Rumahku adalah surgaku, begitu kalimat yang sering kita dengar. Memang tak bisa dipungkiri ketepatan dalam memilih tempat tinggal berbanding lurus dengan kualitas hubungan antara pasangan suami istri. Tentu saat mulai memasuki kehidupan baru rumah tangga hal utama yang akan anda pikirkan adalah akan tinggal dimana ? Memilih tempat tinggal yang nyaman bagi suami, nyaman juga bagi istri serta cocok juga harganya bukanlah perkara yang bisa dianggap mudah, meskipun juga tak begitu sulit. Belumlah lagi harus meyakinkan orang tua dalam memilih tempat tinggal, karena tak sedikit orang tua yang masih turut menentukan akan tinggal dimana anaknya setelah menikah.

“Empat perkara yang merupakan kebahagiaan, yaitu istri yang shalihah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang enak dinaiki. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan adalah tetangga yang jelek, istri yang buruk akhlaknya, rumah yang sempit, dan kendaraan yang tidak enak dinaiki,”
(HR Ath-Thabrani dan Imam Ahmad)

Rasulullah Saw berpesan tempat tinggal adalah salah satu ukuran kebahagiaan, dalam haditsnya diatas rasulullah menyampaikan agar memilih rumah yang luas dan tetangga yang baik. Inilah dua kata kunci yang bisa digunakan sebagai pedoman dalam memilih tempat tinggal. Kenyamanan tempat tinggal dan juga lingkungan yang baik.

Kita akan tinggal dimana ?

Idealnya menentukan tempat tinggal sudah dibicarakan sejak masa ta’aruf. Anda yang sudah baca panduan ta’aruf tentu akan paham akan hal ini. Namun jika pernikahan yang dilakukan tidak melewati ta’aruf dan di masa sebelum pernikahan tidak ada obrolan akan tinggal dimana maka awal-awal pernikahan adalah waktu yang tepat untuk membicarakan ini.

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu…”
(Al-Qur’an 65:6)

Pada dasarnya menentukan dan mencarikan tempat tinggal adalah tanggung jawab suami, dan menjadi kewajiban bagi istri untuk ridho dan mengikuti dimana tempat tinggal yang telah ditentukan oleh suaminya. Tapi suami yang bijak tentu akan mengajak sang istri untuk mendiskusikan dimana tempat tinggal yang nyaman bagi mereka berdua, tak hanya untuk kenyamanan berdua tapi juga harus memperhatikan tempat tinggal tersebut apakah cocok jika sudah memiliki anak nanti. Artinya rumah tempat tinggal yang dipilih baik rumah maupun lingkungannya adalah yang ramah anak.

Setelah pernikahan, pasangan suami istri dianjurkan untuk tinggal sendiri. Tinggal sendiri tanpa adanya orang lain akan memberi ruang bagi suami maupun istri untuk saling mengenal pasangannya, saling memahami, saling belajar memberikan yang terbaik, saling mencoba untuk menerima kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya dan saling menumbuhkan cintanya.

Di masa Rasulullah Saw pun keluarga yang baru menikah tinggal sendiri terpisah dari orang tua mereka. Sebutlah Fathimah putri Rasulullah Saw yang setelah menikah tinggal di rumah sederhana bersama suaminya Ali bin Abi Thalib yang dibeli dari sebagian maharnya. Begitu juga dengan putri Abu bakar Asma’ yang baru menikah dengan zubair setelah menikah juga memilih tinggal sendiri.

Bagi seorang istri tinggal terpisah dari orang tua akan membuat dirinya mencoba memahami kalau setelah menikah sang suamilah yang utama dan pertama untuk ditaati dan dipatuhi. Istri akan belajar melepas keterikatannya dengan orang tua, begitu juga dengan orang tua agar melepas pengaruh terhadap anak perempuannya yang sudah menjadi seorang istri. Sementara bagi laki-laki tinggal terpisah dari orang tuanya akan melatih kepemimpinan dan kemandirian dirinya. Seorang laki-laki yang sudah menikah tentu harus bisa mengambil keputusan sendiri, menjalankan tanggung jawab dan memanggul berbagai macam resiko yang akan dihadapi.

Saat harus memilih untuk mengontrak, membeli rumah atau kredit

Memilih tempat tinggal baik, nyaman dan menyenangkan tentu satu hal yang penting, tapi perlu disesuaikan juga dengan kondisi keuangan. Setelah menikah apakah ingin mengontrak, membeli rumah atau kredit ? Semua pilihan sangat bergantung pada kemampuan keuangan suami dan istri. Membeli rumah dan menjadikannya sebagai milik sendiri memang pilihan yang ideal, tapi jika kondisi keuangan belum memungkinkan mengontrak rumah juga bukan pilihan yang buruk. Selama itu nyaman, lingkungannya baik, memiliki sarana air bersih yang cukup maka mengontrak adalah pilihan terbaik.

Sementara jika ingin memilih untuk kredit rumah anda perlu perhatikan banyak hal seperti syar’i atau tidaknya akad transaksi dan juga kemampuan untuk membayar cicilan kredit setiap bulan. Jangan sampai keinginan untuk membangun rumah tangga barakah dengan memiliki rumah malah menjadi jalan yang menjerumuskan anda pada praktek ribawi. Atau pada dasarnya anda tidak memiliki kemampuan untuk mencicil tapi terus dipaksakan sehingga pada akhirnya kewalahan sendiri untuk membayar cicilannya.

Saat harus tinggal di rumah orang tua

Tinggal sendiri, berdua dengan pasangan tentu lebih baik. Tapi untuk kondisi tertentu akan membuat seseorang harus tinggal di rumah orang tuanya, baik di rumah orang tua istri maupun pihak suami. Beberapa hal yang bisa menyebabkan ini diantaranya adalah saat yang menjadi istri atau suami adalah anak bungsu sementara orang tua juga sudah usia lanjut sehingga butuh teman untuk merawatnya.

Harus ada saling ridho dan ikhlas menjalaninya bagi masing-masing pasangan, jangan sampai saat memilih tinggal di rumah mertua atau orang tua membuat salah satu dari pasangan merasa tertekan dan tidak nyaman. Jika hal ini terjadi maka perlu dimusyawarahkan jalan keluar terbaiknya.

Saat mengajak orang tua untuk tinggal bersama kita

Kondisi khusus lainnya yang mungkin saja terjadi adalah ketika mengajak orang tua untuk tinggal bersama. Kondisi ini bisa terjadi jika orang tua salah satu istri atau suami sudah berusia lanjut, butuh perawatan dan tidak memiliki tempat tinggal yang begitu memadai sehingga mengharuskan untuk tinggal dengan anak. Bagi seorang istri jika ingin mengajak orang tua tinggal bersama dengannya harus meminta izin dan restu dahulu dari sang suami, sementara bagi suami meskipun sudah menikah ia tetap memiliki kewajiban dan tanggung jawab atas orang tuanya. Maka jika orang tuanya membutuhkan bantuannya, sudah menjadi kewajibannyalah untuk membantu orang tua.

Tinggal bersama dengan orang tua atau mertua memang tidaklah selalu mudah, masing-masing pasangan harus memiliki sikap untuk saling menerima kelebihan maupun kekurangan dari orang tua atau mertua.

Mengutamakan musyawarah dalam setiap mengambil keputusan mau tinggal dimana dan tinggal bersama siapa adalah hal penting. Suami ridho, istri menerima dengan ikhlas. Jika ada rasa tidak enak di hati lebih baik disampaikan di awal. Jangan sampai menjalani kehidupan rumah tangga dengan terpaksa dan penuh tekanan. Sebab rasa ridho dan keikhlasan dalam menjalani rumah tangga adalah kunci utama untuk menggapai pernikahan yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Baca juga :

7 Tips memilih tempat tinggal pertama setelah menikah

Mendahulukan memilih tetangga sebelum memilih tempat tinggal

Artikel Menarik Lainnya







comments