Sebagai umat muslim beribadah adalah salah kewajiban yang mesti dijalankan. Ibadah adalah bentuk penghambaan kita pada Allah sang maha pencipta. Beribadah adalah tentang kebiasaan, jika sering kita biasakan pada anak-anak kita sejak dini maka dengan mudah akan dilakukannya hingga dewasa nanti. Begitu juga jika tidak dibiasakan sejak dini akan sulit membiasakannya saat dia telah dewasa knanti.

Ibadah adalah saat-saat yang baik untuk bermesraan dengan Allah Swt, memohon padanya, serta bersyukur atas nikmat-nikmatnya. Ada ketenangan dalam diri, jauh dari rasa gelisah dan galau serta kebahagiaan selalu menghampiri jika kebiasaan beribadah sudah terpatri dalam diri anak.

Paramter suksesnya orang tua mendidik anak agar beribadah adalah saat anak merasa butuh melakukan ibadah tersebut. Tidak lagi hanya karena sebuah kewajiban pada Allah Swt saja. Berikut adalah beberapa cara menumbuhkan kebiasaan beribadah dalam diri anak kita.

Membiasakan shalat

Shalat adalah tiang agama. Jika kita ibaratkan agama ini sebuah bangungan, tentu anda bisa bayangkan jika bangunan itu tanpa tiang. Ia akan roboh. Begitu juga dengan Islam, agama yang kita anut. Shalat adalah tiangnya. Jika tidak melakukan ibadah shalat maka sebutan Islam KTP menjadi lebih tepat bagi mereka.

Maka menjadi kewajiban bagi setiap orang tua membiasakan anaknya agar shalat sejak kecil. Melalui bacaannya shalat mengajarkan kalimat-kalimat tauhid, melalui gerakannya shalat mengajarkan tentang meneladani Rasulullah Saw dalam ibadah, Melalui bacaan ayat Al-qura’n akan menjadikan anak-anak kita lebih dekat lagi dengan Al-qur’an.

Shalat adalah ibadah utama bagi setiap muslim, shalat juga ibadah harian yang jika dilakukan dengan rutin maka akan banyak memberikan dampak kebaikan bagi hati, pikiran, jiwa dan raga yang melakukannya. Jika shalat seseorang benar maka akan menjadi lebih mudah baginya untuk mendirikan ibadah-ibadah lainnya.

Bahkan Allah Swt memerintahkan kita mengajari anak-anak untuk shalat sebagaimana firman-Nya.

“ Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa”
(Q.s Thaha : 132)

Rasulullah Saw pun meletakkan shalat sebagai ibadah yang paling pertama diajarkan kepada anak-anak sebelum mengajarkan rukun Islam yang lain selain syahadat. Agar lebih mudah dalam mengajarkan anak shalat ada beberapa tahap-tahap yang mesti dijalani dalam prosesnya.

  1. Tahap mengenalkan shalat Pada tahapan ini kita sebagai orang tua cukup menjalankan ibadah shalat di hadapannya. Atau ajak anak untuk mengikuti gerakan shalat yang kita lakukan. Pada tahap ini tujuannya anak mengenal tentang shalat, dia tau kalau ayah dan ibunya mengerjakan ibadah rutin 5 kali sehari yaitu shalat.
  2. Tahap mengajarkan shalat dengan benar Pada tahap kedua ini orang tua mulai mengajarkan gerakan dan bacaan shalat yang benar pada anak. Usia yang tepat untuk melakukan ini adalah saat anak berusia 7 tahun hingga 10 tahun.
  3. Memberikan Hukuman jika meninggalkan Rasulullah Saw mengingatkan para orang tua agar memukul anaknya jika pada usia 10 tahun belum juga mendirikan shalat. Di saat anak kita sudah mengenal shalat sebagai ibadah, sudah paham bahasa dan tata cara shalat yang benar. Disini mulai berlaku reward dan punishment. Orang tua memberikan apresiasi pada anak jika mengerjakan shalat dengan benar dan juga memberikan hukuman jika anak meninggalkan shalat.
  4. Membangun kebiasaan Tahapan terakhirnya adalah membangun kebiasaan anak untuk mendirikan shalat. Beberapa cara yang biasa dilakukan adalah mengajak anak shalat berjamaah, mengajak anak mendirikan ibadah shalat sunnah dan ibadah shalat sunnah lainnya.

Membiasakan puasa

Puasa adalah ibadah untuk menahan diri dari rasa lapar dan nafsu syahwat dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Ini adalah ibadah yang melatih fisik, mental dan juga hati. Mengajarkan berpuasa pada anak-anak sudah berlansung sejak zaman para sahabat. Ini ditujukkan dengan teguran yang sangat keras dari Umar bin Khattab kepada Nisywan, yang tidak puasa di bulan Ramadhan. Umar menghadirnya, “Celaka kamu! (Apakah kamu melakukannya, padahal) anak-anak juga juga sedang berpuasa?” (H.r. Bukhari)

Dr. Musthtafa Al-Bugha mengatakan, “Nisywan di sini adalah seorang pria mabuk yang ke hadapan Umar. Umar menghardiknya dengan mengatakan bahwa anak-anak berpuasa, sedangkan dia tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dan malah mabuk-mabukan. Pria ini akhirnya di hukum cambuk depalan puluh kali dan diasingkan ke Syam.

Melatih dan mengajarkan anak untuk puasa mungkin tidak serta merta lansung untuk puasa satu hari penuh jika dia belum mampu. Bisa diawali dengan puasa setengah hari, sepertiga hari dan seterusnya.

Mengajak berhaji

Mengajak anak untuk melakukan ibadah haji bertujuan untuk mengenalkan anak pada ibadah haji sejak dini, mengenalkan anak pada ka’bah sebagai kiblat umat muslim, sebagai media pembelajaran sirah nabawiyah lansung dan sebagai sarana latihan untuk menjelang kewajiban berhaji yang sebenarnya jika ia sudah besar nanti.

Para sahabat kecil juga pernah melakukan ibadah haji pada masa Rasulullah Saw. Dari Ibnu Abbas Ra Usamah bin Zaid dibonceng Nabi Saw dari Arafah ke Muzdalifah, kemudian beliau membonceng Al-Fadhl dari Muzdalifah ke Mina.
(H.R Bukhari)

Imam Muslim yang lainnya juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas R.A sebagai berikut :

Bahwa Rasulullah Saw berpapasan dengan sebuah rombongan di Rauha. Beliau Saw bertanya siapa mereka ?

Mereka menjawab, “Kaum muslimin”

Lalu bertanya, “Engkau siapa ?”

“Rasulullah” jawab Nabi saw.

Seorang perempuan memperlihatkan seorang bayi kepada beliau, “Apakah dia juga boleh berhaji?”

“Ya” jawab Nabi, “dan pahalanya untukmu.”

Saat ini kita bisa melihat banyak sekolah setingkat taman kanak-kanan, TPA, atau sekolah dasar yang mengadakan latihan berhaji untuk anak-anak. Ini merupakan sarana pembelajaran yang bagus bagi anak-anak untuk belajar berhaji.

Mengajarkan anak berzakat dan bersedekah

Islam mengajarkan kita untuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang mungkin hidupnya tidak seberuntung kita. Dengan berzakat atau bersedekah selain membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan juga akan menumbuhkan rasa empati dalam diri kita. Ini adalah kebiasaan baik bernilai ibadah yang perlu dibangun oleh orang tua pada anak-anaknya sejak dini. Caranya menumbuhkan kebiasaan berzakat dan bersedekah dalam diri anak adalah dengan mengajak anak lansung untuk menunaikan zakat atau pun bersedekah. Sembari kita sebagai orang tua menyampaikan pada anak tentang kebaikan dari berzakat dan bersedekah.

Salah satu peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah Saw berasal dari seorang perempuan , yang waktu itu memakaikan putrinya gelang emas. Ketika beliau Rasulullah Saw menanyakan zakat perhiasan tersebut, perempuan itu pun lansung mengambil gelang itu dan menyerahkannya sebagai sedekah, lansung disaksikan oleh putrinya dengan mata kepalanya sendiri.

Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib Ra dari Ayahnya, dari kakeknya: Seorang perempuan datang menemui Rasulullah Saw bersama putrinya yang memakai dua gelang tebal dari Emas. Rasulullah bertanya “Apakah kau menunaikan zakat benda ini?” Dia lansung melepaskan gelang itu dan meletakkannya di hadapan Nabi Saw. “Keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya,” Tukasnya.
(H.r Abu Dawud)

Secara ilmu kesehatan ketika seseorang berbagi akan mengeluarkan hormon endorfin dari dalam tubuhnya. Hormon ini sangat bermanfaat untuk menghadirkan rasa nyaman, bahagia dan tenang. Inilah manfaat lainnya dari bersedekah dan berzakat. Membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Membiasakan membaca Al-qura’n

Sungguh sangat menyedihkan sekali jika anak-anak kita seperti anak-anak kebanyakan, menghabiskan hari-harinya bersama gadget. Pagi bangun tidur buka gadget, siang main gagdet bahkan mau tidur pun bersama gagdet. Sementara untuk Al-quran anak-anak kita merasa jauh dan asing darinya.

Untuk itulah kita sebagai orang tua perlu menumbuhkan rasa cinta pada Al-qur’an dalam diri anak-anak kita, mengajarkan anak-anak membacanya, menjadikan membaca Al-quran adalah kebiasaan anak serta menjadikan anak ketergantungan dengan Al-qur’an. Sehingga membaca Al-quran menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak kita.

Jika kita sebagai orang tua mengalami kesulitan dalam mengajari anak membaca Al-quran bisa mengantarkan mereka belajar di sekolah PAUD, TPA, TPQ atau mungkin juga bisa mengundang guru ngaji privat untuk mengajarkannya lansung di rumah.

Rasulullah Saw memotivasi kita umatnya untuk terus mempelajari dan mengajarkan Al-quran melalui sabdanya Dari Utsman Ra, dari Rasulullah Saw beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.”
(H.R Bukhari)

Ibadah sosial

Ibadah sosial adalah ibadah yang bernilai kebaikan kepada sesama, tentu hal ini dilakukan setelah menunaikan kewajiban-kewajiban. Diriwayatkan dari Jabir, ia berujar : Rasulullah Saw bersabda, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.” (H.R.Ath-Thabrani)

Itulah beberapa ibadah yang perlu kita ajarkan pada anak-anak kita sejak dini. Menanamkan kebiasaan beribadah dalam diri anak adalah investasi kita untuk akhirat kelak. Jika anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang shaleh, taat, dan rajin beribadah tentu yang mendapat pahala kebaikannya adalah orang tuanya juga. Selain itu mengajarkan anak untuk beribadah membutuhkan ketekunan, kesabaran dan kasih sayang. Didiklah anak-anak kita dengan penuh kasih sayang, sabar menjalani prosesnnya. Dan lebih penting dari itu juga berikan keteladanan yang pada anak-anak kita karena keteladanan adalah cara mendidik yang sangat efektif bagi anak-anak. Anak lebih mudah mengerjakan apa yang dilihatnya dibanding dari sekedar apa yang didengarnya.

Jika orang tua menyuruh anaknya shalat tentu pastikan dulu orang tuanya sudah mengerjakan shalat dengan baik, saat orang tua menyuruh anak rajin membaca Al-quran tentu orang sudah terlebih dahulu rajin membaca Al-quran, begitu juga saat mendidik anak agar berzakat dan bersedekah tentu orang tua sudah melakukan hal ini terlebih dahulu.

Buku referensi :

  1. Buku Prophetic parenting for girls
  2. Buku Islamic parenting

Artikel Menarik Lainnya







comments