Mari kita awali perjalanan menelusuri jejak hidup para shahabiyah rasul dengan mengenal sosok wanita agung nan mulia. Beliaulah orang pertama yang membenarkan dengan hati dan ucapannya kenabian Rasulullah Saw, beliaulah orang pertama dari kaum wanita yang beriman kepada Allah Swt, orang pertama yang mendapat kabar gembira tentang surga, orang pertama yang mendapat salam dari Allah Swt. Beliaulah istri pertama dari Rasulullah Saw yang tentu juga beliau adalah istri yang paling Rasulullah cintai. Beliaulah istri yang tangguh dan juga ibu yang mumpuni dalam mendidik anaknya, ia korbankan segenap harta dan jiwanya untuk mendampingi perjuangan Rasulullah Saw.

Dialah Khadijah R.a

Dialah Ummul mukminin, pemimpin kaum wanita seluruh alam pada masanya. Ummul Qasim binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah. Rasulullah Saw memuji dan melebihkan Khadijah Ra di antara seluruh istri-istri beliau, hingga Aisyah berkata, “Aku tidak cemburu pada seorang wanita pun seperti rasa cemburuku pada Khadijah, karena Rasulullah Saw sering kali menyebutnya.”
(H.r.Bukhari).

Salah satu bentuk dari cinta Rasulullah Saw pada Khadijah ra, beliau tidak menikahi seorang wanita pun sebelumnya, beliau mendapatkan sejumlah anak darinya, dan beliau tidak memadunya hingga ia meninggal dunia. Beliau dilanda kesedihan yang teramat sangat setelah Khadijah Ra meninggal.

Khadijah Ra adalah wanita yang berakal, cerdas, terjaga dan mulia di masa jahiliyah. Beliau adalah wanita yang sangat menjaga kehormatan dan kesucian dirinya meskipun beliau kala seorang janda. Pada masa jahiliyah ia dijuluki Ath-Thahirah (wanita suci) Ibunya adalah Fatimah binti Zaidah Al-Amiriyyah begitu penjelasan dari  Zubair bin Abu Bakkar. Khadijah Ra dilahirkan sekitar lima belas tahun sebelum tahun gajah di Ummul Qura (Mekkah)

Sebelum menikah dengan Muhammad Saw  Khadijah Ra memiliki riwayat pernikahan dengan dua orang bangsa arab diantaranya adalah Abu Halah bin Zararah At-Tamimi. Setelah Abu Halah meninggal, ia menikah dengan Utaiq bin Abid bin Abdullah bin Amr bin Mahkzum.

Khadijah Ra adalah seorang saudagar yang kaya, Allah mengaruniakan kelimpahan rezeki kepadanya. Ia memiliki kesuksesan di bidang niaga hingga kafilah dagang yang dimilikinya setara dengan seluruh kafilah dagang kaum Quraisy. Akan tetapi ia belum menemukan kebahagiaan yang selama ini dicarinya. Ia memiliki harapan membangun rumah tangga yang penuh dengan pengorbanan, cinta dan pemberian. Ia juga menginginkan suaminya menjadi seorang pemimpin. Semua harapan ini sirna, diputus oleh kematian.

Meskipun ia telah dua kali menikah, dan dari kedua pernikahan itu belum mewujudkan impiannya. Khadijah Ra tidak putus asa, ia tetap teguh memegang impiannya, ia yakin suatu saat Allah akan menjadikan mimpi-mimpinya menjadi sebuah kenyataan, ia yakin akan beroleh kebahagiaan yang selama ini dicita-citakannya.

Khadijah Ra memiliki seorang sepupu Waraqah bin Naufal namanya, ia memeluk agama Nasrani di masa jahiliyahnya. Ia menulis kitab (injil) dengan bahasa Ibrani seperti yang Allah kehendaki untuk ia tulis. Ia sudah tua renta dan buta. Darinya Khadijah sering mendengar cerita tentang para Nabi dan agama. Ia adalah tempat Khadijah Ra mengadu, berkeluh kesah serta mencurahkan segala kegundahannya. Yang kita tau bersama ketika Rasulullah Saw menerima wahyu pertama Khadijah Ra juga mengajak suaminya untuk menemui Waraqah bin Naufal.

Khadijah, mimpi memeluk bintang dan menemukan mutiara hidupnya

Pada suatu malam yang kelam, saat ia terlelap tidur Khadijah Ra memimpikan matahari besar turun dari langit Mekah dan berada di dalam rumahnya, memenuhi seluruh sisi rumah dengan cahaya dan keindahan. Cahaya dari dalam rumah memancar ke sekelilingnya hingga menyilaukan jiwa sebelum menyilaukan pandangan karena begitu terang. Akhirnya Khadijah Ra pun terbangun, namun mimpi yang baru saja dirasakannya masih terasa jelas di alam pikirannya. Pada pagi harinya Khadijah Ra bergegas menemui sepupunya Waraqah bin Naufal, ia berniat menyampaikan mimpinya semalam, berharap sepupunya ini bisa menafsirkan makna dari mimpi tersebut.

Khadijah masuk menemui Waraqah. Rupanya Waraqah tengah membaca salah satu lembaran di antara lembaran-lembaran samawi yang ia sukai. Ia membaca baris demi baris lembaran demi lembaran tersebut setiap hari, pada pagi dan sore. Begitu mendengar suara Khadijah Ra, ia segera menyambut kedatangan saudarinya ini.

“Khadijah? Ath-Thahirah?”

“Benar, benar,” sahut Khadijah.

“Ada apa kau datang pagi-pagi seperti ini.” Tanya Waraqah dengan heran.

Khadijah kemudian duduk dan menuturkan perihal mimpi yang ia alami satu persatu secara jelas dan mendetail.

Waraqah mendengar penuturan Khadijah dengan penuh keseriusan, membuatnya terlupa akan lembaran samawi yang ada di tangannya, seakan ada sesuatu yang menggugah perasaan dan membuatnya menyimak mimpi itu hingga akhir.

Belum juga Khadijah menuntaskan pembicaraan, wajah Waraqah berbinar, senyuman senang terlukis di kedua bibirnya. Selanjutnya dengan tenang ia berkata kepada Khadijah, “Bergembiralah wahai saudara sepupuku! Jika Allah membenarkan mimpimu, cahaya nubuwah akan masuk ke dalam rumahmu, dan dari sana cahaya para Nabi akan memancar.”

Mendengar tafsiran mimpi tersebut wajah Khadijah berbinar bahagia, perasaan penuh bahagia menyelundup di relung-relung jiwanya dan harapan akan cita-cita yang sudah ada selama ini semakin berkobar nyalanya. Khadijah semakin yakin dengan cita, harapan dan impiannya. Ia berharap suatu ketika akan menjadi istri dari laki-laki mulia, pemimpin umat dan juga seorang utusan Allah Swt sebagaimana penjelasan dari sepupunya, Waraqah bin Naufal.

Setelah mengalami mimpi itu, dan mengetahui maknanya Khadijah menjadi lebih selektif dalam memilih laki-laki yang akan menjadi suaminya. Ketika ada pemimpin Quraisy yang datang meminang, Khadijah selalu mengukur lelaki tersebut dengan mimpi yang ia alami dan penafsiran yang ia dengar dari saudara sepupunya. Namun hingga saat ini setiap laki-laki yang datang tidak ada satu pun yang memiliki kecocokan dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh penutup para Nabi sebagaimana diceritakan oleh sepupunya. Khadijah pun menolak mereka dengan cara yang baik, ia menyampaikan alasan belum ada keinginan untuk menikah. Ia yakin Allah sedang menguji kesabarannya, Ia yakin jika waktunya telah tiba nanti Allah akan pertemukan dia dengan laki-laki itu, seorang Nabi yang akan menutup kenabian sebelumnya. Keyakinan tersebutlah yang memberinya kekuatan untuk terus bersabar menunggu.

Ibnu Ishaq menuturkan bahwa Khadijah ra adalah saudagar wanita yang memiliki kemuliaan dan harta. Ia biasa menyewa jasa sejumlah laki-laki untuk memperdagangkan harta miliknya. Sementara Quraisy sendiri adalah kaum pedagang. Ketika mendengar kejujuran tutur kata, besarnya amanat, dan kemuliaan akhlak Rasulullah Saw Khadijah mengirim utusan untuk menemui beliau.

Khadijah menawarkan kepada Muhammad untuk memperdagangkan hartanya ke syam. Ia juga memberikan imbalan terbaik yang pernah ia berikan kepada para pedagang lain. Beliau nantinya tidak sendiri, tapi akan ditemani budak milik Khadijah bernama Maisarah. Rasulullah Saw pun menerima tawaran Khadijah ini. Beliau kemudian pergi membawa harta milik Khadijah dengan ditemani budak miliknya, Maisarah, hingga tiba di Syam.

Rasulullah Saw sejenak beristirahat di bawah naungan pohon di dekat biara seorang rahib. Dari atas biara, si rahib melihat Maisarah lalu bertanya, “Siapa lelaki yang istirahat di bawah pohon itu?” Maisarah menjawab, ‘Dia orang Quraisy dari penduduk tanah Haram.’ Si rahib kemudian berkata kepadanya, ‘Tidak ada seorang pun yang istirahat di bawah pohon itu selain nabi’.”

Mendengar berita itu Maisarah terkejut, ditambah lagi dia selalu melihat dua malaikat menaungi Muhammad Saw dari teriknya matahari. Dalam berdagang pun Muhammad terhitung orang yang pandai berdagang, semua barang-barang yang dibawanya dari Mekah habis terjual, lalu beliau membeli barang-barang yang beliau beli. Setelah itu, beliau pulang ke Mekah untuk kembali dijual di Mekah, dari sinilah akhinya beliau mendapatkan untungan berlipat.

Sesampai di Mekah Maisarah menyampaikan apa yang ia lihat dari Muhammad Saw, ia menceritakan kepribadiannya yang mulia selama di perjalanan dan saat berdagang, kejujurannya, kabar gembira dari rahib serta juga Muhammad yang selalu dinaungi oleh dua malaikat menjaganya dari terik panas matahari.

Khadijah mulai merenung dengan semua hal yang diceritakan oleh Maisarah padanya, ia terus memikirkan berbagai penuturan dan kisah Maisarah tentang Muhammad Saw. Juga kata-kata sepupunya, Waraqah, bahwa Muhammad adalah nabi umat ini dan mimpi matahari turun dari langit meka lalu masuk ke dalam rumahnya. Semua hal itu selalu terbayang dalam benaknya. Kata-kata Waraqah juga terus menerus terngiang dalam relung hatinya, “Bergembiralah wahai saudara sepupuku! Jika Allah membenarkan mimpimu, cahaya nubuwah akan masuk ke dalam rumahmu, dan dari sana cahaya penutup para nabi akan memancar.”

Khadijah merasa kalau orang yang selama ini ia impikan, mutiara yang selama ini dia cari adalah sosok Muhammad Saw. Ia memiliki banyak bukti dan tanda bahwa benar Muhammad Saw adalah penutup para Nabi. Ia pun sangat berharap bisa menjadi istri Muhammad.

Hingga pada suatu ketika ia membincangkan perihal ini kepada sahabatnya Nafisah binti Munabbih, temannya datang dan duduk untuk berbincang. Hingga akhirnya Nafisah mampu mengungkap rahasia tersembunyi di balik wajah dan intonasi tutur kata Khadijah.

Nafisah menenangkan rasa takut dan segala emosi Khadijah. Nafisah mengingatkan bahwa ia adalah wanita terhormat, keturunan bangsawan, punya harta dan kecantikan. Nafisah memperkuat kata-katanya ini dengan banyaknya laki-laki terhormat yang datang meminangnya. Nafisah bersedia menyampaikan rasa dan harapan dari hati sahabatnya ini kepada pemuda nan diimpikan Muhammad Saw.

Begitu keluar dari rumah Khadijah, Nafisah lansung menemui Muhammad dan berbicara kepada beliau agar menikahi Ath-Thahirah.

“Muhammad ! Kenapa kau tidak menikah ?” Tanya Nafisah.

“Aku tidak punya apa-apa untuk menikah,” sahut beliau.

“Jika engkau dicukupi dan diajak menikah dengan seorang wanita yang berharta, cantik, dan mulia, apakah kau mau menerimanya?”

“Siapakah dia?” sahut beliau dengan nada tanya.

“Khadijah binti Khuwailid,” jawab Nafisah seketika.

“Kalau dia mau, aku menerima (tawaran itu),” sahut beliau.

Nafisah bergegas pergi untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada Khadijah. Beliau sendiri mengutarakan niat untuk menikahi khadijah kepada para paman beliau.

Abu Thalib, Hamzah, dan lainnya kemudian pergi menemui paman Khadijah, Amr bin Asad, untuk meminang keponakannya sambil membawa mahar.

Pada pertemuan ini, Abu Thalib menyampaikan pinangan. Abul Abbas Al-Mubarrid Ra dan lainnya menyampaikan bahwa Abu Thalib menyampaikan khotbah penyerahan. Ia mengatakan :

“Segala puji bagi Allah telah menjadikan kita sebagai keturunan Ibrahim, Ismail, Ma’ad, dan Mudhar. Yang telah menjadikan kitab pengurus rumah-Nya, pemimpin tanah suci-Nya, menjadikan untuk kita sebagai para penguasa manusia. Selanjutnya, keponakan saya ini, Muhammad bin Abdullah, jika dibandingkan dengan lelaki mana pun, pasti lebih unggul dari sisi kebaikan, keutamaan, kemuliaan, akal, keluhuran dan keagungan.

Meski ia kurang dalam hal harta benda. Harta adalah bayangan yang pasti akan lenyap, sesuatu yang pasti berlalu, dan barang pinjaman yang pasti akan diminta kembali. Muhammad sendiri sudah kalian ketahui kerabatnya. Ia meminang Khadijah binti Khuwailid dan menyerahkan (mahar) sebanyak dua puluh ekor unta milik saya untuknya – riwayat lain menyebut ; ia menyerahkan mahar sebanyak dua belas setengah uqiyah untuknya.” Abu Thalib berkata, “Demi Allah, setelah itu ia – Rasulullah Saw- punya berita besar dan kepentingan agung. Maka nikahkan dia dengan (Khadijah).”

Setelah akad selesai, hewan-hewan kurban disembelih lalu dibagi-bagikan kepada orang-orang fakir. Walimah juga diadakan di rumah Khadijah untuk para keluarga dan kerabat. Ath-Thahirah, Khadijah ra kala itu berusia empat puluh tahun, usia keibuan yang sudah matang. Sementara Muhammad Saw berusia dua puluh lima tahun, usia kematangan seorang pemuda.

Dalam pernikahan yang diberkahi ini, Ath-Thahira Khadijah ra menjadi seorang istri yang setia dalam cinta, sekaligus seorang ibu penuh kasih sayang dan baik.

Beginilah Khadijah R.a ketika menjadi istri

Khadijah adalah wanita pilihan yang Allah pilihkan untuk Muhammad, begitu juga Muhammad adalah laki-laki pilihan yang Allah pilihkan untuk Khadijah. Pilihan Khadijah Ra untuk memilih Nabi Saw sebagai suami yang kala itu miskin, sementara ia sendiri kaya raya dan juga menjadi incaran para lelaki kaya dan terhormat di tengah-tengah kaumnya namun enggan menerima mereka, sudah cukup menunjukkan kebijaksanaan, kecerdasan, dan kekuatan akalnya. Hanya dengan kebijaksanaan dan kekuatan akal, ia tahu bahwa kejantanan sempurna, kemuliaan sifat ksatria, dan watak yang lurus tidak berada di dalam kekayaan materi dan harta benda yang pasti akan lenyap.

Khadijah mencari kekayaan jenis lain, kekayaan jiwa, nurani, kelembutan perangai. Sulit atau mungkin tidak ia menemukan sosok seperti itu selain pada diri Muhammad Saw. Alasan lain Khadijah memilih Muhammad Saw adalah karena keahlian beliau dalam berjual beli, kejujuran, dan amanah dalam berdagang, atau faktor-faktor lain seperti yang didengar oleh Khadijah.

Begitu juga dengan Muhammad Saw tentu tidak akan bersedia menikahi Khadijah hanya karena lantaran Khadijah adalah wanita yang cantik,  dan memiliki harta yang banyak. Tetapi Rasulullah Saw juga menemukan mutiara dalam diri Khadijah ra. Mutiara itu adalah kekuatan akal, kecerdasan, dan pengakuan kaumnya akan kemuliaan sifat, perilaku terpuji, menjaga diri, hati nan lurus dan nasab terhormat yang beliau ketahui. Karena memiliki harapan yang sama serta cita yang samalah akhirnya Allah pertemukan mereka untuk hidup berdampingan.

Pernikahan mereka adalah peristiwa besar, awal dari bertemunya perjuangan menebarkan risalah suci ini ke pelosok bumi. Khadijah adalah wanita pejuang, ia korbankan segalanya untuk Rasulullah Saw , membersamai perjuangan Rasulullah.

Khadijah adalah sosok istri yang yang tepat sebagai sandaran terbaik bagi Rasulullah Saw. Hal ini terbukti ketika pertama kali beliau menerima wahyu dari Allah Swt, Khadijahlah yang pertama kali membenarkannya. Begitu juga ketika Nabi Saw pulang ke rumah Khadijah setelah diajari Jibril tata cara shalat. Beliau kemudian menyampaikan hal itu kepada Khadijah, lalu Khadijah pun berkata, “Ajarkan kepadaku (tata cara shalat) yang Jibril ajarkan kepadamu.”

Nabi Saw kemudian mengajarkan shalat kepada Khadijah. Khadijah berwudhu seperti beliau, kemudian shalat bersama beliau dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Ibunda kita, Khadijah mengerti betul akhlak Nabi Saw. Ia mendengar segala sifat mulia dan keutamaan beliau yang memenuhi hati dengan rasa senang dan bahagia. Bukan itu saja, ia juga mengetahui kedudukan beliau di tengah-tengah kaumnya. Mereka memberikan beliau julukan Ash-Shadiqul Amin (Lelaki jujur lagi terpercaya). Mereka biasa meminta bantuan beliau untuk mengatasi persoalan pelik yang terjadi.

Pernah suatu ketika kaum Quraisy berkumpul untuk merenovasi bangunan Ka’bah. Kala itu Ka’bah nyaris runtuh. Sebagian referensi menyebut karena terbakar, yang lain menyebut karena banjir bandang. Ini terjadi lima tahun sebelum kenabian menurut pendapat yang rajih. Mau tidak mau, kaum Quraisy harus merenovasi bangunan Ka’bah.

Hadits-hadits shahih mengisyaratkan kejadian ini. Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Ra. Rasulullah Saw bersabda kepadanya, “Tidakkah kau tahu bahwa saat kaummu membangun (kembali) Ka’bah, mereka membangunnya tidak sesuai dengan pondasi-pondasi Ibrahim.”

‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengembalikan (Ka’bah) sesuai pondasi-pondasi Ibrahim ?’ Tanyaku. ‘Andai saja kaummu bukan baru saja meninggalkan kekafiran, tentu aku lakukan (itu). ‘ Abdullah berkata, ‘Meski Aisyah Ra mendengar (sabda) ini dari Rasulullah Saw, namun aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw tidak menyentuh dua rukun di sisi Hijir. Hanya saja Ka’bah tidak disempurnakan di atas pondasi-pondasi Ibrahim’.” (H.r.Bukhari)

Kaum Quraisy ketika itu kehabisan dana yang halal untuk merenovasi Ka’bah. Karena mereka mensyaratkan pada diri mereka agar tidak menyertakan dana apapun dalam renovasi Ka’bah selain yang halal, tidak boleh menyertakan hasil kerja pelacur, hasil jual beli riba, atau pun hasil perilaku zalim.

Ibnu Ishaq menuturkan, setiap kabilah mengumpulkan bebatuan untuk merenovasi Ka’bah. Pembangunan dimulai hingga sampai pada giliran meletakkan Hajar Aswad. Di sinilah mereka berselisih. Masing-masing kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad ke tempat semula, hingga mereka terlibat perkelahian dan bersiap untuk perang. Bani Abdiddar kemudian membawa satu piring besar berisi darah, lalu mereka berjanji bersama Bani Adi bin Ka’ab bin Luay untuk mati. Mereka mencelupkan tangan ke dalam darah yang ada di dalam piring besar itu, mereka menyebutnya la’qatud dam (menjilat darah). Situasi ini terus berlansung selama empat atau lima malam. Di antara mereka ada orang-orang bijak. Mereka berkumpul bersama para pemuka kaum di masjid untuk bermusyawarah.

Mereka lantas mengatakan, “Wahai kaum Quraisy! Jadikan orang pertama yang masuk melalui pintu masjid ini untuk memutuskan perkara yang kalian perselisihikan.” Dan orang pertama yang masuk adalah Rasulullah Saw. Begitu melihat beliau, mereka berkata, “Dia Al-Amin, kami meridhai putusannya.”

Saat tiba di hadapan mereka dan mereka memberitahukan permasalahan ini, beliau mengatakan, “Berikan aku kain.” Beliau pun diberi sehelai kain. Muhammad Saw kemudian mengambil Hajar Aswad lalu meletakkannya dengan tangan beliau. Setelah itu beliau berkata, “Hendaklah setiap kabilah memegang ujung kain ini, lalu angkatah bersama-sama.” Mereka melakukan apa yang beliau perintahkan. Setelah tiba di tempatnya, beliau mengambil Hajar Aswad lalu beliau letakkan di tempatnya. Setelah itu, Ka’bah pun dibangun. (Hr. Abu Dawud)

***

Menikah dengan Muhammad Saw adalah nikmat yang tak ternilai bagi Khadijah Ra, kebahagiaan berkibar di atas rumah Khadijah Ra. Sebab ia mendapati Muhammad Saw sebagai suami terbaik, lembut dalam bergaul, sempurna kasih sayangnya. Akhlak beliau muncul dari fitrah beliau dari nasab yang selaras dan menyatu. Syaikh Mahmud Al-Mishri menuliskan syair indah untuk beliau :

Kesabaran beliau setara dengan keberanian beliau,
Keberanian beliau setara dengan kemuliaan beliau,
Kemuliaan beliau setara dengan kesantunan beliau,
Kasih sayang eliau setara dengan sifat ksatria beliau,
Banyak sekali kelebihan-kelebihan istimewa yang beliau miliki.

Muhammad Saw seorang yang selalu mengingat orang yang pernah bersjasa dalam kehidupannya. Salah satunya adalah Ummu Ayman, wanita agung yang menjadi ibu bagi beliau setelah ibunya.

Sebagai suami Muhammad Saw sangat mencintai, menyayangi dan memuliakan Khadijah Ra. Mencurahkan segenap kasih sayang kepadanya, hati beliau nan besar itu meluapkan kelembutan yang bisa dirasakan oleh anak-anak Khadijah Ra. Hindun putri Khadijah, tinggal bersama sang ibu setelah menikah dengan Muhammad Saw. Anak tiri Nabi Saw ini pun sangat merasakan kebahagiaan karena tumbuh besar di bawah naungan sosok paling jujur bertutur kata, paling setia memenuhi tanggungan, paling lembut budi pekerti, dan paling mulia dalam bergaul.

Cinta dan kasih sayang Muhammad Saw juga tercurah kepada Zaid bin Haritsyah. Budak yang dibeli Hakim bin Hizam dari pasar Ukazh, lalu ia hibahkan kepada bibinya, Khadijah.

Muhammad Saw mencintai Zaid, begitu juga sebaliknya. Belum pernah Zaid mencintai seorang pun sebelumnya dengan cinta sedemikian itu. Khadijah menyadari cinta seorang ayah ini, lalu ia hibahkan Zaid kepada beliau. Setelah itu, Muhammad Saw memerdekakan Zaid, tidak hanya dimerdekakan Zaid juga dimuliakan  kedudukannya dengan mengaitkan nasab Zaid pada beliau, sehingga menjadi Zaid bin Muhammad.

Khadijah Ra begitu mencintai sang suami, Muhammad Saw hingga menguasai seluruh emosi dan perasaannya. Cinta seorang istri kepada suami yang mencerminkan akhlak mulia dan budi pekerti luhur. Seiring perjalanan waktu dan pergaulan, Khadijah kian yakin bahwa lelaki yang ia pilih ini adalah penduduk bumi yang paling layak untuk menunaikan risalah-Nya dan membangkitkan umat.

Sebagai istri Khadijah Ra mempersiapkan seluruh kenyamanan dan kenikmatan untuk Rasulullah Saw. Kala beliau menunjuk sesuatu, Khadijah memenuhi keinginan beliau dengan jiwa berbinar senang, rela hati, dan murah tangan. Khadijah sama sekali tidak  pelit dengan harta yang ia miliki. Ia murah hati dengan emosi, perasaan, dan harta benda. Bahkan, ia juga mencintai orang yang dicintai suaminya, sikap mulia yang memenuhi jiwa dengan kerelaan dan kesenangan.

Khadijah juga sangat mencintai ibu susuan Muhammad Saw. Dikisahkan suatu ketika Khadijah Ra sedang berbincang Muhammad Saw. Saat mereka asyik berbincang datanglah Halimah. Khadijah berkata, “Wahai maula-ku! Halimah binti Abdullah bin Haritsyah As-Sa’diyah ingin masuk.”

Kala Rasulullah Saw mendengat nama Halimah As-Sa’diyah, hati beliau berdetak rindu, kenangan-kenangan masuk dalam benak beliau. Beliau teringat kawasan padang luas Bani Sa’ad, dan masa – masa beliau disusui di sana. Saat-saat penuh dengan perasaan bahagia, hari-hari beliau tumbuh dewasa di antara dua lengan dan asuhan Halimah.

Khadijah menghampiri lalu mempersilakan Halimah masuk. Cerita beliau tentang Halimah adalah cerita yang meneteskan cinta, kasih sayang, kehangatan, dan kemuliaan. Kala tatapan beliau tertuju pada Halimah, suara beliau nan lembut menyentuh telinga Khadijah kala beliau memanggil dengan kerinduan dan cinta, “Ibu…ibu!”

Khadijah menatap Rasulullah Saw. Muhammad membentangkan selendang beliau sebagai hamparan untuk Halimah. Beliau mengusap Halimah dengan kasih sayang, kebahagiaan jelas terlihat di wajah beliau. Kebahagiaan berbinar di kedua mata beliau, seakan ibu kandung beliau, Aminah binti Wahab, bangkit dari kubur.

Rumah tangga Muhammad Saw dengan Khadijah Ra adalah rumah tangga terbaik di bumi ini, cinta mereka juga cinta terbaik. Pondasi yang menopang kuat rumah tangga ini tidak hanya cinta dan kasih sayang tetapi juga ketaatan dan ketakwaan pada Allah Swt. Sebagai istri Khadijah ra mewakafkan seluruh apa yang ia miliki untuk membersamai Rasulullah.

Anak-anak Muhammad Saw dari Khadijah Ra

Kebahagiaan rumah tangga Muhammad Saw dengan Khadijah semakin bertambah dengan kelahiran anak pertama mereka, Qasim. Dengan nama ini, beliau dipanggil dengan kuniah Abu Qasim. Setelah itu, keturunan beliau yang diberkahi lahir silih berganti. Setelah Qasim, Khadijah melahirkan Zainab, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Ini terjadi sebelum nubuwah. Setelah nubuwah, Khadijah melahirkan Abdullah yang disebut sebagai Ath-Thayyib dan Ath-Thahir.

Ibnu Abbas Ra menuturkan tentang anak-anak Rasulullah Saw dari Khadijah. Ia berkata, “Khadijah melahirkan dua anak lelaki dan empat anak perempuan untuk Rasulullah Saw yaitu : Qasim, Abdullah, Fatimah, Ummu Kultsum, Zainab, dan Ruqaiyah (HR. Al-Baihaqi). Adapun Ibrahim, ia berasal dari dari Maria Al-Qibthiyah Ra. Semua anak laki-laki beliau meninggal dunia saat masih kecil. Sementara anak-anak perempuan beliau, mereka semua menjumpai Islam, masuk Islam dan berhijrah. Ruqaiyah dan Ummu Kultsum menikah dengan Utsman Ra, Zainab menjadi istri Abu Ash bin Rabi’ bin Abdu Syams, Fatimah menjadi istri Ali bin Abi Thalib Ra.

Mereka semua meninggal dunia tatkala Nabi Saw masih hidup, kecuali Fatimah. Ia meninggal dunia enam bulan setelah beliau wafat. Nabi Saw memandang keluarga beliau yang diberkahi dengan lapang dada, karena mereka semua menjalani hidup yang tenang dan indah di puncak kebahagiaan.

Khadijah Saw adalah istri teladan, tahu bagaimana cara menyenangkan hati suami da anak-anak. Semakin lama bergaul dengan Rasulullah Saw  cinta dan rasa kagumnya semakin bertambah. Sebab, beliau ahli ibadah dan zuhud yang hati dan seluruh tubuhnya bergantung kepada Allah Swt. Dari rumah tangga yang diberkahi inilah Fatimah lahir. Sosok yang berikutnya menjadi pemimpin kaum wanita penghuni surga, ibu hasan dan Husain; dua pemimpin para pemuda penghuni surga, istri salah satu di antara sepuluh sahabat yang dijamin surga. Sungguh sebuah rumah tangga diberkahi yang menebar berkah dan aroma wangi iman ke seluruh alam.

Mulianya Akhlak Khadijah r.a

Khadijah Ra, ibunda kaum mukminin. Beliau adalah sosok istri yang mulia akhlaknya, penyayang pada suami dan anak-anaknya dan memiliki sifat murah hati pada sesama. Khadijah Ra menyukai apa saja yang disukai oleh suaminya, Muhammad Saw.Khadijah Ra juga mengorbankan apa pun yang ia miliki demi membahagiakan sang suami. Tatkala Rasulullah Saw merawat putra paman beliau, Ali bin Abi Thalib menemukan hati penuh kasih dan ibu yang sangat penyayang di rumah Khadijah, wanita suci dan penuh kasih. Inilah yang membuat Ali merasa tinggal bersama ibu kandung sendiri. Khadijah memperlakukan Ali dengan sangat baik.

Demikian juga halnya ketika Khadijah merasa bahwa Rasulullah Saw mencintai Zaid bin Haritsyah. Khadijah menghibahkan Zaid kepada beliau, sehingga kedudukan Khadijah kian meningkat di dalam jiwa Nabi Saw.

Peristiwa teragung di muka bumi

Salah satu peristiwa besar di muka bumi ini atau sering juga disebut sebagai peristiwa paling agung adalah turunnya wahyu pertama. Dimana Muhammad Saw menerima Jibril utusan dari Allah Swt sebagai penyampai wahyu.

Sayyid Qutub menjelaskan tentang saat-saat monumental kala wahyu turun untuk pertama kalinya kepada Rasulullah Saw itu :

“Ketika saya berhenti sejenak untuk mengamati kejadian ini yang sering kita baca dalam buku-buku sejarah dan kitab-kitab tafsir, namun kemudian kita melewatkannya dan berlalu begitu saja, atau barangkali hanya mengamatinya sejak kemudian kita tinggalkan.

Ini adalah sebuah kejadian besar, sangat besar sekali hingga tanpa batas. Seperti apa pun saat ini kita berupaya untuk mengetahui seberapa besarnya peristiwa ini, tetap saja masih banyak sisi-sisi lain yang berada di luar imajinasi kita.

Kejadian sangat agung sekali, baik agung secara petunjuk maupun agung dalam efek kehidupan manusia semuanya. Waktu yang singkat ini merupakan waktu paling agung yang pernah dilalui dunia ini dalam sejarah.

Lebih lanjut Sayyid Qutub menjelaskan hakikat dari peristiwa ini adalah Allah Swt Nan Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Memaksa, Mahabesar, Pemilik seluruh kerajaan, berkenan di blaik ketinggian-Nya, menoleh ke arah ciptaan bernama manusia yang mendekam di salah satu sudut dunia yang namanya nyaris tidak terlihat ; bumi. Allah Swt memuliakan makhluk ini dengan memilih salah satu di antaranya untuk menerima cahaya ilahi, tempat menyimpan hikmah, dan tempat turunnya kalimat-kalimat-Nya.

Sebuah hakikat besar yang tak terbatas. Sisi – sisi keagungan akan terungkap kala manusia membayangkan hakikat uluhiyah mutlak, azali, dan kekal abadi. Membayangkan hakikat ubudiyah terbatas dan fana, lalu merasakan pertolongan rabbani yang diberikan melalui insan ini, kemudian merasakan nikmatnya perasaan ini hingga menghadirkan kekhusyukan, rasa syukur, bahagia dan merasa dirinya penuh dosa.

Dan apa gerangan petunjuk dari peristiwa ini?

Petunjuknya adalah Allah pemilik karunia nan luas, rahmat menyeluruh, Ia Mahamulia, Maha Mencintai, dan Maha Pemberi, mencurahkan anugerah dan rahmat tanpa sebab ataupun alasan. Disamping alasan bahwa memberi adalah salah satu sifat-Nya yang mulia. Ini petunjuk dari sisi Allah.

Sementara dari sisi manusia, kejadian ini menunjukkan bahwa Allah memuliakannya dalam bentuk yang nyaris tak terbayangkan dan tiada mampu ia syukuri. Kemuliaan ini saja tidak akan mampu disyukuri manusia, meski ia menghabiskan seluruh usia dengan rukuk dan sujud. Inilah yang mengingatkan Allah kepada umat manusia, mengalihkan perhatian kepadanya, berhubungan dengannya. Allah memilih Rasul dari jenis manusia yang diberi wahyu berupa kalimat-kalimat-Nya. Bumi menjadi tempat tinggal dan tempat turunnya wahyu.

Adapun dampak dari peristiwa besar ini dalam kehidupan seluruh umat manusia sudah dimulai sejak dahulu. Sejak saat itu, penduduk bumi hidup di bawah perlindungan dan penjagaan Allah secara lansung dan nyata. Mereka mengharap kepada secara lansung dalam seluruh urusan. Mereka pun melakukan segala tindak tanduk dibawah pengawasan Allah.

Begitu penjelasannya dari Sayyid Qutub tentang peristiwa besar dan agung itu, peristiwa turunnya wahyu.

Kesabaran dan keteguhan Khadijah membersamai Muhammad Saw

Kehidupan Muhammad Saw dan Khadijah Ra tidak berjalan mulus, karena memang ini adalah orang istimewa maka ujian yang Allah berikan pada mereka pun Istimewa. Terlebih masa-masa awal kenabian Muhammad Saw.

Diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, “Awal mula wahyu Rasulullah Saw adalah impian yang baik dalam tidur. Setiap kali memimpikan sesuatu, pasti terjadi seperti cahaya Shubuh. Beliau kemudian suka menyendiri. Beliau menyendiri di gua Hira untuk beribadah di sana selama beberapa malam sebelum pulang kembali ke keluar, setelaga beliau, dan beliau membawa bekal untuk itu. Setelah itu beliau kembali ke Khadijah dan membawa bekal seperlunya, hingga kebenaran datang kepada beliau kala berada di dalam gua Hira.

Malaikat datang lalu berkata, ‘Bacalah!’

Beliau menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’

Beliau menuturkan, ‘Ia kemudian meraihku dan merangkulku hingga aku letih, setelah itu ia melepaskanku.’

Ia berkata, ‘Bacalah !’

Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’

Beliau menuturkan, ‘Ia kemudian meraihku dan merangkulku hingga aku letih, setelah itu ia melepaskanku.’

Ia berkata, ‘Bacalah !’

Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’

Beliau menuturkan, ‘Ia kemudian meraihku dan merangkulku untuk ketiga kalinya hingga aku letih, setelah itu ia melepaskanku lalu berkata, ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpalan darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.’ (Al-‘Alaq : 1-5)

Rasulullah Saw kemudian pulang membawa (wahyu) ini dengan sekujur tubuh menggigil, hingga masuk menemui Khadijah binti Khuwailid lalu berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku!” Khadijah menyelimuti beliau hingga rasa takut hilang. Setelah itu, beliau berkata kepada Khadijah , ‘Wahai Khadijah kenapa aku ini?’ Beliau menceritakan apa yang terjadi, setelah itu beliau berkata, ‘Aku mengkhawatirkan diriku.’ Khadijah berkata kepada beliau, ‘Sekali-kali tidak ! Bergembiralah, karena demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, kau menyambung tali kekeluargaan, jujur bertutur kata, menanggung beban, membantu orang miskin, menjamu tamu, dan membantu orang kesusahan.” (Imam An-Nawawi)

Khadijah kemudian membawa Nabi Saw menemui Waraqah bin Naufal, saudara sepupu Khadijah. Khadijah lantas bertanya padanya ‘Wahai saudara sepupuku, dengarkan kata-kata keponakanmu ini ! Waraqah bertanya pada beliau, ‘Wahai keponanku, apa yang kau lihat? Rasulullah Saw menceritakan kejadian yang beliau lihat. Waraqah kemudian berkata kepada beliau, ‘Dia itu malaikat yang Allah turunkan kepada Musa. Andai saja aku masih muda kala itu. Andai saja aku masih hidup kala kau diusir kaummu.’ Rasulullah Saw bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’ ‘Ya. Tak seorang pun yang membawa sesuatu seperti yang kau bawa, melainkan pasti akan dimusuhi. Jika aku masih hidup saat itu, aku akan membelamu dengan pembelaan yang kuat. ‘Jawab Waraqah. Tidak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia dan wahyu berhenti turun (untuk sementara waktu)’.”(Muttafaq ‘alaih)

Di peristiwa besar inilah Khadijah menunjukkan sikap mulia seorang istri. Ia menenangkan beliau kala resah, melegakan beliau kala lelah, memberikan motivasi pada beliau untuk selalu optimis. Saat mendengar kabar dari Waraqah bahwa suatu saat Rasulullah Saw akan diusir dan diperangi oleh kaumnya tak membuat Khadijah mundur sedekit pun atau bahkan takut.

Khadijah sadar hari-hari kedepan bukanlah suatu yang ringan, akan banyak ujian yang akan dihadapi, berat cobaan yang akan dialami. Tetapi Khadijah Ra memutuskan untuk menghadapinya dengan penuh kesabaran serta keteguhan untuk menghadapi segala hal yang akan terjadi.

Ia rela menanggung beban derita dan kesulitan di jalan Allah. Ia rela menerima tugas amat penting dan sulit ini, menghadapi kaum Quraisy. Inilah salah satu contoh terbesar bagi wanita beriman yang tulus, agar mereka meneladani Ummul Mukminin Khadijah Ra dalam memikul beban berat dan derita demi derita membela sang suami, Rasulullah Saw. Ia mendukung beliau untuk menyebarkan dakwah Islam di tengah-tengah kaum. Yang diteruskan ke seluruh belahan bumi. Setelah itu, mendirikan daulah Islam.

Di akhir usia Khadijah

‘Amul Huzn atau tahun-tahun kesedihan. Waktu dimana Rasulullah Saw merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Ini terjadi tatkala 10 tahun Islam menyebar di Mekah, setelah terjadi berbagai peristiwa besar, ketika kaum muslimin sedikit bernafas lega dari kesulitan yang mereka hadapi, tiba – tiba musibah datang menghampiri Rasulullah Saw diawali kematian sang istri Khadijah lalu disusul oleh kematian paman beliau, Abu Thalib.

Rasulullah Saw sangat kehilangan saat Khadijah Ra meninggal dunia. Sebab bagi Rasulullah Saw Khadiah adalah karunia besar yang Allah limpahkan kepada Muhammad Saw. Karena, ia membantu beliau di saat-saat paling sulit. Ia membantu beliau untuk menyampaikan risalah, ikut serta merasakan beban keletihan dan kegetiran. Ia juga membantu beliau dengan jiwa dan harta benda. Anda akan merasakan seberapa besar nikmat ini kala anda membandingkannya dengan sebagian istri-istri para nabi sebelumnya, ada yang mengkhianati risalah dan mengingkari para pengemban risalah. Bahkan ada yang membantu orang-orang musyrik, kaum, dan keluarga mereka dalam memerangi Allah dan Rasul-Nya.

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), ‘Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’”
(At-Tahrim : 10)

Berbeda dengan Khadijah, ia adalah wanita yang jujur iman, menyayangi suami kala resah. Ia adalah angin sepoi kesejahteraan dan kebajikan, dahinya selalu basah karena pengaruh-pengaruh wahyu. Ia tinggal bersama beliau selama seperempat abad lamanya. Sebelum beliau menerima risalah, ia menghormati perenungan, pengucilan diri, dan segala sifat-sifat mulia beliau. Setelah beliau menerima risalah, ia menanggung tipu daya para musuh, derita pengepungan, dan segala beban berat dakwah. Ia meninggal di kala Rasulullah Saw berusia lima puluh tahun, sementara ia berusia 65 tahun. Beliau selalu mengingatnya sepanjang hidup. Cinta Rasulullah pada Khadijah tak pernah berkurang, tak pernah luntur sedikit pun.

Rasulullah memuji Khadijah Ra. Beliau bersabda, “Banyak di antara para lelaki yang mencapai kesempurnaan (ada yang menjadi rasul, nabi, khalifah, wali), dan tidak ada wanita yang mencapai kesempurnaan selain Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti Imran, (dan Khadijah binti Khuwailid). Dan kelebihan Aisyah di atas seluruh wanita laksana kelebihan roti kuah di atas seluruh makanan.”
(Muttafaq Alaih)

Bahkan Aisyah pun mengatakan bahwa ia tidak pernah cemburu pada istri Rasulullah Saw kecuali Khadijah sebagaimana diriwayatkan Aisyah Ra ia berkata, “Aku tidak cemburu pada istri-istri Nabi Saw selain kepada Khadijah, padahal aku tidak menjumpainya.’Ia meneruskan, ‘Ketika Rasulullah Saw menyembelih kambing, beliau berkata, ‘Kirimkan ini kepada teman-teman Khadijah.’ Ia meneruskan, ‘Suatu hari, aku membuat beliau marah, aku berkata, ‘Khadijah !’ Rasulullah Saw berkata, ‘Sungguh, aku dikaruniai cintanya’.” (Tarikh Al-Islam, Adz-Dzahabi)

Dalam riwayat lain Aisyah Ra berkata, “Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, meminta izin kepada Rasulullah Saw. Beliau teringat kala Khadijah meminta izin, beliau merasa senang karenanya. Beliau teringat kala Khadijah meminta izin, beliau merasa senang karenanya. Beliau mengucapkan, ‘Halah binti Khuwailid.’ Aku merasa cemburu lalu aku berkata, ‘Untuk apa engkau teringat pada seseorang wanita tua di antara wanita-wanita tua Quraisy bermulut merah yang sudah lama mati, Allah pun sudah memberimu pengganti yang lebih baik darinya’.” (Hr. Muslim)

Dan masih melalui riwayat dari Aisyah Ra, ia menuturkan, “Aku tidak cemburu pada seorang istri Nabi Saw pun seperti kecemburuanku terhadap Khadijah – ia meninggal dunia sebelum beliau menikahiku. Kala aku mendengar beliau menyebut namanya dan Allah memerintahkan beliau untuk menyampaikan kabar gembira sebuah rumah dari mutiara cekung padanya. Suatu ketika, beliau menyembelih seekor kambing lalu beliau hadiahkan kepada teman-teman Khadijah secukupnya.”(Muttafaq ‘Alaih)

Diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata, Rasulullah Saw ketika teringat Khadijah, beliau memujinya dengan baik.’ Aisyah menuturkan, ‘Suatu hari aku cemburu, aku lantas berkata, ‘Kau sering kali menyebut si mulut merah itu. Allah telah memberimu pengganti yang lebih baik darinya’.” (Hr.Bukhari)

Begitulah sekelumit kisah ummul mukminin Khadijah Ra. Semoga mutira hikmah yang ada setiap deretan kisah ini menjadi inspirasi yang memberi perubahan bagi kehidupan kita. Mutiara yang membangkitkan semangat menjadi pribadi muslimah yang lebih taat kepada Allah, lebih mencintai Rasulullah Saw dan selalu berusaha menjalankan sunnah rasul dalam kesehariannya. Sebab, umat hari ini membutuhkan lahirnya Khadijah-khadijah baru  yang InsyaAllah akan menjadi penerang bagi generasi kaum muslimin.

Sumber referensi :

  1. Buku 35 Shahabiyah Rasul karya Mahmud Al-Mishri

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments