Mencintai dan menyayangi anak tanpa syarat ? 

Saat membaca judul ini mungkin muncul pertanyaan dalam benak anda, adakah orangtua yang mencintai anaknya serta memberikan kasih sayang dengan bersyarat ? Jawabannya tentu ada dan banyak. Tanpa disadari kita sebagai orangtua menciptakan sendiri syarat-syarat dalam mencintai anak.

Mencintai anak karena dia patuh, karena dia pintar, karena dia tampan atau cantik, karena dia pada kita hingga berharap balasan dari anak. Tanpa sengaja orangtua sering berkata pada anaknya “Kalau kamu tidak rajin belajar bukan anak papa”, “Kalau kamu ikut mama tidak sayang” dan beragam kalimat serupa lainnya. Cinta bersyarat adalah sebuah cinta yang tidak tulus, dan dampaknya ketika anak tidak bisa memberikan syarat tersebut maka berkurang jugalah cinta dan kasih sayang pada anaknya.

Rasa cinta, kasih sayang itu karunia terindah dari Allah Swt. Allah yang sebenarnya menitipkan rasa itu untuk kita berikan pada anak-anak kita. Jika Allah saja memberikannya tanpa syarat kepada makhluknya kenapa kita sebagai manusia memberikan cinta itu kepada anak kita dengan syarat ?

Imam bukhari meriwayatkan dari Aisyah :

“Seorang A’rabi telah mendatangi Nabi Saw dan berkata “Kami belum pernah menciumi anak-anak kami. Apakah engkau (Nabi) menciumi anak-anakmu?” Maka Nabi Saw bersabda, “Apakah engkau ingin Allah mencabut kasih sayang dari hatimu?”

Dalam hadis lain Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah telah berkata :

“Rasulullah Saw menciumi Al Hasan bin Ali. Ketika itu di sisi beliau duduk al-Aqra bin Habis at-Tamimi. Kemudian Al-Aqra bin Habis at-Tamimi berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi tidak satupun di antara mereka pernah aku cium.” Maka Rasulullah Saw memandang Al-Aqra dan berkata, “Barang siapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi.”

Dari dua hadits diatas tentu kita sudah bisa mengambil kesimpulan sederhana, kalau mencintai anak dengan penuh ketulusan adalah sebuah perintah dari Rasulullah Saw. Dan, Rasulullah juga memberikan beberapa contoh ekspresi dalam mencintai anak kepada kita salah satu diantaranya adalah dengan cara memberikan ciuman pada anak.

Mencintai tanpa syarat dalam psikologi dikenal sebagai genuine acceptance (penerimaan yang tulus dan apa adanya). Mencintai anak dengan penuh ketulusan adalah mencintai tanpa memikirkan balasan, tidak menghiraukan apa yang akan anak kita berikan pada kita, tidak mempedulikan apa kata orang lain.

Bagaimana cara mencintai tanpa syarat ? Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencintai tanpa syarat .

Berdo’a pada Allah Swt agar diberi kemampuan dan kesempatan memberikan cinta yang tulus ikhlas pada anak-anak kita

Sejatinya cinta adalah milik Allah Swt. Allah titipkan rasa itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah juga bisa mencabutnya dari hati siapa saja yang Allah kehendaki. Kita bisa lihat sendiri di sekeliling kita, tak semua orangtua Allah anugerahkan rasa cinta kepada anaknya. Mereka memukul anaknya, membentak anak, menyuruh anaknya bekerja tanpa batas, memperbudak anaknya hingga yang tak segan-segan membuang dan membunuh anaknya sendiri. Berdo’a adalah senjata orang beriman, maka berdo’alah pada Allah Swt agar Allah beri kekuatan sekaligus kesempatan untuk memberikan cinta terbaik pada anak-anak kita. Cinta tanpa syarat. Cinta yang tulus ikhlas.

Niatkan karena Allah

Cara terbaik mencintai anak dengan tulus dan ikhlas adalah dengan meniatkan hanya karena Allah. Lakukan itu karena Allah perintahkan, karena Nabi menyuruh dan hanya semata-mata untuk mengharapkan ridho Allah Swt semata.

Cinta tanpa syarat adalah penerimaan

Banyak orangtua berharap anaknya pintar, nurut, mau membantu orangtua, rajin seperti anak-anak kebanyakan. Lalu bagaimana jika itu semua tidak ada dalam diri anak kita ? Jika orangtua tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya tidak sesuai dengan harapan maka yang terjadi adalah membandingkan. Dia akan membandingkan anaknya dengan anak-anak lain. “Eh kamu lihat itu si budi rajin bantuin orangtuanya”, “Itu Anita anak tetangga sekolahnya pintar” dan berbagai kalimat lainnya. Bagi sebagian orangtua kalimat membandingkan tersebut mungkin biasa saja. Tapi bagaimana dengan anak kita ? Kalimat-kalimat tersebut akan membuat hatinya luka, teriris dan membuatnya bersedih.

Sejatinya cinta tanpa syarat adalah tentang penerimaan. Menerima dengan penuh tulus dan ikhlas setiap kelebihan sekaligus kekurangan yang dimiliki oleh anak kita.

Memberikan bukti nyata dari kecintaan kita pada anak

Cinta tanpa syarat juga perlu dibuktikan dengan bukti nyata. Mulai dari ekspresi kasih sayang seperti memuji, mencium dan memeluk hingga memberikan dia pakaian yang baik, menyediakan makanan yang halal serta berbagai kebutuhan lainnya. Sebab cinta kita pada anak karena Allah Swt maka penuhilah kebutuhan anak-anak kita dengan cara-cara yang Allah ridhoi.

Menghadirkan cinta dari ketulusan jiwa

Menghadirkan rasa cinta tanpa syarat pada anak kita bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Mulai dari dengan mengekspresikan dalam bentuk kata-kata, memberikan tatapan penuh kasih sayang, menyediakan waktu berkualitas untuk membersamainya, memberikan dukungan terhadap kesukaannya (selama tidak bertentangan dengan syariat Allah Swt dan merugikan dirinya)

Miliki ilmu mendidik anak

Segala sesuatu ada ilmunya termasuk juga mendidik anak. Saat ini banyak bertebaran ilmu-ilmu yang bisa dipelajari tentang bagaimana mendidik anak mulai dari berbagai artikel di internet seperti yang disajikan secara berkala oleh dapur aqiqah, berbagai buku parenting, seminar parenting dan berbagai wadah pembelajaran lainnya. Agar prosesnya lebih berkah tentu anda juga perlu memastikan kalau pemberlajaran mendidik anak yang dipelajari adalah berlandaskan pada Al-qur’an dan sunnah.

Beri anak label positive hindari memberi label negative

“Hei dasar bodoh !”, “Dasar pemalas !”, “Kamu anak siapa sih kok bego amat?” dan berbagai kalimat-kalimat memberi sebutan buruk atau dalam istilah modern disebut pelabellan adalah suatu yang harus dihindari oleh setiap orangtua. Memberi anak label negative adalah suatu yang buruk. Hal ini bisa mematikan potensi dalam diri anak, membuat anak minder, bahkan menanamkan keyakinan dalam diri anak kalau dia benar-benar sesuai dengan label yang diberi oleh orangtuanya.

Jika ingin memberi label, berilah label yang positive pada anak semisal “Anakku rajinnya shalat, InsyaAllah kamu calon Imam besar nak”, “Anakku rajinnya membaca, InsyaAllah kamu jadi calon ilmuwan hebat nak”. Pemberian label positive pada anak akan membangkitkan semangatnya, menumbuhkan kepercayaan diri dan meyakinkan dirinya kalau dia benar-benar mampu meraih berbagai prestasi hebat.

Rumus 4 banding 1

Setiap kali hendak membuat pernyataan negative pada anak, ingatlah apakah anda sudah membuat setidaknya empat pernyataan positive untuknya. Ketika anda melihat perilaku buruk anak anda dan itu membuat anda kesal, ingatlah perilaku baiknya. Jangan habiskan waktu hanya untuk melihat keburukan dalam diri anak anda sehingga lupa akan kebaikannya, jangan hanya sibuk memberi hukuman dan peringatan hingga abai memberikan pujian untuknya. Anak kita butuh apresiasi, butuh pujian karena ini juga merupakan cara mencintainya tanpa syarat

 

Artikel Menarik Lainnya







comments