi mayit yang di tangisi, akan meninggalkan dunia yang tiada sedikit pun memiliki kebaikan selain takwa. Sebab, takwa adalah bekal terbaik; sebaik-baiknya pakaian adalah takwa. Takwa adalah pakaian dan bekalnya.

Pada hari Selasa, tiga hari berlalu dari bulan Ramadhan tahun 11 Hijriyah, ruhnya yang tenang keluar dan kembali kepada Rabbnya dalam keadaan ridha lagi diridhai. Fatimah Az-Zahra meninggal dunia, suaminya pun menangis, Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum meneteskan air mata atas kepergian seorang ibu paling agung di alam nyata. Fatimah Az-Zahra, pemimpin wanita penghuni surga, putri pemimpin wanita penguni surga, Khadijah.

Orang-orang berkerumun di Masjid Nabawi. Duka tak tertahan menimpa hati mereka. Kematian Fatimah Az-Zahra mengingatkan kembali kesedihan mereka atas kematian ayahnya, Rasulullah. Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah Rasulullah wafat. Jenazahnya dishalati Ali dan pamannya, Abbas bin Abdul  Mutthalib. Di tengah kesunyian malam, jenazah dibawa pergi ke Baqi’, karena di sana pulalah dimakamkan saudarinya yaitu Zainab,Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Sumber : Kisah Fatimah Binti Rasulullah Saw disarikan dari buku 35 Shahabiyah Rasul karya Syaikh Mahmud Al-Mishri

Artikel Menarik Lainnya







comments