Saat pertanyaan ini muncul di benak kita mungkin akan bermunculan jawaban yang beragam. Ada yang beranggapan memulai mempersiapkan bekal untuk menjadi orangtua nanti saja setelah memiliki anak, ada juga yang berkeyakinan mempersiapkannya sejak masa kehamilan, ada lagi yang berpendapat bahwa jauh sebelum menikah harus dipersiapkan diri untuk menjadi orangtua. Bahkan ada juga yang memiliki paham kalau mempersiapkan bekal menjadi orangtua itu tidak perlu, jalani saja dan lalui saj sembari berjalannya waktu akan mengerti sendiri.

Anak adalah anugerah dari Allah Swt, ia adalah nikmat yang membahagiakan bagi orangtuanya. Terlepas dari itu semua anak juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Setiap orangtua tentu berharap melahirkan anak yang taat pada Allah Swt, cinta pada Rasulullah saw, berbakti pada orangtua, berwawasan tinggi, penuh prestasi dan menjadi sumber kebaikan bagi sekitarnya.

Kapan waktu yang tepat untuk memulai mempersiapkan bekal menjadi orangtua ? Lebih cepat tentu lebih baik, meskipun dalam hal ini tak ada kata terlambat. Jadi, jika memang anda sudah memiliki anak dan belum mempersiapkan diri untuk itu, maka segeralah sadar lalu persiapkan sebaik-baiknya bekal untuk mendidik anak.

Dalam konsep parenting nabawiyah mempersiapkan bekal menjadi orangtua semestinya dilakukan semenjak dini. Bahkan ini menjadi bagian tugas dari orangtua kita, mempersiapkan diri kita untuk menyonsong kehidupan berumah tangga. Walaupun pada kenyataannya sulit kita menemukan orangtua yang benar-benar mempersiapkan anaknya secara matang untuk memasuki kehidupan berumah tangga.

Jika dalam keluarga anda orangtua belum memberikan persiapan yang matang pada anda, maka tak ada salahnya anda sendiri untuk mulai mempersiapkan diri memasuki kehidupan rumah tangga. Mempersiapkan diri menjadi ayah atau ibu bagi anak-anak anda nanti.

Umar Bin Khathtab R.a menyampaikan mempersiapkan bekal mendidik anak bagi seorang laki-laki dimulai dari memilihkan ibu terbaik untuk anaknya. Senada dengan nasihat Umar Bin Khathtab ini tentu muslimah dengan memilihkan calon ayah terbaik untuk anaknya.

Hari ini kita saksikan banyak anak muda yang risau kapan dia akan menikah, dengan siapa dia akan menikah, serta kekhawatiran nanti menikah dengan orang yang tidak dicintai. Tetapi di lain sisi abai terhadap peran utamanya setelah menikah nanti. Yaitu menjadi ayah atau ibu bagi anak-anaknya. Mempersiapkan bekal menjadi orangtua dimulai dari kesadaran kalau kita akan menjadi orangtua, dan itu bukanlah hal yang ringan. Saat kesadaran ini tumbuh nanti dilanjutkan dengan mengumpulkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk menjadi orangtua.

Pentingnya mempersiapkan bekal untuk menjadi orangtua

Menjadi orangtua bukanlah pekerjaan ringan, dan pertanggungjawabannya pun juga tidak mudah. Kita akan pertanggungjawabkan lansung kepada Allah Swt di akhirat kelak. Itulah alasan utama betapa pentingnya mempersiapkan bekal menjadi orangtua.

Tantangan serta perkembangan zaman semakin memprihatinkan. Apa yang menurut kita 10 tahun silam suatu yang aneh dan mustahil terjadi saat ini sudah menjadi hal yang biasa. Begitu juga dengan perubahan yang terjadi sangat cepat. Kita sebagai orangtua harus menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi yang tangguh, mampu beradaptasi di zamannya nanti, yang kita sendiri tentu tidak tau seperti apa kemajuannya. Kita tentu menginginkan anak-anak yang tak kalah oleh tantangan zaman atau ikut arus kemajuan tanpa batasan.

Mengenali tanggung jawab orangtua terhadap anaknya

Tanggung jawab utama orangtua terhadap anaknya adalah mendidik. Orangtua adalah guru terbaik dan semestinya menjadi guru terbaik bagi anak, sementara keluarga adalah sekolah pertama dan seharusnya menjadi sekolah terbaik bagi anaknya.

Orangtualah yang memiliki tanggung jawab besar mengenalkan tauhid pada anak-anaknya, menanamkan akidah dalam diri anaknya, mengajarkan akhlak mulia serta berbagai wawasan keilmuan lainnya.

Saat ini banyak orangtua yang menganggap kalau tugas utamanya hanyalah memberikan nafkah berupa materi saja, sementara untuk urusan pendidikan diserahkan kepada sekolah. Dan, kita sudah tahu sendiri realitanya kebanyakan sekolah hari ini lebih mengutamakan ilmu-ilmu dunia dibanding agama dan pembelajaran yang membentuk akhlak serta budi pekerti.

Saat anak tak mendapat pendidikan agama dan akhlak yang baik di rumah dan juga tidak mendapatkannya di sekolah. Akhirnya lahirlah generasi yang cerdas dan cemerlang untuk urusan dunia tetapi minim pengetahuan, pemahaman dan pengalaman untuk urusan akhirat. Cerdas otaknya tapi buruk akhlak dan perilakuknya. Berprestasi tapi tak mampu memberi teladan kebaikan. Generasi-generasi inilah yang pada akhirnya menjadi orang-orang hebat dan pemimpin di masa depan. Tentu anda bisa melihat sendiri bagaimana akhirnya nasib orang-orang seperti ini? Tak sedikit yang akhirnya kehidupannya bermasalah, membuat keonaran, menghadirkan berbagai kerusakan serta tidak buruk lainnya. Mereka-mereka yang berada dibalik jeruji besi karena korupsi itu bukanlah orang-orang bodoh, bahkan diantara mereka adalah lulusan perguruan tinggi terbaik di negeri ini bahkan dunia.

Tentu kita sebagai orangtua tidak menginginkan generasi seperti itu, harapan kita adalah lahir genersi yang beriman, bertakwa, memiliki akhlak mulia serta cerdas pemikirannya. Saat dia menjadi orang hebat, ia manfaatkan untuk kebaikan, tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi bagi banyak orang.

Makanya Rasulullah Saw mengingatkan kita jauh-jauh hari. Kata Rasulullah kita ini adalah penggembala dan masing-masing kita bertanggung jawab terhadap gembalaannya. Jika kita sebagai orangtua maka anak adalah gembalaan kita dan kita bertanggung jawab atas mereka. Orangtua lah yang memiliki tanggung jawab penuh atas mereka, bukan guru atau sekolah tempat mereka belajar. Kita sebagai orangtua lah yang wajib memastikan kalau setiap langkah yang diambilnya adalah langkah terbaik yang semakin mendekatkannya kepada Allah Swt.

Rasullullah Saw juga bersabda :

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya. Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani.”

Masih terkait hal ini seorang Abul ‘Ala pun menggubah sebuah sya’ir yang berbunyi :

Seorang anak tumbuh dewasa di antara kita
Sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh bapaknya
Seorang pemuda tidaklah beragama dengan begitu saja
Kerabatnyalah yang membiasakannya beragama

Baik sabda Rasulullah Saw maupun syair diatas sama-sama memberi kita gambaran betapa pentingnya peran dan tanggung jawab orangtua terhadap anaknya.

Karena memang menjadi orangtua tidak mudah kita perlu mempersiapkan diri menjadi orangtua semenjak dini. Lebih cepat lebih baik. Sebab, jika kita gagal mendidik anak maka akan ada pertanggung jawaban dihadapan Allah Swt. Begitu juga ketika berhasil mendidik anak-anak kita menjadi anak yang shaleh tentu yang akan mendapat kebaikannya kita juga. Baik di dunia maupun akhirat.

 

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments