Tak dipungkiri memang kemajuan teknologi memiliki dampak yang sangat positive bagi kehidupan kita sehari-hari. Sesuatu yang  tahun 10 atau mungkin 20 tahun silam hanya masih sebuah khayalan, mimpi atau keajaiban bagi kita hari ini telah menjad kenyataan.

Kehidupan kita antar kota, provinsi bahkan antar negara terhubung hanya dari jempol ke jempol melalui sebuah layar sederhana. Bermodalkan jempol kita bisa menikmati berbagai kemudahan seperti komunikasi, hiburan, urusan pembelanjaan. Gadget juga membantu kita untuk kembali terhubung dengan teman lama, apakah itu teman semasa sekolah dasar, semasa smp, sma, kuliah atau mungkin teman-teman satu komunitas.

Diakui atau tidak kemajuan teknologi memberi sangat banyak dampak positive dalam kehidupan kita, diantara seperti yang kami sebutkan diatas tadi. Namun dari sekian banyak manfaat serta dampak positivenya ternyata kemajuan teknologi juga membawa dampak negative dalam kehidupan kita salah satunya adalah kehidupan rumah tangga, hubungan suami dengan istri, ayah dan ibu dengan anaknya.

Ketergantungan adalah salah satu dampak buruk dari gadget, makanya sudah menjadi pemandangan umum kita melihat para orang tua yang asyik dan sibuk bersama gadgetnya dan cuek terhadap anaknya. Orang tua mungkin bisa dengan mudah terhubung dengan siapapun melalui jempolnya, gadget mendekatkan dirinya dengan orang lain. Namun tanpa disadari perangkat elektronik ini membuat dia semakin jauh dan renggang dengan anaknya.

Anak hanya mendapatkan sisa-sisa waktu dari orang tuanya bahkan sering juga disambil sembari memegang gadget. Masalah orang tua yang terlalu sibuk dengan gadgetnya bukan lagi menjadi masalah yang sederhana karena dengan gadget bisa membuat dirinya semakin jauh dengan anaknya yang tentu ini juga berdampak terhadap pola pikir, sikap , karakter dan masa depan anaknya

AVG Techonologies, sebuah perusahaan keamanan online yang mengadakan survei global terhadap keterkaitan antara kesibukan orang tua dan gadgetnya dengan anak. Ternyata hal ini mempengaruhi pikiran si anak dan menjadi masalah yang serius.

Berikut adalah hasil survei yang dilakukan terhadap 6.117 orang, termasuk anak berusia delapan hingga 15 tahun serta orangtuanya menghasilkan data berikut ini:

– Sekitar 54 persen anak merasa orangtuanya terlalu sering mengecek perangkat elektroniknya.
– Sekitar 32 persen anak-anak merasa dirinya tak penting ketika perhatian orangtuanya teralihkan oleh perangkat elektronik.
– Sekitar 52 persen orangtua sepakat, terlalu sering mengecek perangkat elektroniknya.
– Hanya 28 persen orangtua yang merasa cara menggunakan ponsel cerdasnya tidak patut ditiru anak.
– Sekitar 25 persen orangtua berharap anak-anaknya mengurangi waktu penggunaan perangkat elektronik.

Riset ini digelar di Australia, Brasil, Kanada, Republik Ceko, Prancis, Jerman, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat.

Anak memang butuh uang, anak memang butuh fasilitas pendidikan terbaik, anak memang butuh fasilitas bermain, anak memang butuh pakaian terbaik. Tapi ada yang jauh lebih dibutuhkan oleh anak-anak kita yaitu perhatian. Anak butuh suatu kedekatan hubungan dengan orang tuanya, tidak hanya kedekatan fisik tapi juga kedekatan emosional yang mana itu tentu hanya bisa dibentuk melalui komunikasi yang intens antara orang tua dan anak.

Tidak ada salahnya mengikuti perkembangan zaman serta kemajuan teknologi,namun pastikan kemajuan teknologi tidak berdampak buruk bagi diri kita dan keluarga kita sendiri khususnya pada anak-anak kita. Mencoba untuk melepaskan diri sejenak dari gadget, matikan gadget kita disaat tertentu dan alokasikan waktu yang berkualitas tersebut untuk membersamai putra-putri kita tercinta. Jangan sampai anak-anak kita merasa jauh dengan kita meskipun kita dekat disampingnya, jangan sampai anak-anak kita merasakan cemburu pada gadget kita hanya karena kita terlalu sering dan terlalu sibuk dengan benda ini, hingga mereka berandai-andai seandainya papa dan mama tidak punya gadget.

Sumber foto : tekno.liputan6.com

Artikel Menarik Lainnya







comments