Pada bagian ini kita akan mencoba menelusuri kehidupan salah satu legenda hidup yang menegaskan bahwa tidak ada yang mustahil di bawah naungan akidah nan kuat dan iman nan mendalam.

Imam Abu Nu’aim menyebutkan : “Ummu Umarah, wanita yang berbaiat di Aqabah. Pejuang wanita yang memerangi kaum lelaki. Wanita tua yang serius, bersungguh-sungguh, rajin puasa, beribadah, dan menjadi tumpuan.”

Imam Adz-Dzahabi menuturkan tentangnya ;

Ummu Umarah, Nasibah binti Ka’ab bin Amr bin Auf bin Mabdzul. Wanita mulia, mujahidah, Al-Anshariyah, Al-Khajrajiyah, An-Nasjjariyah, Al- Maziniyah, Al-Madaniyah.

Saudaranya, Abdullah bin Ka’ab Al-Mazini, termasuk veteran Badar. Saudaranya yang lain Abdurrahman, sering kali menangis.

Ummu Umarah hadir pada malam Aqabah, hadir dalam perang Uhud, Hudaibiyah, Hunain, dan perang Yamamah. Ia berjihada dan melakukan banyak sekali aksi.

Sejumlah hadits diriwayatkan darinya. Tangannya terputus dalam jihad.

Dulu Ummu Umarah menikah dengan Zaid bin Ashim Al-Mazini An-Najjari, lalu melahirkan Abdullah dan Hubaib. Kedua anaknya ini mendampingi Nabi Saw. Setelah Zaid bin Ashim meninggal, ia menikah dengan Ghaziyah bin Amr Al-Mazini An-Najjari, lalu melahirkan Khaulah. Ia anak-anaknya dan keluarganya punya kedudukan besar dalam Islam.

Sang pemilik akhlak mulia

Ummu Umarah adalah seorang wanita yang memiliki segala keutamaan dan akhlak. Keutamaan dan akhlaknya tak mampu diucapkan dengan kata-kata, karena ia memiliki banyak sekali kemuliaan.

Sebagai seorang istri Ummu Umarah adalah istri yang setia dan memahami benar apa yang menjadi hak istrinya. Sebagai seorang ibu, dia ini seorang ibu yang penyayang. Sebagai seorang hamba Allah, ia adalah ahli ibadah rajin mengerjakan shalat malam, puasa, dan juga ahli zikir. Sebagai seorang mujahidah ia adalah pejuang muslimah yang pernah membela dan mempertahankan Rasulullah Saw. Itulah luar biasanya akhlak yang dimiliki oleh shahabiyah Rasulullah Saw yang satu ini.Ummu Umarah.

Mentari yang muncul saat baiat Aqabah

Selepas baitul Aqabah pertama, Rasulullah Saw untuk pertama kalinya mengirim duta Islam; Mush’ab bin Umair Ra yang meraih kesuksesan signifikan dalam menyebarkan Islam dan mengumpulkan banyak orang dengan metodenya nan tenang, akhlaknya nan harum, hujahnya nan kuat dan kecerdasannya nan kokoh. Seba ia terdidik dibawah didikan Rasulullah Saw, belajar darinya tentang bagaimana cara berdakwah.

Ummu Umarah termasuk di antara mereka yang masuk Islam berkat usaha Musha’b bin Umair, sehingga ia punya janji dengan kebahagiaan dunia-akhirat.

Pada tahun berikutnya, 33 lelaki dan dua wanita datang menemui Nabi Saw untuk melangsungkan Baiatul Aqabah kedua.

Kedua wanita itu adalah Ummu Umarah Nasibah binti Ka’ab dan Ummu Mani’ Asma’ binti Amr Ra. Baiat penuh berkah ini berlansung. Ummu Umarah berbaiat kepada Rasulullah Saw, sehingga ia menorehkan lembaran cahaya di sejarah Islam.

Sang pembawa amanah besar

Ummu Umarah kembali ke Madinah dengan membawa amanah agama agung ini. Begitu sampai di Madinah, ia menyebarkan Islam di kalangan wanita Madinah, anak-anak, keluarga, dan kaumnya.

Seperti itulah seorang muslimah yang sadar betul bahwa agama ini tidak akan sampai ke seluruh dunia tanpa pengorbanan dan amanah besar yang harus diemban.

Kisah jihad menakjubkan Ummu Umarah di jalan Allah Swt

Para ahli sejarah dan penulis biografi menyebutkan bahwa Ummu Umarah turut menghadiri sejumlah peristiwa bersama Rasulullah Saw, yaitu : Baitul Aqabah, Uhud, Hudaibiyah, Khaibar, umrah qadha, penakhlukan Mekah, dan Hunain. Ia juga ikut serta memerangi orang-orang murtad dalam perang Yamamah, menumpas Musailamah Al-Kadzdzab dan para pengikutnya.

Di tengah-tengah peristiwa-peristiwa ini, Ummu Umarah Ra menorehkan kisah-kisah cemerlang satu persatu. Ia adalah pejuang wanita pertama dalam sejarah Islam.

Di antara kisah unik Ummu Umarah; ia berbaiat kepada Nabi Saw untuk membela beliau. Ia memenuhi janji ini dalam perang Uhud dengan baik. Bahkan ia punya kisah agung waktu itu yang membuatnya layak mendapatkan berita gembira surga beserta seluruh keluarganya.

Jihad Ummu Umarah dalam perang uhud serta pembelaannya terhadap Nabi Saw

Quraisy tidak pernahh tenang setelah mengalami kekalahan dalam perang Badar. Perkembangan-perkembangan yang terjadi kian mengorbankan kedengkian dalam diri mereka. Begitu setahun berlalu. Mekah mempersiapkan segala sesuatunya. Para sekutu mereka ikut bergabung, tidak terkecuali dengan seluruh pihak yang dendam terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Pasukan yang tersulut dendam ini akhirnya bergerak dalam jumlah personil lebih dari 3000 pasukan.

Abu Sufyan, panglima perang Mekah, berpandangan untuk mengajak serta kaum wanita agar lebih memotivasi para pasukan untuk berperang mati-matian agar kehormatan diri mereka tidak diserang.

Kaum muslimin bergerak untuk bertemu dengan kaum musyrikin. Mereka mendirikan tenda-tenda di jalan-jalan perbukitan Uhud, tepatnya di Udwatul Wadi, dengan memposisikan gunung di belakang. Rasulullah Saw menggariskan strategi perang dengan bijak. Beliau membagi para pasukan pemanah di sejumlah tempat dengan menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai komandan. Mereka berjumlah 50 pemanah jitu. Beliau menginstruksikan, “Lindungi kami dengan panah, agar musuh tidak menyerang kami dari belakang. Tetaplah berada di posisi kalian, baik ketika kami unggul atau pun terdesak, supaya kami tidak diserang dari arahmu.” (Ibnu Hisyam)

Riwayat lain menyebutkan; beliau memberi instruksi kepada seluruh pasukan pemanah jitu, “Lindungi kami dari belakang. Saat kalian melihat kami diserang, jangan bantu kami. Dan saat kalian melihat kami mengumpulkan rampasan perang, jangan turun meninggalkan posisi untuk ikut mengumpulkan rampasan perang bersama kami.”

Rasulullah Saw memastikan regu pasukan pemanah sudah memegang seluruh instruksi untuk pasukan baris belakang ini. Selanjutnya, beliau memberikan instruksi kepada pasukan baris depan. Beliau memerintahkan agar tidak melancarkan serangan terlebih dahulu tanpa komando beliau.

Keluarga beriman ini ikut pergi; Ummu Umarah bersama anaknya Abdullah, Hubaib, dan sang suami. Suami dan anak-anaknya bergerak maju berjihad di jalan Allah Swt. Sementara Ummu Umarah berperan memberi minum para pasukan yang kehausan dan memerban korban luka. Namun, situasi peperangan memaksa Ummu Umarah untuk maju menyerang kaum musyrikin. Ia berdiri bak seorang ksatria yang membela Rasulullah tanpa takut. Ini terjadi ketika para pasukan melarikan diri berhamburan karena ketakutan. Saat itulah Ummu Umarah mengambil pedang dan perisai. Ia berdiri di samping Rasulullah Saw, menjadikan dirinya sebagai perisai hidup untuk beliau.

Bentrok berdarah dimulai, pada mulanya kemenangan berpihak kepada pasukan Allah. Kaum muslimin mulai mengumpulkan rampasan perang. Tiba-tiba para pasukan pemanah meninggalkan pos-pos mereka dan turun ke medan perang. Pasukan musyrik memanfaatkan kesempatan ini. Mereka datang dari belakang dan menyerang kaum muslimin. Mereka berhasil membunuh banyak sekali kaum muslim. Setelah itu, mereka mencari-cari Nabi Saw untuk mereka bunuh.

Di sanalah segelintir shahabta Rasulullah Saw berkumpul untuk melindungi beliau, termasuk Ummu Umarah Ra.

Ummu Umarah mengisahkan peristiwa ini sebagaimana diriwayatkan oleh Umarah bin Ghaziyah, “Ummu Umarah berata, “Aku berada di sana. Kaum muslimin berlarian meninggalkan Rasulullah Saw hingga tetap bertahan bersama beliau hanya segelintir saja, tidak lebih dari sepuluh orang.

Akhirnya, aku bersama anak dan suamiku, menghampiri Rasulullah Saw. Kami mengelilingi Rasulullah Saw untuk memberikan perlindungan, layaknya gelang di pergelangan tangan. Kami sebisa mungkin membela beliau dengan kekuatan dan senjata yang kami punya.

Rasulullah Saw melihatku yang saat itu tidak membawa perisai untuk melindungi diri dari serangan pasukan musyrikin.

Saat itu beliau melihat seorang lelaki melarikan diri dengan membawa perisai, maka beliau berteriak padanya, ‘Berikan perisaimu pada orang yang berperang!’ Orang itu kemudian melempar perisainya ke arahku dan lansung pergi. Kuambil perisai itu untuk melindungi Rasulullah Saw.

Pasukan yang menyerang kami hingga terpojok seperti ini adalah pasukan berkuda (Quraisy). Andai mereka pasukan pejalan kaki seperti kami, tentu sudah kami serang mereka, Insya Allah.

Seorang penunggang kuda kemudian datang menghampiri lalu menyerangku. Aku melindungi diri dengan perisai. Setelah itu, ia tidak berbuat apa-apa lagi dan pergi. Aku kemudian menebas tungkai kaki kudanya, hingga ia terjatuh dari atas kuda. Nabi Saw lantas meneriakkan, ‘Wahai Ibnu Ummu Umarah ! (Bantu) ibumu!’ Anakku kemudian membantuku menyerang penunggang kuda itu hingga aku berhasil membunuhnya’.” (Ath-Thabaqat)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid, ia berkata, “Saat itu, aku mendapat luka, darah tidak berhenti mengucur, Lalu Nabi Saw berkata, “Perbanlah lukamu!”

Ibuku datang dengan membawa kain-kain perban di pinggan. Ia kemudian memerban lukaku sementara Nabi sementara Nabi Saw berdiri. Ibuku berkata, “Bangkitlah nak! Serang musuh dengan pedangmu!’

Rasulullah Saw kemudian mengatakan, “Siapa yang mampu beraksi sepertimu, wahai Ummu Umarah?!’

Aku lansung menghadang lelaki itu lalu aku sabet kakinya dengan pedang, hingga ia jatuh tersungkur di tanah.

Nabi Saw menoleh ke arahku dengan senyum mengembang dan menuturkan, ‘Kau telah telah menuntut balas padanya, wahai Ummu Umarah.”

Kami kemudian menghampiri lelaki musyrik itu, kami terus menyabetkan pedang ke arahnya hingga tewas. Nabi Saw kemudian mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kemenangan kepadamu’.” (Ath-Thabaqat)

Rasulullah Saw bersaksi padanya

Dhamrah bin Sa’id Al-Mazini bercerita dari neneknya. Neneknya ikut hadir dalam perang Uhud. Ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Sungguh, kedudukan Nasibah binti Ka’ab hari ini lebih baik dari kedudukan fulan dan fulan’.”

Saat itu, ia melancarkan serangan hebat dan mengikat bajunya hingga mendapat luka. Perawi menuturkan, “Aku melihat Ibnu Qamiah menebaskan pedang tepat di pundaknya. Itulah lukanya yang paling parah. Ia merawat luka tersebut hingga setahun lamanya. Setelah itu, penyeru Rasulullah Saw menyerukan, ‘(Seluruh pasukan menuju) Humraul Asad!” Ia kemudian mengencangkan baju namun tidak bisa karena darah terus mengalir. Semoga Allah meridhai dan merahmatinya.

Rasulullah Saw mendoakan Ummu Umarah

Begitu istimewanya Ummu Umarah, sampai Rasulullah Saw mendoakan beliau secara khusus.

Diriwayatkan dari Harits bin Abdullah, “Aku mendengar Abdullah bin Zaid bin Asham menuturkan:

‘Aku turut serta dalam perang Uhud bersama Rasulullah Saw. Kala semua orang berlarian meninggalkan Rasullullah Saw, aku bersama ibuku mendekat untuk melindungi beliau.

‘Anak Ummu Umarah?’ tanya beliau.

‘Ya,’ sahutku.

‘Melemparlah!’ perintah beliau. Aku kemudian melemparkan batu ke arah salah satu pasukan musyrikin di hadapan beliau, batu mengenai mata kuda. Kuda itu bergerak-gerak tak terkendali hingga orang musyrik itu jatuh ke tanah. Aku terus melemparinya dengan batu hingga batu-batuan menumpuk di atas tubuhnya. Nabi Saw melihatku sambil tersenyum.

Nabi Saw kemudian menoleh dan melihat luka pada pundak ibuku yang mengeluarkan darah.

‘Ibumu! Ibumu! Perbanlah lukanya.

‘Ya Allah ! Jadikanlah mereka sebagai pendamping-pendampingku di surga.’

‘Setelah Nabi Saw berdo’a seperti itu, aku tidak perduli apa pun musibah yang menimpaku’.” Kataku. (Ath-Thabaqat)

Duka dan bahagia

Ummu Umarah pulang dari perang Uhud dengan membawa luka-luka yang ia dapatkan. Hanya berlalu satu malam yang dilalui para mujahidin di rumah untuk mengobati luka. Pada pagi harinya penyeru Rasulullah Saw menyerukan, “(Seluruh pasukan maju) Humratul Asad!” Ummu Umarah kemudian mengencangkan baju namun tidak bisa ikut pergi bersama pasukan karena darah terus mengalir dari tubuhnya.

Satu tahun penuh Ummu Umarah mengobati luka yang ia dapatkan dalam perang Uhud. Namun begitu, Ummu Umarah tetap meneruskan perjalanan jihad di jalan Allah.

Kala Nabi Saw bergerak untuk memerangi Bani Quraizhah, Ummu Umarah turut serta dalam perang penuh berkah ini. Ini menunjukkan bahwa luka yang ia dapatkan dalam perang uhud sama sekali tidak melemahkan tekadnya, karena keimanan pada Allah dalam dirinya-lah yang menjadi sumber kekuatan.

Sang mujahidah, Ibu anak yang mati syahid

Ummu Umarah Ra menjadi ikon segala kemuliaan. Ia wanita ahli ibadah, taat lagi bertakwa pada Allah Swt, pejuang islam dan sabar menerima ketentuan Allah Swt.

Suatu ketika ia diuji dengan kematian anaknya yang tercinta Hubaib, yang dikirim Nabi Saw sebagai utusan untuk menemui Musailamah Al-Kadzdzab. Seharusnya utusan tidak boleh dibunuh. Namun, musailamah berkhianat dan memerintahkan untuk membunuhnya.

InsyaAllah kematian Hubaib putra sang mujahidah tergolong sebagai mati syahid.

Jihad Ummu Umarah Saat Perang Yamamah

Setelah Rasulullah Saw meninggal dunia, sejumlah kabilah Arab murtad. Abu Bakar Ra kemudian mengirim sejumlah pasukan untuk menumpas orang-orang murtad dan mengembalikan mereka ke pangkuan agama Allah Swt. Ummu Umarah segera meminta izin kepada Abu Bakar untuk ikut bersama pasukan mneuju Yamamah untuk meneruskan perjalanan jihad dan menuntut balas kematian anaknya, Hubaib, terhadap Musailamah Al-Kadzdzab.

Ummu Umarah melaju membelah barisan-barisan pasukan untuk memerangi musuh-musuh Allah –Saat itu usianya sudah lebih dari 60 tahun- dan terus menebaskan pedang ke pasukan murtad. Allah pun membahagiakannya dengan terbunuhnya Musailamah dalam perang Yamamah. Tatkala Ummu Umarah melihat Musailamah terkapar, ia pun sujud syukur kepada Allah, melupakan semua luka di sekujur tubuhnya. Dalam peperangan ini, Ummu Umarah mendapatkan sebelas luka dan tangannya terpotong.

Akhir usia Ummu Umarah

Setelah melewati perjalanan panjang jihadnya bersama Islam, akhirnya Ummu Umarah dipanggil oleh Allah Swt. Ia telah menorehkan sejarah emas dalam peradaban Islam. Ia meninggalkan pembelajaran tentang ketaatan, keberanian dan pengorbanan tanpa batas pada kita.

Ummu umarah adalah teladan wanita tentang keberanian. Ia menunjukkan pada kita bahwa siapa pun bisa membela agama ini dengan memberikan pengorbanan terbaik. Tanpa peduli apakah ia laki-laki atau perempuan. Ummu Umarah mencintai dirinya, keluarganya tapi ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Itulah sebab ia ajak keluarganya untuk terjun ke medan jihad mewakafkan diri untuk agama ini.

Manisnya iman yang kita rasakan saat ini, indahnya peradaban islam yang kita saksikan, kokohnya bangunan kejayaan islam hari ini. Dan, dalam semua itu ada tetesan keringan dan darah perjuangan dari seorang mujahidah. Ummu Umarah.

Sumber referensi :

Buku 35 Shahabiyah Rasul karya syaikh Mahmud Al-Mihsri

Artikel Menarik Lainnya







comments