Komunikasi satu hal penting yang tidak bisa diabaikan dalam pendidikan anak. Karena hal yang membuat anak dan orangtuanya terhubung setiap saat adalah komunikasi. Komunikasi juga memberi penting bagi perkembangan anak.

Allah Swt berfirman :

“Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan. Kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” 
(Q.s : Ibrahim : 24 – 25)

Aktivitas komunikasi antara orangtua dengan anak akan menjadi gambaran bagaimana cinta dan sayang orangtua terhadap anaknya. Jika kondisi yang dilakukan pada anak baik InsyaAllah cinta orangtua kepada anaknya pun tulus. Begitu juga sebaliknya jika cinta orangtua pada anaknya tidak tulus akan terlihat dari komunikasi yang buruk dengan anaknya.

Komunikasi antara orangtua kepada anaknya akan memberikan dampak yang cukup besar bagi pembentukan kepribadian, melahirkan kreativitas serta memunculkan potensi-potensi hebat lainya dalam diri anak. Begitu juga dengan komunikasi yang buruk bisa membunuh kreatitivitas dalam diri anak serta membentuk sikap mental yang buruk padanya.

Banyak orangtua yang mengabaikan pola komunikasi dengan anak ini, padahal ini adalah hal penting untuk anak. Saat orangtua abai terhadap komunikasi dengan anaknya maka yang terjadi adalah pola komunikasi yang buruk. Orangtua merasa paling benar, tidak mau mendengarkan anak, selalu mengatur dan menganggap anaknya adalah robot, tidak pernah memahami apa yang dirasakan anak, berbicara dengan nada kasar dan penuh bentakan adalah beberapa bentuk dari komunikasi yang buruk antara anak dengan orangtuanya.

Untuk itu sebagai orangtua kita perlu memperbaiki pola komunikasi dengan anak, menghadirkan pola komunikasi yang baik dan membuat anak merasakan kenyamanan dengan orangtuanya. Selain itu anak juga merasa nyaman untuk tinggal di rumah.

Jika kita melihat ada anak yang tidak betah di rumah, malas bersama dengan orangtuanya, melakukan aktivitas pacaran maka boleh jadi dia komunikasi yang terjadi dengan orangtuanya adalah komunikasi yang buruk. Berikut akan kami sajikan bagaimana membangun komunikasi yang baik dengan anak, komunikasi yang tidak hanya membuat anak bahagia tetapi juga membuat anak berdaya.

Mengatur kata-kata yang akan diucapkan dan memastikan adalah kata-kata yang membangun

Komunikasi dibedakan menjadia dua jenis yaitu komunikasi verbal (dengan kata-kata) dan komunikasi non verbal (tidak dengan kata-kata) , biasanya komunikasi ini terbentuk melalui pandangan mata, gesture tubuh dan juga ekspresi di wajah.

Kekuatan utama dari komunikasi verbal ini adalah kata-kata, untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak orangtua perlu memastikan setiap kata yang diucapkannya adalah kata-kata yang baik, membangun dan menggerakkan. Kata – kata yang baik tentulah kata-kata yang tidak berisi celaan, tidak menyalahkan anak, tidak mengintimidasi dan berasal dari ketulusan hati.

Wahyudi dalam bukunya ‘Maa Aku Bisa’ menyebutkan bahwa berkata-kata yang baik kepada anak ibarat petani yang sedang menanam pohon di ladangnya. Pohon yang ditanam harus segar. Ladang yang ditanami juga harus subur. Dan, untuk mencapai keduanya, petani melakukan berbagai usaha. Misalnya, mengairi ladang, merabuk (memupuk), dan merawat tanaman. Semua mesti dilakukan dengan sabar, telaten dan hati-hati.

Terkait kata-kata Allah Swt pun menekankan dalam firmannya di surat Ibrahim ayat 24-26 yang berbunyi :

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan. Kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan – perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk, seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi. Tidak dapat tegak sedikit pun.”

Tidak mudah berprasangka buruk pada anak

“Kamu kok cepat sekali pulangnya bolos ya..”

“Tumben nilainya bagus, jangan-jangan nyontek….”

“Tumben rajin shalat, karena mau ujian ya….”

Entah berapa banyak orangtua yang sering berprasangka buruk pada anaknya, menganggap remeh kemampuan anaknya dan mengira kalau anaknya tidak mampu melakukan sesuatu atau melakukan kebaikan. Prasangka buruk ini akan melahirkan kata-kata yang buruk dan itu sangat tidak membangun, bahkan malah membuat diri anak menjadi semakin tersudut. Dengan seringnya berprasangka yang buruk kepada anak bisa-bisa nanti malah membentuk keyakinan dalam dirinya kalau ia benar seperti yang diprasangkakan oleh orangtuanya.

Orangtua yang baik tentu tidak akan berprasangka buruk pada anaknya. Seandainya memang ada sesuatu yang dicuragai karena terjadi tidak semestinya, maka ia akan melakukan klarifikasi dengan anaknya. Dia akan menanyakan secara baik-baik, tidak lansung menjudge.

Tidak pelit memberikan pujian

Salah satu kata positive yang sangat membangun bagi anak adalah pujian, apalagi pujian yang disertai dengan pemberian hadiah. Pola komunikasi seperti ini akan menumbuhkan semangat dalam diri untuk berbuat lebih baik lagi di masa yang akan datang, anak merasa dihargai dan merasakan kasih sayang dari orangtuanya.

Tapi pada kenyataannya banyak orangtua yang pelit dalam memberikan pujian terhadap anaknya. Mudah melihat keburukan anak dan gampang memberikan hukuman berupa kata-kata yang ‘pedas’ tetapi pelit memberikan pujian saat anak melakukan kebaikan, tentu hal ini tidak adil.

Tidak menuntut anak melebihi dengan batas kemampuannya

Setiap anak memiliki batas kemampuan. Penting bagi orangtua untuk mengenali batas kemampuan anaknya, sehingga tidak memaksakan dan menuntut anaknya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya.

“Pokoknya kamu harus juara kelas, nilai matematikamu harus 10, nilai bahasa inggris harus 100, nilai IPA harus 100”

Itulah salah satu contoh kalimat yang menuntut, kalimat yang selalu berisi tuntutan dalam komunikasi tentu akan membuat anak menjadi terdesak. Terkadang anak melakukan sesuatu bukan karena kesadaran dirinya akan tetapi untuk memenuhi tuntutan dari orangtuanya. Tentu hal ini tidak baik bagi perkembangan anak, akan mematikan kreativitasnya sendiri. Anak yang selalu dituntut oleh orangtuanya cenderung menjadi tertekan, hanya melakukan sesuatu yang diinginkan orangtuanya dan pada akhirnya bisa mematikan bakat yang dimilikinya.

Mengajak anak berdiskusi dan saling mendengarkan

Mengajak anak untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Adakalanya orangtua menjadi pendengar yang baik dan ada waktunya orangtua memberikan masukan yang baik pada anaknya. Luangkan waktu untuk bersama anak, ajak anak berbicara, berikan kesempatan padanya untuk mengemukaka pendapat lalu dengarkan dengan seksama. Metode ini akan menumbuhkan kreativitas dalam diri anak, anak akan mencoba mengeksplorasi gagasan dan keinginannya dalam bentuk kata-kata.

Melakukan komunikasi non verbal yang baik dengan anak

Komunikasi non verbal meskipun tanpa kata-kata tetapi komunikasi ini memberikan pengaruh yang besar dalam diri anak. Komunikasi non verbal meliputi tatapan mata, ekspresi wajah, gesture tubuh dan perhatian pada anak. Jika ingin membangun komunikasi yang baik dan berdaya untuk anak maka pastikan setiap komunikasi non verbal yang ditampakkan pada anak adalah yang baik.

Hindari membentak anak, cuek pada anak, berbicara tapi sembari sibuk dengan gadget, menampakkan raut muka masa dan ekpresi wajah tidak suka.

Menyelipkan kata cinta dalam setiap obrolan dengan anak

Kata-kata cinta, istilah yang kami berikan untuk kata-kata indah yang InsyaAllah akan memberikan dampak baik pada anak seperti “Kamu anak pintar”, “Kamu anak shaleh”, “Sayang yang rajin belajar ya”, “Anak mama yang cantik pakai hijabnya ya”. Ucapkan dengan ekspresi penuh kasih sayang, InsyaAllah akan memberikan dampak memberdayakan bagi anak-anak kita.

Tidak menjelek-jelekkan anak dihadapan temannya atau orang lain

“Anak saya mah memang pemalas, kerjaannya main games mulu. Kalau anak ibu rajin ya..”

“Ini anak pemalu bu, nggak mau menjawab pertanyaan orang hehe…”

“Eh kamu pintar ya, nilainya 100 terus nggak kayak anak ibu yang nilainya anjlok terus. Jangankan 100 nilai 70 saja sudah hebat baginya..”

Entah apa maksud dan tujuan, tetapi pada kenyataannya masih banyak orangtua yang seperti itu. Membandingkan anaknya dengan anak lain lansung di depan anak-anak tersebut. Menjelek-jelekkan anaknya dan lansung memberikan penilaian buruk terhadap anaknya di hadapan orang lain. Sikap orangtua seperti ini sangat berbahaya bagi anak, membuat anak menjadi minder, memunculkan prasangka dalam diri anak  kalau orangtua tidak sayang padanya.

Anak adalah amanah dari Allah Swt, sebagaik-baik orangtua tentu yang bisa menjaga amanah ini. Salah satu bentuk menjaga amanah dari Allah Swt ini adalah membangun komunikasi yang baik dan berdaya dengan anak. Untuk membangun komunikasi yang berdaya dengan anak orangtua perlu mengevaluasi terlebih dahulu pola komunikasi seperti apa yang biasanya terjadi selama ini dengan anaknya. Jika menemukan sesuatu yang keliru berusahalah secara pelan perlahan untuk memperbaikinya.

Artikel Menarik Lainnya







comments