Pertanyaan :

Assalamualaikum.wr.wb

Saya adalah wanita yang baru di lamar 4 hari oleh seorang pria yang baru saya kenal, lamaran itu hanya sebatas kami berdua yang tau, karena itu saya meminta pernikahan di tahun depan.

Pada hari ke 3 tepatnya kemarin, pria yang baru saya kenal ini di hubungi oleh mantannya yang 5 Bulan sudah putus, dan mantannya berkata bahwa dia siap di nikahi oleh calon suami saya di tahun ini.

Seperti cambuk di siang hari untuk saya,  ketika calon suami di landa kebingungan antara bertahan dengan saya atau memilih mantannya yang sudah meninggalkannya

Mohon pencerahannya,  apakah saya terlalu berlebihan berharap kepadanya?  Sehingga membuat saya sedikit kecewa
Apakah ini sebuah ujian pernikahan untuk calon suami saya?

Lalu apakah saya harus bertahan dan menunggu jawabannya?  Atau saya menghilang secara perlahan dari kehidupannya,  karena cerita seperti ini pernah saya alami dan ini ke 2 kalinya.

*mohon jawab pertanyaan saya yang ini,  karena emailnya yang tadi salah
Judul Pertanyaan: Apakah kami berjodoh?

Jawaban :

alaikumussalaam wrwb
pasti membingungkan ya berada di posisi Mbak.
tapi mari  kita coba buat sederhana ya..
pertama,  Prinsip yang harus mbak pegang adalah, jika dia benar jodoh, pasti akan bertemu di pelaminan. Jika tidak jodoh ya tidak akan terjadi pernikahan.
kedua, dalam Islam, pria akan menjadi qowwam atau pemimpin. dan untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, dibutuhkan ketegasan serta keberanian untuk bertanggung jawab.
untuk kasus mbak, jika dia bingung untuk memilih, sebaiknya berikan saja dia waktu untuk berpikir, beristikhoroh, meminta petunjuk pada Allah.
Setelah itu apapun jawabannya, mbak harus siapkan diri.
lalu bagaimana jika dia memilih mantannya?
tidak masalah Mbak, karena artinya akan ada orang lain yang jauh lebih baik yang Allah siapkan untuk Mbak.
bagaimana jika kita masih cinta?
percayalah bahwa cinta bisa dibangun dan bisa diobati. dan cinta yang lebih kokoh tentu saja dibangun atas dasar komitmen dan iman pada Allah SWT.
jadi, jika memang benar dia telah mengkhitbah, seharusnya seorang pria mukmin sejati tidak menciderai niatnya sendiri.
mungkin mbak akan kecewa beberapa saat, tapi setelah itu hati mbak akan pulih seiring berjalannya waktu insyaa Allah.
Ohya Mbak, sebaiknya libatkan keluarga dan wali nikah ya jika memang serius mau menikah. Selain untuk menjaga kemuliaan mbak sebagai muslimah (agar tak dipermainkan). hal ini juga akan menumbuhkan sikap tanggung jawab pada sang calon, agar menghormati keluarga mbak. Dan dalam proses menuju pernikahan, hindari pacaran karena dilarang dalam Islam. Silakan berniat membangun rumah tangga, tapi sebisa mungkin lakukan prosesnya dengan cara yang diridhoi Allah.
Demikian ya Mbak, semoga Allah lapangkan hati dan urusannya 🙂
***
picture http://www.flare.pics/broken-flowers-by-luca-morris/
Indra Fathiana

Indra Fathiana

Lulusan Fak. Psikologi UI ini sangat mencintai dunia keluarga, disamping minat lainnya pada dunia pendidikan dan bisnis. Selain fokus mendidik kedua putrinya di rumah, ia aktif menjadi pengurus komunitas ibu muslimah “Mommee”, terlibat dalam program remaja “Sahabatku” bersama sejawat, menyelenggarakan social entrepreneurship project untuk pemuda, serta menulis artikel di sela-sela kesibukannya. Baginya, sukses terbesar seorang wanita adalah saat Allah dan pasangan ridho kepadanya, melahirkan generasi yang gemilang, serta menjadi manfaat bagi semesta.

Kirim Pertanyaan

Kamu memiliki masalah, unek-unek atau sekedar pertanyaan seputar kemuslimahan? Kirim pertanyaan kamu ke rubrik konsultasi Elmina dan Insyaallah kami akan berusaha menjawab pertanyaan kamu. Pertanyaan yang dikirim sebaiknya ditulis dengan bahasa yang jelas, ringkas, dan sopan. Tim redaksi akan menyortir terlebih dahulu pertanyaan yang masuk sebelum ditampilkan di rubrik konsultasi.

Form Konsultasi

14 + 6 =

Artikel Menarik Lainnya







comments