Inilah kisah seorang sahabat wanita yang mulia dan diberkahi. Ia mengorbankan apa pun yang bisa ia berikan demi membahagiakan dan menyenangkan hati Nabi Saw bahkan itu jiwanya sendiri.

Ia tercatat sebagai salah satu wanita yang lebih dahulu masuk Islam, ikut Nabi berhijrah dua kali. Ke Habasyah dan  Madinah. Dialah yang lebih mementingkan ridha Rasulullah daripada kepentingan diri. Dialah yang disinggung Ummul Mukmin Aisyah, “Aku tidak melihat seorang wanita pun yang perilakunya ingin aku tiru, melebihi  Saudah binti Zam’ah.”

Ya, dialah yang membuat cemburu Ummul Mukminin Aisyah Ra

Generasi Awal Islam

Sebelum datangnya Islam umat manusia sebelumnya hidup dalam kejahiliyaan hingga Rasulullah datang membawa agama agung ini untuk mengalihkan umat manusia dari lumpur kesyirikan dan kekafiran menuju cahaya tauhid dan iman. Mereka yang memiliki fitrah dan hati nan suci bersih menerima dakwah beliau. Mereka mau berdiri di belakang Rasulullah Saw, menjadi pendengar yang baik setiap nasihat Rasulullah, dan mereka jugalah yang ridha membela Rasulullah Saw.

Para sahabat mulia yang menerima dakwah penuh berkah di masa-masa awal, merekalah yang memikul beban agama ini. Mereka menyebarkan risalah ini ke segala penjuru dunia dengan segenap jiwa,raga dan harta yang mereka punya.

Wanita pertama yang lebih dulu masuk Islam adalah Khadijah yang membela Rasulullah kala menghadapi situasi paling sulit dan berat, beliau membantu beliau dalam mengemban dakwah.

Lelaki pertama yang lebih dulu masuk Islam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sedikitpun tidak ragu umtuk menerima dakwah beliau. Kemudian diantara mereka yang lebih dulu menerima dakwah Islam sejak awal adalah Sakran bin Amr yang merupakan saudara seorang sahabat mulia, Suhail bin Amr.

Sakran masuk Islam dan keimanan menyentuh relung hatinya. Bahkan istrinya, Saudah binti Zam’ah, juga ikut masuk Islam. Mereka berdua menjalani saat-saat terindah dalam hidup dalam kelapangan tauhid dan iman.Keduanya termasuk orang-orang yang lebih dulu berpasrah hati dengan segenap jiwanya kepada Allah. Sehingga, mereka termasuk orang-orang yang ditakdirkan meraih kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Orang – orang yang telah Allah pilih sebagai generasi awal dari risalah ini.

 Sabar dan Mengharapkan Pahala dalam Hijrah

Tidak seberapa lama, berita keislaman Sakran menyebar. Saat itu pula, mereka langsung menimpakan siksa kepada Sakran sejadi-jadinya, tanpa mengindahkan hubungan kekerabatan dan tidak pula memedulikan perjanjian. Siapa saja yang masuk Islam, menjadi pengikut Muhammad Saw dan meninggalkan agama nenek moyang. Maka sejak itulah akan menjadi musuh dari kaum kafir Quraisy.

Ibnu Ishaq menuturkan, “ Kaum kafir Quraisy memperlakukan semena-mena siapa pun yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah. Ketika itu, Rasulullah melihat ujian yang menimpa para sahabat sementara beliau aman-aman saja karena dliindungi Allah dan dilindungi paman beliau, Abu Thalib.

Namun beliau hanya sendiri sehingga tidak mampu melindungi mereka dari ujian yang mereka alami. Oleh karena itu, beliau pun berkata kepada mereka, “Andai kalian pergi ke tanah Habasyah. Karena di sana ada seorang raja yang tak seorang pun dizalimi di sana. Habasyah adalah tanah yang disukai, hingga Allah memberi kalian jalan keluar dari ujian yang kalian hadapi.”  Saai itulah sejumlah sahabat Rasulullah pergi ke tanah Habasyah demi menghindari  fitnah dan melarikan diri demi menyelamatkan agama. Inilah hijrah pertama dalam Islam.

Saudah berhijrah bersama sang suami. Keduanya menjalani kehidupan terbaik di bawah naungan iman dan tauhid  di tanah An-Najasyi, raja yang adil. Setelah itu, mereka kembali ke Mekah untuk mendampingi  Rasulullah Saw. Orang mukmin lebih menikmati siksa asalkan dekat dengan Rasulullah, daripada hidup nyaman dan nikmat namun jauh dari beliau. Kesulitan dalam ketaatan, kesempitan bersama Rasulullah Saw jauh lebih indah bagi mereka dibanding hidup bermewah-mewah tetapi dalam kekufuran.

Saat kembali ke Mekah, Saudah bersama suami rupanya melihat kaum Quraisy masih saja memusuhi dakwah Nabi dan menyiksa para sahabat beliau. Namun Nabi menenangkan hati mereka bahwa pertolongan Allah dekat, kemuliaan akan berpihak pada para wali-Nya dan kehinaan akan menimpa musuh-musuhNya. Akhirnya muncul rasa optimis dari dalam lubuk jiwa mereka, hadir keberanian dari relung hatinya. Berkat keyakinan akan janji Allah dan rasul-Nya.

Perpisahan Memilukan

Hari-hari berlalu, sementara pasangan suami istri ini tetap berdampingan dengan kitab Allah dan Sunnah Rasulullah setiap saat. Hingga akhirnya, tibalah Sakran tidur di atas ranjang kematian. Ruhnya terbang menuju Sang Pencipta. Ia meninggal dunia di Mekah. Saudah dirundung kesedihan mendalam karena kematian sang suami.

Saudah kini tinggal seorang diri di dunia ini. Namun, ia bersabar dengan baik dan menerima putusan Allah dengan rela hati. Sebab, ia tahu pasti bahwa Allah lebih menyayangi hamba-hambaNya, melebihi kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya yang masih disusui.

Manakala seorang hamba bersabar dan mengharap pahala, Allah pasti memberi  ganti yang lebih baik. Hanya saja, ia sama sekali tidak pernah berfikir, jika suatu hari nanti akan menjadi Ummul Mukminin,  istri pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian ,  Muhammad bin Abdulullah. Ia, pada akhirnya ia pun dinikahi oleh Rasulullah Saw.

Sebuah Janji Bahagia

Kala itu, Nabi tengah dirundung kesedihan karena kematian Khadijah, sosok tercinta di hati beliau.  Ini terjadi pada tahun kenabian , tahun penuh duka cita dan kesedihan, hingga disebut ‘Amul huzn’ (tahun penuh kesedihan).

Para sahabat Rasulullah mengetahui kedudukan Khadijah di mata Nabi. Saat Khadijah meninggal dunia, mereka berharap Allah memberi sesuatu yang dapat meringankan beban duka dan kesedihan beliau.

Namun tak seorang pun berani berbicara kepada Nabi terkait pernikahan. Akhirnya Allah meng-hendaki seorang wanita shahabiyah mulia. Kaulah binti Hakim, memberanikan diri menyampaikan persoalan ini kepada Rasulullah demi menyenangkan hati beliau yang sedang sedih.

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata “ Setelah Khadijah meninggal dunia. Khaulah binti Hakim, istri Utsman bin Mazh’un datang kepada Rasulullah. Ia berkata ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak menikah lagi?’ ‘Dengan Siapa?’  tanya beliau. ‘Kalau engkau mau yang perawan ada dan janda juga ada.’ Kata Khaulah. ‘Yang perawan siapa dan yang janda siapa?’ tanya beliau.

‘Yang perawan adalah putri orang yang paling engkau cintai ; Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan yang janda adalah Saudah binti Zam’ah. Ia beriman kepadamu dan mengikutimu,’ kata Khaulah. ‘Maka sampaikan (keinginanku) pada keduanya.’pinta beliau.”

Disebutkan dalam riwayat Ahmad  − dengan sedikit perubahan – Khaulah menuturkan, ‘Setelah itu, aku pergi menemui Saudah, ayahnya sudah tua dan tidak lagi bisa menunaikan ibadah haji tahun ini. Aku berkata, ‘Kebaikan dan berkah apa kiranya yang Allah masukkan ke dalam (keluarga) kalian?’

‘Apa maksudnya, Khaulah?’ tanya Saudah

‘Rasulullah mengutusku untuk meminangmu.’  kataku.

Kebahagian mendalam dirasakan Saudah. Ia merasakan air mata bahagia membasahi wajah dan ruhaninya. Ia teringat mimpi yang ia alami sejak beberapa waktu silam, impian yang dijadikan nyata oleh Allah. Ia sebenarnya tidak berharap banyak untuk menjadi istri Rasulullah mengingat sudah berusia senja. Meski demikian, menjadi Ummul Mukminin adalah sebuah kemuliaan yang tak tertandingi oleh kemuliaan apapun. Ia pun menggapai mimpinya.

Saudah menatap ke arah Khaulah, lalu berkata dengan rona berbinar memenuhi wajah, ‘Aku menginginkan hal itu. Namun temuilah ayahku dulu, dan sampaikan perihal itu padanya.’

Khaulah meneruskan, ‘Aku kemudian menemui ayah Suadah, lalu aku ucapkan salam orang-orang jahiliyah kepadanya. Aku berkata, ’Selamatpagi.’ Ayah saudah bertanya, ‘Siapa kamu?’ Aku menjawab, ‘Khaulah binti Hakim bin Umaiyah As-Sulami, istri Utsman bin Mazh’un Al-Jumahi. ‘Ia menyambut kedatanganku lalu menyampaikan kata-kata seperti yang Allah kehendaki. Ia sudah tahu bahwa aku telah meninggalkan tuhan- tuhan kaumku. Aku eriman dan berhijrah ke Habasyah. Setelah itu aku kembali ke Mekah.

Ia lantas menanyakan keperluanku, ‘Ada perlu apa?’

Khaulah mengatakan, ‘Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib menyebut-nyebut Saudah binti Zam’ah.’  Ayah Saudah berkata, ‘Dia orang mulia, lantas apa yang dikatakan teman wanitamu itu, Saudah?’ ‘Ia mau,’ jawabku. Ayah Saudah berkata. ‘Kalau begitu, berkata padanya  (Saudah) supaya datang kemari.’

Aku kemudian pergi memanggil Saudah. Ayahnya kemudian berkata kepadanya, ‘Wahai putriku! Khaulah bin Hakim mengatakan bahwa Muhammad bin Abdullah mengutusnya untuk meminangmu. Dia adalah lelaki mulia. Apa kau mau aku nikahkan dengannya?’

‘Ya, aku mau’, jawab Saudah dengan nada suara yang menuturkan keinginannya.

Zam’ah kemudian menoleh ke Khaulah dan berkata padanya, ‘Katakan kepada Muhammad supaya datang kemari.’

Khaulah berkata, ‘Rasulullah kemudian datang, lalu melangsungkan akad nikah. Zam’ah menyerahkan Saudah kepada beliau, lalu beliau menikahinya setelah menyerahkan mahar empat ratus dirham’.”

Ummul Mukminin  Saudah mempunyai saudara bernama Abdullah bin Zam’ah yang kala itu masih menganut agama kaum Quraisy. Saat pernikahan berlangsung ia berada diluar Mekah. Begitu tiba di Mekah, rupanya saudarinya Saudah sudah dinikahi Muhammad. Ia marah, tersulut fanatisme Jahiliyah, dan menaburkan tanah ke kepalanya. Ia sedih karena pernikahan ini. Ia masuk menemui ayahnya sambil berteriak kencang, marah, dan mengancam.

Namun Allah membuka mata hatinya, sehingga membuatnya  mampu melihat keindahan cahaya Islam. Ia pun beriman kepada Allah dan Muhammad sebagai Rasul dan Nabi. Ia menuturkan tentang dirinya, “Sungguh, aku bodoh saat menabur-naburkan tanah ke kepalaku kala Rasulullah menikahi Saudah.”

Tinggal di Rumah Nubuwah bersama Rasulullah Saw

Saudah adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi setelah Khadijah wafat. Saudah tinggal berdua bersama Nabi sekitar tiga tahun hingga beliau menikahi Aisyah.

Saudah sadar betul bahwa ia tidak mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Khadijah. Namun, ia berusaha semampunya untuk mengisi rumah yang diberkahi ini dengan kenyamanan, kebahagian, dan kecerian. Ia berusaha meringankan penindasan yang dilakukan kaum musyirikin kepada beliau. Ia sering menuturkan memori-memori yang ia alami selama berada di Habasyah. Ia sering menuturkan kisah putri beliau, Ruqayyah dan suaminya, Utsman bin Affan. Sebab ia tahu Nabi ingin mengetahui kisah mereka berdua. Beliau kemudian merasa tenang dan bahagia mendengar kisah mereka berdua. Begitulah Saudah selalu mencari apa saja yang menyenangkan hati Nabi.

Kebahagiaan Abadi

Saudah terus mendampingi Nabi Saw mempelajari perilaku, akhlak, ilmu, dan kesabaran beliau. Sampai-sampai kebahagiaan tak pernah meninggalkan hatinya barang sesaat pun. Pantas saudah berbahagia berada di dekat Raulullah. Sebuah nikmat terindah baginya menjadi istri Rasulullah Saw.

Saudah sama sekali tidak berpikir suatu hari nanti menjadi  Ummul Mukminin dan istri pemimpin orang-orang terdahulu maupun kemudian. Namun, itulah karunia Allah yang Ia berikan pada siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah Pemilik karunia yang besar.

Memori-Memori itu Terulang Kembali

Saudah punya kisah-kisah menawan di rumah nubuwah. Suatu ketika, Ruqayyah binti Rasulullah pulang dari Habasyah bersama suami, Utsman bin Affan. Kedua mata Ruqayyah menatap ke sebuah  rumah yang penuh kenangan; rumah ibunda Ath-Thahirah Khadijah. Rumah yang pernah menyaksikan Ruqayyah melalui masa-masa paling indah sepanjang hidup, rumah wahyu, dan iman, rumah kejujuran dan kesetiaan. Beragam emosi memancar dalam dirinya. Cinta bercampur takut, senang bercampur sedih, resah bercampur ketenangan.

Ruqayyah mengetuk pintu. Berita kedatangan Ruqayyah dan Utsman menyebar. Ummu Kultsum, Fatimah, dan siapa pun yang ada di dalam rumah segera menghampiri. Mereka saling berpelukan, derai air mata tak terbendung, memori-memori lama terulang kembali. Mereka semua sejenak merasa kehilangan sosok ibu penuh cinta, hingga akhirnya mereka pun menangis.

Saudah binti Zam’ah datang dengan ayunan langkah kaki yang berat. Ia tidak luput menyambut kedantangan Ruqayyah dan Utsman. Dalam sekejap mata , memori-memori hijrah ke Habasyah bersama para Muhajirin, berhembus dalam lamunan Saudah. Saudah bertanya kepada Ruqayyah dan Utsman tentang kaum muslimin yang mereka berdua tinggalkan di Habasyah. Sebab, Saudah menghabiskan sebagian besar waktu bersama Ruqayyah, Khaulah binti Hakim, dan sejumlah wanita lain membicarakan perihal Islam dan Rasulullah.

Rasulullah mendengar Ruqayyah dan Utsman pulang dari Habasyah. Wajah beliau berseri, tertawa, dan bergembira. Kasih sayang mengalir deras dari hati beliau. Rasulullah mendekap putri beliau, Ruqayyah. Beliau mencurahkan kasih sayang padanya, dan meraih Utsman diantara kedua tangan beliau. Setelah itu, semuanya duduk mendengarkan Ruqayyah dan Utsman menuturkan kisah hijrah, Habasyah, kaum muslimin dan raja Najasyi. Saudah sesekali menceritakan memori-memori di tanah Habasyah.

Hijrah Menuju Madinah Al-Munawwarah

Tatkala gelombang gangguan kaum musyirikin terhadap para sahabat Rasulullah kian meningkat, beliau mengizinkan mereka berhijrah ke Madinah. Tempat mereka singgah adalah di tempat kaum Anshar. Ini disebut Allah dalam firman-Nya;

“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin). Mereka mencintai orang berhijrah ketempat mereka. Dan mereka tidak menarunh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamaka (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al- Hasyr: 9)

Setelah itu, Nabi berhijrah ke Madinah untuk mendirikan Daulah Islam sebagai menara seluruh alam. Setelah menetap di Madinah, Nabi mengutus Zaid bersama Abu Rafi’, menyerahkan dua ekor unta dan 500 dirham kepada keduanya. Mereka kemudian pergi bersama-sama ke Mekah. Setelah itu Zaid dan Abu Rafi’ membawa pulang Fatimah, Ummu Kultsum, Saudah binti Zam’ah, Ummu Aiman, dan Usamah bin Zaid.

Berkah Datang Silih Berganti

Saudah menetap di rumah Nabi. Tidak lama setelah itu, Nabi menikah dengan Aisyah. Aisyah sangat mencintai Saudah. Ia punya banyak kisah menawan dengan Saudah.

Kebaikan dan berkah setelah itu datang silih berganti. Nabi menikahi seluruh Ummahatul Mukminin untuk melengkapi untaian kalung tiada duanya ini.

Rumah tangga mulia yang diberkahi. Allah menghilangkan dosa para penghuninya dan mem-bersihkan mereka sebersih-bersihnya. Allah mencurahkan banyak sekali berkah dan kebaikan, agar rumah tangga dan para penghuninya ini menjadi mentari nan menyinari jalan seluruh umat manusia menuju Allah.

“Ia Mengutamakan Aisyah, Atas Dirinya Sendiri”

Saudah berupaya sekuat tenaga untuk menyenangkan Rasulullah, meski harus mengorbankan kebahagiaan diri sendiri. Ia tahu bahwa istri yang paling beliau cintai adalah Aisyah. Ia ingin membahagiakan hati Rasulullah dengan memberikan jatah hari gilirannya kepada Aisyah demi mencari ridha Rasulullah.

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Setiap kali hendak berpergian, Rasulullah mengundi istri-istri beliau. Siapa yang undiannya keluar, dialah yang ikut pergi bersama beliau. Hanya saja Saudah binti Zam’ah memberikan jatah hari dan malamnya kepada Aisyah, istri Nabi demi mencari ridha Rasulullah.”

Dirirwayatkan dari Urwah, ia berkata, “Aisyah berkata, ‘Wahai keponakanku! Rasulullah tidak melebihkan di antara kami dalam hal bergilir untuk tinggal di tempat (masing-masing dari) kami. Beliau sering bergilir di antara kami secara keseluruhan, beliau mendekati setiap istri tanpa berhubungan badan, hingga beliau tiba di tempat di mana hari itu beliau berada, lalu beliau menginap disana.”

Saudah binti Zam’ah menuturkan kala ia sudah berusia senja dan takut dicerai Rasulullah, “Wahai Rasulullah, (aku berikan jatah) hariku untuk Aisyah. ‘Rasulullah menerima itu. Saudah berkata,  ‘Kami katakan, “Terkait hal itu (dan hal-hal semacam lainnya) Allah menurunkan firman-Nya, ‘Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz’.”  (An-Nisa : 128)

Pujian Aisyah untuk Saudah

Sikap lebih mementingkan orang lain yang agung, jarang ada di dunia kaum wanita, yang diperlihatkan Saudah membuat Aisyah begitu tercengang. Hingga Aisyah memberikan pujian padanya, pujian yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata.

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata,  “Aku tidak melihat seorang wanita pun yang perilakunya ingin aku tiru, melebihi Saudah binti Zam’ah. Ia jarang marah, ‘Aisyah meneruskan, ‘Saat Saudah sudah tua, ia memberikan hari (jatah giliran) Rasulullah untuknya kepadaku. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku berikan jatah hariku untuk Aisyah.’ Rasulullah pun bergilir dua hari untuk Aisyah; harinya dan hari jatah Saudah’.”

Kejadian Unik nan Membahagiakan Rasulullah

Cinta dan kasih sayang antara Saudah dan Aisyah kadang menimbulkan kejadian-kejadian unik. Suatu ketika, kejadian seperti ini muncul.

Diriwayatkan dari Aisya, ia berkata, “Aku membawakan khazirah yang aku masak untuk Nabi. Lalu aku berkata kepada Saudah sementara Nabi berada di antara aku dan Saudah, ‘Makanlah!’ Saudah tidak mau. Aku berkata, ‘Makanlah atau aku oleskan makanan ini ke wajahmu.’ Saudah tetao tidak mau. Aku akhirnya meletakkan tangan di atas khazirah lalu aku oleskan ke wajah Saudah. Nabi tertawa, lalu beliau meraih tangan Saudah dan beliau letakkan di atas khazirah , setelah itu beliau berkata, ‘Olesilah wajahnya (Aisyah)!’ Nabi kembali tertawa. Setelah itu Umar lewat, ia memanggil-manggil, ‘Hai Abdullah!….. Hai Abdullah!” Beliau mengira Umar akan masuk. Beliau lalu berkata, ‘Ayo sana, basuhlah wajah kalian berdua!’ Aisyah berkata, ‘Sejak saaat itu, aku segan kepada Umar karena sikap segan Rasulullah padanya’.”

Allah berfirman, ‘Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”  (Ar-Rum : 21)

Cinta dan kasih sayang di rumah Rasulullah mencapai puncaknya. Sesekali, Nabi bercanda dengan istri-istri beliau. Namun yang beliau katakan tidak lain adalah kebenaran dan kejujuran.

Saudah sering bercanda dan membuat beliau tertawa, membuat beliau bahagia dan senang. Saudah berkata, “Wahai Rasulullah, tadi malam aku shalat di belakangmu, saat aku rukuk bersamamu, aku memegangi hidungku karena khawatir mimisan.” Beliau tertawa mendengarnya. Kadang Saudah juga membuat beliau tertawa karena sesuatu.

Senatiasa Berlomba-lomba dalam Melakukan Kebaikan

Saudah senantiasa bersegera menjalankan segala  ketaatan. Sifat ini sudah mengakar di dalam hati para sahabat lelaki maupun perempuan secara keseluruhan. Mereka semua berlomba meraih ridha Allah. Mereka tahu, dunia ini ladang akhirat, dan siapa menanam di dunia, kelak akan menikmati di akhirat.

Allah SWT berfirman “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.Dan  Allah mencintai  orang yang berbuat kebajikan, dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri , (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan  atas dosa-dosanya ,dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain  Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.” (Ali-Imran 133-1366)

Saat pergi bersama Nabi untuk menunaikan ibadah haji, Saudah bersegera menjalankan segala ketaatan kepada Allah.

Diriwayatkan dari Aisyah, “Kami singgah di Muzdalifah, Saudah lantas meminta izin kepada Nabi untuk bertolak sebelum orang-orang berdesaka. Sementara kami tetap bertahan hingga subuh. Setelah itu, kami bertolak bersama beliau. Andai saja aku meminta izin kepada Rasulullah seperti Saudah, itu lebih aku sukai daripada apa pun yang membahagiakan.”

Seperti itulah ibunda kita Aisyah. Ia iri pada Saudah selalu bersegera menjalankan ketaatan kepada Allah. Bahkan, Saudah berupaya sekuat tenaga untuk taat kepada Allah dan Rasulullah.

Diriwayatkan dari Shalih, maula  Tau’amah, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda pada hari Wada’, “(Haji kali) ini tidak apa-apa, kemudian setelah itu (mereka) harus selalu berada di rumah.” Shalih menuturkan, “Saudah berkata, ‘Aku tidak akan lagi menjalankan ibadah haji setelahnya’.

Seperti itulah Saudah yang selalu berusaha  sekuat tenaga untuk taat kepada Rasulullah, baik saat  beliau masih hidup maupun setelah tiada.

Mulia dan Murah Hati

Saudah adalah wanita mulia dan murah hati, jiwanya tidak condong pada harta benda dan kesenangan dunia nan fana. Bahkan, setiap kali mendapat uang, ia lebih mementingkan orang-orang sekitar demi menginginkan kenikmatan di sisi Allah yang tidak pernah lenyap.

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, bahwa Umar menngirim sekarung dirham kepada Saudah. Saudah bertanya, “Apa ini?’ ‘Dirham,’ jawab mereka. ‘Dirham ditaruh di dalam karung seperti kurma? Wahai budak wanitaku, bawa kemari talam itu lalu bagi-bagikan dirham-dirham ini’.”

Izin Datang Kepadanya dari Langit Ketujuh

Suatu ketika, Saudah mengalami suatu kesulitan lalu kembali menemui  Nabi untuk menyampaikan kesulitan itu kepada beliau. Saat itu juga wahyu turun kepada Nabi dari atas tujuh langit untuk menghilangkan kesulitan bukan hanya baginya, tapi juga bagi wanita lain setelah itu.

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Saudah binti Zam’ah suatu ketika keluar pada malam hari. Umar melihatnya dan mengenalinya. Ia berkata, ‘Kau, demi Allah, wahai Saudah tidaklah samar bagi kami.’ Saudah kemudian kembali menemui Nabi lalu menyampaikan hal itu kepada beliau saat beliau tengah makan malam di bilikku. Tangan beliau sedang memegang susu. Allah lalu menurunkan wahyu. Setelah wahyu selesai disampaikan, beliau bersabda, ‘Allah mengizinkan kalian keluar untuk keperluan-keperluan kalian’.”

Tibalah Saat Berpisah

Saudah senantiasa berdampingan denga kitab Allah dan sunnah Rasulullah dengan hati dan seluruh tubuh. Saudah terbang mengepakkan sayap di awan sementara ketenangan turun ke dalam hatinya. Namun, kehidupan bahagia seperti itu mustahil tetap bertahan selamanya.

Tibalah hari di mana kesedihan masuk dan bersemanyam ke dalam hatinya. Rasulullah meninggal dunia, sosok dengan hati penyayang yang mencurahkan cinta, kasih sayang, ilmu dan akhlak kepadanya. Saudah kehilangan semua itu dalam sekejap.

Saudah dirundung kesedihan mendalam karena kematian beliau, nyaris saja hatinya terkoyak karenanya. Namun, ia mengaharap pahala musibah ini di sisi Allah agar meraih pahala orang-orang yang sabar.

Nabi meninggal dunia dalam kondisi ridha padanya, itu sudahlah cukup baginya. Bahkan, ia kelak menjadi istri beliau di surga Ar-Rahman; tempat kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, terdengar telinga ataupun terlintas di benak manusia.

Meski ditinggal Rasulullah, Saudah tetap rajin beribadah, berpuasa, dan shalat malam. Usianya panjang hingga masa khilafah Umar. Abu Bakar,Umar dan para sahabat tahu betul kedudukan dan posisi Saudah. Mereka memperlakukannya dengan sebaik-baiknya.

Di akhir masa khilafah Umar, ibunda kita, Saudah tidur di atas ranjang kematian. Ruhnya nan suci itu naik ke haribaan Sang Pencipta. Begitulah kisah indah wanita Yang Rela Berkorban demi Allah dan Rasul-Nya.

Referensi : Buku 35 Shahabiyah Rasul

 

Artikel Menarik Lainnya







comments