Kehidupan seseorang sangat ditentukan oleh karakternya, dan karakter juga disebut-sebut sebagai penentu keberhasilan seseorang baik dunia maupun akhirat. Sebuah kalimat bijak mengatakan karakter seseorang akan menentukan nasibnya.

Pembentukan karakter berawal dari melihat dan mendengar, lalu sering melakukan hingga menjadi kebiasaan dan pada akhirnya menjadi karakter. Karakter seorang anak akan sangat mungkin dibentuk oleh lingkungan tempatnya lahir dan dibesarkan dan bersama dengan orang-orang terdekat dengannya. Melihat ini kita bisa menyimpulkan kalau yang paling bertanggung jawab atas pembentukan karakter seorang anak adalah orang tua dan lingkungan keluarganya. Di sinilah anak ditempa karakternya, apakah itu karakter yang baik atau pun yang buruk.

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh dengan karakter yang baik, taat pada Allah Swt, berbakti pada orang tua, baik hati pada sesama, berwasasan cerdas serta baik tutur katanya. Karakter dalam diri anak dibentuk oleh beberapa hal. Yang pertama adalah makanan yang dimakan oleh anak, jika makanan yang masuk dalam tumbuh anak berasal dari makanan yang haram, subhat atau tidak sehat maka akan membentuk karakter buruk dalam dirinya. Yang kedua adalah keteladanan dari orang tua dan yang ketiga adalah keteladanan dari lingkungan. Berikut adalah beberapa uraian bagaimana membentuk karakter anak dengan parenting nabawiyah.

Bersahabat dengan anak

Seseorang adalah cerminan dari temannya, bahkan Nabi pernah menyebut agama seseorang ikut agama temannya. Seseorang akan dengan mudah untuk patuh, nurut dan mengikuti orang yang dia rasa membuat dirinya nyaman. Hari ini banyak kita saksikan para remaja yang lebih memilih mengikuti perkataan temannya dari pada orang tuanya sendiri sebab dia merasakan kenyamanan dengan temannya melebihi dari orang tuanya.

Bagaimana caranya agar anak merasa nyaman dari masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa dengan orang tuanya ? Lebih patuh dan nurut pada orang tuanya ? Lebih mendengarkan perkataan orang tuanya ? Dan jawaban dari semua itu adalah berteman dengan anak, menjadikan anak menjadi sahabat.

Rasulullah Saw memberikan teladan pada kita dengan berteman dengan anak-anak di banyak kesempatan. Tidak hanya pada anak dari keluarganya tetapi juga kepada anak-anak lain. Berteman dengan orang tuanya adalah termasuk hak anak sebagai sarana belajar dari mereka agar dirinya tertata, akalnya terlatih dan kebiasaannya menjadi baik.

Menanamkan kegembiraan dalam diri anak

Anak-anak menyukai kegembiraan, anak yang bahagia semasa kecilnya akan mengalami pertumbuhan emosional yang baik. Kegembiraan juga turut membentuk karakter baik dalam diri anak. Berbeda dengan anak yang murung, tertekan dan selalu dihantui kecemasan di saat kecil secara tak lansung juga turut membentuk karakter buruk dalam diri anak tersebut.

Kegembiraan, selain memberikan dampak positive pada jiwa anak juga akan melahirkan kebebasan dan kehidupan bagi jiwa, sebagaimana juga menjadikannya siap untuk menerima perintah, anjuran dan pengarahan.

Rasulullah Saw selalu memasukkan kegembiraan di hati anak-anak. Beliau memakai berbagai cara untuk melakukannya antara lain :

  1. Menyambut kedatangan mereka
  2. Mencium dan bercanda
  3. Mengusap kepala
  4. Menggendong dan menimang
  5. Memberikan makanan
  6. Makan bersama mereka

Melakukan aktivitas berkualitas dengan anak

Di era digital seperti sekarang ini, anak-anak banyak yang kehilangan waktu berkualitas dengan orang tuanya. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadget atau layar PC untuk menonton atau bermain game. Ini mungkin akan menyenangkan dan menenangkan anak dalam waktu sesaat, tetapi untuk jangka panjang akan meninggalkan banyak dampak buruk bagi diri anak.

Orang tua yang benar-benar menyayangi anaknya tentu tidak akan membiarkan anak-anak mereka bermain dengan benda mati tersebut. Akan tetapi mereka akan meluangkan waktu berkualitas untuk melakukan aktivitas berkualitas bersama anak-anaknya. Banyak hal bisa dilakukan seperti bermain bersama, membuat mainan, melakukan perlombaan, melakukan perjalanan dan banyak lagi yang lainnya.

Rasulullah Saw pernah bermain tebak-tebakan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

Rasullah Saw bersabda, “Di antara pepohonan ada satu pohon yang daunnya tidak gugur. Persis seperti seorang muslim. Beritahukanlah kepadaku pohon apa itu?” Orang-orang pun mengira pohon apa itu. Abdullah mengatakan, “Dalam hatiku aku menebaknya pohon kurma.” Kemudian Rasulullah Saw memberitahukan jawabannya kepada kami, “Pohon itu adalah pohon kurma.”

Pertanyaan semacam ini dapat menggugah akal anak, membuka pemahamannya dan mencairkan pikiran yang beku.

Contoh yang lain adalah perlombaan olahraga bagi anak-anak. Rasulullah Saw mengadakan perlombaan lari untuk anak-anak agar anggota tubuh mereka tumbuh sempurna dan badan mereka menjadi kuat.

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah bin Harits radihyallauhu ‘anhu :

Rasulullah Saw membariskan Abdullah, Ubaidullah dan beberapa anak lainnya dari cucu-cucu Abbas radhiyallahu ‘anhum. Kemudian beliau bersabda, “Siapa yang bisa sampai kepadaku terlebih dahulu, maka dia akan mendapat hadiah demikian dan demikian !” Mereka pun beradu cepat ke arah beliau lalu memeluk punggung dan dada beliau. Beliau mencium dan memeluk mereka.

Menemukan dan menumbuhkan potensi anak

Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang Allah anugerahkan padanya, sayangnya banyak anak yang tidak menemukan bakatnya dan malah mengikuti kemauan orang tua. Untuk itu perlu bagi setiap orang tua menemukan dan menumbuhkan potensi yang dimiliki oleh setiap anak.

Anak yang didukung penuh oleh orang tuanya dalam menemukan, mengasah dan menumbuhkan potensinya akan menjadi anak yang berprestasi. Dia bisa menjadikan potensi yang dimilikinya sebagai jalan kebaikan.

Menumbuhkan rasa percaya diri anak

Rasa percaya diri adalah satu hal penting untuk pembentukan karakter baik dalam diri anak. Anak yang memiliki kepercayaan diri yang baik akan membantunya untuk mengeluarkan potensi yang dimilikinya.

Rasulullah Saw beberapa metode untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak. Metode-metode tersebut adalah :

1.  Menguatkan keinginan anak

Ini dilakukan dengan membiasakannya pada dua hal :

  1. Membiasakan menyimpan rahasia. Sebagaimana beliau lakukan pada Anas dan Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhum. Karena, ketika si anak belajar untuk menjaga rahasia dan tidak membocorkannya, pada saat yang sama keinginannya tumbuh menjadi semakin kuat, sehingga rasa percaya dirinya juga menjadi semakin besar.
  2. Membiasakannya berpuasa Ketika si anak teguh di hadapan rasa lapar dan haus dalam berpuasa, dia akan merasakan bahwa dia telah sanggup mengalahkan dirinya sendiri. Dengan demikian, keinginannya dalam menghadapi kehidupan semakin kuat. Hal ini dapat menambah kepercayaan dirinya.

2. Membangun kepercayaan sosial

Ketika si anak menyelesaikan pekerjaan rumah, melaksanakan perintah kedua orangtua, berdialog dengan orang-orang dewasa, berkumpul dan bermain bersama anak-anak lainnya, saat itulah rasa percaya diri dalam bentuk sosialnya tumbuh.

3. Membangun kepercayaan ilmiah

Membangun kepercayaan ilmiah dapat dilakukan dengan belajar al-Qur’an, sunnah Rasulullah Saw dan sejarah hidup beliau. Si anak akan tumbuh dewasa dengan berbekal pengetahuan yang cukup mendalam. Sehingga, tumbuhlah rasa percaya diri dalam bentuk keilmuan dan pengetahuan. Sebab, dia membawa ilmu yang pasti dan jauh dari berbagai khurafat serta khayalan.

4. Membangun kepercayaan finansial

Membangun kepercayaan finansial dengan membiasakan anak melakukan transaksi jual beli dan berjalan-jalan di pasar menemani kedua orangtuanya berbelanja.

Diriwayatkan oleh Malik dari Sulaiman bin Yasar: Makanan keledai Sa’id bin Abi Waqqash habis. Dia berkata kepada pembantunya yang masih belia, “Ambillah tepung kemudian tukarkanlah dengan gandum. Timbangannya harus sama”.

Rasulullah Saw melihat Abdullah bin Ja’far yang saat itu masih belia sedang melakukan transaksi jual beli. Maka beliau mendoakan keberkahan untuknya.

Melakukan pengulangan dan tidak menyerah saat membentuk satu sikap baik dalam diri anak

Membentuk karakter baik dalam diri anak butuh ketekunan dan kesabaran, tidak bisa dalam waktu singkat atau hanya dengan sekali perintah anak lansung menurut. Butuh kesabaran dan ketekunan orang tua untuk mengulanginya, sebanyak mungkin dan sesering mungkin. Orang tua harus setia disamping anak untuk selalu mengingatkan dengan penuh kasih sayang jika anak melanggar norma-norma kebaikan.

Anak kecil juga memiliki sifat lupa, diingatkan sekarang boleh jadi besok atau lusa dia telah lupa. Terkadang orang tua yang tidak sabaran akan memarahi anaknya atau lansung menyerah dengan mengatakan “Ah anak saya memang begitu nggak bisa diatur…” dan berbagai ungkapan pesimis lainnya.

Rasulullah Saw pun dalam beberapa sabdanya mengingatkan para orang tua untuk melakukan pengulangan dalam proses membentuk karakter baik dalam diri anaknya.

Rasulullah Saw bersabda,

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun, dan pukullah mereka untuk shalat pada usia sepuluh tahun”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lain-lain.

Rasulullah mengkhususkan tiga tahun berturut-turut untuk menancapkan fondasi penting dalam agama Islam, yaitu perintah shalat. Setiap muslim pasti tahu tentang pentingnya shalat. Oleh karena itu, disebutkan perintah dalam Al-qur’an :

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Q.S Thaha : 132)

Oleh karena itu, pada tiga tahun ini kita harus bersabar dan terus mengulang perintah untuk shalat kepada anak. Jika dihitung selama 3 tahun itu, dan setiap waktu shalat orang tua mengingatkan anaknya agar ikut shalat maka si anak akan mendapatkan pengulangan lebih kurang sebanyak 5475 kali, dari hasil perkalian (365 hari x 5 waktu ) x 3 tahun .

Memberikan anak hadiah dan juga hukuman

Memberikan apresiasi berupa hadiah jika anak melakukan kebaikan dan memberikan hukuman jika anak melakukan kesalahan adalah salah satu metode terbaik dalam mendidik anak. Dalam parenting nabawiyah Rasulullah Saw juga menggunakan metode ini dalam banyak hal, salah satunya saat memerintahkan berbakti pada orang tua dan memberikan ancaman saat anak durhaka.

Dalam Al-qur’an pun kita banyak menemukan metode ini, sangat banyak ayat-ayat yang berisi kabar gembira tentang indahnya surga saat melakukan kebaikan dan juga ancaman neraka bagi mereka yang melanggar aturan Allah Swt.

Dalam menerapkan metode ini setiap orang tua mesti seimbang, jangan hanya memberikan hukuman saat anak melakukan kesalahan namun saat anak berbuat kebaikan lupa untuk memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi padanya.

Menetapkan standar nilai kehidupan

Standar nilai kehidupan adalah satu hal penting yang perlu kita berikan pada anak. Standar nilai inilah yang akan menjadi pegangan hidupnya hingga dewasa kelak bahkan ketika jauh dari orang tuanya. Sebagai umat Islam tentu Al-qur’an dan sunnah yang menjadi standar nilai kehidupan kita. Saat anak telah menjadikan Al-qur’an dan sunnah sebagai standar nilai kehidupannya maka apapun aktivitas kehidupan yang dilakukannya selalu mengacu pada Al-qur’an dan sunnah. Begitu juga saat memiliki masalah dia akan kembali pada Al-quran dan sunnah untuk menemukan solusinya.

Buku referensi :

Buku Prophetic parenting

Artikel Menarik Lainnya







comments