Sudah siap untuk menikah ? Sudah siap untuk berumah tangga ?

Menikah yang secara bahasa diartikan sebagai menyatu atau berkumpulnya dua orang yang bukan mahram melalui sebuah prosesi ijab kabul. Pernikahan menyatukan dua diri, dua hati, dua pikiran, dua keluarga besar dan tentu juga dua budaya berbeda dari masing-masing pasangan. Selain itu pernikahan juga anugerah terindah dari Allah SWT, Allah mewasiatkan menikah menjadi ibadah untuk menjaga diri dan juga menjaga keturunan anak manusia agar terus lestari hingga akhir massa.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21].

Berumah tangga adalah tujuan dari pernikahan, dimana dua orang yang telah Allah halalkan baginya untuk hidup bersama setelah melewati proses ijab kabul membangun kehidupan baru yang tentu akan melahirkan karya baru, produktivitas baru, ide dan gagasan baru untuk umat serta generasi baru yang pada akhirnya diharapkan sebagai generasi yang membanggakan dan memberikan kontribusi serta prestasi terbaik untuk zamannya.

Pernikahan memang terlihat tak mudah, ia butuh perjuangan, butuh pengorbanan serta juga persiapan-persiapan mendalam sebelum memulainya, terlebih lagi untuk mewujudkan impian kita bersama tumbuhnya kehidupan rumah tangga menjadi kehidupan surga dunia -bahagia di dunia- berkelanjutan hingga surga yang abadi di akhirat nanti.

Menikah ibadah, niatkan semata-mata hanya untuk Allah SWT

Berharap pernikahan untuk bahagia, hidup bersama dengan orang yang dicinta, punya anak yang shaleh-ha, ada yang membimbing ibadah, mengingatkan untuk melakukan kebaikan serta keindahan-keindahan lainnya sebelum menikah tentu boleh-boleh saja. Namun perlu diingat tak selamanya kenyataan selaras dengan yang dicitakan, mungkin akan ada saatnya kamu akan menemui berbagai hal-hal yang tak sesuai dengan harapan seperti Allah takdirkan berjodoh dengan orang yang tidak dicintai, Allah uji pernikahanmu dengan beragam macam ujian semisal kemiskinan, penyakit, lama atau tidak Allah beri keturunan sama sekali, tidak ada penerimaan dari mertua atau orang tua serta hal-hal lainnya.

Saat pernikahan diniatkan untuk kebahagiaan atau hanya untuk dunia semata maka tak jarang yang pada akhirnya harus berlutut terhadap ujian ini. Mulai muncul saling menyalahkan, saling mendiamkan, cekcok berkepanjangan hingga berujung perceraian.

Menikahlah untuk ibadah, niatkan hanya karena Allah semata. Sehingga apapun kondisinya dan bagaimanapun situasi yang dilewati menjadikan diri kita semakin dekat dengan Allah SWT. Jika Allah beri kenikmatan maka jadikan itu sebagai sarana untuk bersyukur pada Allah namun jika yang dihadapi adalah kesulitan jadikan sebagai ikhtiar untuk melatih kesabaran dan keikhlasan.

Saatnya berhenti jatuh cinta dan mulai bangun cinta

Cinta, terkadang satu kata ini selalu hadir dalam setiap prosesi pernikahan menjadi sumber kebahagiaan saat dua orang saling mencinta bersatu untuk hidup bersama membangun rumah tangga. Namun tak jarang juga cinta menjadi alasan bagi sebagian yang lainnya untuk kecewa, sakit hati atau mungkin patah hati ketika menikah bukan dengan orang yang dicinta, sulitnya mencintai orang yang dinikahi hingga masalah masih teringat orang yang pernah dicintai setelah menikah.

Saat cinta membuat kita sakit, kecewa, marah ,sakit hati mungkin kamu sedang jatuh cinta dan sekarang saatnya untuk berhenti. Segeralah mulai bangun cinta menjadi bangunan kokoh yang indah. Bangun cintamu dengan pondasi ketakwaan , dirikan dengan tiang keimanan, lindungi dengan dinding ketaatan dan tutupi dengan atap keberserah dirian pada Allah SWT, InsyaAllah akan serasa indah selalu. Dunia akhirat. Karena saat itu tidak penting lagi siapa yang dicinta tapi yang jauh lebih utama adalah karena siapa dia mencinta.

Membangun rumah tangga dengan cita dan cinta pada Allah semata

Kalau hidup ini adalah perjuangan, maka mencintapun juga sebuah perjuangan, begitu juga dengan membangun rumah tangga dengan cita dan cinta pada Allah semata adalah sebuah perjuangan pula. Tidak hanya untuk menggapai kebahagiaan di dunia namun juga untuk kebahagiaan di surga-Nya nanti.

Artikel Menarik Lainnya







comments