Menikah tentu tidak sama dengan pacaran, kalau pacaran yang penting asal bahagia saja tentu sudah cukup. Ya, karena memang pacaran hanya untuk bersenang-senang saja. Kalau nanti cocok ya menikah, kalau tidak cari yang lain. Sementara mencari suami adalah mencari pasangan hidup. Jika suatu saat nanti setelah menikah merasa tidak cocok bisa lansung diputusin dan besoknya ajak balikan lagi layaknya orang pacaran. Mencari suami adalah mengambil satu keputusan besar, yang dampaknya akan dirasakan di dunia dan juga akhirat kelak.

Suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya kelak, ia akan menjadi suami sekaligus juga menjadi ayah bagi anak-anak anda. Lagi-lagi tidak sesederhana proses pacaran yang mana pacar anda tidak memiliki peran maupun tanggung jawab apapun. Makanya memilih suami tidak cukup hanya dilihat dari gantengnya wajah saja, tidak cukup dari hanya peduli dan pengertian saja. Tetapi butuh satu hal utama yaitu bagaimana agamanya, ketaatannya dan ketakwaannya. Sebab, suami akan menjadi imam dalam rumah tangga, menanamkan nilai-nilai agama dalam diri istri dan anak-anaknya. Dialah yang memegang tanggung jawab besar atas anak-anaknya dunia maupun akhirat.

Tentu yang jadi ukuran pertama dalam memilih suami adalah kesalehannya, dan setiap laki-laki shaleh tentu tidak akan pacaran. Jadi, pacaran bukanlah cara yang tepat untuk menemukan suami yang shaleh. Mengutamakan kesalehan dalam memilih suami juga sudah menjadi anjuran dari rasulullah Saw. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh H.r.Tirmidzi dan Ahmad disebutkan.

“Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaknya, hendaklah kamu nikahkan dia. Kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas”

Hadis diatas memberi tahu keluarga perempuan dan perempuan khususnya agar memilih suami yang agama dan akhlaknya baik (shaleh). Memilih disini maksudnya mengambil yang disukai di antara yang ada. Dengan memilih suami yang saleh seseorang dijamin akan dapat memperoleh kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat, InsyaAllah.

Sebaliknya, memilih suami yang memiliki akhlak buruk dan jauh dari agama akan menghancurkan kehidupan perempuan. Seorang perempuan yang memiliki suami dengan agama dan akhlak yang buruk tentu secara tidak lansung akan terbawa arus oleh akhlak suaminya yang jauh dari agama. Banyak kisah terjadi pada muslimah yang bersuamikan jauh dari agama, awal pernikahan dia mengenakan jilbab syar’i yang menutup seluruh auratnya, setelah menikah jilbabnya berangsur pendek dan lama-lama akhirnya dia melepaskan jilbabnya. Inilah salah satu dampak ketika seorang muslimah tidak menikah dengan laki-laki yang baik agama dan akhlaknya.

Makanya dalam hadis di atas Rasulullah Saw mengingatkan jika tidak mau menikahkah dengan laki-laki shaleh, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas. Memilih laki-laki yang shaleh untuk menjadi suami adalah sebuah pilihan yang akan memberi buah kebaikan pada kehidupan keluarga yang penuh kasih sayang, rukun, cinta, saling percaya dan yang lebih indahnya lagi semua itu berdasarkan ketaatan pada Allah Swt. Tidak mudah memang menemukan laki-laki yang shaleh, tetapi jika ada niat yang kuat disertai dengan do’a InsyaAllah Allah akan mempertemukannya. Sebab, jodoh juga cerminan diri kita maka sebelum Allah pertemukan dengan laki-laki shaleh mulailah dengan menshalehkan diri terlebih dahulu. Dalam menshalehakan diri tentu anda bisa memantaskan dan memperbaiki diri secara terus menerus dan berkelanjutan.

Referensi : Buku Ensiklopedia Keluarga Sakinah dan Buku Jodohmu Dekat

Artikel Menarik Lainnya







comments