“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyuakai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.s.an-Nisaa’ : 36)

Saat seseorang sudah berkeluarga, membangun kehidupan rumah tangga maka serta merta akan hidup bertetangga. Hidup bermasyarakat adalah keniscayaan bagi setiap rumah tangga, maka setiap individu yang akan menikah mesti mempersiapkan diri untuk membaur dalam masyarakat. Mereka harus memiliki kecerdasan sosial agar mudah hidup bersama, berkontribusi dan memberi pengaruh kebaikan pada lingkungan tempat tinggalnya.

Membangun hubungan baik dengan tetangga tentu menjadi elemen terpenting dalam kehidupan bermasyarakat. Islam sendiri mendorong umatnya untuk berbuat baik pada tetangganya sebagaimana disebutkan dalam surah An-Nisaa’ ayat 36 diatas.

Masih soal bertetangga Rasulullah Saw pun bersabda :

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (H.r.Muslim)

Mengenali tetangga

Untuk mengenali apa itu tetangga? Seperti apa tetangga jauh dan dekat sebagaimana disebutkan ayat diatas mari kita coba telaah pendapat para mufassir berikut tentang tetangga.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengutip pendapat dari Ibnu Abbas dan beberapa sahabat yang memaknai sesuai nash (teks), “Tetangga dekat adalah al-Qariib, mereka yang dekat tempat tinggalnya. Adapun tetangga jauh adalah al-Ghariib, mereka yang tidak dekat.”

Imam asy-syaukani dalam Fathul Qadir mengatakan tetangga dekat adalah yang memiliki hubungan nasab, sedangkan tetangga jauh adalah yang tidak memiliki hubungan nasab. Ibnu katsir dalam tafsirul Quranil ‘Adhim menukil pendapat dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas bahwa tetangga dekat adalah mereka yang memiliki qurabah, hubungan kekerabatan. Sementara tetangga jauh adalah mereka yang tidak memiliki qurabah. Pendapat ini juga dipegang oleh Ikrimah, Mujahid, Muqatil bin Hayan, Mimun bin Abu Ishaq dan Nauf al-Bakaali, tetangga dekat adalah setiap Muslim, sedangkan tetangga jauh adalah nasrani dan yahudi.

Imam al-Auza’i berpendapat, tetangga terdekat adalah yang ada dalam jarak 40 rumah ke depan, ke belakang, ke samping kanan, dan ke samping kiri. Ketika Hasan al-Bashri ditanya tentang tetangga beliau mengatakan :

“Empat puluh rumah di depannya, empat puluh rumah di belakangnya, empat puluh rumah di samping kiri dan kanannya.” (H.R Bukhari)

Sementara Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya fathul bahri menyebutkan tetangga itu ada 3 macam yaitu :

  1. Tetangga yang memiliki satu hak yakni tetangga musryik dalam hal ini adalah mereka yang berbeda keyakinan dan keimanan dengan kita.
  2. Tetangga yang memiliki dua hak yakni tetangga yang muslim. Dia memiliki hak sebagai seorang tetangga, sekaligus hak sebagai sesama muslim.
  3. Tetangga yang memiliki tiga hak, yaitu tetangga muslim yang memiliki hubungan kekerabatan. Mereka memiliki hak sebagai tetangga, hak sesama muslim dan hak sebagai kerabat yang harus disambung silaturahminya.

Hak-hak tetangga

Rasulullah Saw bersabda :

“Hak tetangga adalah bila sakit engkau kunjungi, bila wafat kau antar jenazahnya, bila memerlukan kau pinjami, bila beraib kau tutupi, bila beroleh kebaikan kau ucapkan selamat padanya, dan bila ditimpa musibah datangilah untuk menyampaikan duka cita. Janganlah meninggikan bangunan rumah melebihi bangunannya sehingga menutup kelancaran angin baginya, dan janganlah kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan kecuali kamu ciduk sebagian untuk diberikan padanya” (H.r Thabrani)

Itulah hak-hak yang mesti didapatkan oleh tetangga kita, dan bagi kita tentu menjadi suatu kewajiban untuk menunaikannya pada tetangga kita. Dalam kehidupan masyarakat tentu tak semua tetangga kita mengetahui dan memahami hal ini. Maka menjadi suatu kesempatan bagi yang mengetahuinya untuk mensyiarkan bagaimana semestinya hidup bertetangga. Cara terbaik mensyiarkan tentu dengan memberi contoh serta teladan.

Memilih tetangga

Rasulullah SAW bersabda :

“Pilihlah tetangga sebelum memilih rumah. Pilihlah teman sebelum memilih jalan, dan siapkanlah bekal sebelum berangkat” (HR. Al-Khathib)

Memilih tetangga sebelum memilih rumah bermakna saat kita menentukan akan tinggal disuatu tempat maka terlebih dahulu lihatlah bagaimana orang-orang yang tinggal di lingkungan tersebut. Hal ini menunjukkan betapa penting dan berpengaruhnya tetangga bagi rumah tangga kita, bagi kehidupan keluarga dan anak-anak kita.

Kebaikan itu menular sebagaimana keburukan juga bisa menular. Jika kita memilih tinggal di lingkungan baik, tetangganya taat, akhlaknya bagus dan memakmurkan masjid maka secara lansung atau pun tidak akan menulari kita energi ketaatan tersebut. Begitu pula saat tetangga kita adalah orang malas beribadah, ingkar, akhlaknya buruk, suka menebar aib. Meskipun tidak menyukai hal tersebut sedikit banyak akan memberi pengaruh pada kehidupan kita.

Baca juga : Mendahulukan Memilih Tetangga Sebelum Memilih Tempat Tinggal

Menghadapi tetangga yang kurang baik

Saat kita telah berusaha untuk memilih tetangga yang baik, menyempurnakan ikhtiar dalam memilih lingkungan yang penuh ketaatan. Tetapi suatu saat kita tetap saja bisa bertemu dengan tetangga yang kurang baik atau mungkin jahat.

Maksud dari tetangga yang kurang baik atau jahat disini tentu saat aktivitas tetangga tersebut menganggu kenyamanan dan keamanan kita. Boleh jadi mereka suka menfitnah, menggunjing, menjelek-jelekan saat tidak bersama kita atau bahkan sampai menyakiti yang menyebabkan kerugian bagi kita.

Berikut adalah beberapa nasihat Syaikh Muhammad bin Jamil yang bisa dilakukan saat bertemu dengan tetangga yang kurang baik.

  1. Bersabar dalam menghadapi gangguan tetangga, atau memilih pindah rumah Saat mendapati tetangga yang kurang baik atau jahat maka pertama sekali adalah bersabar menghadapinya, hindari membalas keburukannya dengan keburukan. Apabila perbuatan buruknya sangat mengganggu bahkan merugikan solusi terbaik tentu memilih pindah tempat tinggal.
  2. Berdo’a agar Allah jauhkan dari tetangga yang buruk Rasulullah Saw mengajarkan satu do’a untuk kita agar Allah hindarkan dari tetangga yang buruk yaitu :
    Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari tetangga yang buruk di akhirat, maka sesungguhnya tetangga badui beganti-ganti. (Hr.Bukhari)
  3. Jika tak mampu bersabar dan tak sanggup berpindah Apabila tak mampu bersabar, sementara untuk berpindah rumah pun tidak sanggup. Maka cobalah untuk menerapkan nasihat Rasulullah Saw berikut :
    Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a :
    Seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi mengeluhkan tetangganya. Maka Rasulullah menasehatinya, “Pulanglah dan bersabarlah”. Lelaki itu kemudian mendatangi Nabi lagi sampai dua atau tiga kali, maka Beliau bersabda padanya, “Pulanglah dan lemparkanlah barang-barangmu ke jalan”. Maka lelaki itu pun melemparkan barang-barangnya ke jalan, sehingga orang-orang bertanya kepadanya, ia pun menceritakan keadaannya kepada mereka. Maka orang-orang pun melaknat tetangganya itu. Hingga tetangganya itu mendatanginya dan berkata, “Kembalikanlah barang-barangmu, engkau tidak akan melihat lagi sesuatu yang tidak engkau sukai dariku.” (H.r. Abu Daud)

Itulah beberapa nasihat jika menemukan tetangga yang kurang baik. Sejatinya saat bertemu dengan tetangga yang kurang baik secara tidak lansung akan mengajarkan arti kesabaran, memberikan hikmah pembelajaran dan pendewasaan. Dan yang pasti saat menemukan tetangga yang kurang baik Allah sedang memberikan satu pesan tidak lansung pada kita agar menjadikan itu sebagai jalan kebaikan. Selalu syukuri dan hadapi dengan lapang dada.

Sumber referensi :

  1. Buku Barakallahulaka bahagianya merayakan cinta karya Ustadz Salim A. Fillah
  2. Almanhaj.or.id

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments