Kini saatnya kita menelusuri kembali lembar kehidupan salah seorang bunga surga. Seorang shahabiyah mulia yang mengenal nilai nikmat Islam dibandingkan nilai diri sendiri di bawah naungan agama agung ini. Ia pun meninggalkan dunianya untuk berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, guna memberikan pelajaran besar kepada dunia tentang pengorbanan demi risalah agung ini.

Ia lebih memilih mendahulukan Allah di setiap kesempatan; cinta kepada Allah dan rasul-Nya, harus melebihi cintanya kepada anak, kedua orang tua, dan siapa pun juga. Bahkan melebihi cintanya kepada diri sendiri.

Allah Swt berfirman, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. ‘Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik’.” (At-Taubah: 24)

Benar kata pujangga :

Patutkah kau mencintai musuh-musuh Rasulullah lalu kau mengaku….
Cinta kepadanya ! Itu tidak mungkin
Demikian halnya kau memusuhi orang-orang tercintanya secara terang-terangan
Cinta macam mana ini, wahai teman setan?
Syarat cinta adalah kau selaras dengan siapa yang kau cinta….
Terhadap apa yang ia cintai, tanpa kurang sedikit pun
Kalau kau mengaku cinta padanya….
Sementara kau menentang apa yang ia cinta, maka kau keliru

Siapa dia ? Ia adalah Ummu Kultsum

Mengenal sosok Ummu Kultsum

Ummu Kultsum Ra menemukan fajar yang melenyapkan kegelapan jahiliyah. Saat mentari Islam muncul di bumi Jazirah, Ummu Kultsum mendapati para pemilik fitrah lurus dan hati suci nan bertakwa, bersegera memasuki agama ini. Ia pun segera melangkahkan kaki berpacu dengan angin bergabung bersama kafilah iman, lalu berserah diri kepada Allah dan berbaiat. Hanya saja, ia baru bisa berhijrah pada tahun 7 Hijriyah. Karena, ia tinggal bersama dua orang tua kafir. Hijrah Ummu Kultsum terjadi pada rentang waktu perjanjian Hudaibiyah.

Uqbah bin Abi Mu’ith adalah ayah dari Ummu Kultsum, ia salah satu pembesar kaum kafir bahkan dalam satu riwayat ia pernah meludahi wajah Rasulullah Saw.

Diriwayatkan Uqbah bin Abu Mu’tih teman Ubai bin Khalaf ini suatu ketika mengadakan walimah. Ia mengundang kaum Quraisy, termasuk Rasulullah Saw. Saat ia menyuguhkan makanan, Rasulullah Saw berkata padanya, “Aku tidak mau makan sebelum kau bersaksi bahwa aku utusan Allah” Uqbah menyanggupi lalu Rasulullah Saw memakan jamuan makan yang ia berikan. Saat Ubai bin Khalaf mendengar hal itu, ia berkata pada temannya, Uqbah, “Kau telah meninggalkan agama leluhur.” Uqbah berkata, “Tidak. Hanya saja ada orang besar datang kepadaku. Ia tidak mau memakan makananku sebelum aku memberikan kesaksian kerasulan kepadanya.” Ubai lalu berkata padanya, “Wajahku haram bagi wajahmu, sebelum kau meludah di wajah Muhammad, menginjak lehernya, dan mengatakan ini dan itu” . Si kafir ini menuruti perintah temannya itu, lalu Allah menurunkan wahyunya surah Al-Furqon ayat 27-29

“Dan (Ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, ‘Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia’.”
(Al-Furqan : 27-29)

Al-Hafizh Ibnu Katsir memberikan penafsiran terkait firman Allah Swt surah Al-Furqan : 27-29 ini. Allah ta’ala mengabarkan tentang penyesalan orang zalim yang menjauhi jalan Rasul Saw. pada hari Kiamat kelak, ia menyesal di saat penyesalan tiada membawa guna. Ia menggigit kedua jarinya karena menyesal. Terlepas ayat ini turun berkenaan dengan Uqbah bin Mu’ith ataupun orang-orang celaka lain, namun ketentuan ini bersifat umum untuk setiap orang zalim.

Si Uqbah yang telah menyakiti Rasulullah Saw ini, menyakiti beliau dengan cara yang tidak dilakukan oleh siapa pun. Ia menginjak leher makhluk paling suci; Rasulullah Saw. Akhirnya di kemudian hari lehernya dipenggal sebagai balasan yang setimpal.

Ibnu Ishaq menuturkan terkait tawanan-tawanan Badar, dan terkait Uqbah bin Mu’ith, bagaimana ia dibunuh. Uqbah bertanya saat Rasulullah Saw memerintahkan untuk membunuhnya, “Bagaimana dengan anak-anakku wahai Muhammad?’ “Mereka masuk neraka’.” Jawab beliau. Yang mengeksekusi Uqbah adalah Ashim bin Tsabit bin Abu Aflah. Demikian penuturan Musa bin Uqbah dalam Al-Maghazi-nya.

Saat Ashim bin Tsabit menghampiri Uqbah, Uqbah bertanya, “Wahai kaum Quraisy, kenapa hanya aku saja yang dibunuh, sementara tawanan-tawanan lain yang ada di sini tidak?’ ‘Karena permusuhanmu terhadap Allah dan Rasul-Nya,” jawab Ashim.

Hijrahnya Ummu Kultsum

Ketika Suhail bin Amr menulis butir-butir perjanjian Hudaibiyah, di mana di antara syarat yang diajukan Suhail pada Nabi Saw adalah siapa pun dari kalangan Quraisy yang datang kepada Nabi Saw meski memeluk agama Islam, harus dikembalikan kepada kaum Quraisy.

Orang-orang mukmin tidak menyukai persyaratan ini. Namun Abu Suhail tetap tak bergeming, tidak menerima opsi apapun selain syarat tersebut. Nabi Saw pun menerima persyaratan Suhail ini, dan saat itu pula beliau mengembalikan Abu Jandal kepada ayahnya, Suhail bin Amr. Siapa pun lelaki yang datang kepada beliau harus beliau kembalikan selama batas waktu perjanjian, meski ia muslim.

Saat itu orang-orang wanita beriman dan berhijrah datang kepada Rasulullah Saw, termasuk di antaranya Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Mu’ith yang saat itu belum menikah. Keluarganya datang meminta Nabi Saw memulangkannya. Namun Nabi Saw tidak memulangkann Ummu Kultsum ke keluarganya setelah turun ayat terkait mereka;

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka.”
(Al-Mumtahanah:10)

Disebutkan dalam riwayat Ibnu Sa’ad ; Kepergian Ummu Kultsum terjadi dalam rentang waktu perjanjian Hudhaibiyah. Dua saudaranya, Walid dan Umarah mengejarnya hingga tiba di Madinah. Keduanya kemudian berkata, “Wahai Muhammad, penuhilah syarat (perjanjian) kami.’ Ummu Kultsum menyela, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan mengembalikanku kepada orang-orang kafir yang akan menyiksaku karena agamaku; sementara aku ini sudah tidak tahan, dan kondisi kelemahan kaum wanita pun sudah kau ketahui?’ Allah kemudian menurunkan Surah Al-Mumtahanah : 10-12.

Beliau kemudian bertanya, ‘Demi Allah, kalian tidak pergi selain karena cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan Islam, kalian bukan pergi demi mencari suami atau pun harta?’ Jika mereka mengatakan seperti itu, mereka tidak dikembalikan kepada orang-orang kafir’”

Ummu Kultsum menuturkan kisah Hijrahnya;

“Aku pergi ke kawasan padang pasir, di sana terdapat keluargaku. Aku tinggal di sana selama tiga-empat hari. Kawasan ini terletak di arah Tan’im. Setelah itu, aku pulang ke keluargaku. Mereka tidak memungkiri kepergianku ke padang pasir. Akhirnya, aku bertekad untuk menempuh perjalanan (hijrah). Suatu hari, aku pergi meninggalkan Mekah seakan hendak menuju padang pasir. Setelah orang yang membuntutiku kembali, tiba-tiba ada seseorang dari Khuza’ah. Ia bertanya, ‘Kamu mau kemana?’ Aku balik bertanya, ‘Apa masalahmu dan kamu siapa?’ Dia berkata, ‘Seseorang dari Khuza’ah.’ Begitu teringat Khuza’ah, aku merasa tenang pada orang tersebut karena Khuza’ah terikat perjanjian dengan Rasulullah Saw. Aku kemudian berkata, “Aku ini wanita Quraisy. Aku ingin menyusul Rasulullah Saw, tapi aku tidak tahu jalan.’ Ia berkata, ‘Aku akan mendampingimu sampai ke Madinah.

Ia kemudian memberiku seekor unta. Aku kemudian naik lalu ia menuntun untaku. Demi Allah, ia tidak berbicara sepatah kata pun padaku. Saat hendak menderumkan unta, ia menjauh dariku. Setelah aku turun, ia mengikat unta itu pada pohon lalu menjauh di bawah naungan pohon. Begitu waktu meneruskan perjalanan tiba, ia mengikat muatan di atas punggung unta lalu ia dekatkan kepadaku, setelah itu ia menjauh. Setelah aku naik, ia segera meraih kepala unta tanpa menoleh ke belakang ke arahmu hingga aku turun. Seperti itulah yang ia lakukan hingga kami tiba di Madinah. Semoga Allah memberi balasan baik kepadanya karena telah mengantarku.

Aku kemudian masuk ke tempat Ummu Salamah. Saat itu aku mengenakan cadar sehingga ia tidak mengenaliku. Setelah aku menyebutkan nasabku dan membuka cadarku, ia lansung merangkulku dan bertanya, “Kau berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya?”’ Ya. Tapi aku takut Nabi Saw mengembalikanku seperti beliau mengembalikan Abu Jandal dan Abu Bashira. Kondisi lelaki tentu berbeda dengan kondisi wanita. Kaum (Maksudnya keluarganya) saat ini mencari-cariku. Karena aku sudah lima hari pergi sejak aku meninggalkan mereka. Mereka biasanya menanti kedatanganku selama kepergianku seperti biasanya. Lebih dari itu, mereka pasti mencari-cariku. Kalau mereka tidak menemukanku, mereka pasti mengejarku,”jawabku.

Rasulullah Saw kemudian masuk menemui Ummu Salamah. Ummu Salamah lalu menceritakan kisah Ummu Kultsum kepada beliau. Beliau pun menyambut kedatangannya.

Ummu Kultsum berkata, “Aku melarikan diri kepadamu demi menyelamatkan agamaku, maka lindungilah aku dan jangan kau kembalikan aku kepada mereka, karena mereka pasti menyiksaku. Aku tidak akan tahan disiksa. Aku ini hanya seorang wanita, dan kelemahanku kaum wanita sudah engkau ketahui sendiri. Akhirnya ayat ujian ini turun.

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka.” (Al-Mumtahanah: 10)

Pernikahan Ummu Kultsum

Setelah melewati hijrah penuh berkah, meninggalkan keluarga dan kampung halaman demi meraih ridho Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ummu Kultsum tinggal di Madinah Al-Munawwarah. Di Madinah inilah ia memulai kembali kehidupannya di bawah naungan Islam. Di sini jugalah ia menemukan jodohnya, hidup, memiliki keturunan sampai meninggal dunia

Di Mekah, Ummu Kultsum belum punya suami. Ia kemudian dinikahi Zaid Bin haritsyah, namun setelah itu ia dicerai. Berikutnya, ia dinikahi Abdurrahman Bin Auf lalu melahirkan Ibrahim dan Hamid. Setelah Abdurrahman bin Auf meninggal dunia, Ummu Kultsum dinikahi Amr bin Al-Ash, hingga Ummu Kultsum meninggal dunia sebagai istrinya.

Demikianlah Ummu Kultsum berpindah dari satu lingkungan iman ke lingkungan iman lainnya, hingga tibalah waktu bagi shahabat wanita mulia ini pergi meninggalkan dunia. Beliau meninggal di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Sumber referensi :

Buku 35 Shahabiyah Rasul karya Syaikh Mahmud Mishri

Artikel Menarik Lainnya







comments